
Perlahan Yasmin membuka matanya. Bau khas rumah sakit langsung masuk ke Indra penciumannya. Dinding dan langit-langit ruangan yang berwarna putih membuat Yasmin yakin kalau ia pasti berada di rumah sakit.
"Butuh sesuatu?" terdengar suara Erdana.
Yasmin menoleh ke samping kiri. Lelaki yang telah menjadi suaminya itu berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
"Butuh sesuatu?" Erdana mengulangi kembali pertanyaannya.
"Aku ingin minum."
Erdana mengambil gelas yang berisi air, yang terletak di atas nakas. Ia membantu Yasmin untuk bangun sehingga perempuan itu bisa minum.
"Ada yang diinginkan lagi?" tanya Erdana.
"Aku ingin sendiri." ujar Yasmin.
Erdana mengangguk. "Aku ke cafe rumah sakit dulu untuk membeli kopi." Erdana meninggalkan ruangan perawatan Yasmin. Ia memang merasa lelah dan mengantuk.
Yasmin menatap punggung Erdana yang menghilang di balik pintu. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi.
Saat Erdana membangunkannya dan mengatakan bahwa neneknya sudah meninggal, Yasmin sudah merasakan kalau seluruh tubuhnya bagaikan kehilangan kekuatan. Erdana bahkan harus memapah Yasmin saat mereka memasuki rumah duka.
Saat melihat jasad neneknya dimasukan ke liang lahat, Yasmin tak dapat lagi menahan dirinya. Ia langsung jatuh pingsan. Dan di sinilah dia sekarang.
Tangis Yasmin kembali pecah. Ia mengingat kasih sayang kakek dan neneknya yang begitu besar untuknya. Ia mengingat bagaimana mereka sangat memanjakannya.
"Ya Allah, mengapa Kau mengambil mereka begitu cepat?" ujar Yasmin diantara Isak tangisnya. Yasmin bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia merasa sangat lemah. Perutnya bahkan terasa kram. Ia terus menangis sampai akhirnya pintu kamar perawatannya terbuka. Erdana masuk sambil memegang segelas kopi di tangannya.
"Yasmin, ada apa?"' tanya Erdana sambil mendekat. Ia meletakan kopi yang dipegangnya di atas meja dan mendekat ke tempat tidur.
Tangis Yasmin semakin dalam. Wajah kakek dan neneknya bermain terus di pelupuk matanya.
"Yasmin.....!" panggil Erdana. Kali ia memberanikan diri untuk menyentuh pundak Yasmin.
"Peluk aku.....!" ucap Yasmin diantara Isak tangisnya.
Erdana terkejut mendengar permintaan Yasmin. Benarkah ini yang Yasmin inginkan?
"Peluk aku ....!"
Erdana perlahan membawa Yasmin ke dalam pelukannya. Yasmin langsung melingkarkan tangannya di pinggang Erdana, menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu sambil tangisnya semakin dalam.
"Kakek......nenek.....!"' tangis Yasmin semakin kuat.
Agak kaku Erdana mencoba mengusap punggung Yasmin. "Ikhlaskan kepergian mereka, Yasmin. Sebab ini semua adalah takdir Allah. Kita doakan saja mereka agar Allah memberikan tempat yang terbaik bagi mereka di sorga karena mereka berdua adalah orang yang sangat baik."
Yasmin terus memeluk pinggang Erdana sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka. Satria, Gayatri, Naura dan Wisnu masuk. Yasmin langsung sadar dan melepaskan pelukannya. Ia sendiri bingung kenapa harus memeluk Erdana.
__ADS_1
Dua pasang suami istri itu nampak bahagia melihat anak-anak mereka saling berpelukan.
"Yasmin sayang.........!" ujar Gayatri.
"Ibu....., mengapa nenek juga meninggalkan kita?"
Gayatri menghapus air mata putrinya. "Kita semua sedih, nak. Namun kita nggak boleh menentang keputusan Allah. Yasmin kan tahu kalau kita semua juga akan seperti kakek dan nenek. Hanya waktunya saja yang berbeda."
"Yasmin sama siapa lagi, bu?"
"Masih ada ayah, ibu, kedua mertuamu, dan juga Suamimu. Kami akan memberikan kau kasih sayang dan perhatian sehingga kau tak merasa kesepian." ujar Satria.
"Iya, nak. Jangan merasa sedih ya? Ingat, kau sedang mengandung." Sambung Naura.
Yasmin mengangguk. Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan atas kepergian dua orang terkasihnya.
************
Selama 3 hari Yasmin dirawat di rumah sakit. Erdana dengan setia menemaninya walaupun di dalam ruangan keduanya lebih banyak diam.
Saat waktu pulang tiba, Yasmin meminta untuk mengantarkan ke rumah orang tuanya karena ia ingin ada di sana untuk memperingati 7 hari meninggalnya sang nenek.
"Er, kamu akan tidur di sini juga kan?" tanya Gayatri saat Erdana akan pamit ke kantornya.
Erdana diam sejenak. Menginap di rumah mertuanya berarti ia harus tidur satu kamar dengan Yasmin.
