CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Rasa Yang Tak Biasa (part 2)


__ADS_3

Ada yang komen, part Erdana dan Mentari lebih panjang dari part Yasmin dan Erdana. Kan di episode-episode awal part Yasmin dan Erdana cukup banyak. Jadi semoga bisa nyimak cerita ini tanpa merasa emak berat sebelah ya...


**********


Hari ini Prayuda memilih pulang ke rumah papanya. Ia rindu juga dengan Suasana kamarnya di sana.


"Selamat malam, tuan muda." Sapa Mina, kepala pelayan yang ada di rumah ini.


"Selamat malam, bi. Rumah sepi ya?"


"Iya tuan. Semua sedang keluar. Biasalah hari minggu. Mau bibi siapkan makan malam?"


Prayuda mengangguk. "Aku mau mandi dan sholat Isya dulu."


"Baik tuan."


Prayuda segera ke kamarnya. Ia mandi dan sholat. Dalam sholatnya, Prayuda justru ingat Yasmin yang menangis dalam pelukannya.


Ya Allah, perasaan apa ini? Yasmin sudah ku anggap sebagai adikku. Aku tak boleh memiliki perasaan lain padanya. Hilangkan rasa ini ya Allah. Aku sungguh tak mau Erdana salah mengerti seperti aku dan Mentari dulu.


"Tuan muda, makan malamnya sudah siap" terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


"Iya, bi. Sebentar lagi aku turun!" Prayuda menyimpan peralatan sholatnya. Setelah itu ia turun ke bawa. Pada saat yang sama, papanya baru saja pulang.


"Papa!" Sapa Prayuda sambil tersenyum.


"Tumben anak papa ada di rumah ini."


"Memangnya aku nggak boleh pulang?"


"Papa pikir kamu sedang kencan dengan dokter Elif."


Prayuda tertawa. "Gosip di rumah sakit, sampai juga di telinga papa."


"Dokter Elif cukup terkenal sebagai dokter ahli kandungan di rumah sakit besar itu. Dia cantik, pintar, menarik. Apa lagi yang kurang?"


"Yang kurang adalah hatiku tak ada namanya."


"Wah, perlu di periksa hatimu itu."


"Kita makan malam ya pa?"


Sebenarnya dokter Yuda masih kenyang karena ia saja dari rumah Jeslin untuk makan siang bersama, setelah itu Jeslin membuatkan kopi dan menikmati kue buatan Jeslin yang sangat enak sehingga Yuda makannya cukup banyak. Namun ia merasa ini saatnya untuk berbincang dengan putra sulungnya ini.


"Ok." Yuda melangkah lebih dulu ke meja makan.


Saat keduanya sementara menikmati makan malam bersama, Yuda pun memulai percakapan diantara mereka.


"Pra, papa mau menikah lagi."


Prayuda tersenyum. "Sudah ku duga. Papa nggak tahan hidup menduda terlalu lama. Tapi, dengan siapa? Aku tak pernah mendengar papa kencan dengan perempuan lain."


"Dia adalah cinta pertama papa."


"Tante Jeslin?" tebak Prayuda sedikit terkejut.


"Iya. Kamu nggak marah kan?"


Prayuda menggeleng. "Nggak, pa. Mengenai perasaanku pada Mentari, aku kan sudah pernah bilang, semenjak aku menjadi saksi pernikahan mereka di Amerika, aku sudah membuang semua rasa cintaku untuknya. Memang, saat Mentari sakit dan jauh dari Er, aku mendampinginya. Aku sempat punya harapan untuk memilikinya lagi. Tapi akhirnya aku sadar, hati Mentari seutuhnya hanya untuk Erdana. Tak ada ruang bagiku. Dan di saat aku ingin serius dengan Gisel, dia justru sudah terlanjur terluka karena seringnya aku meninggalkan dia."


