
Kembali ke apartemen Erdana membuat Yasmin kurang bersemangat. Ia sebenarnya masih belum puas menghabiskan waktu di kamarnya. Namun dari pada harus mendengarkan ceramah sang bunda yang tiada henti, Yasmin terpaksa ikut Erdana sore ini.
Dan seperti biasa, keduanya saling diam tanpa bicara. Perut Yasmin yang mulai kentara, membuatnya duduk terlihat kurang nyaman.
"Sandaran kursinya diturunkan saja agar kau boleh sedikit nyaman." ujar Erdana.
Yasmin melakukannya.
Erdana sedikit senang melihat Yasmin sudah mulai jarang bicara ketus padanya walaupun tatapan tajam masih sering Yasmin berikan padanya.
Saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah, Yasmin mencoba memejamkan matanya. Namun sesuatu yang bergerak di dalam perutnya membuat Yasmin membuka matanya kembali.
Melihat pergerakan Yasmin, Erdana ikut memandang ke arah perut Yasmin.
"Eh..eh....dia bergerak." Erdana secara spontan memegang perut Yasmin membuat perempuan itu terkejut dan langsung memeluk tangan Erdana dengan keras.
"Kok disentuh sih?" teriak Yasmin dengan wajah marah.
"Maaf. Itu gerakan spontan." Erdana juga terkejut dengan dirinya yang secara tiba-tiba menyentuh perut Yasmin. Apakah ini karena hatinya mulai mencintai anak ini? Semalam saja saat Erdana tidur sambil memeluk Yasmin, ia merasakan ada suatu perasaan yang tak dapat disebutkan dengan kata-kata. Perasaan senang, haru dan rasa ingin memeluk.
"Lampunya sudah hijau!" seru Yasmin saat mendengar bunyi klakson mobil di belakang mereka.
Erdana terkejut dari lamunannya dan segera menjalankan mobilnya kembali.
************
"Tidak.......!" Erdana terbangun dari mimpi buruknya. Wajahnya berkeringat dan jantungnya berdetak dengan sangat keras.
Ia turun dari tempat tidur dan segera menuju ke lantai bawah untuk meminum air mineral.
Dua gelas air diminumnya sampai habis. Erdana bahkan sampai mencuci wajahnya di wastafel karena ia merasa sedikit terganggu dengan mimpinya itu.
Saat ia akan kembali ke kamar dan melewati pintu kamar Yasmin, langkahnya terhenti. Mimpinya tadi tentang Yasmin dan juga Mentari. Tangan Erdana terulur dan membuka pintu kamar Yasmin yang ternyata tidak dikunci. Dalam cahaya remang dikamar Yasmin, terlihat wanita itu tidur sambil membelakangi pintu. Erdana ingin masuk dan melihat keadaan Yasmin namun baru satu langkah, ia langsung mundur karena ingat pesan Yasmin yang melarangnya untuk masuk di kamar ini.
Erdana pun kembali ke kamarnya. Ia duduk di pinggir ranjang lalu mengambil foto Mentari yang ada di atas nakas.
"Di mana kamu, sayang? Mengapa aku memimpikan kamu setelah berbulan-bulan kita berpisah? Adakah sesuatu yang terjadi denganmu?" Erdana bicara sendiri sambil mengusap permukaan foto itu.
Akhirnya Erdana sama sekali tak bisa memejamkan matanya lagi. Ia memutuskan untuk ke dapur dan membuatkan segelas kopi.
**********
Pagi ini Yasmin bangun lebih awal. Saat ia keluar kamar, dilihatnya Erdana yang tertidur di sofa depan TV.
Mengapa dia tidur di situ? tanya hati Yasmin.
Tak mau ambil pusing, Yasmin segera menuju ke dapur. Ia ingin membuat susu dan ingin makan mie instan goreng. Hanya makanan ini yang bisa Yasmin siapkan. Karena memang ia sama sekali tak bisa masak.
