
Hai, sebelum membaca part ini, putar lagu lawas milik Air Supllay yang berjudul Goodbye
can see the pain living in your eyes
Aku bisa melihat rasa sakit yang hidup di matamu
And I know how hard you try
Dan aku tahu seberapa keras kamu mencoba
You deserve to have so much more
Anda layak untuk memiliki lebih banyak lagi
I can feel your heart and I sympathize
Aku bisa merasakan hatimu dan aku bersimpati
And I’ll never criticize all you’ve ever meant to my life
Dan saya tidak akan pernah mengkritik semua yang pernah Anda maksudkan dalam hidup saya
tidak ingin mengecewakan Anda
I don’t want to lead you on
Saya tidak ingin memimpin Anda
I don’t want to hold you back
Aku tidak ingin menahanmu
From where you might belong
Dari tempat Anda berada
You would never ask me why
Anda tidak akan pernah bertanya mengapa
My heart is so disguised
Hatiku sangat menyamar
I just can’t live a lie anymore
Aku tidak bisa hidup bohong lagi
I would rather hurt myself
Saya lebih suka menyakiti diri sendiri
Than to ever make you cry
Daripada membuatmu menangis
There’s nothing left to say but good-bye
Tidak ada yang tersisa untuk dikatakan tapi selamat tinggal
You deserve the chance at the kind of love
Anda berhak mendapatkan kesempatan untuk menyukai cinta
I’m not sure I’m worthy of
Aku tidak yakin aku pantas
Losing you is painful to me
Kehilangan kamu menyakitkan bagiku
************
2 jam sebelum peristiwa penembakan itu...
Mentari menghentikan langkahnya. Ia menengok ke belakang.
"Ada apa, nak? Kita hampir sampai." ujar Gading sambil memegang erat tangan anaknya.
"Aku sepetinya mendengar suara Prayuda memanggilku."
"Prayuda?"
"Anaknya dokter Yuda."
"Oh, pria yang sejak dulu menyukaimu?"
Mentari tersenyum. "Aku bukan lagi wanita kesukaannya. Dia menyukai orang lain. Namanya Yasmin."
"Yasmin anaknya Satria?"
__ADS_1
"Iya, ayah. Prayuda menyukai Yasmin. Seharusnya itu tak boleh. Karena Yasmin milik Erdana."
Gading menatap putrinya. "Jadi?"
"Jika aku pergi, akankah Yasmin terus bersama Erdana?" Mentari melepaskan tangannya dari genggaman ayahnya. "Ayah, dengar? Itu suara Prayuda memanggil namaku. Apakah sebaiknya aku kembali?"
Gading tersenyum. Ia memeluk putrinya. "Kembalilah jika memang kau ingin kembali, nak. Ayah akan menunggumu di sini."
"Aku akan kembali ayah."
*************
Prayuda mengambil alat kejut jantung. Ia meletakanya di atas dada Mentari sehingga tubuh Mentari tersentak.
"Pra, sudahlah. Mentari sudah pergi!" ujar Yuda sambil menahan tangan anaknya.
"Tidak, ayah!" Prayuda kembali menaikan alat itu dan menekannya lagi ke atas dada Mentari. "Jangan seperti ini Mentari....! Kau tak boleh pergi! Anakmu membutuhkanmu! Ayo Mentari! Di mana semangatmu? Kau bukan perempuan yang mudah menyerah! Ayo Tari...! Kembalilah....!"
tit...tit.....tit....
Yuda dan Satria terkejut karena alat pendeteksi jantung itu kembali berbunyi. Memang agak lemah. Tapi akhirnya berbunyi dan garis yang mulai bergelombang lagi.
Prayuda tertawa sambil menghapus air matanya. "Aku tahu kau akan kembali!"
"Kondisinya masih kritis. Beberapa bagian tubuhnya tak merespons." ujar Yuda setelah memeriksa keadaan Mentari.
