
Yasmin tidur telentang dengan napas yang belum stabil. Demikian juga dengan Erdana. Ia berbaring di samping Yasmin sambil menatap langit-langit kamar. Keduanya baru saja menuntaskan kegiatan panas mereka untuk yang kesekian kalinya.
Erdana tidur miring ke arah Yasmin. Ia menatap mata Yasmin yang terpejam. Tangannya perlahan menyentuh wajah Yasmin sambil menghapus keringat di dahi istrinya itu.
"Ada apa, Yas?" tanya Erdana lembut.
Perlahan Yasmin membuka matanya dan melirik ke arah Erdana. "Maksud kakak?" tanya Yasmin tak mengerti.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat berbeda beberapa hari ini setiap kali kita bercinta?"
"Kakak nggak suka?" tanya Yasmin sedikit kecewa.
"Bukan nggak suka. Aku sangat menikmatinya saat kau memegang kendali dalam penyatuan kita. Hanya saja ini bukan seperti dirimu. Aku merasa kalau kau bercinta denganku seolah ingin melepaskan sesuatu yang mengganjal di hatimu."
"Kakak pikir aku tak menikmatinya?" Yasmin sedikit tersinggung. Ia segera bangun dan turun dari tempat tidur. Dengan tidak memperdulikan dirinya yang polos tanpa pakaian, Yasmin membuka lemari dan mengambil baju dalamnya. Setelah ia selesai memakainya, ia mengeluarkan sebuah daster berbahan karet dan memakainya.
"Yas....!" Erdana buru-buru turun dari tempat tidur dan memakai celana boxer nya secara cepat. Ia berhasil mengejar Yamin dan menutup kembali pintu yang sudah dibuka oleh Yasmin.
"Maaf kalau pertanyaan ku membuatmu tersinggung. Maksud aku bertanya padamu karena aku merasa kau sepertinya menyembunyikan sesuatu. Dan caramu bercinta seperti ini adalah sebuah bentuk pengalihan untuk menutupi kegundahan hatimu." Erdana memegang bahu Yasmin. Di tatapnya mata Yasmin secara intens. "Katakan kalau aku salah."
"Kakak memang salah. Mengapa sampai kakak berpikir kalau aku bercinta seperti itu karena ingin mengalihkan sesuatu dalam diriku? Kita hampir setahun berhubungan intim. Memangnya kakak tak mengerti juga dengan hasrat dan gairah dalam diriku?"
"Sayang...." Tangan Erdana menangkup kedua sisi pipi Yasmin. "Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu bagaimana gairah yang ada dalam dirimu. Kau selalu menyambut sentuhan ku dengan sangat antusias. Maaf jika aku menyakitimu dengan pertanyaan ku. Aku hanya tak ingin kau menyimpan masalahmu sendiri."
Yasmin tersenyum. Kedua tangannya menyentuh tangan Erdana yang ada di pipinya. "Aku tak punya masalah. Aku hanyalah seorang istri yang ingin memuaskan suaminya dalam hal urusan ranjang. Apakah aku salah?" Tanya Yasmin berusaha menyembunyikan gejolak dalam hatinya. Yasmin merasa berdosa kepada Erdana.
Erdana memeluk Yasmin dengan erat. "Maaf jika kamu terlalu kesepian karena aku sibuk bekerja di siang hari. Kita hanya punya waktu malam hari dan terkadang kita terlalu lelah untuk bicara satu dengan yang lain."
"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir."
Erdana melepaskan pelukannya. "Kita makan, yuk. Lapar."
"Makanannya mungkin sudah dingin. Kakak mandi saja dan aku akan memanaskan lagi makannya." Yasmin mengecup bibir Erdana lalu segera keluar kamar.
*************
"Ini kontrak iklan shampo nya." Jenika menyodorkan sebuah file. Elmira langsung membacanya.
"Ini shampoo produksi Singapura?"
"Iya. Managernya langsung yang minta agar kamu yang menjadi bintang iklannya."
"Oh, ya?"
__ADS_1
"Sebentar lagi mereka akan datang untuk menandatangani kerja sama. Aku sudah menginformasiakan kepada mereka bahwa kamu dulu pernah membintangi iklan sampo untuk anak-anak."
Elmira membaca kontrak itu dengan seksama. "Nilai kontraknya mahal juga ya?"
"Sangat sesuai dengan dirimu yang memang menjadi artis termahal saat ini. Oh, ya bagaimana ustadz Ernest? Hubungan kalian sudah sejauh apa?"
Elmira menggeleng. "Aku tak berani membangun hubungan apapun dengannya. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Jujur, aku mengangumi ustand Ernest. Namun aku juga tahu membangun hubungan dengannya bukankah hal yang mudah. Dia seorang ulama. Apakah cocok dengan aku?"
"Siapa bilang nggak cocok?"
Elmira menarik napas panjang. Tak lama kemudian, ia tersenyum. "Kalau memang jodoh dengannya, maka aku harus melepaskan dunia artis yang telah membesarkan namaku. Aku harus bersama dengannya, mendampinginya dalam berdakwah."
"Nggak harus berhenti juga kan?"
Salah satu pegawai masuk ke ruangan Elmira dan mengatakan kalau orang dari pihak perusahaan Sampoo sudah datang.
"Ayo, El. Kita ke ruangan pertemuan." ajak Jenika.
