
Syuting hari ini selesai lebih cepat dari hari kemarin. Elmira merentangkan tangannya dan segera ganti pakaian. Ia ingin mengenakan pakaian yang lebih santai. Karena itulah ia memakai celana jeans dan kaos oblong berwarna putih, kaca mata hitam dan sepatu kets.
"Nick, ayo kita pergi ke mall. Hanya kita saja ya? Dua bodyguard yang lain istirahat saja. Boleh kan?"
Nick terlihat sedikit khawatir. "Tapi nona, mall itu kan agak ramai. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu."
"Aku kan menggunakan pakaian biasa. Jadi nggak akan ada yang mengenal aku sebagai Elmira Furkan. Makanya kamu juga ganti seragam mu itu dengan pakaian yang lebih santai."
"Tapi nona....."
"Nggak ada tapi-tapian. Ayo cepatlah!"
30 menit kemudian, Elmira dan Nick sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Shanghai.
Elmira sangat menikmati aksi keliling mall saat ini. Sangat berbeda jika ia berada di Jakarta. Jalan sedikit saja, ia sudah dikejar fans untuk diminta foto bersama.
Penampilan Elmira yang sederhana, sangat cocok dengan penampilan Nick yang menggunakan celana jeans dan kaos putih juga. Mereka bahkan terlihat seperti pasangan kekasih karena sama-sama menggunakan kacamata hitam.
Elmira dapat merasakan bahwa beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka menatap Nick dengan penuh kekaguman.
"Nick, coba lihat kaos ini." Elmira menunjukan sebuah kaos dengan merk Lea, berwarna coklat tua.
"Bagus nona!"
Elmira mendekatkan ke tubuh Nick. "Ini kayaknya cocok untukmu, Nick!"
"Tapi nona. Aku tak butuh baju apapun. Aku membawa baju yang cukup banyak ke Shanghai ini." tolak Nick.
"Ayolah, Nick. Pakaianmu kalau tak berwarna putih, pasti yang satunya lagi berwarna hitam. Sesekali pakailah pakaian yang berwarna lain."
"Nona, ini berlebihan. Harganya kan mahal."
Elmira menatap Nick dengan tajam. "Jangan menolak hadiah dari aku, Nick. Karena aku memberikannya dengan tulus."
"Tapi...."
"Aku juga akan membelikan untuk dua teman mu itu."
Nick tak sampai hati menolaknya.
Selesai berbelanja, keduanya pun singgah makan mie ayam di salah satu kedai yang nampaknya cukup terkenal karena pengunjungnya sangat banyak. Elmira berani masuk setelah melihat ada tanda halal di depan kaca.
"Nick, mau kemana?" tanya Elmira saat melihat Nick yang akan pergi.
"Saya duduk di meja lain saja ya? Nggak enak rasanya makan satu meja dengan nona."
"Nick, saat ini nggak ada bodyguard dan tuannya. Yang ada adalah teman. Jangan seperti itu. Ayo duduk."
Nick duduk walaupun dengan sedikit keraguan.
"Nick, bersikaplah yang wajar saja. Aku justru ingin kenal dekat denganmu."
"Tapi ini nggak sopan, nona!"
"Aku akan marah kalau kamu pindah dari meja ini. Ayolah, jangan rusak mood ku yang sedang senang malam ini."
Pesanan mereka pun akhirnya datang. Saat keduanya mulai menikmati makanan itu, mereka sama-sama mengakui bahwa mie ini sangat enak.
"Pantas saja pengunjungnya banyak. Rasanya sangat enak." ujar Elmira.
"Iya."
__ADS_1
Tiba-tiba terjadi keributan di depan tempat makan itu.
"Sepertinya ada kelompok mafia, nona."
"Astagfirullah, Nick. Kita harus bagaimana?" Elmira secara spontan langsung memegang tangan Nick.
"Tenanglah, nona. Jangan membuat gerakan yang mencurigakan."
Susana di dalam tempat makan itu semakin kacau karena gang mafia itu mulai menangih uang pada semua yang makan di sana.
Saat ada salah satu pengunjung yang menentang, Susana langsung menjadi kacau. Nick dengan cepat menarik tangan Elmira dan berjalan melewati dapur.
Tubuh Elmira semakin bergetar saat mendengar bunyi letusan senjata. Ia memeluk lengan Nick dengan sangat kuat sampai akhirnya mereka berhasil keluar dari sana.
"Nona...., tenanglah! Semuanya sudah baik-baik saja. Dengarlah bunyi sirine suara mobil polisi."
Elmira nampak masih gemetar. Air matanya mengalir.
"Nona.....!" Nick menempuh tangan Elmira yang melingkar di lengannya. Tiba-tiba Elmira berteriak kaget, ia menabrak tubuh Nick sehingga keduanya jatuh ke tanah dengan posisi Nick berada di bawa dan Elmira berada di atas tubuh Nick.
"Aku......!" Elmira akhirnya sadar. Ia berdiri dengan wajah merah sedangkan Nick ikut juga berdiri dengan salah tingkah.
Untung saja mobil mereka diparkir agak jauh dari rumah makan itu karena tadi parkirannya habis. Akhirnya mereka pun pulang..Sesampai di kamarnya, Elmira merasakan dadanya bergetar saat ia mengingat kembali bagaimana tadi tubuhnya yang jatuh di atas tubuh Nick. Gadis itu tak bisa menahan senyumnya.
************
"Bayinya laki-laki." ujar dokter Reiree membuat Erdana tak bisa menahan senyumnya. Entah mengapa ada luapan kegembiraan saat mendengar jenis kelamin anaknya. Erdana memang sejak dulu ingin memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki.
"Alhamdulillah." kata Naura dengan wajah berseri.
