
Sambil baca episode ini, coba deh dengarkan lagunya Afgan yang berjudul "KU DENGANNYA KAU DENGAN DIA"
Pasti rasanya masuk sampai ke hati
Ini liriknya :
Awalnya ku tak bermaksud apapun
Saat ku kenal dirimu
Kita hanya saling bercerita tentang
Ku dengannya kau dengan dia
Mengapa Tuhan pertemukan
Kita yang tak mungkin menyatu
Aku yang tlah terikat janji
Engkau pun begitu
Ku coba lawan aturan yang ada
Tuk terus bersamamu
Semakin ku tenggelam dalam keadaan
Semakin ku menginginkan lebih
Mengapa Tuhan pertemukan
Kita yang tak mungkin menyatu
Aku yang tlah terikat janji
Engkau pun begitu
Kita yang tak mungkin menyatu
Aku yang tlah terikat janji
Engkau pun begitu
Ku tahu kau bukan untukku
Mustahil ku hidup denganmu
Satu hal yang harus kau tau
Ku mencintaimu
Ku mencintaimu
*************
POV Erdana
__ADS_1
Aku memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Mentari. Dia akhirnya tertidur setelah aku mengijinkan dia mengobati tanganku.
Tadi, saat makan malam, semua mata tertuju ke tanganku. Aku berusaha menjelaskan bahwa tanganku tak apa-apa. Hanya sebuah kecelakaan kecil. Namun Mentari menatapku tak percaya. Sepanjang perjalanan pulang ia terus bertanya. Aku akhirnya jujur. Walaupun tak semua yang ku ceritakan.
"Aku bertengkar dengan Yasmin, Ri." kataku saat kami sudah tiba di rumah dan Mentari mengobati tanganku.
"Bertengkar karena apa? Mas nggak menyakiti Yasmin kan? Mas nggak pukul dia, kan?" tanya Mentari dengan wajah panik.
Aku tersenyum. "Mana pernah aku memukul wanita?"
Mentari bernapas lega. "Terus tangannya terluka karena apa?"
"Aku menonjok pintu mobil."
Mentari mencium tanganku lembut. "Masalahnya berat ya, mas? Maaf, bukannya aku kepo dengan urusan kalian. Tapi jika dilihat dari tanganmu uang terluka, mas nampaknya emosi sekali."
Aku menatap istriku dengan hati yang semakin galau. Aku tahu kalau ia tak boleh banyak pikiran. Apalagi dia dalam keadaan hamil. Kondisi kesehatannya memang sering terganggu akhir-akhir ini karena ia berhenti meminum obatnya.
'Sayang, aku dan Yasmin sudah baikan."
"Kok mas nggak ajak dia ke acara makan malam tadi?"
"Yasmin katanya capek. Lagi pula matanya sedikit bengkak karena menangis. Aku nggak mau orang bertanya ada apa dengan kami. Yang satu tangannya terluka, yang satu lagi matanya bengkak." Aku memberikan alasan ku. Pada hal sebenarnya karena aku sangat marah dan kesal tadi, aku sampai lupa mengajak Yasmin.
Mentari selesai mengoleskan salep di tanganku. Lalu ia membungkusnya dengan kain kasa. "Mudah-mudahan besok bengkaknya sudah turun. Nih obatnya."
Aku menerima dua butir obat dari tanah Mentari. Tadi, ia menelepon Prayuda untuk bertanya obat dan salep apa yang harus diberikan untuk mengobati memar.
"Terima kasih, sayang." kataku setelah selesai meminum obatnya. Aku menunduk dan mencium bibirnya. Ia menyambut ciumanku dengan lembut. Untuk sesaat, kami tenggelam dalam romansa manis melalui ciuman. Sampai akhirnya, Mentari melepaskan diri. Ia menatapku.
"Mas, apakah tidak sebaiknya mas pergi ke tempat Yasmin?"'
"Tapi mas dan Yasmin...."
"Jangan usir aku ya? Karena jika ke sana, Yasmin pasti juga akan mengusir aku untuk datang ke sini. Kita harus bangun pagi untuk persiapan pernikahan ibumu. Kamu juga harus menyiapkan As sendiri karena pengasuhnya ijin pulang. Bagaimana jika mual dan muntah menyerang kamu di esok hari? Bisa-bisa kamu nggak hadir di akadnya."
Mentari tersenyum. Ia memelukku dengan penuh kasih. "Ayo kita tidur!"
Kami masuk bersama ke dalam kamar. Baby As sudah tidur sendiri di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kami. Ada pintu penghubung diantara kamar baby As dan kamar kami. Pintunya jarang dikunci kecuali kami berdua ingin berhubungan intim.
Kini, Mentari sudah tenggelam dalam tidurnya. Dan aku masih tak bisa memejamkan mataku. Hatiku gelisah oleh rasa ingin tahu, siapa lelaki yang telah membuat Yasmin memiliki rasa nyaman saat bersamanya.
