
Malam semakin larut tapi Mentari tak bisa memejamkan matanya. Pembicaraannya dengan Yasmin dan Erdana tadi, sama sekali tak membuahkan hasil.
Mentari menatap putranya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Selimut lembut berwarna biru itu membungkus tubuh mungilnya. Baby As nampak damai dalam tidurnya.
Terbayang kembali percakapan mereka tadi. Hati Mentari tak tega jika Erdana harus berpoligami. Ia sendiri dapat merasakan kalau Erdana sebenarnya tak ingin menjalankan pernikahan seperti itu. Makanya Mentari mengatakan kalau ia tak ingin berpoligami karena ia tak mau Erdana menjadi pusing nantinya. Mentari juga tak ingin menyakiti Yasmin karena ia dapat melihat, Yasmin sudah menyayangi Erdana.
Pintu kamarnya diketuk.
"Masuk!" kata Mentari. Ia tahu itu pasti Diana yang membawakan susu As.
"Ri.......!" panggil Erdana setelah membuka pintu.
Mentari menoleh dengan kaget. Erdana ternyata yang masuk.
"Kenapa kau masih di sini? Kau tak kembali ke hotel?" Mentari tahu kalau tadi Er, El dan Yasmin sudah pamitan untuk pulang. Mentari tak dapat mengantar mereka sampai di depan pintu karena baby As sudah merengek minta digendong oleh mamanya sebab ia sudah mengantuk.
"Kami nggak pulang, Ri. Maaf kalau Diana tak mengatakan padamu. El dan Yasmin ada di kamar tamu. Yasmin bersikeras untuk tetap ada di sini sebelum kamu mengambil keputusan." Erdana melangkah semakin dekat dan akhirnya berdiri di samping box baby As. Wajahnya tersenyum melihat wajah putranya.
"Keputusan apa lagi? Aku nggak mau menjalani pernikahan poligami. Kamu kan tahu kalau aku sangat posesif orangnya." ujar Mentari.
Erdana duduk di samping Mentari. "Tatap aku dan katakan kalau kamu memang tak ingin bersamaku!" Erdana memegang dagu Mentari dan memaksakan perempuan itu untuk menghadap ke arahnya.
"Jangan paksa aku, Er! Kamu dapat datang kapan saja untuk menjenguk baby As. Tapi jangan paksa aku untuk ada diantara dirimu dan Yasmin." Mentari mengalihkan pandangannya. Namun Erdana kembali memaksanya untuk saling bertatapan.
Hati Mentari bergetar. Sungguh ia tak mampu berbohong di hadapan Erdana mengenai perasaannya. Inilah yang ia takutkan jika berjumpa lagi dengan Erdana.
"Tolong tetap ada di sampingku. Aku butuh kamu, Ri. Aku akan berusaha adil diantara kalian. Kamu bukan orang yang terlalu posesif. Aku yakin kalau kamu dapat memahami ketulusan hati Yasmin."
Air mata Mentari jatuh saat Erdana membawanya ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah saat Erdana mengusap punggungnya. Hati Mentari memberontak tak ingin Er berbagi hati. Namun hatinya sendiri masih milik Erdana. Mentari sebenarnya sangat tersentuh oleh kata-kata Yasmin. Namun bagaimana jika kenyataannya mereka akan saling memendam rasa kesedihan karena Erdana tak bisa adil?
"Ri.....!" Erdana melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Mentari dengan sangat lembut. Di tatapnya mata perempuan yang sudah memberikan anak kepadanya. "Jangan pergi lagi. Aku mohon!"
"Berikan aku waktu, Er. Berikan aku waktu untuk berpikir. Aku mohon!"
Erdana mengangguk. Malam ini ia tak mau mendesak Mentari. Dikecupnya dahi Mentari. "Tidurlah. Ini sudah larut. Dokter mengatakan kalau kau harus banyak istirahat."
"Kau pergilah ke kamar tamu."