"Memangnya sudah bisa diketahui, dok? Usia kandungan aku kan baru memasuki Minggu ke-17?" tanya Yasmin.
Yasmin pun turun dari tempat tidur setelah ia selesai diperiksa.
"Dengar baik-baik, nak. Kau harus makan yang lebih banyak lagi. Memangnya masih suka mual dan muntah?" tanya Naura saat mereka keluar dari tempat praktek dokter Reiree.
"Kalau muntah sudah nggak lagi, bu. Hanya saja aku masih suka merasa pusing."
"Makanya kondisi yang baik, ya? Susu hamilnya masih diminum kan?"
"Masih, bu."
"Ya sudah. Kalian pulang saja berdua. Ibu mau tunggu ayah Wisnu di sini karena mau mengunjungi salah satu sahabatnya."
Erdana dan Yasmin pun pulang ke apartemen. Seperti biasa sepanjang jalan tak ada percakapan yang tercipta. Yasmin sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Erdana berusaha konsentrasi dengan jalan di depannya.
"Berhenti......!"
Erdana menginjak rem mendadak. "Ada apa?"
Yasmin tak menjawab. Ia hanya membuka sabuk pengamannya dan segera turun. Ternyata Yasmin menuju ke sebuah tempat makan pinggir jalan yang menyajikan berbagai macam sate. Ia langsung memesan beberapa untuk dibawah pulang tapi juga beberapa tusuk dimakannya di sana.
Erdana hanya bisa terpaku melihat tingkah Yasmin yang nampak sangat menikmati sate bersama lontong itu. Erdana pun tergerak untuk mencobanya. Ia.melangkah mendekati Yasmin dan mengambil satu tusuk dari piring yang dipegang Yasmin.
"Eh....itu punyaku!" protes Yasmin.
Erdana tak peduli. Ia terus menikmati sate itu sampai potongan terakhir. "Enak......!" guman Erdana dan bermaksud akan mengambil satu tusuk lagi namun Yasmin langsung menjauhkan piring yang dipegangnya.
"Pesan saja sendiri!"
"Ayolah, Yas. Satu tusuk lagi." Erdana berusaha meraih piring itu.
__ADS_1
Yasmin pun memberikannya. "Hanya satu ya?" tegasnya lalu duduk dan menikmati satenya lagi.
Erdana menikmati lagi sate itu.
Saat sate yang ada di piring Yasmin habis, ia berdiri dan akan mencuci tangannya. Namun langkahnya terhenti melihat mobil yang sangat dikenalnya berhenti tepat di belakang mobil Erdana.
Andre turun dari depan. Di sisi yang lain, Naila juga turun.
"Yasmin?" Andre langsung mendekati Yasmin.
"Hai.....!" Yasmin berusaha bersikap biasa walaupun jantungnya bagaikan mau copot ketemu Andre. Hatinya terasa panas saat .dilihat Andre bersama dengan Naila. Gadis yang sangat menyukai Andre.
"Makan sate di sini juga?" tanya Andre masih dengan senyum ramahnya. Tempat makan ini merupakan tempat di mana Andre menembak Yasmin di hadapan teman-temannya yang lain.
Karena itulah tempat ini menjadi tempat favorit mereka berdua tiap kali kencan.
"Iya." Jawab Yasmin sambil melirik ke arah Naila yang berdiri di samping Andre sambil menatap Yasmin dengan wajah kasihan.
Tak dapat dipungkiri, Yasmin cemburu melihat Andre bersama dengan Naila.
Andre menatap Erdana yang berdiri gak jauh dari Yasmin. Ada tatapan mata tajam penuh dendam kepada pria itu karena perbuatannya sudah memisahkan Yasmin dan dirinya.
"Ayo Andre! Aku sudah lapar!" ajak Naila sambil melangkah lebih dulu.
"Yas, kami masuk dulu ya?" pamit Andre sambil menepuk pundak Yasmin sebelum melangkah.
Yasmin langsung kehilangan selera makannya. Pada hal ia ingin makan lagi tadi. Segera ia menuju ke mobil, mengambil.dompetnya untuk membayar pesanannya namun ternyata Erdana sudah lebih dulu membayarnya dan memegang sate pesanan Yasmin. Dengan cepat pun Yasmin masuk ke dalam mobil. Ingin rasanya ia menangis namun ia berusaha menahan tangisnya.
Sesampai di apartemen, ia langsung mengurung diri di kamar. Erdana yang sudah mengeluarkan sate pesanan Yasmin pun mengetuk pintu kamarnya.
"Yas, makanlah satenya!"
"Aku nggak mau! Kamu makan saja!" teriak Yasmin.
Erdana pun kembali ke meja makan. Ia tahu kalau Yasmin pasti sedih karena melihat Andre dengan seorang gadis. Erdana pun menikmatinya karena memang ia merasa lapar. Selesai itu, ia segera ke kamarnya, mandi dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Saat ia hampir terlelap, ponselnya berbunyi.
"Assalamualaikum, bu!" sapa Erdana pada ibu mertuanya.
"Waalaikumsalam, Er. Yasmin mana?"
"Sedang istirahat, bu. Ada apa?"
Terdengar Isak tangis Gayatri. "Tolong sampaikan ke Yasmin secara pelan-pelan, ya? Neneknya baru saja meninggal."
"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un. Nenek sakit apa, bu?"
"Nenek hanya pusing. Saat kami bawa ke rumah sakit, sudah dinyatakan meninggal."
"Baik, Bu. Akan ku sampaikan pada Yasmin."
"Terima kasih, ya nak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Erdana bingung harus bagaimana mengatakannya sedangkan ia tahu saat ini suasana hati Yasmin sedang tak baik.
*************
Terima kasih sudah membaca part ini
jangan lupa like, komen dan vote ya
__ADS_1