Apakah sebaiknya aku bertanya pada Prayuda? Bukankah mereka ada di rumah sakit yang sama? Tapi bagaimana jika Yasmin tersinggung saat aku bertanya pada Prayuda? Bukankah Yasmin bilang kalau lelaki itu tak tahu bahwa Yasmin memiliki rasa untuknya?
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Sakit hatiku saat tahu bahwa hati Yasmin kini ada orang lain. Apakah semuanya terjadi karena Yasmin sebenarnya butuh perhatian lebih?
Ya Allah, aku pun tak ingin memiliki pernikahan seperti ini. Aku ingin mencintai satu wanita dalam hidupku. Tapi semuanya sudah terjadi. Aku menyayangi kedua wanita itu dengan cinta yang sama. Mereka baik, selalu saling mengalah dan saling mendukung. Aku tak ingin kehilangan salah satu diantara mereka.
Aku perlahan meninggalkan kamar. Aku ingin membuat secangkir kopi untuk menenangkan pikiranku.
**********
POV Prayuda
Malam semakin larut. Namun aku tak bisa memejamkan mataku. Pada hal besok aku harus bangun pagi untuk mendampingi papaku. Akadnya akan dilaksanakan jam 10 pagi. Resepsinya siang itu juga. Sebuah perayaan sederhana yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat. Acaranya juga dibuat di halaman belakang rumah tante Jeslin.
Aku sendiri tak bisa menghadiri acara makan malam tadi. Aku menghindar untuk ketemu Yasmin karena ia pasti ada di sana.
__ADS_1
Dulu, aku begitu terobsesi pada Mentari karena dukungan papaku. Jika papa tak bisa bersama Tante Jeslin, maka aku yang harus bersama Mentari. Namun obsesi ku itu berubah menjadi cinta yang tulus. 2 kali Mentari menolak pernyataan cintaku. Namun yang membuat ku senang, Mentari tetap bersikap baik padaku. Aku bahkan menjadi teman dekatnya. Perasaan cintaku padanya akhirnya harus ku lepaskan, saat ia menikah dengan Erdana di Amerika dan aku yang menjadi saksinya. Lama kelamaan perasaan cinta itu berusaha ku ubah menjadi perasaan ingin melindungi. Seperti seorang kakak pada adiknya. Walaupun memang jauh di lubuk hatiku, masa ada setitik harapan untuk bisa memenangkan hati Mentari, namun aku terus mendukung hubungannya dengan Erdana.
Aku mencoba membangun hubungan dengan gadis lain. Gisel namanya. Dia satu tingkat di atas ku. Gisel satu tahun lebih tua dari aku. Gisel baik, lembut dan juga sangat pengertian. Ia tahu kalau Mentari memiliki tempat khusus di hatiku dan dia selalu mengerti jika aku ingin menemani Mentari disaat ia dalam kesedihan.
Hubunganku dengan Gisel boleh dikatakan sangat romantis. Sebenarnya romantisnya hubungan kami karena Gisel yang selalu berinisiatif untuk mengajakku nonton, makan malam dan liburan berdua. Sampai akhirnya, saat kami sedang liburan ke Thailand, aku dan Gisel menjadi lupa diri. Kami tenggelam dalam hasrat dan gairah di masa muda. Aku berhasil merengut kesucian Gisel. Dan setelah itu, kami justru tenggelam dalam hasrat yang ingin selalu saling memuaskan. Apalagi Gisel termasuk tipe perempuan yang memiliki gairah yang kuat dan cepat terbakar.
Namun hubunganku dengan Gisel kandas juga. Ketika aku lebih banyak memberikan perhatian pada Mentari karena ia sakit dan dalam keadaan hamil, Gisel merasa diabaikan. Dan entah bagaimana ia bisa kenal dengan suaminya yang sekarang, Gisel memutuskan untuk menikah dengan pria yang usianya 15 tahun lebih tua darinya. Seorang duda beranak 2.
Aku sedih pisah dengan Gisel Karena aku merasa bertanggungjawab atas dirinya. Namun begitulah. Aku tak mungkin mengejar dia yang sudah menjadi istri orang.
Secara cepat aku move-on darinya. Aku menjalani hidupku dengan bahagia. Sesekali masih hadir untuk Mentari sebagai kakak, sahabat dan dokter yang menangani sakitnya.
Sampai akhirnya aku menjadi dekat dengan Yasmin. Awal yang tidak pernah ku rencanakan
Lagi pula aku memang sudah kenal Yasmin semenjak ia kecil. Walaupun aku kebanyakan lebih dekat dengan Noah kakaknya. Aku, Erdana dan Noah sering main basket bersama sejak kami SMP sampai SMA.
Yasmin orangnya asyik. Ia juga pintar dan teman bicara yang menyenangkan. Kami banyak kali berdiskusi mengenai dunia kedokteran. Dan yang membuatku ku bangga padanya, dia yang masih muda, bersedia dipoligami. Dia tulus menerima Mentari bahkan menyayangi Mentari seperti kakaknya sendiri. Dia bahkan dengan gembira selalu menceritakan tentang Mentari, baby As dan Erdana. Seolah tak ada beban diam pernikahannya. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, terbuat dari apa hati seorang Yasmin sehingga bisa tulus seperti ini.
