
Di kamar Yasmin, pergumulan panas itu akhirnya terjadi. Erdana sangat hati-hati menyentuh Yasmin, memberikan pemanasan yang agak lama sampai akhirnya Yasmin mendapatkan pelepasannya yang pertama melalui sentuhan tangan Erdana.
Saat itulah secara perlahan, Erdana menyatukan miliknya dengan milik Yasmin. Gadis itu awalnya sedikit meringis, namun Erdana kembali bisa menenangkan nya sampai akhirnya Yasmin bisa menikmati penyatuan itu. Erdana membimbingnya dengan sabar tanpa terburu-buru karena ia ingin Yasmin mendapatkan pelepasannya dalam penyatuan ini.
"Kak.....!" Yasmin memeluk punggung Erdana dengan erat, memanggil nama Erdana berulang kali saat keduanya tiba pada puncak kenikmatan bersama. Erdana mencium dahi Yasmin dengan sangat lembut sebelum akhirnya ia berguling dari atas tubuh Yasmin dengan napas yang masih belum stabil.
"Sakit?" tanya Erdana setelah keduanya saling diam. Erdana tidur menyamping sambil menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan kepalanya. Tangannya yang lain membelai wajah Yasmin sambil sesekali menyeka keringat di wajah istrinya.
"Sakit apanya?" tanya Yasmin sambil ikut berbaring miring menatap suaminya.
"Ini." ujar Erdana sambil tangannya menyentuh inti tubuh Yasmin membuat istrinya itu sedikit terkejut dan spontan memukul tangan suaminya.
"Ih...kakak....!"
Erdana terkekeh melihat wajah Yasmin menjadi merah.
"Aku takut menyakiti kamu, Yas." ujar Erdana sambil menatap wajah Yasmin kemudian mengecup pipi istrinya.
"Awalnya agak perih sedikit. Namun lama-kelamaan hilang."
Erdana tersenyum. Ia kembali membelai wajah Yasmin. "Terima kasih karena gak mengingat peristiwa itu lagi."
"Aku sudah lama memaafkan kakak. Mungkin itulah sebabnya aku juga sudah melupakan peristiwa itu."
Erdana menarik tubuh Yasmin agar istrinya itu semakin dekat padanya. Yasmin menikmati aroma tubuh Erdana sambil memejamkan matanya. Sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia raih tadi kembali membayangi otaknya membuat Yasmin heran dengan reaksi tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Erdana saat merasakan reaksi tubuh Yasmin ketika mereka saling menempel seperti ini.
"Nggak."
Erdana membelai punggung polos istrinya. "Dingin?" tanyanya lembut.
"Sedikit."
"Aku ambil selimut?"
"Nggak. Aku hangat saat berdekatan dengan kakak."
Erdana mencium pundak Yasmin dengan lembut sementara jarinya masih sibuk membuat gerakan-gerakan abstrak di punggung Yasmin.
"Yas, kamu ingin tidur?" tanya Erdana. "Kamu nyaman dengan posisi ini atau ingin ku lepaskan saja tanganku?"
Yasmin tak menjawab pertanyaan Erdana. Ia merasakan kalau kulitnya kembali terasa panas dan ada sesuatu yang mulai berkedut di bawa sana. Sial! Ada apa dengan tubuhku? Apakah aku menginginkan kak Erdana menyentuhku lagi? Ini sungguh memalukan!
"Ada apa?" Erdana dapat merasakan kalau tubuh Yasmin bergerak tak nyaman dalam pelukannya.
Yasmin mendongak. Menatap suaminya yang juga sedang menunduk menatap dirinya. Yasmin menggigit bibirnya saat menatap wajah tampan suaminya dengan bibir seksi nya yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Erdana dapat melihat kabut gairah di mata Yasmin. Sebenarnya Erdana juga menginginkan Yasmin lagi. Ia adalah tipe lelaki yang tak pernah puas hanya satu ronde saja (juragan banget ðŸ¤ðŸ¤). Namun ia tak ingin Yasmin merasa sakit karena ini penyatuan pertama mereka semenjak dia menyentuh Yasmin secara paksa waktu itu.
