
Mentari tersenyum melihat Yasmin yang memasuki restoran. Ia melambaikan tangannya pada Yasmin dan perempuan itu langsung melihatnya.
"Hallo....!" Yasmin mendekat dengan senyum manisnya. Ia memeluk Mentari lalu membelai perut Mentari yang mulai membesar. Setelah itu Yasmin mencium tangan Erdana dan ia duduk bersebelahan dengan Mentari. Keduanya berhadapan dengan Erdana.
"Aku nggak menganggu acara makan siang kalian kan?" tanya Yasmin.
"Nggak. Seharusnya memang kita sering keluar bersama untuk makan siang atau makan malam. Namun kamu terlalu sibuk." kata Mentari.
"Iya. Bulan depan aku sudah mulai dengan kuliah S2 ku. Jadi aku memang akan sangat sibuk."
Erdana terkejut. "Oh, kuliahnya sudah mau di mulai?"
"Iya, kak. Mereka setuju untuk kuliah sore sampai jam 9 malam. Ada 22 mahasiswa yang akan ikut kuliah S2. karena sebagian besar masih dokter koas, makanya kuliah dilaksanakan mulai jam 4 sore."
"Pihak rumah sakit mengijinkan kalian pulang lebih awal?" tanya Erdana.
"Ya. Kami sudah mendapat ijin dari pihak rumah sakit."
Mentari menatap Yasmin. "Kau akan bertambah sibuk. Kapan kau bisa hamil?"
Yasmin tersenyum. "Kak, usiaku kan masih muda. Makanya aku ingin mengejar apa yang menjadi impianku sejak dulu. Kan apa-apa kan?"
Erdana mengangguk. "Kami sudah membicarakan itu, Ri. Aku mendukung Yasmin untuk mengejar apa yang diimpikannya."
Mentari terlihat agak kecewa namun dengan cepat ia tersenyum. "Eh, katanya Prayuda mendapatkan kecelakaan. Bagaimana keadaannya sekarang? Tadi aku telepon waktu mas Er menceritakan tentang kejadian kemarin namun nggak aktif."
"Ya, mungkin dia sedang istirahat. Lagi pula di sana ada dokter Elif." Kata Yasmin. Ada nada tak suka di suaranya. Erdana yang sedang fokus dengan ponselnya tak terlalu memperhatikan namun Mentari yang duduk di samping Yasmin, sangat memperhatikan perubahan wajah Yasmin saat menyebut nama dokter Elif.
"Dokter Elif? Siapa dia?"
"Dokter yang bekerja di rumah sakit tempat aku koas pertama. Sepertinya dokter Elif menyukai kak Pra."
"Oh, gitu ya? Semoga saja Prayuda membuka hati untuknya ya?" Kata Mentari sambil melihat wajah Yasmin yang walaupun ia tersenyum sambil mengangguk, namun pancaran matanya nampak redup.
Setelah itu, mereka pun makan siang bersama. Mentari memang sangat pintar menciptakan suasana percakapan yang baik. Erdana juga yang terlihat sering menatap Yasmin dengan tatapan penuh tanya, akhirnya bisa larut dalam percakapan itu. Dan Yasmin merasa senang menikmati makan siang mereka kali ini. Begitu selesai, Yasmin langsung pergi ke rumah sakit, dan Erdana bersama Mentari kembali ke kantor.
***********
Mentari baru selesai Videocall dengan As yang kini ada bersama dengan nenek Naura. Sore ini, kalau pekerjaan Erdana sudah selesai, mereka akan sama-sama menjemputnya.
Hari ini Erdana memang menelponnya untuk makan siang bersama. Setelah makan siang, Erdana meminta Mentari untuk menunggunya, ia ada rapat selama 1 jam dan setelah itu mereka akan ke rumah orang tua Erdana.
Sambil menunggu Erdana, Mentari mencoba mengartikan raut wajah tak suka dari Yasmin saat menyebut dokter Elif.
Di rumah sakit yang dulu, Yasmin katanya tak dekat dengan cowok lain karena temannya kebanyakan perempuan. Yasmin hanya dekat dengan Prayuda karena memang mereka sudah kenal semenjak kecil. Prayuda adalah dokter pembimbingnya. Prayuda juga yang menjadi dosennya. Ya Allah, apakah laki-laki itu adalah Prayuda?
Mentari menggelengkan kepalanya. Namun ada sesuatu yang mengusik hatinya. Mentari sangat mengenal sikap Prayuda. Prayuda orangnya sangat baik. Penuh perhatian dan wajah Prayuda juga sangat tampan. Banyak gadis yang sejak dulu selalu terpesona pada wajah tampan dan kepribadian Prayuda yang baik. Mungkinkah sikap Prayuda yang penuh perhatian itu telah membuat Yasmin terpesona? Seperti Mentari yang dulu sangat nyaman saat bersama Prayuda sampai tak menyadari bahwa itu membuat Erdana cemburu?
