CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Pengakuan


__ADS_3

"Ada apa, Er?" tanya Mentari saat keduanya sedang bermesraan dan tiba-tiba saja Erdana berhenti.


Mendengar pertanyaan Mentari, Erdana hanya mengecup dahi Mentari, lalu turun dari atas ranjang dan mengenakan pakaiannya kembali. Setelah itu ia keluar dari kamar.


Mentari pun melakukan hal yang sama. Ia kemudian mendekati Erdana yang sudah keluar kamar. Cowok itu terlihat sedang meneguk segelas air dingin yang baru saja ia keluarkan dari kulkas.


"Kamu baik-baik saja kan, sayang?" tanya Mentari sambil memegang pipi Erdana.


Dengan cepat Erdana memeluk Mentari. Rasanya ia tak sanggup lagi menahan semua ini.


Sudah hampir sebulan Erdana tak mampu bercinta dengan Mentari. Setiap kali ia mencoba menyentuh Mentari, bayangan wajah Yasmin yang menangis histeris seakan memenuhi otaknya.


"Kau tidak baik-baik saja kan?" Tanya Mentari saat pelukan mereka terurai dan Erdana melangkah ke sofa dan duduk di sana.


Erdana menarik napas panjang beberapa kali. "Aku melakukan kesalahan."


"Kesalahan apa?" tanya Mentari lalu mendekat. "Apapun kesalahan yang kau lakukan, aku akan tetap di sampingmu. Kau ingat kan janji kita berdua dulu? Apapun kesalahan pasangan kita, kita akan berusaha untuk saling memaafkan dan memperbaikinya bersama." Mentari duduk di samping Erdana dan memegang tangan lelaki yang dicintainya itu.


Erdana menatap Mentari. Hatinya terasa sakit. Apalagi saat melihat tatapan mata Mentari yang penuh cinta padanya.


"Aku tak tahu apakah kesalahan ini bisa dimaafkan."


Mentari kembali memegang pipi Erdana. "Sayang, katakan semuanya agar kau menjadi lega."


"Di malam saat aku melihatmu berpelukan dengan Prayuda, aku menjadi sangat marah. Aku ke pub dan minum sangat banyak di sana. Bojes mengantarkan ku ke desa karena aku tahu keluargaku ada di sana. Aku masuk ke kamarku dan melihat ada seorang perempuan yang tidur di sana. Aku pikir kalau itu adalah kamu. Dalam keadaan mabuk dan marah, aku bercinta dengan perempuan itu. Paginya aku baru sadar kalau aku sudah memperkosa Yasmin. Gadis itu menangis dalam ketakutan di sudut kamarku saat ibuku masuk ke sana."


Tangan Mentari yang memegang tangan Erdana perlahan terlepas. "Yasmin? Yasmin anaknya dokter Satria? Yasmin yang adalah adiknya Noah? Tapi, bagaimana ia bisa berada di kamarmu?"


"Yasmin menginap di sana karena orang tuanya sedang berada di desa tetangga. Ibuku berpikir, karena aku jarang sekali tidur di kamar itu, ia pun mengijinkan Yasmin tidur di sana."


Air mata Mentari jatuh. "Kau memperkosa Yasmin?"


"Iya. Saat aku melihat ada bercak-bercak darah di atas seprei kamarku, aku menjadi bertambah kacau karena menyadari bahwa Yasmin masih perawan."


"Dia baru berusia 19 tahun, Er."


"Iya. Dan dia baru saja memiliki pacar yang tampan dan sepertinya memang sangat mencintainya. Aku merasa sangat bersalah. Apalagi saat melihat tatapan mata Yasmin yang begitu membenci ku, aku merasa sangat malu." Erdana tertunduk, tangisnya pecah. Mentari langsung memeluknya.


"Sayang, tenanglah. Kita akan mencari jalan keluarnya. Bagaimana tanggapan keluarga Yasmin?"


