CINTA PARA ANAK JURAGAN

CINTA PARA ANAK JURAGAN
Sakit Kepala


__ADS_3

Saat melihat Mentari, Yasmin langsung melompat turun dari gendongan Erdana. Wajah keduanya bersemu merah dan mereka terlihat salah tingkah.


Mentari tersenyum manis walaupun ada setitik perih yang menusuk hatinya. "Assalamualaikum!" Ia memberi salam lalu melangkah sambil menggenggam tas belanjaan nya dengan erat. Ia berusaha menenangkan hatinya. Ini adalah keputusannya. Menerima pernikahan poligami. Ia tak boleh cemburu. Di lihat ataupun tidak dilihatnya, Yasmin dan Erdana pasti akan bermesraan juga.


"Waalaikumsalam." Yasmin dan Erdana membalas sapaan Mentari dengan sangat kikuk.


"A...aku mau ke dapur dulu." Melihat Erdana dan Yasmin yang nampak salah tingkah, Mentari pun ikut salah tingkah.


Seharusnya aku tadi datangnya 15 menit lebih lambat. Pasti keduanya sudah masuk ke kamar. Aku pasti sudah menganggu mereka. Batin Mentari merasa tak enak.


"Kak, mau masak apa? Aku bantu?"tanya Yasmin lalu menyusul langkah Mentari ke dapur.


Mentari meletakan belanjaannya di atas meja pantry. Ia kemudian menatap Yasmin. "Maaf ya?" katanya dengan wajah yang menyesal.


"Maaf untuk apa?" tanya Mentari.


"Aku sudah menganggu kalian."


"Siapa yang menganggu sih kak? Lupakan saja, kak."


"Erdana pasti sakit kepala."


Yasmin mengerutkan dahinya. "Sakit kepala?"


"Ya. Sebagai mahasiswa kedokteran, aku pikir kalau kamu yang paling tahu."


Yasmin melirik ke arah Erdana yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Mungkin itu salah satu pengalihan Erdana menekan hasratnya yang tak kesampaian tadi.


"Yas, teruskan saja. Kita kan sudah tahu, saat menjalani pernikahan ini. Ada saatnya Er harus bersama aku, dan ada saatnya Er harus bersama kamu."


"Tapi kak...."


"Aku juga nggak bisa bersama Er. Aku baru saja dapat tamu bulanan ku tadi siang. Aku pergi keluar sebentar ya? Satu jam lagi aku kembali. Pura-pura saja ada bahan yang lupa aku beli. Ini kan baru jam 5. Nanti mulai jam 6 kita masak." Mentari mengambil tasnya kembali namun Yasmin menahan tangannya.


"Kak..., jangan!"


"Kasihan, Er."


"Kak Er masih bisa menahannya. Kita masak saja." kata Yasmin lalu mulai mengeluarkan belanjaan dari dalam kantong belanja.


Mentari sekilas melihat Er yang masih menonton TV. Apakah Er sekarang sudah berubah? Bukankah dulu jika kami tak jadi bercinta maka Er akan terus merayunya? Mentari jadi ingat. Ia dan Er pernah bercinta di ruangan kerja, Er, di dalam mobil, di ruang tamu


Bahkan dapur ini pernah menjadi saksi bisu kegilaan Erdana yang tak bisa menahan diri lagi sampai ke kamar ketika hasrat itu tiba-tiba saja datang dan ingin dipuaskan.


Mentari dan Yasmin pun tenggelam dalam tugas mereka menyiapkan makan malam sedangkan Erdana berusaha mengalihkan diri dengan menonton berita ekonomi. Ia sesekali melihat perkembangan saham melalui tabletnya.


"Er, makan yuk!" ajak Mentari sambil mendekat.


Erdana menatap Mentari.


"Baiklah. Ibu sudah menelepon? Sepi rasanya nggak ada As."


"Mungkin baby As kerasan dengan kakek dan neneknya."


"Aku telepon dulu, deh." Erdana menghubungi ayahnya sambil keduanya melangkah bersama ke ruang makan.


"Assalamualaikum, ayah. Bagaimana kabar baby As?"


"Sementara makan. Disuapi neneknya."


"As menangis nggak?"


"Mana mungkin dia menangis jika ayah dan ibu begitu menyayanginya? Ibu mu bahkan nggak mau masuk dapur hari ini karena kesenangan main sama cucunya."


Erdana terkekeh mendengar bagaimana bahagianya ayah dan ibunya karena bersama As saat ini.

__ADS_1


"Aku kesepian di sini nggak ada anakku, ayah. Selesai makan malam aku jemput ya?"


"Nggak. Besok sore baru ayah dan ibu antar ke sana. Sudah, nanti telepon lagi."


Mentari menatap Erdana. "Bagaimana? Dia menangis nggak?"


"Tidak. Mereka nampaknya sangat senang As ada di sana."


