
Elmira akhirnya tertidur setelah ia lelah menangis. Erdana mengangkat tubuh saudara kembarnya itu dan menidurkannya di atas ranjang.
Erdana pun duduk di atas sofa. Yasmin ikut duduk di sampingnya.
"Kak, kasihan kak El. Sepertinya ia sangat patah hati. Tapi apakah mungkin kak Nick sudah menikah? Ia kelihatan sangat mencintai kak El. Aku perhatikan kalau mereka saling berpandangan, mata mereka saling memancarkan rasa saling cinta. Seperti ketika dulu, saat aku melihat kak Er dan kak Mentari."
Erdana menatap Yasmin saat gadis itu menyebutkan nama Mentari. Apakah Yasmin sudah tahu?
"Yas, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Tentang kak Mentari?"
"Kamu tahu kalau aku sudah bertemu dengan Mentari?" tanya Erdana kaget.
"Kak Mentari tadi menelepon kakak. Namun aku tak bisa menerimanya. Saat itu juga kak El masih menangis sangat kuat."
Erdana berdiri dan mengambil ponselnya yang masih ada di atas nakas. Ia melihat ada dua panggilan dari Mentari. Erdana langsung menghubunginya kembali.
Erdana memilih untuk berada di balkon kamar.
"Maaf tadi aku nggak bisa menerima panggilan mu karena ada sedikit masalah dengan Elmira. Ada apa?"
"Aku mau bilang kalau saat ini aku tak ada di rumah. Aku juga membawa baby As bersamaku karena aku tak mau meninggalkan ia sendiri bersama Diana. Aku sedang ada di salah satu stasiun TV untuk wawancara sebuah acara. Pulangnya mungkin sekitar jam 7 malam. Jadi, kalau kamu mau datang."
"Aku akan datang setelah jam 7. Apakah baby As baik-baik saja? Bolehkah aku mendengar suaranya? Boleh alihkan panggilannya ke Videocall?"
"Boleh. Sebentar." Mentari mengalihkan panggilan nya ke panggilan Videocall. Saat Erdana menatap wajah baby As, ia langsung tersenyum bahagia.
"Hallo baby As......!"
Yasmin yang memperhatikan cara Erdana menelepon menjadi penasaran dengan siapa Erdana bicara. Wajah Erdana terlihat begitu bahagia. Sepertinya Erdana sedang bicara dengan seorang anak kecil.
Setelah Erdana selesai dengan panggilan Videocall nya, ia kembali masuk ke dalam.
"Yas, itu tadi Mentari."
"Lalu suara anak kecil itu?"
"Anak Mentari dan anakku."
Yasmin terkejut. "Kalian punya anak?"
__ADS_1
Erdana meraih tangan Yasmin dan menggenggamnya erat. "Aku tak mau menyakitimu, Yas. Namun sejak awal, sebelum kita melakukan hubungan intim denganmu, aku belajar untuk jujur tentang hubunganku dengan Mentari. Ternyata, saat Mentari meninggalkan aku, dia juga tak menyadari kalau sebenarnya ia sudah hamil hampir 10 minggu." Lalu Erdana menceritakan semua yang terjadi. Termasuk sakitnya Mentari. Tanpa Erdana sadari kalau Elmira ternyata sudah bangun dan mendengarkan cerita itu.
Air mata Yasmin jatuh saat Erdana mengahiri ceritanya. "Ya Tuhan, apa yang sudah kak Mentari lakukan? Ia rela meninggalkan kak Er agar kita bisa menikah. Ia menderita sakit dan melahirkan tanpa kakak dampingi. Sungguh mulia hati kak Mentari. Pasti semua ini dia lakukan karena menjaga kehormatan keluarga kita. Kak, ayo kita temui kak Mentari. Aku mau bertemu dengan kak Mentari."
"Sungguh?" Tanya Erdana seakan tak percaya. Ia memegang wajah Yasmin dan menatap manik gadis itu. Sungguh, tak ada kepalsuan dibalik pancaran mata Yasmin.
Erdana langsung membawa Yasmin ke dalam pelukannya. "Yas, aku tak mau menyakitimu."
"Aku tak akan merasa sakit hati jika kak Er akan bersama kak Mentari. Bagaimana pun dia juga adalah istri kakak. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk hari ini kak."