"Aku tak tahu sampai kapan ia bisa membuka matanya. Namun setidaknya, kita tak akan kehilangan pengharapan. Sekecil apapun itu. Apakah Mentari hanya akan bertahan sebentar dan kembali pergi. Setidaknya saat ini, ia kembali walaupun tanpa kepastian dia akan benar-benar kembali." Kata Prayuda sambil melepaskan alat kejut jantung yang ada di tangannya.
Yuda menatap putranya dengan bangga. Prayuda memiliki hati seorang dokter yang sesungguhnya. Seorang dokter tak akan pernah menyerah untuk pasiennya.
"Aku akan keluar untuk memberitahukan keluarga Mentari." Kata Satria lalu ia membuka sarung tangannya. Ia mencuci tangannya sebentar di wastafel lalu segera keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan Mentari? Aku mendengar ada suara tangis bayi. Apakah anakku selamat?" tanya Erdana saat melihat ayah mertuanya itu keluar.
"Anak kalian selamat. Tapi keadaannya sangat lemah. Mungkin ada gangguan di paru-parunya. Kami juga tak berani menjamin keselamatannya. Sedangkan untuk Mentari....." Satria menggelengkan kepalanya.
Naura yang melihat itu segera berlari keluar. Ia tak sanggup membayangkan Erdana akan kehilangan Mentari. Naura pun menelepon Elmira. Elmira harus ada di sini untuk menguatkan saudara kembarnya.
Sementara Erdana yang melihat kepala ayah mertuanya itu menggeleng, merasakan tubuhnya menjadi sangat lemah. "Mentari, apakah dia selamat?"
"Tadi jantungnya sempat berhenti berdetak. Tapi ia bisa kembali. Sayangnya, keadaan Mentari sangat lemah. Tubuhnya tidak merespon apapun."
Yasmin yang mendengarnya langsung menangis. Ia tahu apa maksud perkataan ayahnya. "Ayah, apakah kak Mentari....?"
"Kita tinggal menunggu waktu saja, Yas."
Erdana merasakan hatinya hancur. Kehilangan Mentari untuk selamanya bukanlah sesuatu yang Erdana inginkan. "Tidak....!"
"Aku tak bisa kehilangan Mentari. Tidak....!" Erdana langsung berlari dari sana. Pikirannya buntu. Kepalanya tiba-tiba saja merasa sakit. Mentari sangat berarti dalam kehidupannya. Bagaimana anak-anaknya jika Mentari tak ada? Apalagi As sangat dekat dengan mamanya. Erdana tak sanggup melihat anaknya itu. As pasti akan selalu menangis mencari mamanya. Sedangkan Mentari masuk rumah sakit saja, badan As menjadi kurus karena ia malas makan dan kehilangan keceriaannya selama beberapa hari.
Erdana tiba di rooftop rumah sakit itu. Ia menangis di sana untuk menumpahkan isi hatinya yang galau. Jangan tinggalkan aku, Ri. Jangan pergi dari hidupku. Bagaimana aku bisa membesarkan anak-anak tanpa mu? Aku sangat takut kehilangan dirimu. Ya Allah, kenapa Mentari harus selalu menderita? Tak dapatkah ia menikmati kebahagiaannya bersama dengan anak-anak kami?
Bayangan wajah baby As semakin membuat hati Erdana sakit. Ia tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Kematian memang akan datang pada setiap manusia. Namun Erdana merasa tak siap untuk kehilangan Mentari saat ini.
Sementara itu di hotel.......
"Aku harus ke rumah sakit dulu." Elmira membuang selimut yang menutupi tubuhnya begitu saja.
"Sayang, ada apa? Siapa yang meninggal?" tanya Nick lalu ikut turun dari ranjang.
"Mentari, tadi ibu telepon kalau Mentari meninggal."
Nick terkejut. "Bukankah kemarin ia terlihat baik-baik saja?"'
