
Naura, Wisnu, Gayatri dan Satria duduk bersama di ruang tamu keluarga Furkan. Mereka sedang menunggu kedatangan Erdana.
"Aku tak menyangka kalau Yasmin yang akan mengurus gugatan cerai. Aku sudah berulang kali membujuk anakku itu untuk tidak bercerai, namun keputusannya sudah bulat. Katanya, ia tak mau pergi dengan status yang menggantung." Kata Gayatri sambil mengusap air matanya.
"Maksudku memintanya untuk kuliah di luar negeri supaya ia bisa menata kembali hatinya. Mungkin kalian belum tahu, anakku merasa tertarik dengan pria lain. Dia yang masih sangat muda, merasa mampu untuk menjalani pernikahan poligami. Nyatanya, ia merasa kesepian saat Erdana harus bersama Mentari. Laki-laki itu hadir dan mengisi hati Yasmin dengan perhatiannya. Maafkan Yasmin." Kata Satria dengan rasa sesal di hatinya.
"Dalam hal ini Yasmin memang salah karena ia bermain hati. Tapi ini semua terjadi karena ia masih muda. Aku dapat mengerti perasaan Yasmin. Dulu, walaupun aku menikah tanpa cinta dengan mas Wisnu, namun jauh di lubuk hatiku, aku tak suka saat mas Wisnu harus bersama mereka. Makanya aku memberontak, ingin lepas dari pernikahan poligami. Aku bahkan pernah meminta cerai dari mas Wisnu. Untunglah, takdir mengubah hidup kami dan menjadikan aku satu-satunya yang mas Wisnu cintai. Poligami itu memang tak salah namun baik pihak istri maupun suami harus sama-sama ikhlas dalam menjalani pernikahan ini. Yasmin mungkin ikhlas menerima Mentari namun dia yang tak bisa menolak perhatian Prayuda. Aku tahu Prayuda tak bermaksud menggoda Yasmin, namun kebersamaan itu yang membuat mereka dekat. Sikap Yasmin yang lembut, polos dan apa adanya, membuat banyak pria jatuh hati kepadanya. Termasuk juga Erdana. Aku yakin kalau anakku mencintai Yasmin. Sebesar rasa cintanya untuk Mentari." Ujar Naura. Membuat Gayatri dan Satria terkejut.
"Mba tahu kalau laki-laki itu adalah Prayuda?" tanya Gayatri.
"Erdana sudah curhat padaku. Anakku menangis karena Yasmin mencintai pria lain. Namun ia juga mengerti mengapa itu terjadi. Andai saja Yasmin tak menunjukan perasaannya saat Prayuda tertembak, Erdana pasti tak akan pernah tahu siapa laki-laki itu." Naura berkata lirih. Ia dapat merasakan bagaimana sedihnya Erdana saat menangis di pangkuannya. Sesuatu yang tak pernah dilakukan Erdana seumur hidupnya.
"Assalamualaikum!"
Semua menoleh ke arah pintu masuk. Nampak Erdana berdiri di sana. Ia kelihatan lelah, kusut dan juga kurus. Hati Naura menjadi semakin sedih melihat keadaan putranya. Rambutnya gondrong dan dia sedikit brewokan.
"Waalaikumsalam."
Erdana mencium tangan semua orang yang ada di ruang tamu itu.
Satria menatap Erdana. Ia dulu sangat membenci Erdana karena telah memperkosa anaknya. Namun Erdana sudah membuktikan kalau ia bertanggungjawab untuk kehidupan Yasmin. Akhirnya Satria mampu menyayangi Erdana seperti juga ia menyayangi Yasmin.
"Ada apa kita berkumpul seperti ini?" tanya Erdana setelah duduk.
"Kami hendak membicarakan tentang masalah gugatan Yasmin." kata Satria.
