
Ijab Kabul pun sukses diucapkan oleh Nick dengan satu tarikan nafas. Mas kawinnya tak tanggung-tanggung. Uang dengan jumlah 240 juta sebagai tanggal pernikahan mereka dan satu set perhiasan emas yang bertahta kan berlian.
Elmira terlihat sangat anggun dengan kebaya putih hasil rancangan Mentari. Sementara anggota keluarga yang lain menggunakan juga kebaya dengan warna cream-coklat.
Untuk acara akad nikah ini memang dilaksanakan di masjid yang dibangun oleh keluarga Furkan. Selesai ijab Kabul, Elmira melaksanakan sesi wawancara dengan para wartawan dan ia terlihat sangat bahagia karena Nick sama sekali tak melepaskan tangannya dari genggamannya.
Selesai itu, mereka menuju ke kediaman Furkan untuk makan siang bersama. Acara ini pun untuk keluarga saja.
Malam harinya dilaksanakan acara resepsi pernikahan di sebuah gedung yang mewah dan megah. 1.500 undangan yang disebar oleh pasangan fenomenal ini. Beberapa artis dari luar negeri pun terlihat hadir. Kebanyakan dari mereka adalah yang pernah menjadi partner Elmira saat main film.
Yasmin dan Mentari, ikut juga menggunakan seragam seperti anggota keluarga lainnya. Hanya Erdana yang terlihat kurang bersemangat. Mentari dapat melihat itu walaupun suaminya menyembunyikan lewat senyum manisnya.
"Ada apa dengan mas Er ya?" tanya Mentari pada Yasmin yang duduk di sampingnya.
"Kenapa, kak?"
"Memangnya kamu nggak melihat kalau Mas Er terlihat sedang bersedih? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Entahlah. Hal itu aku lihat sejak 2 hari yang lalu saat kak Er pulang dari berziarah ke makam anak kalian."
Yasmin terkejut. "Kak Er pergi berziarah juga?"
"Memangnya kamu pergi ke sana juga?"
Kedua perempuan itu saling menatap dengan bingung. Yasmin ingat bagaimana ia menangis di makam kakeknya. Apakah kak Er melihat aku? Apakah ia mendengar semua yang ku katakan pada saat aku berbicara di makam kakek?
Mata Yasmin menatap Erdana yang sedang bermain dengan As. Ia tertawa bersama putranya itu namun pancaran matanya terlihat tak bersinar. As bahkan beberapa kali menarik tangan papanya karena ia terlihat melamun.
***********
Nick dan Elmira akhirnya memasuki kamar pengantin mereka setelah pesta itu berakhir pukul 10 malam. Kamar yang dihiasi sangat indah dan romantis.
"Akhirnya, kita sah sebagai suami istri, sayang." kata Nick setelah membuka tuxedo yang dipakainya.
Elmira menatap suaminya. Pria tampan yang sempat membuat hidupnya tak tenang karena hubungan mereka yang tak ada kejelasan.
"Aku bahagia, Nick. Sangat bahagia."
Nick membelai wajah istrinya. "Aku juga bahagia, sayang. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata kebahagiaan yang kini kurasakan."
Elmira memegang tangan Nick yang masih ada di pipinya. Ia kemudian mengecup tangan itu dengan lembut. "Aku mencintaimu, Nick."
"Aku juga lebih mencintaimu, El. Bidadari ku, wanita terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku."
Keduanya saling bertatapan dengan mesra lalu entah siapa yang mulai, mereka kini sudah saling menyatu dalam ciuman yang lembut, penuh ungkapan kasih sayang dan juga percikan api yang mulai membakar raga mereka.
Nick yang sudah menahan hal ini sejak pertama kali ia mencium Elmira, kini tak mau menahan dirinya lagi. Tangannya dengan cepat menarik turun resleting gaun pengantin Elmira tanpa melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Aku akan memilikimu secara utuh malam ini, sayang. Kita akan melalui malam ini dengan kenangan yang tak akan pernah kita lupakan seumur hidup kita. Aku janji, El. Tak akan pernah membagi hatiku dengan yang lain. Kau adalah satu-satunya dalam hidupku sampai maut memisahkan kita." bisik Nick lalu membuka mahkota yang ada di kepala Elmira.
"Aku juga tak akan pernah menduakan mu, Nick. Aku akan setia sampai akhirnya aku menutup mata." kata Elmira lalu membuka kancing-kancing kemeja Nick.
Nick menurunkan gaun pengantin Elmira. Gadis itu terlihat sangat gugup namun ia sudah siap untuk melewati malam yang mendebarkan ini.
"Ayo kita ke ranjang pengantin kita, sayang." Kata Nick dengan nada sensual tanpa menyembunyikan hasratnya yang ada. Ia menggendong tubuh Elmira yang nyaris polos seperti juga dirinya.
Setelah ia membaringkan Elmira dengan sangat hati-hati, Nick pun meredupkan lampu yang ada di kamar hotel itu. Ia tersenyum ke arah Elmira yang nampak merona. Ia telah memiliki hati Elmira, kini saatnya ia memiliki tubuh istrinya itu.
****************
Mentari berhasil mengajak Yasmin untuk tidur di rumahnya malam ini. Sekalipun malam ini masih malam miliknya bersama Erdana namun ia tahu ada sesuatu yang harus dibicarakan oleh Erdana dan Yasmin.
Tadi saat resepsi pernikahan, Prayuda datang bersama ayahnya dan ibu Jeslin. Mentari dapat melihat kalau ibunya kini sedikit gemuk dan nampak semakin awet muda saja. Mungkin karena ibunya sekarang tak kesepian lagi dan merasa di cintai.