"Papa senang karena kamu mau mendukung hubungan papa dengan tante Jeslin. Namun papa sedih juga. Anak papa yang tampan, sukses dan mapan ini tak juga memiliki jodoh. Usiamu hampir 30 tahun, nak."


"Masih 3 bulan lagi."


"Target berapa kamu mau menikah?"


"35. Mungkin." Prayuda menjawab penuh ironi.


"Ketuaan."


"Papa saja berhasil menemukan cinta sejatinya saat sudah berusia 50an."


"Tak semua orang bisa seberuntung papa. Bisa mendapatkan cinta sejati dalam hidupnya. Oh, ya, mamamu menelepon. Kapan kamu mengunjunginya di Surabaya?"


"Nanti, pa. Sekarang lagi banyak pekerjaan. Lagi pula, aku nggak terlalu suka dengan suami mama itu. Orangnya cuek, selalu menatap aku dengan curiga. Seolah-olah setiap aku ke Surabaya, aku akan menghabiskan uangnya. Pada hal aku kan punya uang sendiri."

__ADS_1


Yuda tersenyum. "Setidaknya, mamamu bahagia dengan lelaki pilihannya itu. Papa mau mandi dan langsung beristirahat ya?"


Prayuda mengangguk. Ia masih ingin duduk dan menikmati makanan penutup di ruang makan ini. Saat ia memejamkan matanya, ia justru mengingat senyum dan tawa khas Yasmin saat mereka bersama. Aku harus menjauhi Yasmin!


*************


"Yas, bangun! Memangnya hari ini kamu nggak ke rumah sakit?"


Yasmin yang masih memeluk guling dan berlindung di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya membuka matanya perlahan. "Aku masih mengantuk, kak." katanya sedikit merengek. Yasmin merasa lelah. Semalam, ia sendiri yang meminta pada Erdana agar mereka bercinta sampai 3 ronde. Yasmin ingin membuang rasa nyaman yang ia alami saat memeluk Prayuda. Dan memang Yasmin berhasil. Erdana mampu mengalihkan pikirannya dengan sentuhannya yang membuat Yasmin melayang. Namun akibatnya, ia merasa sangat lelah pagi ini dan malas untuk membuka matanya.


Erdana yang sudah siap dengan baju kerjanya kembali menepuk pipi Yasmin dengan lembut. "Tapi sekarang sudah jam setengah delapan. Ini hari Senin lho."


"Apa?" Mata Yasmin langsung terbuka lebar. Ia bangun dan melemparkan selimutnya dengan sembarangan. "Kenapa kakak nggak bangunkan aku dari tadi?" tanpa peduli dengan tubuh polosnya, Yasmin segera berlari ke kamar mandi.


Erdana hanya bisa menggelengkan kepalanya Ia sudah membangunkan Yasmin sejak jam setengah tujuh. Namun Yasmin terlihat begitu lelap. Ia tak sampai hati membangunkannya karena ia tahu, mereka menghabiskan am dengan sangat panas. Erdana sendiri merasa ada yang lain dari diri Yasmin.


"Kak, aku pergi dulu ya?" Yasmin keluar kamar dengan rambut yang terlihat masih basah. Ia tak punya kesempatan untuk mengeringkan rambutnya.


"Minum dulu susunya."


"Tapi aku sudah terlambat, kak."


"Susunya sudah siap untuk diminum. Tak terlalu panas." Erdana mengambil susu yang sudah dibuatnya dan memberikannya pada


Yasmin.


Yasmin pun meminumnya. "Terima kasih, kak. Aku pergi dulu."


"Kita sama-sama pergi."


Keduanya pun keluar dari apartemen secara bersama. Setelah sampai di tempat parkir, Yasmin segera menuju ke mobilnya.


"Yas, lupa?" tanya Erdana sambil mengulurkan tangannya.


Yasmin tersenyum. Ia mengambil tangan Erdana dan menciumnya dengan lembut. "Aku pergi ya?"


