CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Merawat


__ADS_3

Setelah Andre pergi, Yasmin mengambil ponselnya dan mencoba akun sosial medianya. Sedangkan Erdana mengambil pakaian ganti di dalam tas ransel yang di bawanya lalu ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Yasmin tertawa membaca wa grup angkatan mereka. Beberapa diantara mereka nampak mengirim foto dan sedang berada di sebuah cafe. Semenjak menikah, Yasmin memang tak pernah lagi kumpul bersama mereka. Ia lebih memilih untuk berada di apartemen setiap kali pulang kuliah. Apalagi ditambah dengan kandungan Yasmin yang semakin membesar kalah itu. Yasmin tak ingin mereka tahu bahwa ia sudah hamil duluan sebelum menikah.


Masuk sebuah pesan dari Andre yang membuat mata Yasmin langsung terbelalak.


Selamat malam teman-teman


selamat malam Iin


cepat sembuh ya ..


Tak sabar ingin melihatmu kembali


❤️❤️❤️❤️❤️


Iin adalah panggilan sayang Andre untuk Yasmin ketika mereka masih pacaran. Emoji love dengan jumlah lima itu, karena mereka jadian di tanggal lima, bulan ke lima.


Hati Yasmin bergetar. Andre pernah membuatnya kecewa saat meminta dia untuk mengugurkan kandungannya. Namun Yasmin saat itu mengerti. Keluarga Andre pasti tak akan menerimanya karena hamil anak orang lain. Keluarga Andre sama terkenalnya dengan keluarga Yasmin. Mereka semua juga keluarga yang bekerja di bidang kesehatan. Mama Andre sekarang yang menggantikan kakek Yasmin sebagai menteri kesehatan.


Pintu kamar mandi terbuka. Erdana keluar dengan menggunakan celana training dan kaos lengan panjang. Ia terlihat segar karena baru selesai mandi.


Saat tatapan mata mereka bertemu, Yasmin lebih dulu membuang muka dengan kembali menatap layar ponselnya.


"Kamu mau makan?" tanya Erdana berusaha mencairkan suasana kaku diantara mereka.


"Aku belum lapar."


"Aku mau pesan kopi dulu di kantin. Boleh ku tinggal sendiri?"


Yasmin mengangguk.


"Kak Erdana!"


Langkah Erdana terhenti mendengar panggilan Yasmin.


"Kau tak harus tidur di sini. Aku bisa meminta salah satu perawat untuk menemaniku."


Erdana menarik napas panjang. "Walaupun kita tak saling mencintai, setidaknya aku harus bersikap sebagai suami yang bertanggungjawab. Aku memang lelah karena pekerjaan ku sangat banyak. Namun aku tak merasa terpaksa menjagamu di sini."


Erdana langsung pergi selesai mengucapkan kata-katanya yang sangat menusuk tajam di hati Yasmin. Kemarahan, kebencian dan rasa jijik yang pernah ia miliki untuk Erdana perlahan mulai berkurang. Yasmin bahkan sempat berpikir kalau kematian anaknya karena kebencian Yasmin yang terlalu besar untuk Erdana.


Perlahan Yasmin memegang perutnya. Hatinya kembali merasa sakit karena tak bisa merasakan lagi pergerakan bayinya di dalam perut. Ingin rasanya Yasmin menangis. Namun ia menguatkan hatinya. Seperti pesan ibu mertuanya, hanya keikhlasan yang mampu membuatnya menjadi tenang.


15 menit kemudian, Erdana kembali. Ia melihat Yasmin sedang menikmati makan makamnya.


"Sudah bisa makan sendiri? Atau perlu ku suapi?" tanya Erdana sambil mendekat.


"Aku bisa sendiri!" ujar Yasmin dengan sikap yang kembali dingin.


Erdana pun duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Ia mencoba menghilangkan rasa jenuhnya dengan membuka medsosnya. Semenjak ia menikah dengan Yasmin, ia memang tak pernah memposting apapun di media sosialnya. Ia juga tak mau menghapus foto-fotonya bersama Mentari di instagramnya walaupun Mentari sudah menghapus semua foto mereka dan meng-unfollow instagramnya, memblokirnya di FB dan WA.