"Itu juga yang aku katakan pada Yasmin, bu" Imbuh Erdana. Ia senang karena Yasmin memberikan jalan keluar dari kekhawatirannya harus tidur satu kamar dengan Yasmin.
"Baiklah." Gayatri mengangguk setuju walaupun pada kenyataannya ia kurang setuju jika Yasmin dan Erdana harus berpisah.
"Yasmin, jangan panggil Erdana dengan sebutan kakak. Kau harus memanggilnya dengan sebutan mas atau abang." ujar Gayatri saat Erdana sudah pergi.
Yasmin memutar bola matanya malas. "Ibu tahu bagaimana pernikahan kami."
Gayatri hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan cara anaknya menjalani pernikahan mereka.
**********
Acara Tahlilan atas meninggalnya nenek Yasmin berjalan dengan baik. Pukul 8 malam, semua tamu yang hadir sudah beranjak pulang. Naura dan Wisnu dan Daffa memilih untuk tinggal sejenak bersama keluarga mereka.
"Abang, besok kan nggak kerja. Menginap aja di sini." ujar Naura.
"Iya. Supaya besok sore dapat sekalian kembali dengan Yasmin ke apartemen." ujar Satria.
"Ayah kok mengusir aku, sih?" Yasmin merajuk. Sesungguhnya ia ingin lebih lama berada di rumah orang tuanya.
"Bukan mengusir, nak. Kamu sendiri yang bilang jika Erdana harus menginap di sini terus, nanti ia terlalu lama akan ke kantornya." Ujar Gayatri. "Seorang istri harus bersama dengan suaminya."
__ADS_1
Yasmin hanya diam sedangkan Erdana terlihat juga diam tanpa ekspresi. Ia yakin kalau orang tuanya dan orang tua Yasmin berusaha agar hubungan mereka menjadi semakin baik.
Pukul 10 malam, Wisnu, Naura dan Daffa kembali ke rumah mereka. Erdana nampak masih berbincang dengan Satria di ruang tamu.
"Nak Erdana, segeralah beristirahat. Ini sudah larut malam."
"Baik, ayah. Aku mau ambil baju ganti dulu di mobil." Erdana beranjak dari tempat duduknya. Ia keluar rumah dan mengambil pakaian di dalam sebuah paper bag lalu kembali masuk ke dalam.
"Kamar Yasmin ada di lantai dua. Dari tangga belok ke kanan, kamar pertama." ujar Gayatri.
"Baik, Bu." ujar Erdana. Langkahnya terasa berat saat menaiki tangga. Namun ia melangkah juga. Ia tiba di depan sebuah pintu kamar yang berwarna putih. Perlahan tangannya mengetuk pintu kamar itu.
Pintu kamar terbuka. Nampak Yasmin sudah berganti baju dengan sebuah daster rumahan. Ia melebarkan daun pintu dan Erdana pun masuk tanpa suara.
"Aku mau mandi. Di mana kamar mandinya?" tanya Erdana.
"Di sana!" Yasmin menunjuk sebuah pintu kaca. Erdana pun melangkah masuk ke dalam sambil membawa paper bag nya. Saat ia akan membuka bajunya, ia sadar bahwa ia tak membawa handuk. Ia keluar lagi. Yasmin baru saja akan naik ke atas tempat tidurnya.
"Yasmin, bolehkah aku meminjam handuk bersih?"
Yasmin tanpa suara menuju ke lemari pakaiannya. Ia mengambil sebuah handuk berwarna putih dan memberikannya pada Erdana.
Saat cowok itu kembali masuk ke dalam kamar mandi, Yasmin pun naik ke atas ranjang setelah sebelumnya ia mengambil bantal dan sebuah selimut dan meletakkannya di atas meja belajarnya.
Saat Erdana sudah selesai mandi, ia melihat kalau lampu utama sudah dipadamkan. Yang menyala hanyalah sebuah lampu kecil di sudut ruangan. Mata Erdana pun menatap selimut dan bantal yang diletakan di atas meja belajar Yasmin. Erdana tahu, Yasmin tak ingin dia tidur di ranjang yang sama dengannya.
Di kamar Yasmin hanya ada satu single sofa. Tak mungkin Erdana akan tidur di sana. Jadi Erdana pun memilih tidur di atas karpet. Karpet di kamar Yasmin cukup tebal. Walaupun Erdana yakin kalau badannya akan sakit semua jika bangun pagi hari namun ia tak punya pilihan lain.
Tengah malam Erdana terbangun mendengar suara Yasmin yang mengigau.
"Kakek......kakek......!"
Erdana bangun dan mendekati ranjang Yasmin.
"Yasmin....., kamu kenapa?" Erdana menepuk pipi Yasmin.
Yasmin membuka matanya. "Peluk aku. Jangan tinggalkan aku!"
Erdana terkejut namun Yasmin menarik tangan Erdana.
"Peluk aku....! Jangan tinggalin aku, kakek." kata Yasmin sambil menarik tangan Erdana untuk memeluknya dari belakang.
***********
Apa yang akan terjadi di kamar Yasmin?
Saksikan episode selanjutnya ya
__ADS_1
terima kasih sudah membaca