
Malam pergantian tahun yang diawali dengan acara peresmian hotel bintang 7 milik Erdana dan dua orang investor dari Amerika dan Thailand sukses dan sangat meriah. Acara kembang api pun berlangsung dengan sangat meriah.
Yasmin yang kembali mengenakan gaun rancangan Mentari pun tampil cantik malam ini. Kali ini ia menggunakan gaun berwarna merah, serasi dengan Erdana yang menggunakan jas dengan kemeja merah si dalamnya.
"Er, ayo ajak Yasmin berdansa!" ujar Elmira saat melihat banyak pasangan yang telah turun ke lantai dansa, usai acara kembang api selesai.
"Aku nggak bisa dansa, kak El." tolak Yasmin sambil menggeleng.
"Tenang saja. Erdana sangat mahir berdansa. Tunjukan bakat mu, Er."
Erdana sebenarnya tak mau berdansa karena hal itu justru akan mengingatkannya pada Mentari.
Sebenarnya, Mentari yang mengajari Erdana berdansa. Keduanya kadang suka memutar lagu baik di apartemen Mentari atau di apartemen Erdana untuk berdansa dengan mesra. Mereka bahkan kerap kali berdansa tanpa busana.
"Ayo pak Erdana. Ajak istrimu berdansa!" Ujar salah satu pemegang saham yang memang sedang berdansa dengan istrinya.
Agak berat rasanya, namun Erdana pun meraih tangan Yasmin dan segera menuju ke lantai dansa. Pertama Erdana melingkarkan tangan kirinya di pinggang Yasmin, lalu tangan kanannya meraih tangan Yasmin yang satu.
"Ikuti gerakanku." ujar Erdana.
Yasmin awalnya sangat kaku. Ia bahkan beberapa kali menginjak kaki, Erdana. Namun lama-kelamaan ia lahirnya bisa. Mereka bahkan sudah melanjutkan dansa untuk lagu yang kedua.
Lampu di sekitar taman di buat agak remang. DJ kemudian memutar lagi Ten thousand year yang merupakan lagu kesayangan Mentari. Hati Erdana bergetar. Ia mencoba membayangkan saat ia dan Mentari sedang berdansa bersama diiringi lagu ini.
Yasmin sebenarnya juga sangat menyukai lagu ini. Keduanya pun terbawa suasana karena lagu ini, ditambah dengan pencahayaan yang agak temaram, Erdana akhirnya sedikit menunduk tepat disaat yang sama, Yasmin justru mendongak. Tatapan mata mereka bertemu. Bibir Yasmin yang merah menggoda dan sedikit terbuka membuat Erdana merasakan jantungnya berdetak cepat. Ia tak kuasa dan akhirnya menunduk untuk mencium Yasmin dengan sangat lembut.
Yasmin terkejut namun entah mengapa ia tak menolak walaupun ia tak membalas ciuman Erdana. Ia merasakan ciuman ini sama rasanya dengan ciuman saat ia bermimpi.
Elmira yang melihat pasangan itu berciuman langsung tersenyum manis. Ia mundur beberapa langkah untuk menjauh namun tubuhnya justru menabrak tubuh Nick yang memang selalu berjaga tak jauh darinya. Sejak peristiwa semalam, Nick memang kelihatan agak menjauh dan tak banyak bicara.
"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya Nick sambil menahan tubuh Elmira agar tak jatuh.
Elmira tersenyum. "Makasih, Nick. Aku mau kembali ke kamarku saja." pamit Elmira.
"Baik." Nick mempersilahkan Elmira untuk melangkah lebih dulu. Setelah itu ia mengikuti Elmira dari belakang.
Nick tak berani memandang tubuh Elmira. Artis cantik itu mengenakan gaun yang agak ketat di tubuhnya sehingga lekuk tubuhnya yang memiliki body bak gitar Spanyol nampak tercetak sempurna setiap kali gadis itu melangkah. Nick tak mau sampai kesalahan semalam terulang kembali.
Sesampai di depan kamar Elmira, Nick membukakan pintu untuknya.
"Silahkan nona!"
Elmira melangkah masuk.
"Nick, jangan dulu pergi. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu!"
Nick ikut melangkah masuk walaupun sebenarnya jantung cowok itu sudah berdetak sangat cepat.
Elmira mengambil sesuatu dari laci nakas lalu memberikannya pada Nick.
"Selamat ulang tahun!"
Nick terkejut. "Nona, terima kasih! Tapi dari mana nona tahu kalau aku ulang tahun?"