"Aku rasa tak ada yang harus dibicarakan. Aku ingin semuanya berjalan seperti yang Yasmin mau. Namun walaupun Yasmin tak memintanya, aku akan tetap memberikan apa yang menjadi hak Yasmin." ujar Erdana.
"Erdana, ibu sedih mengapa pernikahan kalian harus seperti ini." ujar Gayatri.
"Jangan bersedih, bu. Walaupun aku dan Yasmin akhirnya akan bercerai, bukan berarti hubungan keluarga kita akan menjadi renggang. Aku dan Noah bahkan menjalin kerja sama untuk sebuah proyek dalam jangka waktu 3 tahun ke depan. Aku juga bilang ke Noah bahwa tak ada yang akan berubah sekalipun aku hanya akan menjadi mantan adik iparnya."
Wisnu menatap putranya dengan bangga. Erdana yang terkenal posesif dan sedikit egois, ternyata mampu bersikap dewasa kali ini. Ia memilih mengalah. Sebenarnya jika Erdana tak setuju dengan gugatan Yasmin, ia bisa saja melakukannya. Gayatri dan Satria pasti akan menopangnya. Namun Erdana memilih terluka, asal Yasmin bisa bahagia.
Dulu, Wisnu juga menjalani poligami. Namun ia tak pernah mencintai kedua istrinya. Berbeda dengan Erdana. Wisnu percaya bahwa Erdana mencintai Yasmin. Kalau tidak, maka Erdana tak akan terluka seperti ini.
Percakapan itu pun berakhir dengan baik. Erdana pamit untuk kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
"Bojes, jika putusan perceraian kami sudah selesai, tolong jual saja apartemen itu. Aku tak mau kembali lagi ke sana. Karena apartemen itu justru akan membuat aku semakin sulit melupakan Yasmin." ujar Erdana dalam perjalanan ke rumah sakit.
***********
3 bulan telah berlalu. Baby Azhra kini telah berusia 4 bulan. Ia sudah tumbuh semakin besar dan gemuk. Matanya indah, seperti mata Erdana. Hidungnya mancung seperti hidung Erdana dan Mentari. Bibirnya yang tipis dan merah muda seperti bibir Mentari. Alisnya yang indah itu pun mirip Mentari. Semua orang akan setuju kalau kecantikan Azhra adalah perpaduan antara ayah dan ibunya.
Perlahan Erdana mulai menata hatinya. Ia bekerja dan terus berdoa ada keajaiban yang akan membuat Mentari kembali membuka matanya. Ia perlahan juga menyembuhkan luka hatinya. Yasmin sama sekali tak pernah mengabarinya apapun. Semua akun media sosial Yasmin tak terhubung lagi dengan Erdana.
Kata Elmira, Yasmin telah menutup semua akun nya. Beberapa waktu yang lalu, ibu Naura menceritakan pada Erdana kalau Gayatri berangkat ke Amerika untuk menemui anaknya.
"Selamat siang...!" Elmira membuka pintu ruangan perawatan Mentari. Ini hari minggu dan ia tahu kalau kakaknya akan menghabiskan waktunya untuk menemani Mentari.
"El, sendiri?" tanya Erdana.
"Iya. Nick sedang nggak enak badan. Dia lagi malas naik mobil."
"Kenapa?"
"Aku yang hamil namun Nick yang ngidam. Ia bahkan sering mual dan muntah jika mencium bau masakan."
"Iya. Sudah memasuki Minggu ke-8." kata Elmira sambil membelai perutnya yang masih rata.
"Wah...wah....hasil bulan madunya tokcer juga ya?"
Elmira sedikit tersipu. "Sebenarnya saat berangkat bulan madu, aku sudah hamil. Makanya kami pergi bulan madu 3 minggu saja. Nick mulai ngidam."
Erdana tertawa. "Enak juga kamu, ya? Nggak merasa mual dan muntah kayak Mentari."
"Anggaplah kami berbagi tugas. Aku yang hamil dan Nick yang ngidam. Adil kan?"