Keduanya melangkah bersama menuju ke ruangan pertemuan.
Saat Elmira masuk, ia langsung memasang senyum manis untuk menyambut mitra kerjanya yang baru. Namun, alangkah terkejutnya Elmira saat melihat salah satu dari 3 pria yang hadir di sana.
"Nick?" Pekiknya tertahan. Hampir saja ia berteriak.
Elmira berusaha bersikap profesional. Ia menjabat tangan ketiga pria satu persatu, lalu kemudian duduk berhadapan.
Nick terlihat biasa saja. Pak Digo sebagai pengacara menjelaskan kontrak kerja mereka. Apa yang harus Elmira lakukan selama menjadi model sampo Alsink yang menjamin kerja sama selama 3 tahun.
Setelah mereka sama-sama mengerti dan menandatangani kontrak kerja, Nick dan yang lain pamit untuk pergi.
Elmira terpana. Sebegitu cuek kah Nick padanya? Tak dapatkah ia bersikap biasa saja?
"El, kayaknya si bodyguard sudah lupa padamu." ujar Jenika membuat Elmira menjadi semakin kesal. Bukankah dia sudah memiliki pekerjaan lain? Lalu mengapa dia sepertinya tidak mengenalku? Dasar lelaki buaya. Mana semua kata-kata manisnya dulu?
Elmira segera meninggalkan Jenika sendiri. Ia ingin menenangkan pikirannya. Nick sungguh terlalu.
***********
Jam 5 tepat. Yasmin menggerakan badannya sambil menutup laptop di hadapannya. Ia sudah selesai dengan laporannya dan siap untuk pulang.
"Yasmin, mau pulang?" tanya dokter Varlen. Kepala ruangan di UGD.
"Iya, dok."
__ADS_1
"Boleh minta tolong, nggak?"
"Boleh, dok."
"Tolong bawa file ini ke ruangan dokter Prayuda. Ini data penting mengenai salah satu pasien yang ia tangani. Mudah-mudahan dokter masih ada. Tapi seandainya dia sudah tak ada, pasti dia ada di tempat prakteknya. Kamu tahu kan?"
"Tahu, dok. Di depan rumah sakit ini tempat prakteknya."
"Terima kasih, manis." dokter Varlen segera pergi. Ia memang terkenal sebagai dokter yang selalu berkata manis dan pandai merayu. Tak sedikit yang menjadi korbannya. Pada hal dokter Varlen sudah menikah dan memiliki 2 orang anak.
Yasmin melangkah menuju ke ruangan dokter Prayuda. Ternyata dokter itu sudah tak ada. Yasmin pun segera ke tempat parkir, ia masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi ke seberang jalan. Di sana ada tempat praktek dokter Prayuda sekalian dengan gedung apotik nya. Gedung ini adalah milik Prayuda sendiri.
Saat ia masuk ke dalam apotik. Suasana mulai ramai. Ada beberapa dokter yang praktek di sini. Yasmin segera menuju ke ruangan Prayuda yang letaknya paling ujung. Namun sebelum ia mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, ia mendengar percakapan Prayuda dengan seseorang.
"Aku mencintainya. Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini ada. Aku sama sekali tak bermaksud jatuh hati padanya. Kebersamaan kami, kedekatan kami dan beberapa momen yang terjadi telah membuat perasaan ini tumbuh."
"Dia istri Erdana, Pra."
Yasmin mengenal suara itu. Itu suara dokter Nana. Salah satu dokter senior yang juga praktek di tempat ini. Seorang dokter ahli saraf yang berusia 40an. Suaminya adalah saudara Prayuda.
"Aku tahu, kak. Yasmin telah mencuri hatiku."
Deg!
Jantung Yasmin bagaikan berhenti berdetak. Pengakuan Prayuda membuat buku kuduknya berdiri.
"Ini salah, Pra. Yasmin sudah menikah. Dia mungkin mencintai Erdana walaupun harus dipoligami."
"Aku ingin sekali menculiknya dan menjadikan dia satu-satunya dalam hidupku. Perasaan ini sangat kuat menguasai aku. Sehingga aku harus menghindari Yasmin seminggu ini dan pura-pura dekat dengan Elif. Bahkan dalam sholatku, aku bertanya pada Allah. Mengapa perasaan ini harus tumbuh? Aku sungguh tersiksa tak bisa mengungkapkan perasaanku."
"Sebaiknya kau pindah saja dari sana. Jangan berada di gedung yang sama dengan Yasmin setiap hari. Itu nggak baik. Perasaan itu akan terus tumbuh. Bagaimana jika kami Yasmin akhirnya tahu kalau kau mencintainya? Nanti dia menganggap kamu lelaki tak baik karena menyukai istri orang."
Prayuda mengusap wajahnya kasar. "Aku bahkan merasa gila jika sehari saja tak melihatnya. Aku sering berpura-pura mencari Elif di UGD padahal sebenarnya ingin melihat Yasmin."
"Bunuh perasaanmu, itu. Perasaanmu ini terlarang!"
Yasmin merasakan lututnya menjadi lemah. gr.*Ya Allah, kak Prayuda memiliki rasa yang sama padaku. Apa yang harus aku lakukan?
***********
selamat malam.
semoga suka dengan bab ini
__ADS_1
maaf agak ke pendek. Emak lagi liburan* .