CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Kejutan Di Pagi Hari


__ADS_3

Erdana merasakan seluruh permukaan kulitnya panas saat tangannya melingkar di perut Yasmin yang membuncit. Ada perasaan senang saat ia merasakan ada sesuatu yang menendang tangannya. Hati Erdana tiba-tiba saja merasa haru. Mungkinkah ini kontak batin antara sang anak dan ayahnya?


Yasmin membalikan tubuhnya sehingga keduanya kini berhadapan. Erdana hendak menjauhkan tubuhnya namun kaki Yasmin terangkat dan diletakan di atas kaki Erdana. Yasmin mendekat dan memeluk Erdana bagaikan bantal guling membuat Erdana merasakan jantungnya mau copot. Bagaimana pun Erdana masih lelaki normal. Ia sudah lama tak melakukan hubungan intim dengan perempuan. Kedekatan fisik mereka, dengan bibir Yasmin yang terbuka sedikit membuat ada api gairah yang mulai memercik dari dalam tubuh Erdana. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Erdana dapat merasakan hangatnya nafas Yasmin yang menerpah kulit wajahnya.


Erdana memejamkan matanya. Berusaha membuang semua rasa yang muncul. Ia membayangkan wajah Mentari untuk mengusir sebuah rasa kebutuhan raga yang akan menguasainya. Secara perlahan Erdana mencoba menjauh. Sampai akhirnya ia lepas dari pelukan Yasmin dan menggantikannya dengan bantal guling.


Langkah Erdana pelan menuju ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya dengan air dingin lalu kembali tidur di lantai. Ini tidak boleh terjadi lagi. Aku bisa khilaf jika berdekatan seperti itu. Aku tak mau Yasmin tambah membenciku karena mengambil keuntungan dari ketidaksadarannya.


***********


Semua berteriak histeris saat di pengambilan adegan terakhir, ketika sutradara meneriaki 'cut', Elmira justru jatuh dari atas tangga yang dituruninya.


Nick dengan cepat berlari ke arah Elmira dan langsung mengangkat tubuh Elmira.


"Ke rumah sakit!" Teriaknya pada kedua bodyguard yang lain dan secara cepat berlari sambil menggendong Elmira menuju ke mobil.


Sesampai di dalam mobil, Nick duduk sambil memangku tubuh Elmira. Tangannya yang satu memeluk pinggang Nick sementara tangannya yang lain langsung menyentuh pergelangan kaki Elmira.


"Sakit, Nick!"' rengek Elmira sambil melingkarkan tangannya di leher Nick.


"Sabar nona, kita akan segera tiba di rumah sakit."


Elmira memejamkan matanya lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Nick. Menahan rasa sakit sambil menikmati aroma tubuh cowok itu yang sangat menenangkannya.


Sesampai di rumah sakit, Nick terus menggendong Elmira sampai mereka masuk ke dalam ruang gawat darurat.


Selama setengah jam, dokter memberikan pengobatan pada kaki Elmira yang keseleo dan ada sedikit luka di beberapa tempat.


Dokter melarang Elmira untuk berjalan sendiri. Ia harus ada di kursi roda selama beberapa hari sampai gips yang membungkus kakinya di lepaskan.


Maka Nick kembali menggendong Elmira saat mereka keluar dari rumah sakit. Para pemburu berita langsung menemui mereka di lobby rumah sakit namun untungnya dua bodyguard yang lain langsung siap melindungi Elmira sampai dia masuk ke dalam mobil.


Di hotel pun, Nick menggendong Elmira saat turun dari mobil. Jangan ditanya bagaimana berdebarnya hati Elmira saat itu.


"Nona, istirahatlah. Aku mau sholat dulu sebentar. Nanti aku datang lagi untuk menyiapkan makan malam untuk nona."


Elmira hanya mengangguk. Dalam hati ia bahagia. Ya Allah, apakah cowok ini yang Kau siapkan untukku? Aku sungguh terpesona padanya. Pada hal aku nggak suka dengan cowok yang berwajah agak bule. Aku lebih suka pria Indonesia. Namun mengapa hatiku sangat terpesona padanya? Apakah aku jatuh cinta?


Elmira menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Dalam hidupnya, ia selalu dipasangkan dengan pria tampan yang sangat digilai oleh banyak wanita. Namun tak pernah sekalipun Elmira mengalami cinta lokasi, seromantis apapun adegan yang harus ia mainkan. Namun kebersamaannya bersama Nick, membuat hati Elmira bahagia. Apalagi saat melihat Nick yang rajin sholat seperti pria idaman nya.


Satu jam kemudian, Nick kembali. Ia terlihat sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Di belakangnya ada Jenika.


"El, mau pesan makanan apa?" tanya Jenika.


Elmira tersenyum. "Apa saja. Aku ingin kopi hitam juga."


"Biar aku saja yang pesankan, nona." ujar Nick.


Jenica memberikan selembar catatan dan sebuah kartu. "Pesankan makanan ini untuk aku dan Elmira. Kau juga bisa memesan untukmu dan dua bodyguard yang lain. Katakan kepada mereka bahwa besok pagi kita akan kembali ke Indonesia."

__ADS_1


"Baik nona." Nick langsung pergi.


"Besok kita kembali ke Indonesia? Bagaimana dengan kakiku?" tanya Elmira.