Erdana semakin erat memeluk Yasmin. Ia sadar, kalau ia sudah menyayangi Yasmin. Namun ia juga tak bisa melepaskan Mentari apalagi saat tahu kalau ada seorang anak diantara mereka. Erdana sejujurnya sedang bingung. Ia mencintai Mentari, namun tak ingin melepaskan Yasmin. Ia bukan hanya terikat janji dengan kakek Yasmin namun ia mulai merasakan ada benih cinta yang tumbuh dalam hatinya untuk Yasmin.
Elmira yang mendengar percakapan pasangan itu merasa ikut haru. Ia awalnya menganggap kalau Mentari sangat egois karena meninggalkan Erdana. Kini ia mengerti ketulusan hati Mentari namun ia juga sangat tersentuh dengan ketulusan hati Yasmin yang siap menerima Mentari. Tapi, apakah Mentari mau?
***********
Setelah makan malam, Erdana, Elmira dan Yasmin menuju ke rumah Mentari. Sepanjang perjalanan, ketiganya hanya duduk diam tanpa bicara satu katapun.
Mentari sendiri yang membukakan pintu saat mereka datang. Ia terlihat sangat terkejut saat melihat ada Elmira dan Yasmin yang datang bersama Erdana.
"Mari masuk.....!" ujar Mentari terlihat sedikit salah tingkah.
"Mana baby As?" tanya Erdana.
Elmira terbelalak menatap wajah baby As yang memang sangat mirip dengan Erdana.
"Ya Allah, Tari. Kok kamu tega banget menyembunyikan baby As dari kami? Ya Allah, dia sangat tampan dan menggemaskan." Elmira langsung mengambil baby As dari gendongan Mentari. Di ciumnya pipi tembem baby As tanpa bisa menahan air matanya.
"Ayah sama ibu pasti akan senang jika melihat anak ini." Elmira masih terus meneteskan air matanya. Untuk sesaat, ia melupakan masalahnya dengan Nick.
Sedangkan Yasmin pun ikut terharu. Ia jadi ingat dengan anaknya yang sudah meninggal. Namun ia buru-buru menghilangkan perasaan itu. Yasmin sudah berjanji akan mengikhlaskan kepergian putranya. Ia tahu kalau Erdana pasti akan terhibur dengan kehadiran baby As.
"Duduklah dulu. Kalian mau minum apa?" tanya Mentari berusaha untuk melepaskan ketegangan diantara mereka.
"Kami baru saja makan, Ri. Nantilah jika kami ingin minum, pasti kami akan memintanya." ujar Elmira sambil terus berusaha berinteraksi dengan baby As. Erdana menatap Yasmin. Perempuan itu ikut duduk di samping Elmira dan bermain dengan baby As.
Mentari menatap Erdana. Seolah meminta penjelasan mengapa Yasmin bisa ada sementara tadi pagi Erdana mengatakan kalau Yasmin ada di Jakarta.
"Aku rasa kalian bertiga harus bicara. Di mana kamar baby tampan ini? Biarkan aku bermain dengannya." Elmira berdiri sambil memeluk baby As.
"El, jangan dulu menelepon ayah dan ibu. Biar aku yang bicara dengan mereka." kata Erdana mengingatkan. Ia sudah tahu kebiasaan Elmira yang terkadang tak bisa menahan diri.
__ADS_1
"Baiklah. Walaupun sebenarnya aku ingin ayah dan ibu segera tahu keberadaan baby As." Elmira pun segera mengikuti langkah Diana dan menghilang di balik tembok pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga. Rumah Mentari ini memang hanya memiliki satu lantai.
Saat mereka tinggal bertiga di ruangan itu, suasana kaku kembali tercipta. Masing-masing duduk di tempatnya sendiri. Yasmin di sofa panjang sedangkan Erdana dan Mentari masing-masing di singel sofa, saling berhadapan. Yasmin ada diantara mereka.
"Kak Mentari, apa kabarnya?" Tanya Yasmin membuka percakapan.
"Alhamdulillah. Baik."
"Kak Erdana selalu mencari kak Mentari. Jangan pergi lagi, kak. Baby As adalah bagian dari kak Erdana juga. Nggak adil rasanya kalau ia hanya dibesarkan oleh kakak sendiri." ujar Yasmin membuat Mentari menatapnya tak percaya.
