CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Menangis Bersama


__ADS_3

Hai semua, maaf kemarin nggak up soalnya lagi ada acara keluarga. Emak sibuk.


Sudah baca novel terbaru emak?


RAHASIA CINTA


kalau belum baca ya.....


nggak kalah seru dengan novel ini


*************


Kehilangan adalah sebuah kata yang tidak disukai semua orang. Apalagi jika yang hilang itu adalah sesuatu yang paling kita cintai.


Tubuh dan jiwa, rasanya tak bisa ada di tempatnya. Seperti akan ikut bersama dengan mereka yang meninggalkan kita.


Apalagi jika yang hilang itu akan pergi untuk selamanya. Kenyataan itu pasti akan menghancurkan hati.


Naura akhirnya menemukan Erdana. Ia berdiri di lantai paling atas rumah sakit ini. Erdana berdiri sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya. Sesekali tangis Erdana masih terdengar.


"Abang, sayang....!" Naura mendekati putranya. Ia memegang pundak Erdana dan mengusapnya perlahan. "Anakmu sudah dibaringkan di dalam inkubator. Kata dokter, kau dapat mengazani anakmu sekalipun ia ada dalam inkubator."


"Aku tak sanggup, bu." Erdana menggeleng. Air matanya kembali jatuh.


"Kalau bukan abang, siapa lagi yang akan melakukannya? Kau adalah ayahnya. Bukankah abang selalu bilang rindu momen ini akan terjadi. Waktu As lahir dulu, abang tak bisa melakukannya."


"Aku tak bisa, Bu!" Erdana menatap ibunya. "Aku ingin melakukan semua itu di hadapan Mentari. Tapi sekarang? Ah....aku tak bisa, bu. Aku hancur!"


"Jangan seperti itu, bang. Abang harus kuat demi anak-anak abang! Mereka sangat membutuhkanmu sekarang ini. Ayolah anakku, kami semua ada bersamamu. Abang tak sendirian menghadapi semua pergumulan ini."


Erdana memeluk ibunya sambil menangis. "Ah...ibu, mengapa jalan hidupku harus seperti ini? Aku mau mati rasanya."


Naura pun ikut menangis. Ia mengusap kepala putranya dengan kesedihan yang mendalam. "Sabar nak, berdoa pada Allah. Hanya Allah yang bisa mengangkat semua beban kita. Ingat, Allah tak pernah memberikan ujian yang melebihi kekuatan kita."


Erdana melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah ibunya yang lembut.


"Jangan menangis lagi. Ayo ke kamar bayi dan lakukan tugas Abang sebagai seorang ayah."


Erdana menarik napas panjang lalu menghapus air matanya. Naura memeluk lengan putranya lalu melangkah bersama meninggalkan atap rumah sakit itu.


Erdana menggunakan pecinya yang memang selalu ada di dalam mobilnya. Setelah ia sendiri mencuci wajahnya dan tangannya, ia pun diijinkan masuk ke ruangan NICU. Hati Erdana merasa hancur melihat putri kecilnya yang terbaring dalam inkubator. Kata dokter berat badannya hanya 1,8 kg. Putrinya itu bahkan harus memakai alat bantu pernapasan karena paru-parunya mengalami masalah.

__ADS_1


Perlahan Erdana menunduk. Lalu ia melakukan tugasnya sebagai seorang ayah. Memperdengarkan Azan untuk yang pertama kali kepada putrinya. Ada sejuta harapan agar putrinya ini akan sehat dan menjadi anak yang Soleha saat ia dewasa nanti.


"Ku namakan kau Azrha Elisa Furkan. Semoga kau bercahaya dalam TerangNya Allah. Menjadi perempuan mulia yang terus menyinari bagaikan Mentari ibumu." ujar Erdana tanpa bisa menahan air matanya.


Setelah itu ia keluar dari ruangan NICU. Di depan pintu, Yasmin berdiri. "Kak.....!"


"Bagaimana?" tanya Erdana dengan suara yang terdengar tak bersemangat.


"Ayah Satria dan ayah Yuda yang mengurusnya. Ibu Naura sekarang sedang bersama ibu Jeslin. Tadi ibu Jeslin pingsan."


Erdana mengangguk. Baru saja ia melangkah, tiba-tiba terdengar suara ribut di dekat lobby rumah sakit.


"Tidak.....aku tak terima anakku meninggal, tidak.....!" Teriak seorang laki-laki sambil keluar dari ruang gawat darurat.


Yasmin mencoba mendekati dan bertanya pada seorang perawat. "Ada apa?"


"Anak bapak itu meninggal karena kecelakaan mobil. Kami sudah berusaha menolongnya. Dokter Prayuda bahkan ikut menolong namun nyawanya tak tertolong lagi. Luka di kepalanya terlalu besar." kata perawat perempuan itu. Bajunya sendiri nampak ada percikan darah.


Prayuda ikut keluar dari ruang gawat darurat. "Pak, dengarkan dulu penjelasan kami. Luka di kepala anak bapak terlalu besar sehingga pendarahannya tak bisa kami hentikan. Kami telah...."


"Diam ....!" Pria parubaya itu tiba-tiba saja menodongkan pistolnya ke arah Prayuda.