"Aku tak tahu apa yang terjadi. Ayo kita bersiap dan pergi ke rumah sakit." Elmira melangkah tanpa memperdulikan bagian inti tubuhnya yang masih sakit. Ia harus bersama dengan Erdana saat ini. Ia tahu kalau Erdana pasti sangat sedih.
Nick pun mengenakan celananya lalu mengambil ponsel Elmira yang kembali berbunyi.
"Assalamualaikum, bu." Sapa Nick saat melihat kalau yang menelepon adalah ibu mertuanya.
"Waalaikumsalam salam. Mana Elmira?"
"Elmira lagi mandi, bu. Sebentar lagi kami akan ke rumah sakit."
"El sudah menutup teleponnya tanpa mendengar penjelasan ibu. Mentari dalam keadaan kritis. Dokter mengatakan kalau Mentari sewaktu-waktu dapat meninggal. Ibu menelpon untuk meminta El datang ke sini. Er sangat terpuruk. Maaf, tak seharusnya ibu menganggu bulan madu kalian."
"Nggak apa-apa, bu. Bagaimana pun El sangat menyayangi Mentari. Tentu kami harus ada di sana."
"Terima kasih, nak. Maaf ya sekali lagi."
"Baik, bu."
"Ibu tutup dulu ya? Mau cari Er. Nggak tahu dia berlari kemana. Ibu takut Er bersikap bodoh. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Nick meletakan kembali ponsel Elmira. Ia sedikit bernapas lega tapi juga menjadi ikut khawatir memikirkan keadaan Mentari. Keduanya sekarang berada di salah satu hotel yang ada di luar kota. Nick pun menelepon asisten Elmira untuk membereskan barang-barang mereka di sini.
***********
Yasmin membuka matanya perlahan. Ia berusaha bangun namun sebuah tangan yang kokoh mendorongnya lembut untuk kembali berbaring.
"Jangan dulu bangun. Kamu masih pucat."
__ADS_1
Yasmin menoleh ke arah suara itu. "Prayuda? Kamu nggak apa-apa kan? Bekas tembakannya bagaimana?" Yasmin sangat terkejut lalu bangun. Ia memegang dada Prayuda.
"Yas, tetap semangat ya? Jangan menyerah. Kau pasti akan menjadi dokter yang hebat seperti ayahmu."
"Lukamu sudah tak ada? Kok bisa?" Yasmin tak menanggapi perkataan Prayuda, ia mengangkat kaos yang Prayuda pakai dan tak menemukan ada bekas luka sedikitpun.
"Yas.....!" Prayuda memegang tangan Yasmin yang masih ada di dadanya. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tak tahu mengapa perasaan ini ada. Aku tak mengerti mengapa harus jatuh cinta padamu pada hal kau adalah milik Erdana. Namun aku tak bisa menahan rasa ini. Semakin aku mencoba menjauhi mu, semakin kuat rasa rindu ini membuatku ingin mencari dirimu."
"Kak, aku juga mencintai kakak. Tapi harus bagaimana? Rasanya tak mungkin meninggalkan kak Er."
Prayuda memegang pipi Yasmin. "Mungkin memang sebaiknya aku pergi sehingga aku tak membuatmu bingung."
"Kau akan pergi kemana, kak?" tanya Yasmin
"Aku akan pergi jauh. Karena jika kita dekat, aku mungkin akan membuatmu semakin bingung." Prayuda mengecup dahi Yasmin. "Aku pergi...!"
"Kak.....Kak Pra..., jangan pergi kak, aku mencintaimu....kak....!"
"Yasmin ...! Yasmin.....!"
Yasmin membuka matanya. Ia melihat Erdana berdiri di sebelahnya. "Kak....!"
Erdana tersenyum. "Kau tadi pingsan. Sekarang juga kau agak demam. Aku akan panggil ayah Satria dan mengatakan kalau kau sudah bangun." Erdana segera keluar. Tak lama kemudian, Satria dan Gayatri masuk namun Erdana tak ada.
"Bagaimana keadaanmu, nak?" tanya Gayatri.