Mentari mencoba mengingat apa yang terjadi di pesta pernikahan orang tuanya. Sikap Yasmin yang memang tak biasanya dan bibi Jeslin yang memarahinya di sana. Tak ada tamu cowok lain yang datang. Hanya Nick, Prayuda dan Erdana yang masih muda. Selebihnya adalah para dokter yang isinya sudah seperti ibunya dan dokter Yuda. Ada juga beberapa saudara dekat Mentari namun tak ada pria lain yang Yasmin kenal.
Ya Allah, apakah mungkin pria yang Yasmin Sukai adalah Prayuda? Itukah sebabnya sampai ayah Satria memindahkan Yasmin ke rumah sakit yang lain? Kalau memang benar itu adalah Prayuda, apakah dia juga menaruh hati pada Yasmin? Tidak! Prayuda bukan tipe pria seperti itu. Bahkan dengan ku dulu, ia sangat menjaga jarak dan sama sekali tak menunjukan rasa sukanya padaku semenjak aku jadian dengan Erdana.
"Ada apa, sayang?"
__ADS_1
Mentari menoleh dekat kaget. Ia terlalu lama melamun sampai tak menyadari kalau Erdana sudah kembali ke ruangannya.
'Sudah selesai?" tanya Mentari sambil mendekat. Ia berdiri di hadapan Erdana sambil menyentuh kancing jas kerja suaminya.
"Mhm..." Angguk Erdana lalu menyentuh wajah Mentari. "Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak!" Mentari menggelengkan kepalanya.
"Aku masuk tadi dan kamu begitu sibuk dengan lamunanmu. Sebenarnya ada apa? Kamu tak bisa bohong, aku akan tahu jika kamu bohong!"
Mentari tersenyum. "Aku tadi hanya memikirkan tentang pekerjaanku. Semoga desain baju yang aku kirim tak terlambat."
Erdana membelai pipi Mentari dengan punggung tangannya. "Sekalipun terlambat, mereka tak akan marah karena rancangan mu sangat luar biasa."
Mentari langsung memeluk Erdana. Ia tak mau Erdana melihat ada kebohongan di matanya. Mentari akan mencari tahu sendiri dulu sebelum akhirnya memutuskan apa yang harus dikerjakannya.
**************
Satu Minggu kemudian.......
Erdana yang baru kembali dari luar kota langsung memeluk Yasmin yang membukakan pintu untuknya.
"Apa kabar, sayang?" tanya Erdana.
"Baik, kak."
Erdana mengecup dahi Yasmin lalu langsung masuk ke dalam rumah.
Hati Erdana diliputi kebahagiaan saat melihat senyum ceria putranya itu.
"Apa kabar jagoan Daddy?" tanya Erdana setelah memeluk dan mencium putranya itu.
"Baik, daddy. Tapi As sedih ditinggal mommy."
"Mommy meninggalkan As?"
"Kata nenek mommy sakit dan harus dirawat di rumah sakit."
Erdana terkejut. Ia mencium putranya sekali lagi dan menurunkan As dari gendongannya. "Mana mommy?"
"Di dapur."
Erdana segera menuju ke dapur. Hari ini memang Mentari ulang tahun dan mereka akan merasakan bersama di rumah Mentari. Makanya Yasmin juga datang.
"Mas!" Mentari tersenyum melihat Erdana. Namun tidak dengan Erdana. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Mata Erdana yang awas segera melihat tanda merah sedikit kebiruan di tangan Mentari. Ia langsung memegang tangan itu dan mengangkatnya sedikit.
"Ini apa?"
Mentari langsung menjadi pucat. "Aku....!"
"Kenapa tak ada satu pun yang memberi tahu aku kalau kamu masuk rumah sakit saat aku pergi?"' tanya Erdana dengan suara yang sedikit tinggi.
"Mas, aku nggak apa-apa, kok. Hanya sedikit kelelahan saja. Lagi pula Yasmin menjaga ku dengan baik. Semua keluarga kita memberikan perhatian padaku. Mas nggak perlu khawatir. Aku tahu kalau pekerjaan mas sangat banyak di sana."