"Hati-hati menyetirnya." Erdana mengingatkan sebelum Yasmin menghilang dengan mobilnya. Setelah itu, Erdana pun masuk ke dalam mobilnya.


**********


Yasmin berlari memasuki rumah sakit. Ia sudah terlambat hampir satu jam. Padatnya lalu lintas Jakarta di pagi hari membuat perempuan itu menggerutu sepanjang perjalanannya ke rumah sakit.


Langkah Yasmin terhenti saat melihat beberapa temannya nampak santai berdiri di depan ruangan Prayuda.


"Aku terlambat. Maaf." Kata Yasmin dengan napas yang tersengal-sengal.


"Kamu beruntung, Yas. Dokter Prayuda nggak masuk hari ini. Katanya ada tugas di rumah sakit lain. Beliau sudah menelepon Amira dan memberitahukan apa yang harus kita lakukan." ujar Boni.


Yasmin menarik napas lega. Namun sedetik kemudian dia terdiam. Bukankah selama ini Prayuda selalu meneleponnya jika terlambat datang? Bukankah selama ini Yasmin yang menjadi asistennya Prayuda? Kenapa sekarang Amira ya?"


Yasmin mengambil ponselnya dan memeriksa apakah Prayuda meneleponnya. Ternyata tidak. Di kotak pesan pun tak ada.


"Yas, ayo kita visit ke kamar pasien." Ajak Amira membuyarkan lamunan Yasmin.


Yasmin pun memakai jas putihnya. Lalu ia melangkah mengikuti Amira. Entah mengapa ia merasa ada yang kurang pagi ini.


*************


Bojes mengambil file yang sudah ditandatangani oleh Erdana.


"Apakah masih ada jadwalku hari ini, Bojes?"


"Hari ini tak ada pertemuan atau rapat apapun."


"Baiklah. Aku mau istirahat sebentar." Erdana menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Apakah tuan butuh sesuatu?"


"Tidak. Kalau ada tamu atau ada telepon untukku, kamu terima dulu ya?" Erdana melangkah menuju ke sofa panjang yang ada di ruangannya. Fisiknya memang lelah. Namun yang lebih melelahkan adalah psikisnya. Ia tak tahu bagaimana caranya meyakinkan Mentari untuk mengeluarkan janinnya.


Bojes menutup pintu ruangan Erdana saat melihat bosnya itu sudah membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Erdana mencoba memejamkan matanya. Hatinya gelisah memikirkan Mentari. Tapi pagi saja saat ia menelepon Mentari, ponselnya tak aktif. Saat Erdana menelepon orang tuanya, baby As ternyata masih ada di sana.


Asisten rumah tangga yang menerima panggilan Erdana mengatakan bahwa setelah sarapan, Mentari ada di ruang kerjanya dan berpesan bahwa ia tak mau diganggu bahkan oleh Erdana sekalipun.

__ADS_1


Kepala Erdana yang sakit membuatnya harus memijat pangkal hidungnya. Makan siang saja Erdana tak bergairah pada hal Bojes sudah memesan makan siang dengan menu makanan kesukaan Erdana.


Erdana melirik jam tangannya. Sudah jam 4 sore. Ia akan beristirahat sedikit sebelum akhirnya pulang ke apartemen.


Baru saja Erdana akan terlelap, ia mendengar pintu ruangannya di buka. Erdana ingin marah pada Bojes, namun melihat siapa yang berdiri di belakang Bojes, ia langsung bangun.


"Mentari?"


"Jangan marah pada Bojes. Aku yang memaksa ingin masuk ke tempat ini." Ujar Mentari.


"Tidak apa-apa. Kau boleh keluar, Bojes."


Bojes mengangguk dan langsung meninggalkan Erdana dan Mentari berdua.


Erdana menarik napas panjang. Ia memandang Mentari yang nampak kusut. Matanya sembab. Pasti karena banyak menangis. Ia tak beradab dan sedikitpun. Wajahnya terlihat pucat. Hampir sama dengan hijab putih yang dikenakannya.