Erdana menggeleng. "Aku akan ada di sini. Bersamamu."
"Tapi Yasmin.....!"
"Yasmin juga tak mengijinkan aku kembali ke kamar tamu. Di sana ada El."
"Aku mau ganti baju dulu!"
Mentari menuju ke lemari dan mengambil piyamanya. Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Erdana berdiri di samping box anaknya sambil memandang wajah baby As yang tertidur sangat lelap. Ia bersyukur karena ternyata Mentari selalu menunjukan fotonya pada anak mereka sehingga wajah Erdana sudah familiar untuk anak mereka.
__ADS_1
Ketika Mentari keluar kamar, ia nampak sangat gugup. Bukan karena sesuatu yang berhubungan dengan keintiman melainkan Mentari sangat malu untuk membuka hijabnya. Ia malu Erdana akan melihat keadaan kepalanya yang nyaris botak karena rambutnya dicukur saat ia menjalani operasi.
Erdana dapat membaca gerakan tubuh Mentari.
"Ada apa?" tanya Erdana.
Mentari tertunduk. "Aku....., aku tak bisa tidur tanpa membuka jilbabku."
"Buka saja. Aku kan masih suami mu. Aku berhak melihatmu tanpa hijab."
Mentari menunduk. Jarinya saling bertautan. Erdana akhirnya mengerti dengan apa yang membuat Mentari gugup dan takut.
"Kau takut karena kepala mu?" tanya Erdana sambil mendekat.
Mentari mengangguk.
"Apa yang membuatmu takut? Kau tak akan terlihat indah di mataku?" tanya Erdana sambil menyentuh ujung hijab Mentari yang sebenarnya sudah terbuka hanya tinggal ditanggalkan saja.
"Jangan dilihat, Er" Mentari menahan tangan Erdana yang akan membuka hijabnya.
"Apapun keadaan tubuhmu, tak akan pernah merubah perasaanku padamu!" ujar Erdana lalu perlahan melepaskan kain yang menutupi kepala Mentari.
Mentari tertunduk ketika kain itu sudah berpindah ke tangan Erdana. Ia tak berani mengangkat wajahnya.
"Ri....!" Erdana memegang dagu Mentari dan memaksa istrinya itu menatap ke arahnya. "Kau tetap cantik. Jangan memalingkan wajahmu dariku."
"Aku memang sangat menyukai rambut panjangnya itu. Namun perasaanku padamu bukan karena rambut indahmu itu melainkan hatimu." Erdana mengusap punggung Mentari. "Aku justru suka penampilanmu yang sekarang. Kau tak lagi memakai baju seksi yang dulu selalu membuatku cemberut. Kau menarik dengan baju yang tertutup dan sangat cantik dengan hijab yang menutupi kepalamu." Erdana melepaskan pelukannya. "Tidurlah! Aku masih akan memeriksa ponselku sebentar untuk mengetahui email yang dikirimkan Bojes padaku."
Mentari mengangguk. Ia naik ke atas ranjang sedangkan Erdana duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Untuk sesaat ia tenggelam dalam pekerjaannya.
*********
Erdana selesai dengan pekerjaannya saat jam sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari. Ia tersenyum melihat Mentari yang sudah terlelap. Ia juga menghampiri box putranya dan mencium baby As yang nampak lelap juga.
Perlahan Erdana keluar dari kamar. Dia ingin melihat keadaan Yasmin dan Elmira.
Saat ia membuka pintu, lampu kamar sudah dimatikan. Erdana melangkah perlahan dan melihat kalau Elmira sudah terlelap begitu juga Yasmin. Ia mendekat, mengecup dahi Yasmin dan meninggalkan kamar mereka untuk kembali ke kamar Mentari.
Ketika Erdana menutup pintu, Yasmin membuka matanya kembali. Ia senang karena Erdana masih datang menemuinya. Sebenarnya ia tadi sempat tertidur namun ia bangun karena merasa buang air. Saat ia kembali membaringkan tubuhnya, pintu kamar terbuka. Yasmin pura-pura tidur lagi karena ia tahu bahwa itu adalah Erdana.