"Mereka juga terlihat marah dan kecewa padaku. Namun mau bagaimana lagi? Aku juga tak pernah menginginkan untuk menyakiti Yasmin. Ibuku mengatakan kalau aku harus menikahi Yasmin. Namun Yasmin menolak ku. Aku juga tak mungkin menikah dengannya. Paman Satria mengatakan bahwa ia ingin melaporkan aku ke pihak berwajib. Namun yang ku dengar, Yasmin sendiri yang meminta agar tak dilakukan. Katanya ia malu kalau orang-orang tahu bahwa dia adalah korban perkosaan."


Mentari menangkup wajah Erdana. "Sayang, aku tahu ini sesuatu yang tidak menyenangkan untuk diterima. Namun semua sudah terjadi. Belajar untuk mengikhlaskan segalanya. Yasmin memang sangat terluka. Tak mudah untuk melupakan peristiwa pemerkosaan. Mungkin ini semua ada hikmatnya. Kita tak tahu bagaimana Allah merancang kan jalan hidup kita."


Erdana menatap Mentari dengan senyum yang ada di wajahnya. Mentari selalu berhasil menangkan hatinya.


"Kita istirahat saja ya. Besok kami harus kerja, aku juga ada pagelaran busana. Aku janji, akan menyelesaikan semuanya sampai akhir tahun ini agar kita dapat bersama, memploklamirkan cinta kita pada dunia. Aku akan memiliki lebih banyak waktu untukmu dan mungkin anak-anak kita yang nantinya akan lahir."


Erdana mencium dahi Mentari. "Ayo kita tidur!"


Keduanya melangkah bersama ke kamar sambil bergandengan tangan.


**********


Gayatri memasuki kamar putrinya. Yasmin tak ada namun Gayatri mendengar ada suara air dari kamar mandi. Ia mengambil pakaian kotor Yasmin dari keranjang baju yang ada. Saat ia memeriksa kantong-kantong celana Yasmin, ia terkejut menemukan sebuah obat.


Dengan cepat Gayatri membawa obat itu kepada suaminya. Satria baru saja selesai mandi.


"Mas, ini obat apa?" tanya Gayatri.

__ADS_1


Satria mengambil obat itu dan membacanya. Ia mengerutkan dahinya. "Ini adalah sejenis obat yang biasa di pakai untuk mengencerkan darah yang membeku. Obat ini sering disalahgunakan oleh beberapa kalangan. Biasanya diminum untuk menghancurkan Janin yang masih berusia beberapa minggu."


"Maksudmu jika minum obat ini seseorang bisa saja keguguran?"


"Iya."


"Astaghfirullah. Obat ini aku temukan di kantong celana Yasmin."


"Apa? Tapi...."


"Mas, apa mungkin Yasmin hamil?"'


Satria diam sesaat. "Kalau di hitung dari hari pemerkosaan itu, kejadiannya sudah satu bulan satu minggu. Yasmin bisa saja hamil."


"Mas, apa mungkin anak kita meminum obat ini karena tak mau hamil?"


Satria tak menjawab pertanyaan Gayatri. Ia segera melangkah menuju ke kamar putrinya. Gayatri langsung mengikuti langkah suaminya.


"Yasmin!" panggil Satria.


"Ada apa, ayah?" tanya Yasmin yang baru saja selesai ganti pakaian.


Satria mengangkat obat yang ada di tangannya. "Apa ini?"


Wajah Yasmin langsung menjadi pucat.


"Kamu hamil kan?" tanya Satria dengan sedikit penekanan pada kata hamil.


Yasmin tak berani menatap wajah ayah dan ibunya. Ia baru saja membeli obat itu kemarin dan rencananya pagi ini ia akan meminumnya.


"Yasmin, jawab pertanyaan ayah!" ujar Gayatri.


"Yasmin.....!" Gayatri menahan tangan anaknya dan langsung memeluk Yasmin dengan penuh kasih. "Jangan seperti ini, nak. Tenangkan dirimu." Gayatri mengajak anaknya duduk di tepi ranjangnya.