"Boleh juga."
Elmira mendekati tempat tidur Mentari. "Hai Mentari, bangun dong. Apa nggak kangen ngerumpi bareng aku? Aku bawa hadiah dari Vanesia buat kamu. Tapi tunggu kamu bangun dulu. Baby Azhra sangat cantik dan lincah. Dia nggak pilih-pilih orang. Siapa saja yang memeluknya pasti dia suka. Namun aku yakin kalau Azhra lebih suka dipeluk olehmu. Jadi jangan lama-lama tidurnya, ya?" Elmira memegang tangan Mentari. Mengusap punggung tangan adik iparnya itu dengan sangat lembut.
"Tar, apa kamu nggak kasihan dengan Erdana? Sekarang ia harus melakukan semuanya sendiri. Kerja nggak ada yang menyiapkan pakaian, makan juga kadang nggak teratur. Nggak ada lagi perut Erdana yang kotak-kotak dan berotot. Yang ada dia jadi cowok kerempeng yang kucel, brewokan, rambutnya juga gondrong. Nggak tampan lagi sebagai adik Elmira Furkan." Elmira berusaha menahan air matanya. Namun ia tak bisa. Ia sedih melihat Mentari yang tak lagi bersinar. Kulitnya terlihat pucat tampak tak sehat. Dia bagaikan mayat hidup.
Erdana melingkarkan tangannya di bahu Elmira. "Sudah dong. Kamu akhirnya membuka semua yang kurahasiakan dari Mentari."
__ADS_1
"Mentari harus tahu kalau kamu nggak tampan lagi, Er. Mana Erdana Furkan yang kalau memberi seminar di kampus-kampus selalu digilai oleh para cewek? Sekarang yang ada justru cewek membuang muka jika melihat kamu. Yasmin bahkan pergi ninggalin kamu. Apakah itu sudah kamu katakan pada Mentari?"
"Nggak."
"Semoga Mentari dengar dan langsung membuka matanya. Kasihan dia, Tari. Yasmin pergi. Kuliah di luar negeri. Erdana sendiri."
"El....!"
Elmira menghapus air matanya. "Aku kasihan sama kamu, Er. Bisa-bisa kamu meninggal karena terlalu banyak yang harus kamu pikirkan sendiri. Mentari yang tak kunjung bangun, As dan Azhra dan hatimu yang terluka karena berpisah dengan Yasmin."
Erdana menarik napas panjang. "Aku menjalaninya dengan ikhlas. Allah memberikan aku kekuatan."
Elmira menatap saudara kembarnya itu dengan perasaan sedih. Namun saat ia kembali menatap Mentari, ia hampir saja berteriak.
"Ya Allah, Mentari menangis, Er."
Erdana melihat pipi Mentari yang basah karena air mata. "Sayang....., apakah kau mendengar percakapan kami?" tanya Erdana lalu mencium tangan Mentari. Namun istrinya itu masih diam. Tak bergerak ataupun juga membuka matanya. Hanya air bening itu yang nampak keluar dari sudut matanya.
*************
Erdana menunaikan sholat subuh nya di dalam ruangan perawatan Mentari. Biasanya selesai sholat, Erdana akan duduk di samping Mentari dan membaca Alquran.
Setelah menyimpan peralatan sholatnya di dalam lemari, Erdana bermaksud akan ke kamar mandi dulu untuk buang air. Namun alangkah terkejutnya ia saat mendengar ada suara yang sangat pelan namun terdengar jelas di telinganya.
"Mas.....!"
Erdana berbalik. Ia mendekati brangkar tempat Mentari berbaring. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mentari sudah membuka matanya
"Alhamdulillah ya Allah....!" ucap Erdana lalu mencium dahi Mentari dan menangis sambil memeluk istrinya.
************
Hallo semua.....
mendekati episode akhir guys....
semangat terus ya membacanya
__ADS_1