"Pak.....!" Prayuda menjadi sangat terkejut. Wajahnya terlihat gugup. Ia tak menyangka bapak itu akan mengeluarkan senjata.


"Jangan mendekat, Yas. Orang itu berbahaya. Senjata yang dipegangnya adalah pistol sungguhan."


"Tapi kak Pra...!" Yasmin terlihat sangat khawatir.


"Tunggu di sini! Biar aku saja yang...." kalimat Erdana terhenti melihat pria yang memegang senjata itu menembakan pistolnya ke atap. Para satpam yang ada pun nampak kesulitan.


"Kau dokter bodoh! Kau harus mati juga bersama anakku....!" teriak pria itu lalu melepaskan tembakan ke arah tubuh Prayuda sebanyak 3 kali. Tembakan yang keempat pistolnya kehabisan peluru lalu 2 orang satpam itu langsung meringkus pria itu.


Prayuda memegang dadanya yang berdarah.


"Kak Pra....!" Yasmin menarik tangannya yang dipegang oleh Erdana. Ia berlari ke arah Prayuda dengan jantung yang rasanya berhenti.


Prayuda jatuh ke lantai tepat disaat Yasmin sampai dihadapannya.


"Kak.....!" Yasmin membantu Prayuda untuk bangun.


Pandangan keduanya bertemu. Prayuda tersenyum sambil menahan sakit di dadanya.

__ADS_1


"Perawat.....! Ambil brangkar!" teriak Yasmin dengan ketakutan yang amat sangat.


"Yas.....!" Prayuda memejamkan matanya.


"Jangan, kak! Aku mohon jangan menyerah! Buka matamu."


Kepanikan langsung terjadi di depan ruang gawat darurat. Orang-orang berlari keluar dari rumah sakit karena mendengar suara tembakan.


Prayuda membuka matanya perlahan. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Yasmin. Pipi perempuan itu pun berdarah karena tangan Prayuda yang berdarah.


"A....a...ku mencin....!" Prayuda tak dapat meneruskan perkataannya. Tangannya yang ada di pipi Yasmin jatuh lagi dan matanya terpejam.


"Ah .....tidak, kak! Tidak....! Tidak....! Ayo bangun! Jangan menyerah! Aku nggak mau kau seperti ini. Bangun, kak!" Yasmin memeluk tubuh Prayuda.Ia berteriak histeris. Orang-orang semakin banyak yang berlari ke luar rumah sakit. Kekacauan terlihat sehingga banyak yang seakan tak peduli pada Yasmin yang memeluk tubuh Prayuda yang sudah bersimbah darah.


"Dokter Yasmin, tolong lepaskan! Kami harus mengangkat tubuh dokter Prayuda!" kata salah seorang perawat.


Dokter Yuda terkejut melihat putranya yang rebah bermandikan darah. Ia baru saja memeriksa kondisi istrinya. Jeslin pingsan, lalu mendengar terjadi penembakan di depan ruang gawat darurat.


Tubuh Prayuda diangkat naik ke atas brangkar lalu di dorong ke dalam ruang gawat darurat.


Erdana terkejut melihat bagaimana Yasmin bereaksi. Jantungnya bagaikan ditarik keluar dari tempatnya. Erdana kini menyadari sesuatu. Selama ini, ia begitu penasaran siapa pria yang telah berhasil menggoyahkan perasaan Yasmin kepadanya. Erdana bahkan diam-diam meminta salah satu orang kepercayaannya untuk menyelidiki di rumah sakit tempat Yasmin melaksanakan koasmya pertama kali. Tak ada petunjuk yang didapat. Yasmin tak pernah dekat dan akrab dengan dokter muda atau dokter senior laki-laki. Teman terdekat Yasmin hanya Prayuda. Dan Erdana sama sekali tak pernah menduga kalau Prayuda adalah lelaki itu.


Kini, saat melihat bagaimana Yasmin menarik tangannya dari genggaman Erdana dan berlari memeluk Prayuda yang terluka, hati Erdana yakin, Prayuda adalah lelaki yang telah menimbulkan rasa nyaman bagi Yasmin dan yang telah mengisi kekosongan hati Yasmin saat Erdana harus bersama Mentari.


Yasmin terlihat hancur, rapuh dan patah saat Prayuda menutup matanya. Teriakan Yasmin menunjukan isi hatinya yang tak mau kehilangan.


"Yas.....!" Erdana mendekati Yasmin yang masih duduk dengan pandangan yang kosong. Jiwanya bagaikan ikut melayang pergi saat Prayuda menutup matanya.


"Yasmin....!" Erdana menggoyang bahu Yasmin secara perlahan.


Yasmin mengalihkan pandangannya kepada Erdana. Tangisnya langsung pecah. Ia memeluk Erdana. "Aku tak mau kehilangan dia!" Itu yang Yasmin katakan lalu ia pun pingsan.


Erdana sendiri merasakan kepalanya pening. Sakit dan perih dirasakan hatinya. Seolah ada luka yang begitu dalam dan lebar membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Kenyataan yang tak pernah Erdana pikirkan sebelumnya.


************


Selamat pagi......


Semangat weekend ya....

__ADS_1


Minum kopi dulu biar nggak tegang.


Jangan lupa dukung emak....


__ADS_2