Prayuda sendiri terlihat berbaur dengan beberapa dokter yang juga menjadi tamu. Ia sama sekali tak datang menyapa Mentari dan Yasmin yang selama perayaan pesta itu selaku duduk bersama. Mentari tahu pasti pria itu dengan sengaja ingin menghindar.
Yasmin yang ada di kamarnya juga nampak gelisah. Apalagi saat ia tahu kalau Erdana pergi ke makam di hari yang sama dengannya. Ada rasa penasaran untuk tahu apakah Erdana melihatnya di sana atau tidak.
Saat Yasmin akan membuka pintu kamar dan keluar untuk mengambil minum, ia terkejut melihat Erdana yang sudah berdiri di depan pintu.
"Kak...?"
"Tentu saja boleh."
"Kita bicara di ruang keluarga." Erdana melangkah diikuti oleh Yasmin.
Ruang keluarga letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Suatu ruangan yang tak terlalu luas, tempat keluarga menonton TV bersama.
"Mana kak Mentari?" tanya Yasmin saat keduanya sudah duduk bersama.
"Mentari sudah tidur."
Yasmin hanya mengangguk. Ia sedikit jengah karena Erdana menatapnya tanpa berkedip.
"Yas, apakah kau tak bahagia denganku?" tanya Erdana saat keduanya sudah saling diam beberapa menit lamanya.
Yasmin mengangkat wajahnya. Ia menatap Erdana yang juga menatapnya. "Aku bahagia, kak."
"Kau tak bahagia, Yas. Kau selalu merasa berada diantara aku dan Mentari. Bukankah kau yang menginginkan pernikahan seperti ini? Ataukah karena ada lelaki lain seperti yang pernah kau katakan waktu itu?" tanya Erdana sedikit frustasi. Sangat jelas terlihat kalau ia cemburu.
"Bukan, kak."
"Siapa lelaki itu?"
__ADS_1
"Dia bahkan tak tahu kalau aku menyukainya."
Erdana meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya erat. "Aku tak mau kehilangan kamu, Yas. Aku mencintaimu sebagaimana hatiku juga mencintai Mentari. Aku tahu kalau hatiku akan hancur jika harus kehilanganmu. Tapi yang kulihat kau semakin tak bahagia bersamaku. Apakah karena kita yang terlalu sibuk ataukah karena memang rasa di hatimu yang telah hilang?"
"Kak....!" Yasmin melihat Erdana yang terluka.
"Aku mendengar semua yang kau katakan di makam kakek mu. Aku sangat sedih mendengar kenyataan bahwa selama ini kau menderita. Kau begitu jauh dariku sekarang. Kau menenggelamkan diri dalam kesibukan mu hanya karena ingin memberikan kesempatan bagiku lebih banyak dengan Mentari. Kau tak memberikan aku kesempatan untuk kembali mendekap hatimu yang telah terbagi. Bahkan peristiwa penculikan Andre pun tak kau ceritakan padaku. Aku baru mengetahuinya tadi saat komisaris polisi bercerita padaku. Kenapa, Yas? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Katakan aku harus bagaimana untuk memperbaikinya?"
Yasmin terkejut melihat Erdana yang nampak frustasi. Mata pria yang biasanya terlihat tegar itu nampak basah. "Kak...., maafkan aku!"
"Maaf untuk apa lagi, Yas? Aku sebagai suami yang tak tahu apapun tentang mu. Kau menyimpannya sendiri. Aku tadi bicara dengan Prayuda untuk berterima kasih padanya. Ia juga terkejut karena kau tak menceritakan hal ini padaku."
"Kak, saat itu kak Mentari masuk rumah sakit. Aku tak mau menambah beban pikiranmu."
"Ini sudah resiko bagiku karena berpoligami, Yas. Aku harus bisa membagi perhatian yang sama dengan kedua istriku. Kau selalu mengalah untuk Mentari. Tanpa kau sadari bahwa kau juga membutuhkan aku. Dan akhirnya, orang lain datang dan memberikan apa yang kau butuhkan."
"Kak......!"
Erdana berdiri lalu menghapus air matanya dengan kasar. "Aku juga mendengar kalau kau ingin melanjutkan S2 mu di luar negeri."
"Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Aku mendengar percakapan ayahmu dengan direktur rumah sakit tempat kau bertugas." Erdana memejamkan matanya. Menahan rasa sakit yang ada dalam hatinya. Semua tentang Yasmin justru ia ketahui dari orang lain.
"Aku belum memutuskan untuk pergi, kak."
Erdana menatap Yasmin yang masih duduk sambil menatapnya. "Kau tak bahagia denganku, kan? Bagaimana aku bisa menahan mu jika kau tak bahagia lagi? Bagaimana aku bisa memenuhi janjiku pada kakek mu jika hubungan ini justru semakin menyiksamu? Walaupun sakit, walaupun ini akan membunuhku, mungkin sebaiknya kita...."
"Maaf, aku menganggu kalian." Mentari tiba-tiba muncul sambil memegang perutnya.
"Ri, ada apa?" tanya Erdana.
"Aku mengeluarkan darah, mas." ujar Mentari sambil menunjukan darah yang sudah mengalir di betisnya.
"Astaghfirullah!" teriak Yasmin panik. Sedetik kemudian, Mentari jatuh namun dengan cepat Erdana memeluk istrinya itu sebelum ia menyentuh lantai.
************
Good morning
selamat hari Rabu
semangat terus ya guys......
Dukung emak juga....
__ADS_1