"Anakku, jangan pernah berpikir untuk mengugurkan kandungan mu. Karena bukan salahnya, ia kini berada dalam kandungan mu. Semua ini terjadi atas kehendak Allah." kata Gayatri sambil membelai kepala Yasmin yang bersandar di pundaknya.


"Aku belum siap jadi ibu. Lagi pula anak ini ada dari lelaki yang sama sekali tidak aku cintai. Aku mau mati saja, bu. Aku tak mau menanggung aib ini. Apalagi harus melahirkan tanpa suami. Aku mau menjadi dokter yang hebat seperti ayah." tangis Yasmin.


Satria ikut duduk di samping anaknya. "Anakku, seorang dokter bertugas untuk menyelamatkan nyawa pasien yang ditanganinya. Ia akan berusaha dengan segala cara dan teori yang sudah dipelajarinya selama ini untuk bisa membuat seseorang sembuh. Jika kau ingin mengugurkan kandungan mu, maka kau sudah gagal menjadi seorang dokter. Ayah tahu ini akan sangat sulit untuk kau terima namun bukan berarti kau tak akan bisa menerimanya. Di dalam perutmu ada sebuah kehidupan. Kalian membutuhkan kerja sama yang baik untuk bisa saling menopang. Selama ini memang banyak wanita yang tak menginginkan kehamilan di awal proses kehamilan itu terjadi. Namun saat mereka merasakan bagaimana ia tumbuh, cinta itu perlahan akan tumbuh."


"Tapi bagaimana dengan kuliahku?"


"Kau akan tetap menjadi seorang dokter. Jika anakmu lahir, maka ibu akan menjaganya. Ibu yakin juga kalau bibi Naura akan mendukungmu." kata Gayatri.


"Aku tidak mau menikah dengan Erdana. Tidak...!" ujar Yasmin diantara Isak tangisnya.


"Sekalipun ini tak menyenangkan untukmu, namun Erdana berhak tahu kalau kau sedang hamil. Dia harus bertanggungjawab dengan menikahimu." kata Gayatri.


"Ayah, jangan biarkan aku menikah dengan Erdana. Aku tak mau ayah. Aku mohon.....!" Yasmin memegang tangan ayahnya dengan wajah penuh permohonan.


"Apakah menurutmu, Andre bisa menerima keadaanmu yang seperti ini?" tanya Satria.


"Aku yakin Andre orangnya baik. Dia pasti mau menerimaku. Dia sangat mencintaiku, ayah. Aku sangat yakin dengan perasaan Andre padaku." kata Yasmin.


"Baiklah. Kau cobalah bicara dengan Andre. Namun bagaimana pun juga Erdana dan keluarganya harus tahu bahwa kau hamil." Kata Satria.


Yasmin tak menanggapi apa yang dikatakan ayahnya. Keputusannya sudah bulat. Ia tak mau bertemu apalagi dekat dengan Erdana.


***********

__ADS_1


"Sayang, maaf makan malamnya aku tunda besok ya? Ibu meminta aku pulang ke rumah hari ini. Tentu saja aku senang karena ibu akhirnya mau bicara denganku setelah hampir sebulan ini ia sangat cuek padaku." kata Erdana dari sambungan telepon.


"Baiklah. Sampaikan salam ku untuk ibu dan ayahmu. Nanti kalau sempat, aku juga ingin bertemu dengan mereka."


"Kenapa nggak sekalian saja kamu datang dan membawakan kue coklat kesukaan ibuku?"


"Benar juga ya? Tapi aku datangnya agak belakangan. Mungkin setengah delapan baru aku ke rumahmu."


"Ok. Sampai jumpa nanti malam, ya? I love you."


"I love you too."


Pukul tujuh lewat 10 menit, Erdana tiba di rumah orang tuanya. Rumah yang selalu ia rindukan selama sebulan ini namun karena ibunya sangat cuek padanya, Erdana memilih diam di apartemennya.


Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu, pelayan mengarahkannya ke taman belakang. Di sana ada pondok kecil tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama.


Elmira juga ada di sana. Daffa yang tak ada.


"Assalamualaikum....!" Sapa Erdana.


"Wa'alaikumussalam!" balas Wisnu dan Elmira bersama. Naura nampak hanya diam dengan mata yang sedikit bengkak. Erdana mencium tangan ayah dan ibunya lalu ia duduk di samping Elmira, berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya.


Tak ada makanan di atas meja seperti yang Erdana pikir sebelumnya bahwa ia akan diajak makan malam bersama.


"Abang, ayah dan ibu memanggilmu ke sini karena ada hal penting yang abang harus tahu." Wisnu membuka pembicaraan.


"Ada apa, ayah?" tanya Erdana sedikit khawatir. Ia melihat ada sebutir air mata yang jatuh membasahi wajah wanita berhijab di depannya.


"Yasmin hamil."


Duar.....!


Bagaikan ada petir besar dengan suara yang keras yang menimpah kepala Erdana saat mendengarkan itu.


"Yasmin ha...mil?" Erdana mengulangi seakan belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ya. Yasmin hamil. Pendengaran mu masih jelas kan? Yasmin hamil!" teriak Naura sedikit keras. Tanpa mereka sadari, tepat disaat itu, Mentari baru saja mendekati pondok itu sambil membawa kue. Langkahnya langsung terhenti mendengar teriakan Naura. Kue yang ada di tangannya langsung jatuh ke tanah. Jantung Mentari bagaikan berhenti berdetak.


"Bibi Gayatri tadi siang datang ke sini. Mereka tak menuntut mu untuk menikahi Yasmin karena anak mereka sama sekali tak ingin kau menikah dengannya. Mereka memberitahu karena kau adalah ayah dari anak itu." ujar Wisnu.


Erdana memejamkan matanya sesaat. Kepalanya langsung berasa berat. Ia bagaikan sedang memikul beban yang sangat berat.


"Sekalipun Yasmin tak mau menikah denganmu, besok kita akan pergi ke rumah Satria dan Gayatri. Kita akan melamar Yasmin dan menikahkan kalian. Anak itu tak bersalah. Ia ada karena kesalahanmu meminum alkohol yang berlebihan. Maka kau harus menikah dengan Yasmin demi anak itu." kata Naura tegas.


"Tapi aku mencintai Mentari, bu. Dia adalah cinta dalam hidupku. Bagaimana mungkin aku menikah dengan gadis yang tak kucintai?" kata Erdana dengan lantang.


"Lupakan Mentari! Kau harus menjadi pria yang bertanggungjawab, Erdana! Karena aku melahirkan, menjaga, dan membesarkan mu bukan untuk menjadi pria pengecut! Aku akan mati saja jika kau tak mau menikah dengan Yasmin!" ancam Naura dengan nada yang sangat serius.


"Ibu....!" Erlina tak suka mendengar perkataan ibunya.


Diam-diam Mentari pergi dari tempat itu. Hatinya sedih mendengar kenyataan kalau Yasmin hamil.


Menteri menelepon Prayuda. "Pra, bolehkah kita bertemu malam ini? Aku membutuhkan seorang teman untuk mencurahkan isi hatiku."


"Kau tahu kalau aku selalu ada waktu untukmu. Kita bicara di apartemenku saja ya? Aku baru selesai dinas makan ini."


Mentari segera masuk ke dalam mobilnya. Pikirannya kacau. Ia bisa memaafkan Erdana yang sudah memperkosa Yasmin dalam keadaan mabuk. Namun saat tahu Yasmin hamil, Mentari rasanya gak sanggup menerimanya.


***********..

__ADS_1


Berhasilkah Erdana menikahi Yasmin? Dukung emak terus ya guys


__ADS_2