
"Mas, kita mau kemana sih? Ini baru setengah tujuh, lho. Kita belum juga sarapan." Jeslin sedikit tergesa mengikuti langkah suaminya.
"Prayuda meminta kita ke rumah Satria sekarang. Aku juga bingung kenapa harus ke rumah Satria. Dia sudah on the way."
Jeslin masuk ke dalam mobil. Ia bahkan belum mengenakan jilbabnya karena sang suami sudah menariknya keluar kamar. Untungnya di jam seperti ini para asisten rumah tangga belum datang. Di dalam mobil, Jeslin memakai jilbabnya, mengoleskan sedikit bedak dan lipstick.
"Tak perlu berdandan sayang. Kamu tetap cantik di mataku." ujar Yuda sambil menyentuh tangan istrinya.
"Gombal."
Yuda tertawa. Ia suka melihat wajah cemberut istrinya.
Saat mereka tiba di depan rumah Satria, Prayuda sudah ada di sana.
"Ada apa, Pra?" tanya Yuda sambil turun dari mobilnya.
"Aku mau papa melamar Yasmin untukku."
"Apa? Kenapa harus sepagi ini? Lagi pula Yasmin kan ada di Amerika?"
"Papa kan tahu 2 bulan yang lalu aku ke Amerika. Aku menemui Yasmin di sana." ujar Prayuda. Ia mendekati Jeslin dan mencium punggung tangan ibu sambungnya itu.
"Tapi kenapa terburu-buru?" Yuda menatap putranya. "Pra, apakah kamu sudah menghamili Yasmin saat kamu ke Amerika? Satria akan membunuhmu."
"Papa, aku tak seburuk itu walaupun sebenarnya aku ingin segera memiliki anak dari Yasmin. Pokoknya papa melamar Yasmin untukku."
Ketiga orang itu pun mengetuk pintu rumah dokter Satria. Gayatri sendiri yang membukakan pintu. Ia terkejut melihat siapa yang datang.
"Dokter Yuda? Eh, ada juga Pra dan ibu Jeslin? Ada apa ini?"
"Boleh kami masuk?" tanya Yuda.
"Tentu saja. Kami sedang sarapan. Sebaiknya langsung saja ke ruang makan." kata Gayatri.
"Wah, kebetulan. Kami memang belum sarapan." kata Yuda sambil mengusap perutnya.
Satria pun terkejut melihat sahabatnya itu.
"Ayo sarapan dulu." Gayatri melayani tamunya dengan cepat. Yuda yang memang sudah bersahabat lama dengan Satria, tak sungkan untuk menikmati sarapan di rumah sahabatnya itu.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Satria.
"Anakku sudah tak sabar untuk menikahi putrimu. Sepertinya ia tak tidur karena ingin segera ke sini." jawab Yuda.
"Melamar Yasmin? Tapi Yasmin kan masih sekolah." Satria mengerutkan dahinya.
"Tuh kan Pra, kamu harus bersabar. Yasmin masih sekolah." kata Yuda pada anaknya.
"Tapi Yasmin yang...." Kalimat Prayuda terhenti karena hp Satria berdering.
"Eh, ini anakku. Sebentar ya?" Satria menerima panggilan itu.
"Ayah, apakah Prayuda sudah ada di rumah kita?" tanya Yasmin dari seberang.
"Iya."
__ADS_1
"Dia sudah melamar aku?"
"Iya. Baru saja. Tapi kan kamu masih sekolah, nak."
"Jangan tolak lamaran nya ayah. Aku yang meminta Prayuda untuk melamar ku. Kalau ayah sampai menolaknya, maka aku tak akan pernah pulang ke Jakarta."
"Eh..., kok gitu nak? Ayah pikir kamu mau menyelesaikan sekolahmu dulu."
"Aku mau menikah dulu. Ayah kan tahu kalau aku mencintai kak Prayuda. Aku ingin dia di sini, menemani aku sampai selesai sekolah. Tapi, kalau ayah ijinkan kami tinggal bersama tanpa menikah, tolak saja lamarannya."
"Yasmin, kok gitu sih?"
"Ayah mau kan menerima lamaran kak Pra?"
"Lihat nanti apakah dia bisa menjawab pertanyaan ayah dengan baik."
Satria menatap Prayuda. "Pra, apakah benar kamu mencintai anakku?"
"Iya, paman. Aku mencintai Yasmin." Jawab Prayuda dengan penuh keyakinan.
"Di keluarga kami, Yasmin adalah pelanggar aturan. Dia bercerai. Banyak keluarga yang marah saat tahu Yasmin yang menggugat cerai Erdana. Yasmin dianggap pembawa aib. Kini, Yasmin akan menikah lagi. Apakah kamu berani menjamin tak akan ada perceraian diantara kalian? Kamu berani menjamin kalau kamu tak akan pernah menduakannya?"
"Aku tak akan pernah melepaskan Yasmin seumur hidup ku, paman. Aku bahkan tak akan pernah menduakan Yasmin."
Satria tersenyum. "Anakku juga sangat mencintaimu. Ia bahkan mengancam tak akan pulang ke Jakarta jika aku berani menolak lamaran Prayuda. Ya sudah, paman merestui kalian."
Prayuda menarik napas lega.
"Jadi pernikahannya apakah menunggu Yasmin selesai kuliah dulu atau bagaimana?" tanya Yuda.
Gayatri dan Satria saling berpandangan. Begitu juga Jeslin dan Yuda.
"Kalian saja deh yang atur. Kami tinggal menghadirinya saja." ujar Satria diikuti anggukan kepala Yuda.
"Kita memang sudah tua, ya? Bahkan anak-anak kita tak membutuhkan kita lagi untuk mengurus pernikahan mereka." kata Yuda sambil tertawa.
"Iya. Dan aku tak menyangka kalau anak-anak kita semua berjodoh. Prayuda dan Yasmin, Erdana dan Mentari. Seolah persahabatan kita telah mengikat anak-anak kita untuk ada dalam lingkaran jodoh." Sambung Jeslin.
"Lho, Prayuda kemana?" tanya Gayatri saat melihat kalau Prayuda sudah tak ada di ruangan makan.
Ternyata cowok itu sedang menelepon Yasmin di taman belakang.
"Jadi ayah aku setuju kan?" tanya Yasmin antusias.
"Iya sayang. Ayahmu setuju dengan dua persyaratan."
"Apa itu?"
"Aku nggak akan pernah menceraikan mu dan aku tak akan pernah menduakan mu."
"Memang ayah Satria the best. Jadi kakak jangan macam-macam sama aku ya?"
Prayuda tertawa. "Tanpa ada dua persyaratan itu pun aku akan tetap mencintaimu selamanya dan tak akan pernah menduakan mu. Kamu adalah wanita yang kuinginkan seumur hidupku, sayang."
"Tak sabar ingin ketemu kakak lagi."
__ADS_1
"Jangan panggil kakak lagi, ah. Kesannya aku jadi tua banget."
"Aku panggil dong?"
"Honey mungkin."
"Mas Pra. My honey forever."
"Duh, kepingin terbang ke Amerika sekarang dan meluk kamu."
"Hanya peluk?" tanya Yasmin menggoda.
"Mungkin sedikit ciuman."
Keduanya pun tertawa bersama. Hari bahagia kini sudah ada di depan mereka.
***********
"Gaun siapa ini sayang?" tanya Erdana saat masuk ke ruangan kerja istrinya.
"Bagus nggak?"
"Baguslah. Ini gaun pengantin ya?"
"Iya."
"Siapa yang menikah? Salah satu artis atau orang terkenal? Gaunnya sangat mewah dan terlihat istimewa."
"Prayuda dan Yasmin."
Erdana terkejut. "Oh ya? Kapan?"
"2 minggu lagi. Makanya aku harus kerja lembur. 2 minggu yang lalu Yasmin menelepon Ku. Ia tanya apakah aku boleh membuat gaun pengantinnya. Tentu saja aku bilang iya."
"Kok kamu nggak cerita ke aku?"
"Saat itu kan mas sedang tugas ke Batam..Baru juga pulang kemarin."
"Iya juga ya? Konsep modern? Yasmin nggak mau pakai kebaya?"
Mentari menatap suaminya. "Waktu kalian menikah dulu Yasmin kan pakai kebaya. Kata Yasmin dia ingin sesuatu yang berbeda kali ini. Dia mau tampil layaknya putri."
"Pernikahan kami itu bukanlah sebuah pernikahan baginya. Melainkan sebuah malapetaka. Yasmin berhak mendapatkan apa yang menjadi mimpinya selama ini."
Mentari memeluk suaminya. "Kita akan pergi kan?"
Erdana mengangguk. "Tentu saja. Kita wajib mendoakan kebahagiaan Yasmin dan Prayuda."
Mentari bernapas lega. Ia tahu, kini hati Erdana sudah sepenuhnya milik Mentari.
***********
Bagaimana manisnya pernikahan itu?
jangan lupa dukung emak terus ya guys???
__ADS_1