
"Apakah Er sudah tahu kalau kamu hamil?" tanya Prayuda.
"Belum. Aku juga baru tahu tadi pagi disaat Er akan ke Bali untuk menyelesaikan masalah proyeknya di sana. Aku sengaja belum mengatakan kepadanya karena aku ingin konsultasi denganmu sebagai dokter yang tahu sakit ku sejak awal. Aku juga tak ingin menambah beban Er karena masalah uang muncul di proyeknya itu. Apakah aku boleh hamil disaat seperti ini? Aku masih rutin meminum obatku. Apakah itu nggak akan membahayakan janin yang sementara tumbuh di rahimku? Aku sebenarnya belum siap hamil lagi. Namun aku juga tak mau kehilangan bayi ini. Aku yakin kalau bayi ini ada semuanya karena kehendak Allah."
"Obat yang kamu minum sebenarnya cukup membahayakan janin mu. Karena itu obat keras dengan dosis yang cukup tinggi. Untuk sementara sebaiknya kamu berhenti minum dulu. Aku akan konsultasi dengan dokter mu yang ada Singapura. Hasil lab mu bulan lalu bagaimana?" .
"Bagus." .
"Sore ini buat janji saja dengan dokter kandungan. Segera konsultasikan masalah kehamilan mu. Usia As sudah hampir 2 tahun kan? Sebenarnya saat terbaik untuk hamil lagi saat baby As sudah berusia 3 tahun. Paling bagus juga saat As sudah berusia 5 tahun."
"Itulah yang aku khawatirkan. Selama ini aku sudah berusaha minum pil secara teratur. Bahkan saat buka giliran Erdana bersamaku, aku tetap meminum pil nya. Aku nggak bisa menggunakan alat kontrasepsi yang lain karena nggak cocok untukku. Pernah sih aku lupa minumnya. Apa itu penyebabnya?"
"Jangan stres. Nggak baik untuk janin mu dan juga untuk kesehatanmu. Berdoa saja semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik. Hari ini aku konsultasi dengan dokter di Singapura sekaligus mengirim hasil lab mu "
"Terima kasih, Pra. Semoga besok hasilnya sudah ada ya? Supaya saat aku bicara dengan Er kami justru sudah mendapatkan jalan keluarnya."
"Aku akan jadwalkan dirimu untuk konsultasi dengan dokter kandungan sore ini."
"Iya. Makasi ya? Aku mau pulang dulu." Mentari berdiri sambil memegang tasnya. Sebelum ia keluar dari pintu, ia menoleh lagi.
"Pra, sekali lagi terima kasih ya? Allah kiranya memberikan kamu jodoh terbaik dalam hidupmu. Kamu bukan hanya sahabat bagiku. Namun sudah menjadi kakak dalam hidupku. Selamat pagi." Kata Mentari lalu menghilang dari balik pintu.
Prayuda tersenyum mendengar perkataan Mentari. Ya, seumur hidupnya Mentari hanya menganggap dirinya sebagai kakak. Tak mungkin lebih. Karena hati Mentari memang milik Erdana.
"Kak......!"
Prayuda menoleh ke arah pintu. "Yasmin? Sudah selesai sarapannya?"
Yasmin menggeleng. Ia melangkah masuk. "Ponselku ketinggalan." katanya sambil menunjuk ponselnya yang ada di atas meja kerja Prayuda.
"Oh..., aku nggak melihatnya saat kau pergi tadi."
Yasmin duduk di depan Prayuda. "Maaf, aku tadi tak sengaja mendengarkan percakapan kakak dengan kak Mentari. Apakah kehamilannya tak membahayakan bagi dirinya? Aku tahu kalau operasi pengangkatan tumor itu sudah selesai. Namun sebagaimana yang kak Mentari katakan kalau ia harus meminum obatnya secara rutin selama 3 tahun. Kalau konsumsi obatnya dihentikan karena ia hamil, bagaimana dengan terapi kesembuhannya? Aku takut sesuatu terjadi dengan kak Mentari. Erdana bisa gila jika harus kehilangan kak Mentari lagi."
Prayuda menarik napas panjang. "Kita serahkan semuanya pada Allah, Yas. Sebentar lagi aku akan menghubungi dokter Mentari di Singapura. Oh, ya, kamu sendiri kok belum hamil sih? Maaf, apakah trauma mu saat kehilangan anakmu begitu kuat membekas sampai kamu takut hamil lagi?"
Yasmin tertunduk. "Terkadang, aku memang merasa takut untuk hamil lagi, kak. Namun, dengan berjalannya waktu, aku mencoba mengatasi rasa trauma ku itu. Kak Er memang nggak pernah menuntut aku untuk segera hamil. Hanya kak Mentari yang sepertinya ingin segera aku hamil. Dia bahkan tahu jadwal datang bulan Ku. Sudah beberapa kali, saat tanggal suburku dan itu adalah hari dimana kak Mentari harusnya bersama kak Er, dia justru menyuruh kak Er untuk tidur di apartemen. Kak Mentari terlalu baik, kak."