"Aku sudah merasa baik, bu."
Satria memeriksa nadi anaknya, kemudian tekanan darahnya.
"Tekanan darahmu sudah normal. Tadi tekanan darahmu agak kurang. Sebaiknya kau istirahat saja dulu." ujar Satria.
"Ayah, bagaimana dengan Prayuda?" tanya Yasmin tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Kondisinya buruk. Dia masih ada di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Dokter Yuda bahkan tak sanggup mengoperasi anaknya. Mereka tadi membutuhkan darah sebanyak 3 kantong."
"Aku ingin melihatnya!"
"Yasmin! Tahan dirimu! Apakah kau lupa di sini juga ada Erdana dan keluarganya yang masih tegang karena kondisi Mentari yang terus menurun? Bagaimana mungkin kau masih memikirkan pria lain? Kau tadi menangis dengan histeris seolah-olah dia adalah suamimu." Sentak Gayatri dengan nada yang sedikit keras. Ia kesal dengan anaknya.
"Tapi, bu!"
"Yas, sebaiknya kau istirahat. Apapun nanti yang akan terjadi dengan Prayuda, kita serahkan semuanya di tangan Allah. Jangan bersikap seolah-olah kalian adalah pasangan kekasih. Hormati Erdana dan keluarganya." Kata Satria lalu segera meninggalkan ruangan perawatan putrinya.
Yasmin membaringkan tubuhnya kembali. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya. Yasmin merasakan hatinya hancur.
"Tidurlah! Ibu akan di sini untuk menjagamu."
Yasmin pun mencoba memejamkan matanya. Namun ia justru membayangkan Prayuda.
**********
Elmira melihat Erdana yang masih berdiri di depan kaca pembatas ruangan. Hanya dari situ ia bisa melihat Mentari. Ia sama sekali tak diijinkan untuk masuk. Mentari harus berada di ruangan yang benar-benar steril. Para dokter atau perawat yang datang memeriksanya pun menggunakan baju pelindung yang lengkap dengan masker dan sarung tangan.
Entah berapa banyak alat-alat penunjang kesehatan yang melekat di tubuh Mentari. Perempuan itu bahkan sudah dua kali mengalami penurunan kondisi.
"Er.....!"
Erdana menoleh. Saat melihat Elmira. Ia langsung memeluk saudara kembarnya itu dan menumpahkan rasa kesedihannya pada Elmira.
"Sudah. Jangan menangis. Kasihan nanti anak-anakmu. Kau harus kuat."
"Bagaimana aku bisa kuat kalau Mentari akan pergi meninggalkan aku selamanya?"
Elmira menggeleng. "Jangan begitu, Er. Jangan putus asa. Sekecil apapun kita harus punya harapan."
Erdana menatap Mentari yang terbaring pucat. "Aku takut Mentari tak akan pernah membuka matanya."
Elmira mengusap punggung Erdana. Ia dapat merasakan apa yang Erdana rasakan.
"Ayo duduk!" Ajak Elmira sambil menarik lengan Erdana untuk duduk di bangku yang ada di depan ruangan perawatan Mentari.
"Maaf aku sudah menganggu bukan madu mu. Mana Nick?"
"Nick tadi hanya mengantarku ke rumah sakit lalu ke rumah kalian. Kata Daffa, As menangis terus. Jadi Nick mau mengajak As jalan-jalan."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Er. Kita adalah keluarga. Sudah seharunya kita saling menopang dalam keadaan seperti ini. Aku sudah membatalkan rencana bulan madu kami ke Venisia. Nanti kalau kondisi Mentari sudah jelas, baru kami akan pergi."
Erdana hanya bisa mengangguk. Ia kemudian menarik napas panjang. "El, aku mungkin akan menceraikan Yasmin."
Elmira terkejut. Langkah Yasmin yang sedang menuju ke tempat itu kini terhenti.
***********
Selamat siang....
semangat Senin
jangan lupa dukung emak ya guys
__ADS_1