"Kau akan melanjutkan pengobatannya di Jakarta. Lagi pula Nick sangat kuat memelukmu. Aku pikir kau tak perlu kursi roda."


Wajah Elmira menjadi merah. "Kamu ngomong apa sih?"'


"El, aku perhatikan caramu menatap Nick agak berbeda dengan caramu menatap dua bodyguard yang lain. Apakah karena Nick tampan?


"Apaan sih?"


"Banyak artis yang jatuh cinta dengan bodyguart nya. Aku takut jika kamu juga jatuh cinta padanya. Kalian nggak boleh menjalin hubungan."


"Kenapa?"


"Akan menimbulkan skandal yang besar. Kau belum lama putus hubungan dari sutradara Raymon."


"Aku nggak suka Raymon. Dia terlalu agresif dan pergaulannya agak bebas."


Jenica menatap artis kesayangannya itu. "Bagaimana dengan idolamu ustadz yang sedang viral itu? Kamu kan sangat suka dengannya. Usianya juga sudah hampir 30 tahun."


"Ustadz Ahmad maksudmu? Aku memang mengidolakan dia."


"Ustadz itu kan dari keluarga terpandang, keluarganya juga masuk deretan salah satu keluarga terkaya di Indonesia."


"Aku hanya mengingatkan kamu agar jangan terlalu dekat dengan Nick. Kita nggak tahu latar belakang keluarganya seperti apa. Nick memang bekerja sangat baik. Namun dia tak cocok denganmu."


Elmira hanya diam. Jenica sudah sangat mengenalnya. Ia juga yang selama ini banyak memberikan masukan yang baik bagi Elmira, banyak mencari peluang tawaran main film sehingga Elmira bisa terkenal seperti saat ini. Biasanya mereka berdua selalu sejalan. Namun kali ini, mereka sepertinya sangat berseberangan.


Haruskah aku membunuh perasaan ku pada Nick?


***********


Rasanya Yasmin bermimpi aneh semalam. Ia bermimpi tidur sambil memeluk Erdana.


Mengapa mimpiku semesum itu sih? Tanya hati Yasmin saat ia bangun dan mengingat kembali apa yang terjadi semalam.


Perlahan Yasmin bangun. Ia melihat selimut dan bantal yang semalam ia letakan di atas meja, kini ada di atas lantai. Sudah dilipat rapih. Kak Erdana pasti tidur di lantai semalam. Biar saja! Itu hukuman baginya supaya berikut tak mau lagi tidur di sini."


Yasmin turun dari tempat tidur. Ia yakin kalau Erdana pasti sudah bangun dan sedang sarapan bersama dengan kedua orang tuanya. Apalagi sekarang sudah jam 8 lewat 10 menit.


Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan juga sarapan karena perutnya sangat lapar.


Saat Yasmin membuka pintu kamar mandi....


"Ah.......! Dasar gila!" Teriaknya dan langsung membalikan tubuhnya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


Ia melihat tubuh Erdana yang polos tanpa ada sehelai benang pun. Pria itu batu saja akan menggantung handuk yang mungkin dipakainya untuk mengeringkan badannya.

__ADS_1


"Salahmu sendiri masuk tanpa mengetuk pintu." ujar Erdana lalu mengambil handuk itu kembali, melilitkannya ke pinggangnya.


"Makanya kalau mau masuk ketuk pintu dulu." kata Erdana sambil melewati Yasmin yang berdiri memunggunginya.


"Kamu juga masuk kamar mandi tapi nggak dikunci." Yasmin bisa menatap tubuh Erdana yang polos bagian atas dari kaca di depannya.


"Kebiasaanku sejak dulu memang begitu. Padanya yang salah? Ini kan kamar mandi pribadi."


"Pribadi untukku dan bukan untukmu."


"Bukankah kita suami istri? Jadi apa yang menjadi milik mu adalah milikku juga."


"Kamu....!" Yasmin akan membantah ucapan Erdana namun ia tak berani berbalik karena takut jika pria itu belum berpakaian. Ia pun masuk ke mandi. Saat ia akan membuka pakaiannya, bayangan tubuh Erdana yang polos itu kembali bermain di pelupuk matanya. Sial! Mengapa justru itu yang aku ingat?


Yasmin menepuk kepalanya beberapa kali. Ia kemudian membuka shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


**********


Mentari menatap dokter Nirmala. Bagaimana, dok?"


"Resikonya masih sama."


"Tak ada jalan lain?"


"Tak ada. Harus dikeluarkan secepat mungkin demi keselamatan nyawamu juga."


Mentari tertunduk sedih. "Tidak dapatkah ditunda sampai 2 bulan lagi?"


"Resikonya akan semakin besar."


Mentari menatap dokter Nirmala. "Sejujurnya aku takut, dok. Aku takut jika hasilnya tak akan seperti yang aku harapkan."


"Mau tidak mau, nyonya harus menjalani tindakan operasi ini lebih cepat dari yang kita perkirakan."


"Aku mau membicarakannya dengan ibuku. Boleh kan?"


"Jangan lewat bulan ini, ya?"


Mentari mengangguk walaupun ia tak tahu apakah ia akan sanggup untuk melakukannya.


***********


Selamat siang semuanya


selamat menikmati hari jumat


Bagaimana kisah selanjutnya?


pantau terus ya?

__ADS_1


__ADS_2