
"Sampai saat ini, pertumbuhan janinnya bagus. Hanya saja harus ditambah nutrisinya supaya janinnya cepat besar. Detak jantungnya baik. Apakah masih sering mengalami mual dan muntah?" tanya dokter Reiree.
"Sudah jarang, dok. Hanya saja jika mencium bau menyengat seperti parfum, aku masih suka mual." jawab Yasmin.
"Itu hal yang wajar. Kandungannya sudah memasuki minggu ke-14. Lama-lama juga rasa mual dan muntah itu akan hilang dengan sendirinya. Vitaminnya harus diminum sampai habis ya? Makan yang banyak juga. Susu hamilnya juga harus selalu diminum dan jangan banyak stres." ujar dokter Reiree sambil mengambil tissue dan membersihkan bekas gel di perut Yasmin.
Erdana selalu merasakan ada getaran aneh di hatinya setiap kali melihat perkembangan janin di perut Yasmin setiap kali di USG.
Yasmin pun turun dari tempat tidur sambil membenarkan kaosnya. Kali ini ia hanya berdua dengan Erdana karena Naura sedang ke desa karena ada acara ulang tahun desa sedang kan ibu Gayatri sedang menemani suaminya ke Lombok untuk peresmian rumah sakit milik keluarga mereka.
Dokter Reiree memberikan resep untuk vitamin Yasmin.
"Jaga terus kesehatannya ya, nyonya Furkan. Soalnya diusia kandungan yang masih muda ini sangat mudah mengalami keguguran. Saya tahu kalau anda seorang mahasiswa. Beraktifitas boleh saja tapi jangan lupa istirahat dan jangan mengangkat yang berat-berat." pesan dokter Reiree sebelum memberikan resepnya.
Yasmin berjalan lebih dulu saat keduanya keluar dari tempat praktek dokter. Erdana mampir sebentar di apotik rumah sakit untuk menebus vitaminnya Yasmin sementara menunggu di lobby rumah sakit.
Saat Erdana sudah selesai, ia segera menemui Yasmin.
"Ayo pergi!" ajak Erdana.
"Aku sudah pesan taxi. Dari sini aku mau balik lagi ke kampus."
"Aku bisa mengantarmu."
"Biar aku naik taxi saja. Tuh taxi nya sudah datang." Yasmin langsung berdiri saat melihat taxi online yang dipesannya sudah datang. Erdana hanya bisa terdiam melihat bagaimana keras kepalanya gadis itu.
Saat Yasmin berjalan membelakanginya, Erdana baru menyadari bahwa baju yang dipakai oleh Yasmin sudah agak ketat di tubuhnya.
Erdana pun masuk ke dalam mobilnya dan segera kembali ke kantornya.
Sepulang kantor, Erdana meminta Bojes untuk mengantarnya ke butik Mentari. Entah mengapa hari ini Erdana ingin pergi ke sana.
Saat ia tiba, semua karyawan langsung menyambutnya dengan senyum karena memang mereka sudah mengenal Erdana. Namun saat Erdana akan bertanya masalah keberadaan Mentari, mereka semuanya akan menjawab tidak tahu.
Erdana memasuki ruangan Mentari. Ia akan duduk selama setengah jam di sana, mengenang kebersamaan mereka berdua di ruangan ini, sambil melihat beberapa foto kebersamaan mereka. Setelah itu Erdana akan pergi.
Saat ia melewati deretan gaun, matanya tertuju pada beberapa gaun yang terlihat simpel namun sangat indah.
"Ini gaun apa?" tanya Erdana pada Mona, yang adalah sahabat dekat Mentari saat SMA dan merupakan penanggungjawab butik ini saat Mentari tak ada.
"Ini gaun khusus wanita hamil. Gaun ini sengaja dibuat simpel agar dapat dipakai setiap hari. dan bisa menyamarkan perut yang gendut."
"Aku ambil gaun ini. Ada berapa banyak?"
"Yang model seperti ini ada 3 warna dan yang model lain ada 3 warna juga."
"Aku ambil semuanya."
__ADS_1
Mona pun langsung membungkus pesanan Erdana. Pria itu membayarnya dengan kartu lalu segera pergi meninggalkan.
Tanpa Erdana sadari, Mentari yang melihatnya dari CCTV tersenyum walaupun sambil menitikkan air mata. Ia cemburu? Tentu saja cemburu. Erdana pasti membelikan baju hamil itu Mentari.
"Tari......!"
Mentari buru-buru menghapus air matanya. "Bunda? Kapan datangnya?"
Jeslin mendekat dan memeluk ibunya.
"Bunda kebetulan sedang ada sedikit pekerjaan di sini. Sekalian saja menjengukmu. Kau semakin kurus saja, nak."
Mentari mengajak ibunya duduk. "Bunda tahu mengapa sampai aku menjadi kurus."
Jeslin menatap anaknya. "Mengapa kau bersembunyi dari Erdana? Dia selalu bertanya tentang dirimu."
Mentari berusaha tersenyum. "Yasmin lebih membutuhkan Erdana dari pada aku."
"Siapa bilang kalau Yasmin lebih membutuhkan Erdana. Memangnya kamu tak membutuhkan Er?"
"Ayolah, Bun. Aku tak mau membuat Erdana lebih terbeban lagi. Aku tahu sekarang ia juga susah karena menjalani pernikahan dengan wanita yang tak dia cintai. Namun Erdana harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah dilakukannya. Seandainya saja Yasmin tak hamil, pasti ceritanya akan lain."
Jeslin memegang tangan putrinya. "Nak, apakah kau kuat menanggung ini semua? Bukankah berada dekat dengan orang yang kau cintai akan membuatmu lebih kuat?"