Setelah mie instannya masak, Yasmin segera membawa mie dan susunya ke meja makan. Ia mencoba melirik ke ruang tamu, Erdana nampak masih tidur.
__ADS_1
Apakah dia tak masuk kantor hari ini? Ini kan hari Senin.
Yasmin menatap jam dinding yang menunjukan pukul 8 lewat 5 menit. Ia pun menikmati sarapannya. Setelah itu, ia segera mencuci peralatan makan yang digunakannya dan kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kampus.
Ujian semester sudah selesai, namun Yasmin harus ke kampus untuk menyelesaikan beberapa tugas yang lain. Kandungannya yang memasuki bulan ke-6, membuat Yasmin ingin menyiapkan segala sesuatu sebelum mengambil cuti.
Untung saja beberapa gaun hamil yang Yasmin pakai, membuat kandungannya tak kelihatan besar.
"Yas.....!" panggil Vita, salah satu sahabatnya di fakultas kedokteran.
"Eh, Vit. Ada apa?"
"Ke gedung olahraga, yuk! Mau melihat pertandingan basket antar fakultas."
"Aku.....!"
"Ayolah, semenjak kamu menikah, aku perhatikan kalau kamu jarang sekali nonton pertandingan basket lagi."
Aku bukannya tak mau menonton pertandingan basket, Vit. Hanya saja aku menghindar untuk ketemu Andre sesering mungkin. Makanya aku harus menyogok bagian adminitrasi agar tak menempatkan aku satu kelas dengan Andre.
"Kok melamun sih?" Vita menepuk bahu sahabatnya itu.
"Aku ada tugas. Mau menyelesaikan dulu."
"Ayolah. Kamu takut ketemu Andre ya? Andre kan sekarang sudah pacaran dengan Naila."
Yasmin tak ingin membuat Vita berpikir kalau ia masih belum move on dari Andre, walaupun pada kenyataan Yasmin memang belum bisa membuang kenangan manisnya bersama Andre.
Akhirnya mereka tiba di gedung olahraga. Pertandingan pun baru saja di mulai.
Hati Yasmin bergetar saat melihat Andre yang nampak gagah di lapangan. Ia salah satu idola di kampus ini. Selain berwajah tampan dan pintar, Andre juga terkenal sebagai cowok yang ramah dan tak playboy. Itulah sebabnya Yasmin dengan cepat jatuh cinta pada cowok itu.
Tak jauh dari mereka, Yasmin melihat Naila ada di deretan bangku paling depan. Ia terlihat paling heboh memberikan support pada Andre dan kawan-kawan nya. Ayah Naila yang adalah dekan fakultas kedokteran membuat gadis itu banyak disukai oleh banyak pria. Namun sejak dulu juga Yasmin tahu kalau Naila yang merupakan kakak satu tingkat dari Yasmin dan Andre, sudah jatuh cinta pada Andre.
Pertandingan berjalan sangat panas karena kedua tim saling kejar-kejaran poin. Namun di 10 detik terakhir, Andre berhasil mencetak 3 angka melalui tembakan jarak jauh yang menjadi andalan cowok itu.
Para mahasiswa yang dari fakultas kedokteran langsung bersorak gembira. Fakultas mereka untuk yang pertama kali berhasil mengalahkan fakultas ekonomi yang memang selama ini dikenal sebagai tim yang paling kuat di universitas mereka.
Yasmin tersenyum bangga. Ia menatap ke arah Vita. "Vita, aku duluan ya? Kebelet mau ke toilet."
"Nggak menunggu foto-foto dulu?"
"Nggak." Yasmin perlahan meninggalkan podium, melewati beberapa mahasiswa yang masih asyik berfoto dengan para pemain. Yasmin menaiki tangga untuk menuju ke pintu keluar, saat dua orang cowok yang sedang saling berkejaran dari arah yang berlawanan, tak dapat menahan laju lari mereka, terjadilah tabrakan yang sangat keras membuat Yasmin terjatuh dan ditindih oleh 2 pria itu.