__ADS_1
"Tak ada yang lebih penting bagiku selain kesehatanmu. Aku kan bisa menyerahkan tugasku pada Bojes. Aku ini adalah suamimu. Seharusnya aku yang berada di sampingmu. Jangan lakukan ini lagi ya? Bilang padaku kalau sesuatu terjadi padamu. Sekalipun aku ada di ujung dunia, aku akan datang segera." Erdana memeluk Mentari dengan rasa khawatir yang sangat dalam. Ia sungguh takut kalau sakit Mentari akan kembali.
"Selamat ulang tahun, sayang." kata Erdana lalu menunduk dan mencium bibir Mentari dengan sangat lembut.
Yasmin yang mendengar percakapan dan melihat interaksi suami istri itu memilih untuk meninggalkan dapur. Sebenarnya ia ingin membantu Mentari namun ia tak ingin menganggu kemesraan mereka. Yasmin tahu bahwa Mentari sangat berarti dalam hidup Erdana. Hati Yasmin bertanya. Bukankah indah menjadi satu-satunya? Namun perempuan itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Tidak! Aku tak boleh memiliki perasaan seperti itu.
***********
Makanan sudah di atur di atas meja. Malam ini, Mentari memang mengundang beberapa orang untuk datang ke rumahnya. Ada ayah Wisnu dan ibu Naura, Daffa dan pacar barunya Minola, yang adalah seorang model asal Kanada. Naura sedikit melotot ke arah Daffa karena ia sama sekali tak melepaskan tangannya dari tangan kekasihnya itu.
Jeslin dan Yuda tak bisa hadir karena mereka masih berbulan madu keliling Eropa.
"Kak, semua sudah berkumpul di ruang makan. Masih ada yang akan ditunggu?" tanya Yasmin.
"Sebentar lagi. Ah, itu kayaknya." Kata Mentari saat mendengar bunyi bel pintu. "Yas, tolong bukakan ya?" Ujar Mentari lalu segera ke dapur.
Yasmin mengangguk. Dengan Senyum manisnya ia membuka pintu. Namun senyumnya langsung hilang melihat siapa yang datang.
"Hallo Yasmin!" Sapa Elif yang sedang menggandeng tangan Prayuda.
"Ha...hai, mari silahkan masuk!" Yasmin melebarkan daun pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. Namun dengan cepat Yasmin tersenyum dan mengajak mereka ke meja makan. Seminggu tak melihat
Mentari memang mengenal Elif karena saat ia masuk rumah sakit, dokter itu yang menanganinya.
"Hallo!" Mentari langsung menyambut Prayuda dan Elif dengan ramah.
Prayuda memberikan ucapan selamat sambil menyerahkan sebuah kotak yang berisi kue kesayangan Mentari.
"Kau masih mengingat kue kesukaan ku." Mentari menjadi senang. Ia melirik ke arah Yasmin yang walaupun wajahnya tersenyum namun terlihat menyimpan kekecewaan.
Prayuda tahu Yasmin terluka. Ia pun sebenarnya tak ingin datang berdua dengan Elif namun ia terkejut saat Elif sudah menjemputnya di apartemennya.
Maafkan aku, Yas. Aku tak bermaksud ingin menyakitimu. Namun aku ingin membuktikan apakah benar Prayuda adalah lelaki yang berhasil membuatmu berpaling dari mas Er sekaligus juga aku ingin menyadarkan mu bahwa Prayuda lebih cocok dengan Elif. Batin Mentari dengan rasa bersalah di hatinya.
Acara makan malam untuk merayakan hari ulang tahun Mentari pun penuh dengan suasana kekeluargaan. Ada tawa bahagia saat melihat bagaimana tingkah lucunya As yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun bagi mamanya.
Prayuda berusaha bersikap biasa walaupun hatinya gelisah. Ia dapat melihat dibalik senyum yang Yasmin perlihatkan, ada sesuatu yang berusaha ditekan oleh perempuan itu. Sebuah emosi yang berusaha ditahan agar tak meledak.
Sementara Yasmin, dapat melihat dengan sudut matanya, kalau Prayuda juga seperti ingin mengatakan "maaf" karena datang bersama Elif.
Semua yang ada di meja makan itu terus menikmati hangatnya suasana makan malam di ulang tahun Mentari tanpa tahu ada dua hati yang benar-benar terluka, yang saling merindukan dan tertekan karena tak bisa menyampaikan isi hati masing-masing.
Yasmin dan Prayuda pun tak tahu, kalau sikap mereka berdua ada dalam pantauan Mentari. Karena Mentari sangat mengenal Prayuda, hatinya pun tahu kalau cinta Yasmin ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
Apa yang harus ku lakukan untuk mengembalikan hati Yasmin kembali kepada Erdana?
**********
Terima kasih telah membaca part ini
semoga tetap terhibur, jangan lupa jaga kesehatan. I love you all....
***********
__ADS_1