"Aku kan membaca data mu saat pertama kali Jenika memperkenalkan mu padaku. Kamu berulang tahun tanggal 1 Januari."
Nick nampak sumringah. "Boleh aku buka?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Nick membuka kotak kecil itu dan langsung terkejut melihat isinya. Sebuah jam tangan berwarna hitam dengan tali hitam yang nampaknya kulit asli.
"Sekali lagi terima kasih, nona. Ini pasti harganya sangat mahal."
Elmira mengulurkan tangannya. "Selamat ulang tahun, Nick."
Nick menerima ukuran tangan itu. Tatapan mereka kembali bertemu dan Elmira mendekat. Memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Nick.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Terima kasih karena selalu menolong aku pada saat yang tepat." bisik Elmira.
Nick menatap Elmira dengan hati yang bergetar. Tangan kanannya masih digenggam oleh Elmira sedangkan tangan kirinya kini menyentuh pipi Elmira.
"Nona..., kita nggak boleh sedekat ini lagi."
"Kenapa? Aku suka dengan kedekatan kita." ujar Elmira dengan pandangan mata yang bersinar menatap Nick.
Tangan Nick kini ada di tengkuk Elmira. Ia mendekat, dan akhirnya mencium bibir artis terkenal itu dengan sangat lembut.
Elmira tersenyum bahagia. Ia melingkarkan tangannya di leher Nick dan membalas ciuman itu.
***********
Kembali ke ruang dansa......
Erdana melepaskan pagutan bibir mereka dengan perasaan bersalah. Ia tak menyangka mengapa bisa mencium bibir Yasmin saat mendengarkan lagu Ten thousand year.
Yasmin pun tersadar. Ia mundur beberapa langkah. "Aku mau ke kamar!"
Erdana memejamkan matanya, menyadari kebodohannya. Ia mengejar langkah Yasmin namun gadis itu bak hilang di antara banyak orang yang ada di sana.
Saat Erdana sampai di kamar, Yasmin tak ada. Erdana menjadi heran. Kemana Yasmin? Apakah dia marah padaku? Ya ampun, kenapa aku harus menciumnya sih? Apakah aku terlalu kesepian karena ditinggalkan Mentari?
Awalnya Yasmin ingin menolak. Namun saat memikirkan ciuman Erdana itu, ia pun langsung mengikuti Vita. Untung saja gaun yang Yasmin kenakan hanyalah sebuah mini dress dengan tangan Sabrina dan sepatunya tak terlalu tinggi.
Andre yang sebenarnya malam ini agak sedikit frustasi karena memikirkan Yasmin yang masih mendampingi Erdana di acara peresmian hotel, langsung tersenyum saat melihat Yasmin yang datang bersama Vita.
"Aku senang kau ada di sini." Ujar Andre dan langsung menggenggam tangan Yasmin.
"Andre, jangan! Nanti di lihat orang." Entah mengapa Yasmin merasa tak enak. Bagaimana pun ia adalah wanita yang sudah menikah.
Selama hampir satu jam Yasmin menghabiskan waktunya bersama mereka.
"Aku kembali ke kamar ya? Ini sudah hampir jam setengah tiga." Pamit Yasmin.
"Yas, ini kan malam pergantian tahun." protes Vita.
"Kalian kan tahu, semua staf hotel mengenal aku sebagai istrinya Erdana. Aku nggak mau nanti ada gosip tak sedap."
Andre mengejar langkah Yasmin. "Yas....!"
Yasmin menoleh. "Ada apa?"
"Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan perasaan cinta yang ada diantara kita?"
Yasmin menarik napas panjang. "Aku takut memberikan harapan padamu kalau nantinya kita akan sama-sama terluka."
"Bercerai lah dari Erdana, Yas. Aku justru merasa takut kebersamaan kalian akan membuat kau mencintainya."
"Mana mungkin aku akan jatuh cinta dengan lelaki yang sudah menghancurkan masa depanku?"
__ADS_1
"Lalu apa yang membuatmu tak ingin pisah darinya?"
"Aku harus memikirkan keluargaku, Ndre."
"Dan membuat cinta kita menjadi hilang?"
Yasmin melepaskan tangan Andre yang memegang lengannya. "Jangan dulu mendesak aku. Biarkan aku memikirkannya."
"Baiklah. Aku akan menunggu!"
Yasmin segera melangkah meninggalkan Andre. Dia sekarang menjadi bingung. Hatinya selalu mengatakan bahwa ia mencintai Andre. Namun tubuhnya seolah berkata lain. Entah dimana seluruh kebencian yang pernah Yasmin miliki untuk Erdana. Tadi saat Erdana menciumnya, sekalipun Yasmin tak membalasnya, namun ciuman itu membuat tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik yang tinggi.
