CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Memperbaiki Hati


__ADS_3

Pintu ruang kerja Mentari terbuka. Ia terkejut melihat Yasmin yang datang.


"Yas? Kata Mas Er kamu ada tugas di rumah sakit."


"Sebenarnya begitu. Namun laporan ku yang kemarin dibilang hilang ditemukan oleh salah satu perawat di lemari arsip. Ia langsung memberikannya pada dokter Arfan dan pagi ini dokter Arfan meneleponku untuk membatalkan hukumannya."


"Wah, jadi dong liburannya?"


Yasmin mengangguk. "Aku menelepon kak Er tapi nggak diangkat."


"Dia sedang main bersama As. Ayo kita ke kamar As." ajak Mentari.


"Kak!" Yasmin menahan tangan Mentari. "Sebaiknya kita berempat yang pergi liburan. Aku, kak Er, kak Tari dan As."


Mentari menatap Yasmin. "Ide liburan ini datangnya dari mas Erdana. Dia ingin pergi berdua denganmu. Aku pikir itu ide yang bagus karena kalian memang membutuhkan waktu khusus berdua."


"Kak Tari sudah tahu ya?" Tebak Yasmin.


Mentari mengajak Yasmin duduk kembali. "Aku tahu. Mas Er sangat tertekan karena pengakuan mu itu. Kalian berdua sama-sama sibuk. Waktu ketemunya juga hanya malam hari. Sudah capek karena pekerjaan masing-masing, jadi waktu untuk bicara dari hati ke hati sangat sedikit. Liburan ini adalah momen terbaik untuk kembali menata hati."


Yasmin tertunduk. "Kak, hanya padamu aku ingin mengaku. Aku sudah tak tahan menyimpan ini sendiri. Aku sungguh tersiksa dengan perasaanku ini."


"Kau dapat mempercayai aku, Yas."


Yasmin langsung memeluk Mentari sambil menangis. "Awalnya ku pikir, kalau aku hanya kagum padanya. Namun semakin ke sini, aku merasa bahwa aku jatuh cinta padanya."


Mentari merasakan hatinya sakit mendengarkan pengakuan Yasmin. Ia juga merasakan kegalauan hati Yasmin.


"Yas, kamu cinta nggak sih pada mas Erdana?"


Yasmin melepaskan pelukannya. "Sejak aku menyerahkan diriku padanya, aku yakin kalau aku mencintai kak Er. Tapi aku juga tak tahu mengapa sampai rasa terlarang ini harus hadir. Aku sudah mencoba membuangnya dengan pindah ke rumah sakit lain. Namun aku justru merindukan dia."


Mentari memegang kedua tangan Yasmin. "Quality time bersama mas Er. Kalau perlu kalian pergi bulan madu berdua. Bangkitkan kembali perasan yang pernah kau miliki untuk Mas Er. Aku yakin kamu bisa melupakan dia."


"Inilah yang coba aku lakukan, kak. Tapi sekarang kan masih harinya kakak. Sungguh tak adil jika aku harus menghabiskan 3 hari ini yang sesungguhnya adalah milik kakak."


"Tak apa, Yas. Yang penting kalian berdua bisa menjadi dekat lagi."


"Terima kasih, kak. Aku sangat beruntung mendapatkan madu seperti kakak." kata Yasmin lalu memeluk Mentari sekali lagi.


"Ayo kita ke kamar As!' ajak Mentari kembali.


Erdana yang sedang main bersama As terkejut melihat Mentari yang masuk bersama Yasmin.


"Mas, Yasmin sudah siap untuk liburan. Mas bersiap juga." Kata Mentari.


"Pakaian kak Erdana sudah aku siapkan dari apartemen." ujar Yasmin.


"Kok bisa? Katanya harus menjalani hukuman?" Erdana masih bingung.


"Nanti aku jelaskan dalam perjalanan." Ujar Yasmin membuat wajah Erdana langsung terlihat senang. Namun ia menoleh ke arah Mentari. Tadi mereka sudah janjian untuk makan siang bersama di restoran yang baru saja buka.