Sebuah postingan dari Prayuda membuat Erdana sedikit terusik "DOA TERBAIK UNTUKMU. AKU TAHU KAMU PASTI KUAT. AKU TAHU KAMU PASTI BISA."


Dalam postingannya itu, Prayuda memposting sebuah foto, walau hanya sebuah tangan yang sedang dipasang selang infus.


Penasaran dengan postingan itu, Erdana langsung menelepon Prayuda.

__ADS_1


"Hallo Pra, apa kabar?" tanya Erdana. Ia berjalan ke arah balkon. Yasmin yang baru saja selesai makan, sedikit menoleh ke arah Erdana saat mendengar nama Prayuda. Ia tahu kalau Prayuda, Erdana dan Yasmin adalah sahabat dekat sejak kecil.


"Baik." jawab Prayuda dari seberang.


"Aku baca postingan kamu. Apakah itu ada hubungannya dengan Mentari?"


"Kenapa kamu berpikir kalau itu Mentari?"


"Beberapa hari ini aku selalu gelisah memikirkannya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya."


"Aku nggak tahu kabar apapun tentang Mentari. Aku sedang di luar kota saat ini."


"Baiklah. Maaf ya kalau aku sudah menganggu mu. Please, kalau ada kabar tentang Mentari, tolong kabari aku."


"Ok."


"Bye." Erdana memutuskan hubungan telepon dengan hati yang kecewa. Sebenarnya melalui Elmira, Erdana pernah mendapat kabar bahwa postingan Mentari hanya berhubungan dengan semua karyanya saja. Ia tak lagi pernah memposting foto tentang dirinya atau kegiatan apa yang ia ikuti.


Saat Erdana kembali ke kamar, nampak Yasmin baru saja akan turun dari tempat tidurnya. Gadis itu sedikit meringis karena lukanya masih sakit.


"Mau kemana?" tanya Erdana sambil mendekat.


"Ke kamar mandi."


"Ayo....!" Erdana tanpa ragu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Yasmin untuk menopangnya agar bisa berjalan. Sebenarnya Yasmin tak mau sedekat ini dengan Erdana. Namun apa daya. Ia sendiri rasanya belum kuat untuk berjalan sampai ke kamar mandi sedangkan ia sudah tak tahan ingin buang air kecil.


"Sampai di sini saja." kata Yasmin saat mereka tiba di depan pintu kamar mandi.


Erdana melepaskan tangannya. Yasmin berjalan masuk sambil berpegangan di dinding.


Erdana menunggu Yasmin di depan pintu. Saat Yasmin keluar, ia pun melakukan hal yang sama. Menuntun Yasmin sampai ia kembali naik ke atas tempat tidur.


"Selamat malam. Saya membawa obat yang harus diminum oleh nyonya Furkan."


Yasmin selalu merasa hatinya selalu tercubit setiap kali mendengar kata nyonya Furkan.


Ada 3 butir obat yang harus Yasmin minum.


"Terima kasih." kata Erdana setelah perawat itu selesai melaksanakan tugasnya.


Suasana di kamar kembali menjadi sepi. Erdana mengambil laptopnya dan mencoba memeriksa pekerjaannya yang tadi sore memang belum ia selesaikan. Sampai akhirnya, ia mendengar Yasmin yang terbatuk-batuk. Ia berdiri dan kembali mendekati Yasmin. Tanpa Yasmin minta, Erdana mengambilkan segelas air hangat dan memberikannya pada Yasmin. Sambil membantu Yasmin untuk duduk, Erdana memberikan gelas itu untuk Yasmin minum.


"Terima kasih." ujar Yasmin. Ia sedikit merasa jengah harus berdekatan dengan Erdana seperti ini. Bau minyak wangi Erdana, mengingatkan Yasmin pada malam kejadian itu. Ia memejamkan matanya, berusaha membuang rasa marah yang selalu mengganggunya setiap kali mengingat peristiwa itu.


Erdana dapat merasakan kalau Yasmin selalu berusaha menghindari kontak fisik dengannya. Ia dapat melihat wajah Yasmin yang seolah menahan rasa jijik saat mereka harus berdekatan. Erdana tak marah atau merasa tersinggung. Ia memaklumi semuanya. Tak mudah seorang melupakan tindakan pemerkosaan yang berlaku atasnya.