"Ya sudah. Ayo makan!" Yasmin mengambil tempat duduk di sisi kanan, Mentari di sisi kiri sedangkan Erdana duduk di kepala meja.


Mereka pun makan malam dengan begitu lahap dan penuh dengan suasana kekeluargaan.


Selesai makan, Yasmin dan Mentari membereskan meja makan sedangkan Erdana pamit untuk mandi di kamar atas.


"Yasmin, malam ini Erdana tidur dengan kamu, ya?" ujar Mentari saat mereka sudah selesai membereskan ruang makan dan dapur.


"Kak, kita kan sudah sepakat, sebelum kakak pindah ke rumah baru maka belum ada giliran kak Er bersama siapa."


Mentari tersenyum. "Malam ini, baby As kan nggak ada. Jadi biar saja Erdana bersama mu. Lagi pula tadi itu....., pasti jika aku tak datang, kalian...., kalian...." Mentari nampak ragu melanjutkannya.


Wajah Yasmin pun menjadi merah. Namun perempuan itu buru-buru tersenyum. "Nggak masalah, kak. Aku mau mandi dulu ya?"


Mentari mengangguk. Ia pun bergegas menuju ke kamar atas. Saat ia masuk ke kamar, Erdana baru saja selesai mandi.


"Sepi ya kalau baby As nggak ada." ujar Erdana.


Mentari mengangguk. "Ayah dan ibumu ingin punya banyak waktu untuk bersama baby As. Kalau memang dia merasa nyaman maka biarkan saja dia bersama kakek dan neneknya. Walaupun aku nggak tahu apakah aku bisa tidur jika anakku tak ada."


"Jangan keseringan bersama ayah dan ibu. Nanti baby As akan lebih suka bersama kakek dan neneknya dari pada harus bersama kita." ujar Erdana membuat Mentari tertawa namun tawanya terhenti saat ia merasa perutnya sedikit nyeri.


"Ada apa?" tanya Erdana saat melihat Mentari sedikit meringis sambil memegang perutnya.


"Biasalah. Setiap kali aku mendapat haid, perutku sedikit nyeri."


Mentari mendekatinya. "Er, malam ini kamu tidur dengan Yasmin ya?"


"Mengapa?"


Mentari menyentuh wajah Erdana. "Aku tahu kalau kamu lagi butuh. Sekuat apapun kamu berusaha mengalihkan hasrat mu, aku yakin kalau kamu tetap butuh melampiaskan apa yang tadi tertunda. Sebagaimana Yasmin yang ikhlas setiap kali kita berdua, malam ini aku juga ikhlas kalau kau bersamanya."


Erdana tersenyum. Ia memeluk Mentari dan mengecup dahinya. "Aku di ruang kerjaku. Maukah kau membuatkan aku secangkir kopi?"


Mentari mengangguk. "Tapi aku mandi dulu ya?"


Erdana mengangguk. Ia kemudian meninggalkan kamar.


***********


Malam sudah larut. Mentari tak juga bisa memejamkan matanya. Ia rindu dengan anaknya. Tapi ia juga penasaran, apakah Erdana sudah ada di kamar Yasmin ataukah ia masih ada di ruang kerjanya. Selama 5 hari Yasmin selalu tidur bersamanya dan baby As. Berarti hampir seminggu Erdana tak mendapatkan nafkah batinnya.


Sementara itu, di kamarnya, Yasmin pun belum tidur. Ia memikirkan ucapan Mentari tadi. Haruskah ia menggoda Erdana agar suaminya itu masuk ke kamarnya? Apakah Erdana tersiksa menahan hasratnya? Mentari sedang datang bulan. Tak mungkinkan ia melayani Erdana?


Yasmin berdiri. Ia akan membuka pintu kamarnya namun keraguan itu kembali datang. Jika kak Erdana malam ini tidur denganku, Kak Mentari pasti merasa kesepian di kamarnya. Apalagi nggak ada baby As.


Yasmin pun kembali duduk di tepi tempat tidurnya.


Di ruang kerjanya. Erdana baru saja selesai dengan pekerjaannya. Ia segera menutup laptopnya dan memijat pangkal hidungnya. Ia merasa sakit kepala. Apakah mungkin karena hasratnya tadi tak tersalur? Duh, punya dua istri namun aku kayak bujang tak laku saja. Lebih baik aku membuat kopi lagi.


Erdana keluar dari ruang kerjanya. Ia melangkah menyeberangi ruang tamu. Namun saat lewat di depan kamar Yasmin, langkah Erdana terhenti. Ia melihat kalau lampu kamar Yasmin masih menyala.


Ketika Erdana akan mengetuk pintu kamar Yasmin, pintu kamar terbuka dan Yasmin berdiri di sana. Ia menggunakan gaun tidur tipis yang pendek dengan tali spageti. Gaun tidur yang sebenarnya jarang ia gunakan. Mata Erdana langsung terpana menatap tubuh ramping istrinya dengan belahan dada yang sedikit menggoda. Erdana yakin kalau dibalik gaun itu, Yasmin tak menggunakan apapun.