"Insya Allah aku bisa, bun. Kan ada bunda, ada adik dan juga Prayuda. Perhatian dan semangat yang kalian beri akan membuat aku bertahan."
"Sudahlah, bun. Aku justru sekarang berharap agar Erdana akan mencintai Yasmin. Anak itu akan mempersatukan mereka. Kasihan Yasmin masih sangat muda. Ia bahkan harus kehilangan cinta pertamanya karena kehamilan yang tak diharapkannya itu."
Jeslin memegang pipi putrinya. "Semoga Allah melimpahkan segala RahmatNya kepada mu, nak. Agar ada keajaiban yang akan kau dapatkan. Semoga kelak ada lelaki yang akan menerima mu tanpa memandang masa lalu mu."
"Aku kuat karena memiliki bunda yang luar biasa. Aku bisa karena didikan dan kasih sayang dari almarhum ayah Gading. Aku bangga memiliki orang tua seperti kalian.
Jeslin memeluk putrinya tanpa bisa menahan air matanya. Wanita berhijab itu sebenarnya sangat terluka karena apa yang dialami oleh putrinya. Ya Allah, berikanlah kebahagiaan untuk anakku.
*********
Yasmin membuka pintu kamarnya dan melihat ada 2 paper bag yang ada di atas tempat tidurnya. Paper bag itu bertuliskan Mentari Colection. Ia tahu pasti ini dari butiknya Mentari. Ibu Yasmin sendiri beberapa kali pernah membeli gaun di butik yang juga menjadi langganan para artis dan pejabat.
Saat Yasmin mengeluarkan isi dari paper bag itu, ia terkejut melihat gaun dengan warna-warna yang sangat cantik. Yasmin sebenarnya sangat suka karena banyak bajunya yang sudah tak muat lagi. Namun saat memikirkan kalau gaun ini dibelikan oleh Erdana, Yasmin langsung memasukan kembali gaun itu ke dalam paper bag dan segera keluar kamar. Saat yang sama Erdana baru saja menuruni tangga.
"Apa-apaan ini?" teriak Yasmin sambil melempar paper bag itu sampai jatuh di kaki Erdana.
"Ada apa?" tanya Erdana heran.
"Aku akan sudah bilang kalau aku nggak mau kau mencampuri urusanku apalagi sampai membelikan aku baju segala. Memangnya kamu pikir kalau dirimu siapa?"
"Aku tidak membelikan gaun itu untukmu. Ibuku yang membelikannya. Jika kamu tak mau, kembalikan langsung ke ibuku." kata Erdana lalu melewati paper bag itu dan menuju ke dapur. Ia ingin menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Yasmin jadi tak enak saat tahu kalau gaun itu dari ibunya Erdana. Ia mengambil paper bag itu dan membawa kembali ke kamarnya. Mengapa juga aku sampai berpikir kalau gaun itu berasal dari Erdana? Bagaimana mungkin dia berpikir untuk membelikannya padaku? Ibu Naura memang sangat baik dan perhatian padaku. Ia pasti sengaja membelikannya di butik kak Mentari karena ia tahu kualitas baju-baju yang ada di sana. Sebaiknya aku menelepon ibu Naura untuk mengucapkan terima kasih.
Yasmin mengambil ponselnya dan menelpon ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, ibu."
"Waalaikumsalam, nak. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, baik. Aku menelepon untuk mengucapkan terima kasih atas gaun hamil yang sudah ibu belikan untukku. Aku suka dengan model dan warnanya."
"Oh....itu."
"Sekali lagi terima kasih ya, bu."
"Sama-sama, nak."
"Aku tutup dulu, bu. Assalamualaikum."
Naura meletakan ponselnya di atas meja pantry. Satu jam yang lalu Erdana baru saja meneleponnya dan meminta kalau misalkan Yasmin bertanya maka ibunya harus mengatakan kalau gaun itu berasal darinya.
Sebenarnya Naura tak mau berdusta. Namun Erdana memohon supaya Yasmin mau menerima gaun itu.
"Ada apa sayang?" tanya Wisnu yang baru saja pulang kerja dan langsung menuju ke dapur dan memeluk istrinya dari belakang.
"Seperti yang aku bilang di telepon tadi, Yasmin akhirnya menelepon aku untuk mengucapkan terima kasih karena gaun hamil itu. Aku merasa tak enak harus berbohong, mas."
Wisnu mencium puncak kepala istrinya. "Kali ini saja kita ikuti apa yang Erdana mau. Toh, ini bukan sesuatu yang buruk. Setidaknya Erdana sudah sedikit memperhatikan kebutuhan istrinya."
"Aku takut mereka tak akan bisa saling mencintai seperti kita, mas."
"Kita pasrahkan saja semuanya pada Allah. Biarkan Allah mengatur jalan hidup mereka."
Naura mendongak dan menatap suaminya. Ia selalu mendapatkan ketenangan setiap kali menatap wajah tampan suaminya. "Kau semakin tampan saja, mas."
"Ah...., benarkah? Kau pun terlihat semakin cantik, sayang."
Pasangan suami istri itu saling berciuman dengan mesra.
Daffa yang baru masuk tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya. Tiba-tiba ia ingat dengan Yasmin. Gadis yang diam-diam disukainya. Gadis yang kini menjadi kakak iparnya. Kapan aku dapat menyukai gadis secantik dan selembut Yasmin lagi?
***********
Terima kasih karena sudah membaca part ini.
Jangan lupa ya Vote, like dan komen agar rangking novel ini dapat naik.
Love you all
__ADS_1