"Tidurlah. Kau mau aku mengurangi cahaya lampunya?" tanya Erdana.


Yasmin hanya mengangguk.


Erdana menekan satu saklar dan membuat ruangan kamar itu sedikit remang karena dua bola lampu padam. Setelah itu Erdana kembali duduk di sofa dan memeriksa pekerjaannya.


***********


Setelah 5 hari dirawat, siang ini Yasmin diperbolehkan untuk pulang. Gayatri, Naura dan Satria yang menemaninya karena Erdana ada rapat penting yang tak bisa ditinggalkannya.


"Bu, apakah aku boleh pulang ke rumah kita dulu sampai luka ku sembuh?" tanya Yasmin saat Gayatri sedang memasukan pakaian Yasmin ke dalam koper dan Naura sedang membereskan peralatan yang lain.

__ADS_1


"Ijin dulu sama suamimu, nak. Kau sudah menikah. Jadi segala sesuatu harus ijin sama suami." Ujar Gayatri.


Naura menatap ke arah Yasmin. Sebenarnya ia ingin juga agar Yasmin tinggal di rumahnya. Tapi ia juga mengerti, seorang anak akan merasa lebih nyaman di rumah orang tuanya sendiri.


Yasmin berusaha menyimpan rasa kesalnya. Ia tak mau ibu mertuanya sampai tahu dengan rasa tak sukanya setiap kali harus berhubungan dengan Erdana.


"Ponselku sudah kehabisan daya."


Naura meraih ponselnya dan segera menghubungi anaknya. Di dering yang ketiga, Erdana mengangkatnya.


"Assalamualaikum, bu."


"Apakah ibu menganggu rapat mu?"


"5 menit lagi baru rapatnya dimulai. Ada apa bu?"


"Yasmin ingin bicara!" Naura memberikan ponselnya pada Yasmin.


Yasmin menerimanya walaupun sebenarnya hatinya tak ingin berbicara dengan Erdana. "Assalamualaikum, kak. Aku mau pulang dulu ke rumah orang tuaku sampai luka bekas operasi ini sembuh."


"Ok."


"Makasih." Yasmin langsung memutuskan sambungan telepon.


Gayatri dan Naura saling berpandangan sambil mengangkat bahu mereka masing-masing karena merasa aneh dengan cara Erdana dan Yasmin berkomunikasi.


Satria tak lama kemudian datang dan mengatakan bahwa semuanya sudah siap. Mereka pun akhirnya pergi.


***********


Sudah 6 hari sudah Yasmin berada di rumahnya. Erdana hanya datang di malam pertama Yasmin ada di sana. Itu pun ia tak menginap karena tengah malam ia harus berangkat ke Batam untuk urusan pekerjaan.


Yasmin merasa bahwa lukanya sudah semakin pulih. Ia sudah tak merasakan sakit yang menusuk setiap kali ia harus bangun atau hendak membaringkan tubuhnya.


Nenek Kumala bahkan setiap hari datang untuk membawakan berbagai macam makanan dan ramuan herbal untuk membantu Yasmin lebih cepat pulih.


"Pak Dino, tahu di mana anakku di kebumikan?" tanya Yasmin pada sopir keluarga mereka.


"Tahu, neng. Bersebelahan dengan kakek dan nenek neng Yasmin."


"Tolong antar aku ke sana ya?"


Dino menatap majikannya itu. "Memangnya neng sudah kuat?"


"Sudah, pak."


"Nggak menunggu nyonya Gayatri pulang dulu dari pengajian?"


"Keburu Maghrib, pak."


Dino pun membukakan pintu mobil bagi Yasmin. Setelah Yasmin naik. Ia menutup pintunya dan segera menuju ke pintu depan kemudian menjalankan mobilnya perlahan.


Sesampai di makam, Yasmin yang memang sudah tahu di mana makam kakeknya, meminta pak Dino untuk tak mengantarnya. Dari jauh ia sudah melihat malam kakek dan neneknya. Ada sebuah makam berukuran kecil di sana. Yasmin melihat ada seorang lelaki yang duduk sambil berjongkok di depan makam yang kecil itu. Terdengar suara tangisan dari sana.


Siapakah lelaki itu?


**********

__ADS_1


Makasi sudah baca part ini....


Jangan lupa like, komen dan vote ya?


__ADS_2