__ADS_1


"Yas, kita perginya setelah makan siang ya? Aku ingin coba menu di restoran yang baru. Letaknya tak jauh dari sini."


Yasmin mengangguk. Mentari pun tersenyum senang. Erdana sangat antusias untuk pergi dengan Yasmin namun tak melupakan janjinya pada Mentari.


************


"Yas, ayo bangun...!" Erdana menepuk pipi Yasmin dengan lembut.


Yasmin membuka matanya. "Sudah sampai, kak?"


"Iya."


Setelah Yasmin mengumpulkan nyawanya, ia memperhatikan lingkungan yang ada di sekitarnya.


"Kak, ini adalah lokasi wisata yang baru dibuka itu kan?"


Erdana mengangguk. "Kamu suka?"


"Tentu saja suka. Wah, bagaimana kakak bisa mendapatkan tempat untuk menginap di sini? Yang akan dengar cottage dan hotelnya selalu penuh."


"Pemiliknya adalah sahabatku. Ia memberikan kita salah satu cottage terbaik yang ada di tempat ini."


Yasmin langsung membuka sabuk pengamannya dan turun. "Ini sangat indah. Mau sunset lagi."


Tempat ini ada di atas pegunungan. Pemilik tempat telah memberikan pagar besi di ujung jurang sehingga para pelancong bisa menikmati sunset dengan aman. Beberapa pasangan bahkan sedang ada di sana sambil berfoto.


Erdana tersenyum melihat Yasmin yang nampak bahagia. Ia mengeluarkan ponselnya dan meminta Yasmin untuk juga berfoto dengan latar belakang sunset. Selama hampir satu jam, keduanya tenggelam dalam indahnya pemandangan yang ada di lokasi wisata pegunungan itu.


"Yas, ke cottage kita suku, yuk! Udaranya mulai dingin."


Keduanya masuk kembali ke dalam mobil lalu segera menuju ke cottage mereka yang letaknya ternyata di paling puncak. Ada sekitar sepuluh cottage yang ada di sana dan sebuah bangunan hotel yang megah dan indah yang ada di bagian paling bawa.


"Kak, aku lapar." ujar Yasmin saat mereka sudah masuk ke dalam cottage dan meletakan barang-barang mereka di dalam kamar. Erdana yang sedang memasang api di ruang tamu untuk menghangatkan ruangan, menoleh ke arah Yasmin yang sudah berganti pakaian dengan celana jeans dan sweater berwarna biru tua.


"Kita mau makan di luar atau pesan saja?"


"Pesan saja, kak. Udaranya sangat dingin di sini."


"Di meja makan ada daftar menu restoran. Kamu boleh memesan makanan via telepon."


Yasmin melangkah ke ruang makan sekaligus juga dapur. Ia kemudian memilih beberapa jenis makanan dan langsung memesannya.


"Di tas hitam ada beberapa jenis kopi dan teh. Aku juga membelikan beberapa kue, roti dan cemilan. Kau boleh memakannya untuk mengganjal perut mu yang lapar."


Yasmin mengerutkan dahinya. "Kapan kakak menyiapkan menyiapkan ini semua?"


"Dalam perjalanan tadi aku mampir sebentar di sebuah mini market. Kamu tidurnya nyenyak. Mana tega aku membangunkannya?" ujar Erdana lalu segera melangkah ke kamar untuk mengganti pakaiannya juga.


Yasmin tersenyum. Ia pun mengeluarkan isi kantong plastik hitam itu di atas meja. Ia kemudian menyalakan kompor dan memanaskan air. Ia ingin membuat secangkir kopi untuk Erdana dan secangkir coklat manis untuknya.


Saat Erdana sudah selesai ganti baju, Yasmin sudah meletakan kopi itu di atas meja ruang tamu. Yasmin sedang berdiri di depan kaca sambil melihat pemandangan yang ada di bawa mereka. Tangannya memegang cangkir yang berisi coklat. Ia sesekali menyeruput coklat panas itu tanpa melepaskan pandangannya dari sana.