"Kau ingin kita bercinta lagi?" tanya Erdana pelan dengan suara yang serak karena ia tak mau salah mengartikan bahasa tubuh istrinya.
Wajah Yasmin menjadi panas mendengar pertanyaan suaminya.
"Kak....!" Yasmin membuang pandangannya ke tempat lain namun Erdana menahan dagunya dan memaksa istrinya itu agar kembali menatapnya.
"Aku juga menginginkanmu, Yas." ujar Erdana lalu kembali menyatukan bibir mereka. Yasmin merasakan jantungnya berdetak dengan cepat namun ia bahagia. Ia pun membalas ciuman Erdana dengan gairah yang semakin membara.
**********
Susana hati Yasmin di pagi ini lain dari biasanya. Tangannya dengan lincah mengaduk nasi goreng yang dibuatnya sambil mengingat kembali kejadian panas yang mereka alami kemarin.
Sesudah ronde kedua, Erdana memesan makan malam melalui layanan online dan mereka pun makan bersama di ruang makan dengan baju yang seadanya.
Yasmin menggunakan kemeja bekas Erdana sedangkan Erdana hanya menggunakan boxer nya. Dan setelah makan malam itu, saat Yasmin sementara mencuci piring, Erdana memeluknya dari belakang dan terjadilah percintaan di ruang makan. Erdana mempraktekan gaya yang lain dan Yasmin sangat suka saat Erdana memasukinya dari belakang dalam keadaan berdiri.
Setelah itu mereka pun mandi bersama dan terjadilah penyatuan sekali lagi di dalam kamar mandi. Selesai mandi, Yasmin sungguh lelah dan ia langsung tertidur saat Erdana masih ada di kamar atas untuk mengambil pakaiannya.
Sementara itu di kamar Yasmin, Erdana sebenarnya sudah bangun namun ia masih membaringkan tubuhnya sambil melipat tangannya dan dijadikan bantal bagi kepalanya.
Ingatannya kembali di saat ia masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaiannya semalam. Ketika ia membuka pintu, dan matanya langsung tertuju pada foto dirinya dan Mentari yang memang di pajang menghadap pintu masuk, jantung Erdana seakan berhenti berdetak. Ia tak tahu rasa apa yang saat itu ia rasakan. Dulu, Erdana selalu yakin kalau Mentari akan menjadi wanita satu-satunya yang akan ia cintai dan juga akan disentuhnya. Namun kini, Yasmin telah menjadi wanita kedua yang ia sentuh. Erdana merasakan perasaan puas dan bahagia ketika tadi selesai bercinta dengan Yasmin. Sama juga yang ia rasakan saat bersama Mentari.
Erdana bangun dan duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Semalam ia memang agak lama di kamar atas. Ia sudah menurunkan fotonya bersama Mentari namun entah mengapa ia tak bisa menyimpannya di gudang. Foto itu ia biarkan tetap ada di lantai. Dan saat Erdana datang kembali ke kamar Yasmin, istrinya itu sudah tertidur. Erdana tahu kalau Yasmin pasti sangat lelah setelah apa yang mereka lalui bersama. Apakah aku sudah berpoligami? Bagaimana jika aku bertemu Mentari? Aku tahu kalau perasaanku untuk Mentari masih sangat kuat. Namun aku juga tak bisa mengabaikan kehadiran Yasmin yang memberi warna lain dalam hidupku.
"Selamat pagi, kak." Sapa Yasmin sambil tersenyum. Erdana mendekat dan langsung memeluk Yasmin dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Membuat nasi goreng. Makan yuk!"
Satu ciuman lembut mendarat di pipi Yasmin membuat gadis itu tersipu. Erdana pun duduk di depan meja makan, berhadapan dengan Yasmin.