"Yasmin, bukankah hubunganmu dengan Erdana sudah menjadi baik? Kau sudah menjadi istri Erdana yang sebenarnya kan? Aku janji tak akan pernah melarang Er dan keluarganya bertemu dengan baby As. Namun aku tak bisa ada diantara kalian." ujar Mentari tegas membuat Erdana menatapnya tak suka.
Yasmin tersenyum. "Kak, cinta kalian begitu kuat. 7 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk dilupakan begitu saja. Jangan katakan kalau Kakak tak mencintai kak Erdana lagi. Karena aku tak akan pernah mempercayainya. Dan aku tahu kalau kak Erdana masih sangat mencintai kak Mentari. Iya kan kak?" tanya Mentari sambil menatap Erdana.
Erdana sungguh kehilangan kata-katanya. Seharusnya ia yang banyak bicara di sini namun Yasmin justru yang mengambil alih pembicaraan.
"Jadi maksudmu Erdana harus melakukan poligami? Aku nggak mau dipoligami!" ujar Mentari. Kali ini suaranya agak keras.
"Aku tak ingin melepaskan kamu lagi, Ri. Aku ingin bersamamu juga anak kita." kata Erdana.
"Kau harus memilih salah satu, Er. Dan aku tak mau kalau kau memilih aku. Sudah ku katakan bahwa sebaiknya kau talak aku."
Erdana akan bicara namun Yasmin lebih dulu menyela. "Kak Mentari, cukup sudah pengorbanan kakak selama ini. Aku tak mau kakak berkorban lagi. Aku akui, aku memang sudah mulai menyayangi kak Er. Namun aku juga sadar kalau kak Er tak akan bisa menghapus bayangan kak Mentari dari hatinya. Kalau memang kakak tak ingin dipoligami, aku siap mundur."
"Apa?" Erdana menatap Yasmin tak percaya. Ia menggeleng tanda tak setuju dengan pernyataan Yasmin.
"Kalau begitu jalan satu-satunya bagi kita adalah kak Erdana harus berpoligami. Aku sudah katakan pada kak Erdana kalau maduku adalah kak Mentari. Aku siap kak. Itu ku katakan sebelum aku tahu ada anak diantara kalian. Dan kalaupun poligami bukan jalan keluar bagi kita bertiga, aku siap mundur. Lagi pula, aku belum terlalu menyayangi kak Erdana. Aku yakin, aku akan cepat move on darinya. Tentang keluargaku, biar itu menjadi urusanku. Lagi pula orang tuaku pernah mengatakan, kalau memang aku tak bahagia, aku boleh meminta cerai dari kak Erdana." ujar Yasmin dengan sangat meyakinkan.
Mentari menatap Yasmin dengan intens. Mencoba mencari kebenaran dari kata-kata gadis itu. "Yasmin, poligami memang diijinkan di agama kita. Namun, apakah kau tahu terkadang itu sangat sulit untuk dilakukan?" Mentari menatap Erdana. "Er, jangan berpoligami. Aku ikhlas kau sudah menikah dengan Yasmin."
"Tapi aku tak bisa melepaskan dirimu lagi." kata Erdana dengan penuh keyakinan. "Yasmin tahu kalau kau adalah cinta pertamaku. Jujur, aku juga tak mau melakukan poligami. Tapi aku harus bagaimana? Aku punya tanggungjawab pada Yasmin. Awalnya memang kami saling membenci. Namun disaat aku mencoba menerima Yasmin dan mulai menyayanginya, Allah justru mempertemukan kita berdua. Katakan, aku harus bagaimana?" Erdana terlihat frustasi.
"Aku nggak mau dipoligami. Dan aku juga nggak mau kau melepaskan hubunganmu dengan Yasmin." Mentari pun terlihat frustasi.
"Kalau kak Mentari tak mau kembali bersama kak Erdana. Maka aku juga tak mau bersama kak Erdana. Aku akan mengajukan gugatan cerai saat kembali ke Jakarta. Ini akan adil buat kita bertiga. Dan aku tak main-main dengan semua ucapan ku ini. Cukup, kak! Aku tak mau kak Mentari menderita lagi." Kata Yasmin dengan penuh keyakinan.
************
Keputusan yang membingungkan ya?
Jangan lupa terus dukung novel emak ini ya guys
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca.