
Mentari menggerakan kaki dan tangannya. Ia kini sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat lagi. Sudah satu bulan Mentari terapi untuk bisa jalan dan menggerakkan tangannya lagi setelah 4 bulan ia koma. Ia sudah tak sabar ingin memeluk Azhra yang kini sudah berusia 5 bulan.
Tubuh Azhra yang montok membuat Mentari harus membuat tangannya kuat untuk bisa memeluk putrinya itu lebih lama. Azhra sangat aktif dan selalu bergerak. Makanya Mentari belum berani memeluk putrinya itu sambil berdiri.
"Apakah istriku ini sudah kuat bergerak sendiri?" tanya Erdana yang entah dari mana sudah memeluk Mentari dari belakang.
"Sudah, mas. Kakiku rasanya sudah lebih kuat. Tanganku juga. Aku bahkan tadi membantu bibi menyiapkan makan siang." Ujar Mentari.
Erdana mencium puncak kepala istrinya. "Anak-anak sedang tidur siang. Kenapa mommy nya nggak tidur juga?"
Mentari membalikan badannya. Ia memegang rahang suaminya yang kini sudah kembali bersih. "Selama 4 bulan kerjaku hanya tidur terus. Jadi sekarang aku ingin banyak bergerak agar tangan dan kakiku bisa berfungsi secara baik." Mentari melingkarkan tangannya di pinggang Erdana. "Aku tahu kamu pasti sangat kesepian. Kamu memendam semua hasrat dan gairah dalam dirimu karena tak ingin menyakiti aku."
Erdana tersenyum. "Ya. Aku belajar menahan diri walaupun sebenarnya kalau kita berdekatan begini rasanya hampir tak bisa menahan diri."
Mentari mencium pipi Erdana. "Aku pikir malam ini kita bisa saling menuntaskan rindu setelah berbulan-bulan harus menahan diri. Aku akan menyiapkan diriku dengan sangat baik." kata Mentari sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, aku tak tahan menunggu malam nanti. Bagaimana kalau siang ini saja?" tanya Erdana dengan tatapan menggoda.
"Aku pikir, kalau Daddy nya janji nggak akan terlalu berisik, maka satu ronde bisa dilaksanakan siang ini. Malamnya satu ronde lagi."
"Bisa juga."
Keduanya tertawa bersama. Hati Mentari menjadi senang melihat Erdana tertawa. Ia tahu kalau diam-diam Erdana masih merindukan Yasmin. Kadang, saat Mentari bangun di tengah malam, Erdana masih duduk sambil menonton TV. Namun pandangan Erdana tidak di layar TV. Pandangannya menerawang jauh entah kemana.
Mentari sebenarnya sudah coba menghubungi Yasmin. Namun perempuan itu tak pernah menjawab panggilannya. Dan akhirnya pada hari kemarin, Yasmin mengirim kan sebuah pesan yang isinya cukup panjang. Pesan itu membuat Mentari bertekad untuk fokus membahagiakan Erdana dan kedua anaknya.
kak, maaf kalau aku tak pernah menerima panggilan telepon mu. Aku merasa bahwa tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku sudah bahagia dengan pilihanku. Aku pergi bukan karena aku ingin bersama Prayuda. Namun aku merasa tak pantas lagi untuk bersama kalian. Aku ternyata gagal menjalani kehidupan poligami. Aku berharap kakak menghargai keinginanku ini. Aku percaya kalau hati kak Erdana akan kembali menjadi milik kak Mentari seutuhnya. Kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tetap di Amerika, kak. Bahkan saat kuliahku selesai, aku akan tetap di sini. Mungkin, lima tahun lagi baru aku kembali ke Jakarta. Entahlah, aku juga tak tahu kapan itu akan terjadi. Aku hanya berharap, jika kita berjumpa lagi, kita akan tetap menjadi sahabat. Aku akan terus berdoa bagi kesehatan kak Mentari, kak Erdana dan kedua anak kalian.
Mentari menghargai keputusan Yasmin walaupun jauh di lubuk hatinya, ia ingin mereka bersama lagi sebagai istri-istrinya Erdana. Kini, Mentari akan sedikit berjuang, untuk mengisi lobang di hati Erdana dengan cintanya. Ia akan membuat suaminya itu hanya menatap dia lagi sebagai satu-satunya wanita dalam hidup Erdana. Dan Mentari yakin, ia akan mampu melakukannya.
**********
Hari ini Azhra berulang tahun yang pertama. Mereka merayakannya di rumah bukit yang ada di desa. Semua anak yang ada di kampung di undang oleh Mentari dan Erdana.
Nenek Naura dan nenek Jeslin yang paling sibuk menyiapkan kue dan makanan yang akan dinikmati oleh seluruh anak-anak.
Erdana bahkan menyiapkan hadiah-hadiah menarik yang akan menjadi games di acara ulang tahun Azhra.
Gadis kecil itu nampak cantik dengan gaun ulang tahunnya. Bagaikan putri dalam dunia dongeng. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya.
"Sayang, karena aku dan Prayuda kini sudah menjadi kakak dan adik, maka aku mengundang dia untuk datang ke ulang tahun Azhra. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Mentari.
"Nggak sayang. Prayuda kan memang adalah paman Azhra. Aku senang kalau kau mengundangnya. Aku tak memiliki dendam apapun padanya." ujar Erdana dengan penuh keyakinan. Hampir setahun ia dan Yasmin berpisah. Memang sangat sulit Erdana mengobati luka hatinya karena kehilangan Yasmin. Namun, cinta kasih yang tulus dari Mentari membuat luka di hati Erdana perlahan-lahan sembuh. Walaupun jujur harus Erdana akui, jika ia melihat para dokter muda, ia akan selalu mengenang Yasmin.
__ADS_1
Tak lama kemudian acara di mulai. Elmira yang datang dengan perutnya yang sangat besar nampak juga antusias membagikan sofenir dan hadiah lainnya untuk anak-anak. Elmira akan melahirkan anak perempuan. Makanya ia sangat dekat dengan Azhra karena ia mau anaknya akan gemuk dan montok seperti Azhra.
Nenek Kumala pun masih terlihat sehat dan kuat diusianya yang sudah memasuki angka 80. Ia lebih memilih tinggal di desa dari pada di kota.
Prayuda akhirnya datang. Ia membawakan sebuah boneka beruang yang sangat besar untuk Azhra.
Sementara anak-anak menikmati makanan mereka, tiba-tiba Elmira merasa ada sesuatu yang meleleh di betisnya. Tadi pagi saat bangun, ia memang merasa sakit perut namun ia mengabaikan rasa sakit itu.
"Nenek, apa ini?" tanya Elmira pada Kumala yang memang berdiri di sampingnya.
"Ya Allah, cu. Ini air ketuban. Kamu akan melahirkan. Apakah perutmu sakit?"
"Iya."
Kumala mendekati Naura dan membisikkan sesuatu. Naura langsung mendekati Elmira.
"El, ayo kita ke rumah sakit."
"Ibu, kayaknya aku akan melahirkan sekarang. Aku tak mampu lagi berjalan."
Kepanikan langsung terjadi. Nick dengan gugup menggendong Elmira ke kamar utama.
"Aku bukan dokter kandungan." Kata Prayuda.
"Ah......sakit sekali, Nick." Elmira memegang tangan Nick dengan sangat kuat. Tubuhnya sudah basah dengan keringat.
"Aku ada di sini, sayang. Aku tak akan meninggalkanmu."
Elmira menangis merasakan sakit yang tiba-tiba saja mendera tubuhnya.
"Aku yakin kau bisa sayang." ujar Nick. Tangannya sudah penuh dengan cakaran Elmira.
"Elmira, ayo kakinya di buka." ujar Prayuda.
"Pra, kamu mau menengok milikku? Hanya Nick yang bisa melihatnya." Ujar Elmira diantara rasa sakit yang dideritanya.
"Ayolah, El. Aku ini dokter." Prayuda jadi jengkel melihat Elmira yang masih malu-malu.
"Aku biasanya ke dokter perempuan, Pra." kata Elmira sambil melirik ke arah suaminya.
"Sayang, aku rela Prayuda melihatnya. Ayolah, anak kita akan lahir." kata Nick. Ia memang sangat posesif. Semenjak mereka menikah, Nick tak mengijinkan istrinya itu berpakaian seksi lagi. Karena baginya, hanya dia yang bisa melihat semua bagian tubuh Elmira.
"Baiklah. Tapi kau jangan merasa bangga ya Pra, karena melihat milik paling berharga artis terkenal." ujar Elmira membuat Prayuda tertawa namun ia akhirnya mengangguk juga.
__ADS_1
Dokter Yuda masuk bersama bidan desa.
"Waktunya sudah tiba. Ayo nyonya, kamu pasti bisa." ujar bidan desa itu.
Elmira mengejan. Ia yang sangat rajin mengikuti kelas senam hamil, tentu sudah mengingat semua yang dipelajarinya untuk bisa melahirkan dengan selamat.
"Ah......Nick....! Ini sakit sekali." teriak Elmira saat Prayuda mengatakan bahwa kepala si bayi sudah terlihat.
"Ayo, El. Satu kali lagi....!"
Elmira mengejan sekali lagi dan akhirnya terdengarlah tangis suara bayi.
"Sayang, anak kita sudah lahir. Selamat datang Abigail Serafina." ujar Nick tanpa bisa menahan air matanya.
Elmira pun tak bisa menahan rasa harunya saat mendengar suara tangis anaknya. Semua bernapas lega karena Elmira akhirnya bisa melahirkan dengan selamat.
**********
Semua nampak bahagia malam ini. Acara ulang tahun Azhra akhirnya berakhir dengan baik walaupun sempat diisi insiden Elmira yang tiba-tiba saja harus melahirkan.
Prayuda pun memilih berdiri di dekat danau. Ia menikmati indahnya pemandangan malam hari di tepi danau.
"Pra....!"
Prayuda menoleh. "Hai, Er."
Erdana berdiri di samping Prayuda. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Menikmati pemandangan danau di malam hari ternyata sangat indah."
"Lalu kapan kau akan pergi?"
Prayuda mengerutkan dahinya. "Pergi? Maksudmu apa?"
"Kapan kau akan pergi menyusul Yasmin ke Amerika? Akankah kau membiarkan ia kesepian terus di sana? Apakah kau tak akan menyesal jika ada pria bule yang berhasil merebut hati Yasmin?"
Prayuda terkejut. Ia memandang Erdana sambil mengerutkan dahinya. Benarkah apa yang didengarnya? Tulus kah apa yang dikatakan Erdana memintanya untuk pergi?
**********
Selamat sore.....
Ada yang rindu Yasmin nggak? Apa kabar Yasmin di Amerika?
__ADS_1
Dukung emak terus ya?