"Cobalah kak. Aku nggak tahu apakah rasanya enak atau nggak."
Erdana memasukan satu suapan ke mulutnya.
"Bagaimana kak?" tanya Yasmin tak sabar.
"Sudah enak walaupun agak asin sedikit."
Wajah Yasmin terlihat sedih. sebenarnya ia sendiri juga tahu kalau nasi goreng itu agak asin.
"Jangan sedih. Aku akan tetap memakannya." ujar Erdana dan segera memasukan suapan yang kedua ke mulutnya. Yasmin jadi tersenyum senang.
Selesai sarapan, Yasmin segera membereskan meja makan sedangkan Erdana pamit ke kamar atas untuk segera bersiap ke kantor.
__ADS_1
Ketika ia masuk ke kamarnya, Ia melihat fotonya bersama Mentari yang berukuran jumbo itu yang ada di lantai. Ia mendekati foto itu dan membalikan ke arah dinding. Ia kemudian mengambil foto Mentari yang ada di atas nakas dan memasukannya ke dalam laci nakas. Mungkin dengan menyingkirkan foto Mentari, aku akan belajar menerima pernikahanku dengan Yasmin. Bagaimana pun, Yasmin sudah menyerahkan dirinya dengan pasrah kepadaku. Aku nggak boleh menyakitinya.
Selesai mandi dan menggunakan pakaian kantornya, Erdana turun ke bawa. Ia melihat Yasmin yang baru saja menutup pintu masuk.
"Siapa?" tanya Erdana.
"Pelayan dari tempat laundry. Mengantarkan baju." kata Yasmin sambil mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya.
"Kamu nggak kuliah?" tanya Erdana melihat Yasmin yang masih menggunakan baju rumahnya.
"Kuliahnya nanti jam 1 siang. Rencananya aku mau mandi dan ke perpustakaan. Tapi masih capek. Jadi kalau kakak sudah ke kantor, aku mau bobo lagi."
Erdana tertawa kecil mendengar keluhan istrinya itu. Ia memeluk Yasmin dan mengecup puncak kepalanya. "Maafkan aku yang membuatmu menjadi lelah ya?"
"Nggak masalah, kak. Aku saja yang belum terbiasa."
"Makanya harus dibuat terbiasa."
"Ih....kakak....!" Yasmin kembali menjadi salah tingkah.
Erdana mengecup dahi Yasmin lalu turun ke hidungnya dan berkahir dibibir. Agak lama ia menyesap bibir istrinya itu.
"Kak, nanti terlambat. Aku juga belum mandi."
Erdana melepaskan ciumannya. Ia menatap Yasmin sekali lagi lalu segera melangkah akan pergi.
"Kak....!" Panggil Yasmin.
"Ada apa?"
Yasmin mendekat dan mencium tangan Erdana. "Semangat bekerja ya?"
Erdana tersenyum sambil mengangguk ia pun segera membuka pintu dan menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.
Yasmin segera membawa baju Erdana ke atas. Saat ia membuka pintu kamar Erdana, ia tak menemukan lagi foto Erdana dan Mentari di dinding. Foto itu sudah di lantai. Yasmin mengambil foto itu dan menggantungnya kembali. Ia juga mencari foto yang ada di nakas dan menemukannya di dalam laci. Ia.mengatur kembali foto itu sambil tersenyum.
"Kak, pulang ya. Aku nggak pernah marah jika kakak ada di kamar ini lagi." ujar Yasmin lalu segera ke walk in closet untuk mengatur pakaian Erdana.
*************
Bisakah Erdana berpoligami ?
Sekuat apa Yasmin mampu menjaga keyakinannya untuk menerima Mentari sebagai madunya?
Maaf jika kisah ini berbeda dari yang kalian pikirkan. Mungkin juga ada yang nggak suka.
Happy reading aja bagi yang suka
__ADS_1