
Kepala Prayuda menggeleng. "Aku tak tahu, Ri. Dan aku juga yakin kalau Yasmin tak mungkin akan mengkhianati Erdana."
"Tapi aku mendengar sendiri bagaimana mama Gayatri memarahi Yasmin tadi. Aku bukannya kepo dengan masalah mereka. Namun aku tak ingin hubungan mas Erdana dan Yasmin menjadi tak baik. Aku juga tahu kalau hati mas Er sudah mencintai Yasmin."
"Yasmin baik-baik saja. Di rumah sakit, kebanyakan temannya adalah perempuan."
"Apakah mungkin lelaki itu bukan seorang dokter?"
Prayuda menatap Mentari dengan perasaan bersalah. "Jangan terlalu dipikirkan, Ri. Ingat kalau kamu sedang hamil. Ingat juga sakit mu yang belum 100% sembuh."
"Pra, kamu kan dekat dengan Yasmin di rumah sakit. Tolong selalu nasehati Yasmin agar tetap mencintai mas Erdana ya?"
Prayuda menarik napas panjang. Ia harus pergi dari tempat ini. "Ri, hatimu sungguh baik. Kamu rela berbagi suami dengan Yasmin. Aku berharap agar ke depan rumah tangga kalian akan semakin bahagia. Aku pulang dulu ya? Ada pasien yang harus ku tangani." Prayuda berdiri. Ia mendekati papa nya yang masih berbicara dengan Satria dan Naura.
"Pa, aku pulang dulu, ya?"
"Kok pulang? Acaranya kan belum selesai?" Yuda menatap anaknya sedikit kecewa.
"Papa kan tahu, tugas dokter adalah selalu ada untuk pasiennya. Sekali lagi selamat berbahagia ya, pa?" Prayuda memeluk papanya kemudian menyalami Jeslin dan mencium punggung tangan ibu sambungnya itu.
Setelah pamitan pada Satria dan Naura, Prayuda pun segera meninggalkan rumah Jeslin.
Sementara itu, Yasmin yang tadinya pamit ke toilet sebenarnya tak pergi ke toilet. Ia hanya masuk ke dalam rumah untuk menghindari Prayuda.
Yasmin bahkan menuju ke kamar Mentari yang ia tahu ada di ujung lorong sayap kanan rumah ini.
Pintu kamar Mentari tak dikunci dan ia langsung bisa melihat Erdana yang baru saja membaringkan As di atas tempat tidur.
"Sudah tidur?" tanya Yasmin dengan suara pelan.
Erdana mengangguk. Ia mengambil sebuah bantal guling untuk menghalangi tubuh As agar anak itu tak jatuh saat ia membalikan tubuhnya.
Yasmin melangkah masuk. Untung saja kamar Mentari ini dilapisi oleh karpet tebal sehingga suara hak tingginya tak terdengar.
Setelah duduk di atas sofa, Yasmin menatap Erdana yang masih berdiri di pinggir ranjang.
"Kak boleh kita bicara?" tanya Yasmin masih dengan suara yang pelan.
Erdana melangkahkan kakinya dan duduk di samping Yasmin.
"Ada apa lagi?"
"Bagaimana tanganmu, kak?" tanya Yasmin lalu menyentuh tangan Erdana yang masih dibungkus kain kasa.
__ADS_1
"Sudah membaik. Bengkaknya sudah turun." jawab Erdana dingin.
"Kak, mulai Senin aku akan bertugas di rumah sakit lain. Aku janji kak, akan memperbaiki hubungan kita. Maafkan aku, kak." Yasmin meraih kedua tangan Erdana dan menggenggamnya erat.
Erdana menatap Yasmin dengan intens sampai Yasmin harus menunduk karena tak kuat mendapatkan tatapan Erdana.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa melupakan rasa nyaman mu saat bersama laki-laki itu? Apakah aku harus lebih banyak meluangkan waktu bersamamu dibandingkan Mentari?"
Yasmin dengan cepat menggeleng. Ia langsung memeluk Erdana. "Jangan kak. Kakak tak boleh memberikan waktu kakak terlalu banyak untukku. Kak Mentari butuh perhatian lebih."
Erdana memejamkan matanya. Ia melingkarkan tangannya di pundak sang istri. "Aku tak mau kehilangan kamu, Yas."
Yasmin berusaha tersenyum walaupun hatinya kembali gundah. Ia melepaskan pelukannya lalu memegang kedua sisi pipi Erdana dengan tangannya. Ia menyatukan kening mereka. "Aku juga tak mau kehilangan kakak." Lalu ia mencium bibir Erdana dengan sangat lembut. Mengalirkan sensasi nikmat yang membangkitkan rasa bahagia di hati. Yasmin memang sudah mahir berciuman. Ia belajar dari Erdana bagaimana mengendalikan seseorang hanya dengan ciuman.
Mentari yang sebenarnya akan menyusul Erdana ke kamar untuk melihat anaknya, segera menghentikan langkahnya saat melihat Erdana dan Yasmin yang berciuman dengan sangat mesra.Ia tersenyum dan memilih pergi dari sana.
Dengan cepat perempuan itu kembali berjalan menuju ke ruang tamu. Walaupun jauh di lubuk hatinya ada setitik goresan perih di hatinya, perempuan itu masih melafalkan doa dalam hatinya. Ya Allah, buatlah mereka kembali berbaikan.