"Hal itu yang membuatmu bertahan dengan pernikahan ini?"
"Ya. Sering saat aku sholat sendiri, aku bertanya pada Allah, apakah dosa jika aku gak memenuhi janjiku pada almarhum kakekku agar tak bercerai dari kak Erdana?"
"Memangnya kamu tak mencintai Erdana?"
"Aku mencintainya. Aku merasa nyaman saat ia berada di dekatku, aku merasa rindu saat ia harus pergi ke tempatnya kak Mentari. Namun cinta saja nggak cukup kan?"
Prayuda menatap Mentari dengan rasa kagum. "Pemikiran mu sangat dewasa,Yas. Aku kagum padamu. Namun, kalau aku boleh tahu, kamu nggak menggunakan alat kontrasepsi kan?"
Yasmin menarik napas panjang. "Awalnya memang nggak. Tapi aku nggak juga hamil kan? Sudah 2 bulan ini aku suntik KB. Aku terlalu sibuk dengan praktek koas ku. Aku juga ingin mendapatkan gelar spesialis ku. Bukannya aku tak menyukai anak-anak. Aku sangat menyayangi baby As. Namun, untuk saat ini lebih baik aku tunda dulu. Kak Er memang nggak tahu kalau aku suntik KB. Namun selama ia belum menuntut aku mempunyai anak, aku sebaiknya seperti ini dulu."
Prayuda mengangguk. "Memang jika punya anak sekarang, kamu akan sangat sibuk dengan pekerjaanmu."
__ADS_1
Yasmin tersenyum. "Kak, terima kasih ya sudah menjadi teman curhat aku. Kakak sudah menjadi dosen pembimbing aku, sudah menjadi dokter pembimbing aku. Pokonya aku bersyukur Allah memberikan seorang dokter sebaik kakak. Oh ya kak, di rumah sakit ini kan ada dokter baru.'
"Dokter Elif? Dia lulusan Amerika."
"Ya. Dia cantik, badannya seksi dan kayaknya masih jomblo. Beberapa dokter muda di sini mau menjodohkan kakak dengan dokter Elif. Ayolah, kak. Coba saja. Siapa tahu cocok."
Prayuda tertawa. "Perasaan bukan untuk dicoba-coba."
"Ih kakak, siapa tahu saat dekat perasaan itu akan tumbuh. Kayaknya dokter Elif juga suka memperhatikan kakak, deh."'
"Kamu ini, bisa aja. Ayo kita sarapan saja. Tapi aku nggak mau sarapan di kantin rumah sakit. Aku mau sarapan di sebuah cafe yang tak jauh dari sini."'
"Tapi aku yang traktir ya?"
"Kok kamu lagi, sih? Aku laki-laki kan?"
"Memangnya nggak boleh perempuan mentraktir laki-laki? Aku kan juga sudah punya penghasilan."
Prayuda tersenyum melihat wajah cemberut Yasmin. Tak tahan tangannya mengacak rambut perempuan itu. Yasmin terkejut.
"Ih kakak, aku kan bukan anak kecil." Yasmin memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Prayuda hanya tertawa. Ia melangkah lebih dulu dari ruangannya diikuti oleh Yasmin.
Langkah dokter Elif terhenti. Ia menatap punggung Prayuda yang berjalan menjauh diikuti oleh Yasmin. Hati Elif bergetar. Ia bertekad untuk merebut hati Prayuda. Dokter tampan yang menurut para suster dan dokter lainnya lagi patah hati karena kekasihnya menikah dengan orang lain.
*************
Mentari dan Mandrika duduk di hadapan bunda mereka, Jeslin. Tadi sepulang dari rumah sakit, Jeslin meminta Mentari untuk datang ke rumah.
"Tari, Ika, bunda tahu kalau kalian sangat menyayangi almarhum ayah kalian. Bunda juga tak akan pernah melupakannya. Mentari sudah menikah. Mandrika sudah menjadi wakil direktur di perusahaan menggantikan bunda. Kadang Mandrika hanya pulang ke apartemen. Bunda nggak mengeluh karena bunda tahu ada saatnya kalian memang akan meninggalkan bunda." Jeslin berhenti sejenak. Menarik napasnya beberapa kali. "Ada seseorang yang melamar bunda."
Mentari dan Mandrika saling berpandangan.
"Bunda mau menikah lagi?" tanya Mandrika.
"Jika kalian ijinkan."
Mandrika tersenyum. "Aku nggak masalah. Asalkan dia baik dan bisa menjaga bunda seperti ayah Gading yang nggak pernah menyakiti bunda, aku akan setuju."