"Sayang ....., haruskah kita bertengkar terus? Seharian ini aku gelisah memikirkan mu." Erdana berkata lembut lalu mendekati Mentari.


Mentari berusaha tersenyum. "Maaf."


Erdana membawa Mentari ke dalam pelukannya. "Ayo duduk. Kamu terlihat tak baik." Erdana menuntun Mentari untuk duduk di sofa.


"Ada apa ke sini? Kenapa nggak telepon saja biar aku yang ke rumah?"


"Aku ada urusan sebentar di butik."


"Kamu menyetir sendiri dalam keadaan seperti ini?" tanya Erdana sambil memegang tangan Mentari.


"Aku baik-baik, saja. Aku ke sini untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku siap untuk melakukan aborsi."


Erdana terkejut mendengar perkataan Mentari. Ia menatap mata istrinya itu secara langsung. Ia dapat melihat luka di mata itu.


"Kamu serius?"


Mentari mengangguk walaupun ada sebutir air mata yang lolos dari mata indahnya.


Erdana menghapus air mata Mentari. "Kamu yakin?"


Mentari mengangguk. "Aku baru konsultasi dengan dokter kandunganku. Besok pagi, tindakan abortus itu akan dilakukan di rumah sakit. Ia juga sudah menerima surat rekomendasi dari dokter Arlisa. Dengan alasan keselamatan dari ibu, makanya tindakan aborsi dapat dilakukan."


"Aku akan menemanimu, besok." Erdana kembali memeluk Mentari. Tangis Mentari pun pecah.


"Kita bisa memiliki anak lagi, sayang. Tunggu sampai proses pengobatan mu selesai dan saat As sudah berusia 5 tahun." Erdana mengusap punggung Mentari. Berusaha menenangkan istrinya itu. Ia lega karena Mentari akhirnya memikirkan keselamatannya sendiri.


**********


"Kamu ada apa, Yas? Aku perhatikan semenjak pagi apa yang kau kerjakan salah. Ngecek suhu tubuh pasien saja nggak benar. Kamu ada masalah?" tanya Amira.


Yasmin duduk di kursi sambil memijat kepalanya. "Aku hanya kelelahan saja."


"Kamu nggak bersemangat kayaknya."


"Aku mau pulang saja ya? Sekarang sudah jam 5 kan?"


"Iya. Jam 5. Sudah tanda tangan absen?"


"Sudah." Yasmin menyerahkan kertas absen yang baru saja ditandatanganinya.


"Aku akan membawa ini ke ruangan dokter Prayuda."


"Memangnya dokter Prayuda ada?"


"Ya. Beliau datang tadi jam 1 siang."


Kenapa kak Prayuda tak menghubungi aku? Biasanya kan kami makan siang bersama. Ya Allah, apakah aku kurang bersemangat hari ini karena dia tak ada? Aku sungguh sudah gila.


Yasmin melangkah menunju ke toilet. Ia mencuci wajahnya. Lalu mengambil tissue untuk mengeringkannya. Setelah itu Yasmin memperbaiki ikatan di rambutnya. Ia kemudian keluar dari toilet dan langsung mengambil tas dan jas putihnya.


Saat ia akan keluar, langkah Yasmin terhenti melihat Prayuda sedang berbicara dengan dokter Elif. Entah apa yang mereka bicarakan namun dokter Elif terlihat sedang tertawa. Prayuda memang suka sekali menceritakan cerita yang lucu. Para dokter muda yang berada di bawa bimbingannya selalu merasa senang saat berada di dekat dokter tampan itu.


Yasmin memilih untuk mengikuti jalan yang lain. "Yasmin.....!" terdengar suara dokter Elif memanggilnya.


Yasmin menghentikan langkahnya. Sial!


*************

__ADS_1


Selamat pagi....


semangat Kamis ya....


__ADS_2