**********
Jeslin keluar dari kamar mandi dengan sedikit gugup. Para tamu sudah pulang, pihak dari WO juga sudah membereskan barang-barang mereka dan para pelayan juga sudah pulang. Para pelayan yang bekerja di rumah Jeslin memang hanya datang jam setengah tujuh pagi dan pulang jam 5 sore. Mereka akan pulang malam kalau ada acara di rumah Jeslin seperti saat ini.
Yuda dan Jeslin sepakat akan tinggal seminggu di rumah Jeslin dan seminggu di rumah Yuda. Agar mereka masih bisa bertemu dengan anak-anak mereka.
Dan malam ini, mereka berada di rumah Jeslin. Memang ini bukan kamar yang biasa Jeslin dan Gading tempati, melainkan kamar lain yang ada di rumah itu. Semenjak Gading meninggal, Jeslin memilih untuk pindah ke kamar lain karena begitu sulitnya bagi dia untuk melupakan sosok pria yang telah memberikan 2 anak kepadanya.
"Eh, aku sudah menutup pintu pagar dan pintu lainnya. Pihak WO juga sudah pulang." Kata Yuda. Ia pun terlihat gugup.
Jeslin hanya mengangguk.
"Aku mandi dulu ya?" pamit Yuda.
"Mas, ini handuknya." Jeslin yang memang sudah menyiapkan handuk bersih untuk Yuda di atas tempat tidur, segera memberikan benda berwarna putih itu.
"Terima kasih." Yuda menerima handuk itu dan segera ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Yuda keluar lagi. Jeslin segera memalingkan wajahnya saat melihat Yuda yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawanya. Tubuh Yuda masih terlihat kekar. Tak ada perut buncit sebagaimana yang terlihat pada pria berusia 50an. Sekalipun roti sobeknya tak seperti dulu lagi namun Yuda masih terlihat sangat menarik di usianya yang tak lagi muda.
Jeslin menelan ludahnya saat Yuda mendekatinya.
"Kau capek?" tanya Yuda sambil menyingkirkan anak-anak rambut Jeslin yang menutupi wajahnya. Jeslin memang tak memakai lagi hijabnya.
"Sedikit." jawab Jeslin tanpa berani menatap mata Yuda secara langsung.
__ADS_1
Wajah Jeslin dibelai oleh Yuda dengan punggung tangannya. Jeslin memejamkan matanya menerima sentuhan itu.
"Apakah....., apakah kau ingin kita melakukannya sekarang atau nanti saja karena kamu sedikit capek?" tanya Yuda lembut dengan suara yang bergetar.
"Melakukan apa?" tanya Jeslin membuat Yuda tertawa. Ia langsung menarik tubuh Jeslin dan memeluknya erat.
"Selayaknya yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru " bisik Yuda.
"Mas, aku malu. Aku bukanlah gadis lugu yang dulu diajarkan cara berciuman olehmu."
Yuda mengangkat dagu Yasmin dan meminta istrinya itu untuk menatapnya. "Di mataku, kau tetap sama. Tak ada yang berubah." lalu Yuda mengecup bibir Jeslin dengan sangat lembut, Menyesapnya perlahan dan menggoda Jeslin dengan cara berciuman Yuda yang ahli.
Perlahan tangan Yuda membuka tali kimono Jeslin dan menarik kimono itu jatuh. Lalu tanpa melepaskan ciumannya ia melepaskan handuk yang melilit di pinggang nya lalu segera memeluk tubuh Jeslin dan melangkah ke ranjang pengantin mereka.
************
Senin yang sibuk. Prayuda melangkahkan kakinya menuju ke ruang UGD saat salah satu keluarga pasiennya menelepon kalau sang ayah mendapatkan serangan jantung.
Dokter jaga langsung memberikan data pasien saat melihat Prayuda datang.
Beberapa dokter koas juga ada di sana sampai akhirnya Prayuda menyadari, tak ada Yasmin di sana.
"Dokter muda Yasmin di mana?" tanya Prayuda pada salah satu dokter muda.
"Mulai pagi ini, dokter Yasmin sudah di pindahkan ke rumah sakit lain. Katanya ayahnya, dokter Satria yang meminta Yasmin untuk dipindahkan."
Ada sesuatu yang menggores hati Prayuda saat ia menyadari bahwa ia tak akan lagi melihat senyum manis Yasmin setiap hari. Namun Prayuda menguatkan hatinya. Inilah jalan yang terbaik agar mereka berdua bisa menghilangkan perasaan aneh yang muncul karena kebersamaan itu.
Setelah memeriksa pasiennya, Prayuda segera ke ruangannya. Ada rasa hampa yang perlahan memenuhi rongga dadanya. Ia memang tak tahu ke rumah sakit mana Yasmin dipindahkan. Namun memang lebih baik kalau memang ia tak tahu.
Prayuda berusaha tenggelam dengan pekerjaannya, namun ternyata ia merasakan rindu pada Yasmin.
***************
"Andre?" Yasmin terkejut melihat Andre dan dia ternyata berada di rumah sakit yang sama.
Andre hanya menatap Yasmin sekilas. Tersenyum hambar lalu segera meninggalkan Yasmin di pelataran parkir.
Yasmin menarik napas panjang. Hatinya terasa sesak saat meninggalkan rumah sakit tempat nya bertugas. Namun inilah jalan yang harus Yasmin tempuh. Ia juga berharap Andre tak akan mengganggunya, sebagaimana ia berusaha membuang bayangan Prayuda dari hatinya.
************
Hai.....
__ADS_1
penasaran dengan kisah manis emak Jeslin dan bapak Yuda?
Terus, bagaimana Yasmin berusaha membuang seluruh rasa yang ia miliki untuk Yuda?