Apakah aku bergairah pada Erdana? Mengapa tubuhku selalu bergetar setiap kali kami bersentuhan? Aku bahkan terus membayangkan Erdana yang dalam keadaan polos di kamar mandi.
Yasmin menepuk kepalanya sendiri. Ia tak bisa membayangkan dirinya yang tiba-tiba saja memikirkan tubuh Erdana.
Langkah Yasmin terhenti di depan pintu masuk. Ia agak sedikit ragu untuk masuk apalagi saat ini ia tak memegang kartu.
Perlahan ia menekan bel pintu. Dan tak lama kemudian, Erdana datang membukanya.
"Dari mana saja kamu? Tak lihat kalau ini jam berapa? Apa pantas seorang istri pergi tanpa pamit pada suaminya?" tanya Erdana dengan suara yang penuh dengan penekanan.
Yasmin tak menanggapi. Ia melangkah masuk tanpa suara. Kemudian duduk di depan meja rias sambil membuka sepatunya.
Erdana menutup pintu kamar dengan sedikit membantingnya. Ia kemudian mendekati Yasmin. Memperhatikan kaki Yasmin dan terlihat sedikit berpasir.
"Kau dari pantai rupanya. Pasti bersama dengan teman-teman mu kan?"
"Memangnya kenapa kalau aku bersama mereka? Tugasku untuk menemani kakak kan sudah selesai?" Yasmin berhasil membuka kedua sepatunya. Ia kemudian berdiri hendak ke kamar mandi namun Erdana menahan lengannya. Ia menarik Yasmin sehingga perempuan itu hanya berjarak beberapa centimeter saja darinya. Napas Erdana terasa hangat di wajah Yasmin dan membuat Yasmin kembali merasakan desiran aneh itu.
"Selama kita ada di sini, kau harus taat pada perintahku! Kalau kita kembali ke Jakarta, maka kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk berdua dengan kekasihmu itu!"
Yasmin menatap Erdana dengan tajam. Ia tak terima karena Erdana menuduhnya menghabiskan waktu dengan Andre. "Aku memang pergi bersama dengan teman-teman ku namun bukan berarti aku berdua dengan Andre. Aku cukup tahu diri untuk menyadari bahwa aku adalah istri dari Erdana Furkan yang sangat terkenal itu." Ujar Yasmin dengan nada sedikit sinis.
Erdana merasa justru kalau sikap Yasmin seperti itu membuat wajahnya menjadi lucu. Ia menahan tawanya.
"Apanya yang lucu?" tanya Yasmin sambil menatap Erdana dengan tajam.
"Nggak."
"Lepaskan tangan ku!" Yasmin berusaha melepaskan tangannya.
Namun Erdana masih menahannya.
"Lepaskan !" Yasmin menarik tangannya dengan kuat dan pada saat yang sama Erdana pun melepaskan tangan Yasmin yang dipegangnya. Akibatnya adalah Yasmin hampir saja terjatuh namun untung Erdana kembali menarik tangannya dan keduanya justru jatuh ke lantai dengan posisi Yasmin berada di atas tubuh Erdana.
Keduanya saling bertatapan. Jantung keduanya berdetak cepat. Tatapan Yasmin kini beralih ke bibir Erdana. Terbayang kembali mimpinya saat berciuman dengan Erdana. Dan pada saat yang sama, Erdana sudah menarik tengkuknya dan mencium.bibir Yasmin.
Ciuman itu membuat tubuh Yasmin melayang
Dan entah karena apa, Yasmin membalas ciuman Erdana.
Di atas lantai karpet itu, keduanya pun saling membalas ciuman itu. Kadang posisi Yasmin di atas, kadang juga posisi Erdana yang di atas. Yasmin bahkan tak menyadari kalau gaunnya kini sudah tersingkap ke atas saat tangan Erdana sudah masuk dan mengusap sesuatu yang sudah basah di sana.
*************
Di kamar Elmira pun, ada sesuatu yang sudah terjadi. Elmira kini tidur di atas dada bidang Nick dengan wajah yang terlihat bahagia sedangkan Nick masih membuka matanya sambil membelai rambut panjang Elmira dan sesekali mencium puncak kepala Elmira. Nick bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
************
__ADS_1
Dua saudara kembar sedang panas di kamarnya masing-masing. Apa kah yang akan terjadi?