Mata Yasmin memandang langit-langit kamarnya. Ya Allah, semoga ayah dan ibu akan menerima keputusan ku ini. Aku rela dimadu demi kebahagiaan kak Mentari. Kasihan kak Mentari karena ia sudah menderita selama ini.
*************
Pagi harinya, Yasmin mengajak Elmira bangun pagi untuk kembali ke hotel. Ia ingin membereskan barang-barang mereka yang ada di sana dan membawanya ke rumah Mentari.
Keduanya bangun saat penghuni yang lain masih tidur. Elmira meminta Yasmin untuk mampir sebentar ke apartemen yang disewanya barulah mereka ke hotel.
"Kak El, kenapa sedih?" tanya Elmira saat keduanya sudah ada di dalam taxi yang membawa mereka kembali ke rumah Mentari. Erdana sudah menelepon mereka dan meminta agar mereka cepat kembali untuk sarapan bersama. Bojes juga sudah berada di sana dengan Gendis, kekasihnya.
__ADS_1
"Aku memikirkan Nick. Entah kenapa aku tak bisa melupakan Nick. Bukankah seharusnya aku membenci dia?"
Yasmin tersenyum. "Jangan membenci, kak.
Nanti semakin jatuh cinta."
"Lalu, mau bagaimana lagi?"'
"Belajar mengikhlaskan saja kepergiannya. Mungkin jodoh kakak bukan kak Nick. Walaupun sebenarnya agak sayang juga kalian pisah. Kak Nick tampan, atletis dan punya sejuta pesona. Cewek mana yang nggak mau bersamanya?"
Elmira semakin galau mendengar perkataan Yasmin. "Pak, boleh berhenti di supermarket itu? Aku ingin membeli sesuatu." ujar Elmira.
"Aku juga ikut turun. Tunggu sebentar ya, pak?" Yasmin turun bersama Elmira.
Jika sedang stres seperti ini, Elmira memang ingin sekali ngemil. Makanya ia mengambil keranjang dan mengisi nya hampir penuh dengan makanan ringan dan beberapa minuman. Yasmin membeli beberapa keperluannya juga.
Saat keduanya ada di lorong tempat minuman dingin, langkah Yasmin terhenti.
"Itu kan Nick!" tunjuknya
Elmira mengikuti arah pandang Yasmin.
"Singapura ini memang sungguh kecil!" guman Elmira kesal. Apalagi saat perempuan yang dilihatnya bersama Nick waktu itu ada di sana Perempuan berhijab itu nampak melingkarkan tangannya di lengan Nick dan keduanya sedang memilih minuman juga.
Sesekali mereka saling berpandangan sambil mendiskusikan apa yang akan mereka ambil. Saling menatap penuh cinta dan terlihat kalau mereka saling menyayangi.
Hati Elmira semakin hancur. Yasmin langsung menarik tangan Elmira agar berlalu dari sana.
"Ayo kita pergi! Lupakan saja dia. Perempuan itu memang istrinya." Yasmin tak ingin kalau Nick akan melihat keberadaan Elmira di sana.
Saat mereka sudah selesai membayar dan keluar dari supermarket itu, langkah Yasmin dan Elmira terhenti melihat Nick yang berdiri di sebelah mobil yang di samping taxi yang sedang menunggu mereka.
"El.....?" Nick terkejut melihat Elmira. Ia mendekat dan Elmira dengan cepat menampar Nick dengan sangat keras.
"Dasar kamu bajingan! Jangan pernah memanggil aku dengan mulut kotormu itu."
"What happen?" tanya seseorang yang membuat Elmira membalikan badannya. Matanya langsung membulat.
"Apa-apaan ini?" ujar Elmira saat melihat siapa yang ada di belakangnya.
************
Hallo semua....
selamat malam
maaf ya baru up
semoga suka
__ADS_1