__ADS_1


"Kau senang berada di sini?" Tanya Erdana sambil memeluknya dari belakang.


"Suka. Sangat indah. Sesekali mas juga harus datang ke tempat ini dan membajak kak Tari. Suasananya sangat sejuk dan romantis. Tuh lihat beberapa pasangan kayaknya tak menghiraukan udara yang dingin, nampak asyik bercengkrama di bawa sana."


Erdana mencium pipi Yasmin dengan lembut. "Aku senang kalau kau bahagia."


Yasmin membalikan badannya. Nampak ada sisa coklat di sudut bibirnya. Erdana mendekatkan wajahnya dengan wajah Yasmin. Lalu dengan lembut menjilati sudut bibir Yasmin untuk membersihkan coklat yang ada di sana. Yasmin terkejut dengan tindakan Erdana. Hampir saja cangkir yang ada di tangannya jatuh. Erdana mengambil cangkir itu dan meletakan nya di sebuah meja bulat yang memang ada di dekat jendela.


"Kita juga bisa menciptakan suasana romantis di dalam sini." Kata Erdana dan langsung menunduk dan mencium Yasmin dengan keras. Yasmin menyambut ciuman itu. Dua minggu lebih dia dan Erdana tak pernah saling bersentuhan karena saat gilirannya tiba, Yasmin sedang datang bulan. Lalu kemudian Erdana yang pergi ke Papua selama satu minggu lebih. Ketika kembali ia harus bersama Mentari karena memang itu adalah jadwal Mentari. Yasmin ingin tenggelam dalam sentuhan Erdana. Ia butuh pengalihan atas rasa lelahnya, atas tugasnya yang banyak, dan juga melupakan sosok seorang pria yang selama ini membuatnya tersiksa.


"Kak, makannya?" tanya Yasmin.


"Kita akan selesai sebelum makan malamnya datang." bisik Erdana parau dan langsung membawa Yasmin ke kamar.


****************


Udara pagi yang dingin tak menghalangi Yasmin untuk mengajak Erdana lari pagi di sekitar kompleks tempat wisata ini..Ternyata banyak juga orang yang berolahraga untuk melawan rasa dingin yang ada.


"Ah, keringat akhirnya membasahi tubuhku." ujar Yasmin sambil membuka shal yang membungkus lehernya. Ia sudah merasa sangat kepanasan.


"Iya. Udaranya asyik." Sambung Erdana yang wajahnya juga sudah berkeringat karena mereka tadi lari menaiki tanjakan dan mengelilingi kompleks wisata ini. Sekarang mereka berhenti di dekat air terjun. Nampak beberapa orang sedang menikmati sarapannya di atas meja terbuka yang memang di siapkan di sana.


"Ya, aku lupa membawa ponselku. Kan enak bisa mengambil beberapa gambar di sini." ujar Yasmin.


"Aku saja yang mengambilnya di cottage selain itu, aku pingin pup." bisik Erdana membuat Yasmin tertawa.


"Ok, kak."


Erdana pun meninggalkan Yasmin di sana. Yasmin menuruni tanjakan untuk mendekati air terjun namun karena jalannya licin, ia hampir saja jatuh.


"Hati-hati....!" sebuah tangan yang kokoh memegang tangan Yasmin sehingga ia tak sampai terjatuh.


Hati Yasmin bergetar mendengar suara itu. Ia menoleh ke arah orang yang telah menolongnya.


"Kak Pra?"


"Yasmin?"


Keduanya sama-sama terkejut namun sedetik kemudian, pancaran mata mereka memancarkan rasa kerinduan yang mendalam. Jantung keduanya sama-sama berdetak dengan sangat kencang.


Dari jauh sayup terdengar lagu Afgan yang diputar dari salah satu cafe yang ada di dekat air terjun itu.


Mengapa Tuhan pertemukan?


kita yang tak mungkin bersatu?


*************


Good morning....


akhirnya bisa up juga

__ADS_1


Selamat Kamis manis ya...


SEMANGAT! semangat juga like, komen, vote dan kasih hadiahnya 😂😂😂


__ADS_2