"Yasmin......!" teriak Andre yang memang melihat kejadian itu. Cowok itu sebenarnya ingin menyapa Yasmin karena ia senang setelah sekian bulan lamanya, Yasmin mau datang ke pertandingan basket. Dengan cepat Andre berlari untuk menyelamatkan Yasmin.
***********
Tangan Erdana bergetar dan air matanya tak bisa ia tahan membasahi pipinya. Hatinya sangat hancur dan ia merasa sangat terpukul menerima kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Abang....!" Wisnu menyentuh pundak putranya.
"Ayah......, apakah ini hukuman bagiku?"
"Jangan seperti itu, nak!"
Tangis Erdana pecah. Ia langsung menggendong anak yang telah dinyatakan meninggal oleh tim dokter yang melakukan operasi secara mendadak untuk menyelamatkan anak itu. Namun semuanya sudah terlambat. Yasmin yang mengalami pendarahan akibat terjatuh, langsung tak sadarkan diri.
Andre yang membawa Yasmin ke rumah sakit. Ia juga yang menghubungi orang tua Yasmin. Erdana yang tiba di rumah sakit 1 jam kemudian hanya bisa menangis pilu melihat bayi yang sebenarnya belum pantas untuk lahir itu, Susan terbujur kaku dengan tubuh yang biru.
Naura mendekati anaknya. "Abang, kuatkan hatimu, nak. Ini semua sudah takdir Allah. Sebaiknya bicarakan dengan keluarga Yasmin untuk acara pemakamannya."
"Aku memang tak mengharapkan anak ini pada awalnya. Namun setiap kali melihatnya saat USG, aku semakin jatuh cinta padanya. Aku bahkan sudah menyiapkan nama yang indah untuknya. Aku merasa bersalah tak bisa melindunginya." Erdana semakin erat mendekap putranya. Tangisnya semakin dalam. Naura sendiri ikut merasa hancur melihat anaknya terlihat rapuh.
"Abang...., jangan seperti ini." Naura mengambil anak itu dari gendongan Erdana. Ia meletakan nya kembali ke atas tempat tidur yang ada di kamar mayat itu.
Satria yang baru memasuki kamar mayat pun terlihat tak bisa menahan air matanya. Ia ikut sedih melihat Erdana yang nampak hancur. Ia juga tak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Yasmin saat anaknya itu sadar nanti.
"Erdana, ayo kita siapkan pemakamannya." Satria menepuk pundak menantunya.
Walaupun berat, Erdana mengikuti langkah mertuanya.
Naura menatap wajah cucunya. Walaupun memang terlihat sangat kecil namun wajah itu mengingatkan Naura pada wajah Erdana waktu kecil.
***********
Di sebuah rumah sakit di Surabaya......
Jeslin berdiri di depan ruangan operasi dengan hati yang gelisah. Operasi sudah berjalan selama 1 jam lebih.
"Bibi.....!"
Jeslin menoleh. "Prayuda?"
"Maaf aku terlambat datang. Pesawatnya delay karena hujan sangat deras dan ada sedikit badai. Bagaimana?"
"Sudah satu jam lebih Mentari ada di dalam. Bibi takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya."
"Tenanglah, bi. Mentari pasti kuat. Aku sangat yakin kalau ia pasti berhasil."
Jeslin menatap Prayuda dengan perasaan haru. Tatapan mata Prayuda yang lembut dan penuh kasih itu, mengingatkan Jeslin pada Yuda disaat muda. Mengapa bukan Prayuda yang dicintai Mentari?
2 jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Wajah dokter Nirmala terlihat lelah dan agak sedih. Jeslin memegang dadanya. Ia tahu kalau sesuatu yang buruk terjadi di dalam sana. Wanita berusia 48 tahun itu memegang dadanya. Mas Gading, apakah kau akan membawa Mentari bersamamu?
************
Wah kok gini sih????
Kasihan Yasmin, sayang juga sama Mentari.
__ADS_1
Emak siap menerima protes pedas ,🤗🤗🙏🙏