Erdana menelan ludahnya sedangkan Yasmin justru menggigit bibir bawanya. Erdana tak mau menahan sakit kepalanya lagi. Ia langsung mendorong Yasmin untuk masuk kembali ke kamar, menutup pintu dengan kakinya dan langsung mencium bibir Yasmin dengan sangat keras, penuh hasrat yang tak mau ditolak lagi. Yasmin pun menyambut ciuman itu dengan sama panasnya. Tanpa melepaskan pertautan bibir mereka, Yasmin dengan tak sabar membuka kaos Erdana. Mereka siap memulai malam panas yang penuh kenikmatan.


***********

__ADS_1


Erdana rasanya belum lama terlelap. Dua ronde ia habiskan bersama Yasmin dengan durasi yang cukup lama. Keduanya langsung tertidur tanpa memakai pakaian mereka kembali.


Ada suara dari luar kamar yang membuat Erdana terbangun. Ia menatap jam dinding yang menunjukan pukul 5 subuh.


Perlahan Erdana bangun dan turun dari ranjang. Ia memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Yasmin lalu memakai kembali kaos dan celana rumahnya. Perlahan ia memakai sandalnya dan melangkah ke luar kamar.


Erdana mencari sumber suara itu dan ia akhirnya menemukan Mentari ada di dapur.


"Sayang, kamu lagi buat apa?"


Mentari terkejut saat melihat Erdana. "Maaf, apakah aku membangunkan kalian?"


"Yasmin masih tidur. Kamu sedang buat apa?"


"Aku sedang merebus obat tradisional Cina. Obat ini biasanya ku minum saat kepalaku sakit dan aku merasa agak demam." kata Mentari sambil memeluk dirinya sendiri.


"Ya Allah, Tari. kenapa nggak membangun aku? Wajahmu sangat pucat." Erdana mendekat. Ia memeluk Mentari sejenak lalu meminta Mentari untuk duduk.


"Biar aku saja yang menyiapkan obatmu. Pasti kamu terlalu capek karena menyiapkan rumah kan? Aku kan sudah bilang, untuk menambah jumlah pekerja di sana. Namun kamu maunya sendiri." Erdana menuangkan air rebusan obat itu ke dalam gelas.


"Aku akan membantunya agar cepat dingin." kata Erdana lalu menyalahkan kipas angin dan mendekatkan gelas berisi obat. Setelah dirasanya cukup, ia pun memberikannya pada Mentari. Perempuan itu langsung menghabiskan obat itu tanpa tersisa.


"Sekarang ayo tidur lagi." Erdana mendekat dan membantu Mentari berdiri. Ia dapat merasakan kalau tubuh Mentari agak menggigil. Tanpa meminta persetujuan Mentari, Erdana langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar atas.


Setelah membaringkan tubuh Mentari di atas ranjang, Erdana menyelimuti tubuh Mentari.


"Masih dingin ya?" tanya Erdana melihat Mentari masih menggigil.


"Sebentar lagi obatnya akan bekerja. Tubuhku akan menjadi hangat. Kamu kembali saja ke kamar Yasmin. Nanti dia terbangun dan kamu nggak ada."


Erdana ikut berbaring di samping Mentari. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Mentari dan menarik istrinya itu untuk lebih dekat kepadanya. "Tidurlah! Aku akan menjagamu."


"Kembalilah ke kamar Yasmin!"


"Sst..., diamlah! Jangan cerewet!"


Mentari pun memejamkan matanya. Namun pikirannya ada di kamar Yasmin. Ia sungguh merasa tak enak.


**********


Yasmin bangun saat ponselnya berbunyi. Ia melihat ke sampingnya dan Erdana sudah tak ada.


"Hallo.....!"


"Yasmin, jam berapa jadwal konsultasi mu dengan dosen pembimbing?"


"Jam 8 pagi."


"Memangnya ini sudah jam berapa?"


Yasmin menatap jam dindingnya. "Astaghfirulla! Ini sudah sudah jam setengah sembilan pagi. Maaf pak aku...."


"Aku tunggu 30 menit dari sekarang."


Yasmin bergegas turun dari ranjang. Dengan tubuh polosnya ia berlari ke kamar mandi. Mandi secepat yang ia bisa. Ia bahkan tak sempat keramas. Hanya mengenakan bedak seadanya, Yasmin segera keluar kamar. Yasmin tahu bahwa Erdana dan Mentari pasti sudah pergi.


Yasmin berlari sambil memegang laptop dan tasnya. Ia akhirnya sampai di tempat parkir. Saat ia akan naik ke mobilnya, ia cukup terkejut melihat dua mobil Erdana masih terparkir di sana, tepat berdampingan dengan mobil Mentari. Apakah mereka masih ada di apartemen?


***********


Selamat bermalam Minggu guys...


maaf lambat up nya


Semoga suka dengan bab ini

__ADS_1


__ADS_2