Mentari pun mengangguk. "Aku memang sangat menyayangi ayah Gading. Namun aku juga tahu kalau bunda kesepian. Bunda butuh teman hidup. Aku juga nggak keberatan."
"Benarkah?" Mata Jeslin langsung memancarkan sinar kebahagiaan.
"Benar bunda. Bunda masih cantik, energik. Teman-teman aku bahkan nggak percaya saat aku bilang kalau bunda usianya sudah 50 tahun. Tapi, siapa sih pria yang beruntung itu? Bunda nggak mungkin menikahi berondong kan? Kalau itu aku nggak setuju." kata Mandrika tegas.
Jeslin tertawa. "Bukan berondong. Dia adalah pacar pertama bunda, dulu sebelum bunda ketemu dengan ayah Gading. Namanya dokter Yuda."
"Ayahnya Prayuda?" Mentari terpana. Ia memang sudah mendengar kalau dokter Yuda sudah bercerai dari istrinya.
"Iya. Kamu nggak marah kan?"
"Nggak sih. Hanya baru tahu aja kalau dokter Yuda adalah mantan pacar bunda."
__ADS_1
"Dokter tampan itu? Ya ampun bunda, dia adalah duda ter-hot saat ini yang banyak menjadi incaran gadis-gadis muda dan janda-janda muda. Aku mau lah kalau dia yang menjadi ayah sambung ku." Mandrika tertawa senang dan Jeslin pun bernapas lega.
"Ih...., teman-temanku pasti iri saat tahu duda yang lagi viral itu akan menjadi suaminya bunda." Mandrika terlihat begitu bersemangat.
Mentari menatap wajah bundanya. Walaupun hatinya sedih tempat ayahnya akan digantikan oleh orang lain, namun Mentari tak ingin menghalangi keinginan Jeslin. Prayuda kini akan benar-benar menjadi kakaknya.
***********
Erdana tersenyum saat melihat Mentari ada di ruang kerjanya. Sedang membelakanginya sambil menggunting kain. Dengan cepat ia memeluk Mentari dari belakang dan mencium tengkuk istrinya dengan sangat lembut membuat Mentari sedikit melonjak karena sensasi panas yang ditimbulkan oleh ciuman itu. Atau karena dirinya yang sedang hamil sehingga menjadi sensitif?
"Mas....!" Mentari berusaha menggerakan tubuhnya agar Erdana tak lagi menciumnya di sana namun pelukan Erdana begitu erat sehingga ciuman lembut dan ringan itu membuat tubuhnya merasa seperti disengat oleh setrum.
"Aku tahu kalau kamu sangat menyukai saat aku mencium mu di sini."
"Aku belum mandi, mas." Kata Mentari sambil melepaskan gunting yang ada di tangannya.
"Aku suka bau mu. Aku merindukannya." Erdana membalikan tubuh Mentari dan sebelum istrinya itu berbicara, Erdana sudah memagut bibirnya dengan lembut namun penuh sensasi memabukkan.
Mentari tak bisa menolak, ia langsung melingkarkan tangannya di leher Erdana dan membalas ciuman suaminya dengan ras yang sama.
Agak lama keduanya saling melepas rindu dalam ciuman sampai akhirnya tangan Erdana sudah membuka resleting gaun Mentari dan menurunkannya secara cepat.
"Mas, nanti ada yang melihat kita."
"Mereka sedang ada di kebun belakang." Kata Erdana lalu dengan tak sabar membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celana kainnya.
Dengan cepat ia menggendong tubuh Mentari dan membaringkannya di atas sofa yang ada di ruangan kerja Mentari.
Dinginnya ruangan kerja Mentari justru tak mampu membakar gairah pasangan itu yang seakan tak bisa terbantahkan lagi. Keduanya pun saling memuaskan sampai akhirnya mereka tiba di puncak kenikmatan bersama.
Erdana memeluk tubuh Mentari yang ada di pangkuannya. Ia membelai punggung polos istrinya yang agak berkeringat. "Mengapa saat ini aku merasa kalau kau agak berbeda ya?" tanya Erdana dengan napas yang belum stabil.
"Mas nggak suka?"
"Sangat suka."
"Mungkin karena pengaruh hormon ku, mas."
Erdana menjauhkan tubuh Mentari. "Hormon apa?"
"Aku hamil, mas."
"Apa?" Erdana sangat terkejut. Terlihat kecemasan ada di wajahnya. Ia perlahan menurunkan Mentari dari pangkuannya. "Ha...mil? Tidak sayang, kau tidak boleh hamil sekarang."
Mentari tertunduk sedih. Inilah yang ia takutkan. Erdana menolak kehamilannya.
************
Good morning
selamat hari Rabu ya...
__ADS_1
semoga suka dengan part ini