Entah bagaimana kebersamaan kami telah menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatiku. Selalu saja ada rasa ingin melindungi dan menyayanginya. Selalu timbul rasa rindu bila tak melihatnya. Jika aku dalam tekanan pekerjaan, hanya melihat senyum nya saja hatiku telah terhibur.
Berulang kali aku mencoba menghilangkan perasaan ini. Aku mencoba mengajak hatiku untuk berpikir sehat bahwa Yasmin tak mungkin kumiliki. Namun perasaan ini seolah tak mau pergi. Apalagi saat tahu kalau Yasmin memiliki rasa yang sama seperti yang aku rasakan, jantungku justru berdetak sangat cepat. Aku senang mengetahuinya.
Mengapa rasa ini harus tumbuh ya, Allah? Bagaimana cara menghilangkannya? Mengapa aku ingin memiliki Yasmin dan menjadikannya sebagai satu-satunya wanita dalam hidupku? Mengapa aku tak bisa mencintai satu diantara sekian banyak gadis yang selalu menatap ku dengan penuh damba? Tak bisakah aku mencintai seseorang yang bukan milik orang lain?
**********
POV Yasmin
Aku meletakkan gelas susu yang sudah kosong isinya di atas meja makan. Sebenarnya perutku lapar. Namun aku malas untuk pesan makanan apalagi membuatnya sendiri.
Aku lega sudah jujur pada kak Er. Namun aku juga sedih telah menyakiti hatinya. Aku bukanlah istri yang baik. Secara tak langsung aku sudah menghianati suamiku sendiri.
Dulu, aku pernah kagum pada kak Er. Saat aku masih di SMP. Mungkin karena dia salah satu bintang basket yang tampan, penuh pesona dan tak playboy. Bukan hanya aku saja yang kagum pada kak Er. Hampir semua teman di sekolah ku juga mengaguminya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan jatuh cinta padanya. Namun, saat tahu kak Er dan kak Mentari menjalin cinta, aku semakin kagum pada mereka berdua. Sangat serasi dan terlihat saling menyayangi.
Dalam hidupku, aku tak mengenal banyak pria. Walaupun bukan sedikit pria yang mendekatiku. Saat kuliah pun aku selalu membatasi diriku dekat dengan para pria. Sampai aku kenal Andre. Cowok tampan yang mengejar ku tanpa henti sampai akhirnya setelah setahun lebih ia mengejar cintaku, aku resmi pacaran dengannya. Bahagia? Tentu saja. Karena Andre sangat romantis dan tak malu menunjukan rasa cintanya di depan banyak orang. Dapat dikatakan kalau aku dan Andre menjadi pasangan yang viral saat itu.
Lalu peristiwa pemerkosaan itu terjadi. Aku hamil dan harus menikah dengan kak Er. Awalnya aku sangat membenci kak Er karena dia yang menyebabkan hubunganku dengan Andre kandas. Namun rasa benciku perlahan hilang. Kak Er sangat sabar padaku. Apalagi saat anak kami meninggal. Kami akhirnya menjadi semakin dekat. Dan yang paling membuatku kagum padanya, ia berterus terang padaku tentang hubungannya dengan kak Mentari sebelum menyentuhku setelah setahun pernikahan kami.
Aku yang awalnya jijik padanya, kini berubah mulai sayang. Perasaanku padanya semakin kuat setiap kali kami berhubungan intim. kak Er ternyata lelaki yang lembut dan mampu memberikan kepuasan lahir batin padaku. Makanya saat bertemu kak Mentari, walaupun awalnya ada rasa perih di hatiku, namun akulah yang mendorong agar kami berpoligami. Aku tak mau kehilangan kak Erdana karena aku sudah mencintainya dan aku juga tak mau kak Erdana melepaskan kak Mentari karena penderitaan kak Mentari sudah begitu besar. Entah dari mana aku bisa mendapatkan kekuatan berbagi suami.
Tanpa kurencanakan, aku dekat dengan kak Prayuda. Itu wajar karena sejak kecil aku sudah mengenalnya. Dia dosen yang baik, pembimbing yang sabar dan teman bicara yang asyik. Entah bagaimana aku bisa memiliki rasa yang berbeda padanya. Apakah karena kami yang selalu bersama setiap hari? Perasaan ini tumbuh begitu kuat sampai aku lupa bahwa rasa ini terlarang. Berulang kali aku meyakinkan diriku bahwa aku hanya kagum pada kak Prayuda. Namun mengapa aku rindu bila tak melihatnya? Mengapa aku cemburu saat ia dekat dengan dokter Elif?
Dan saat ku tahu kalau dia punya rasa yang sama untukku, aku mau gila rasanya. Tapi sekali lagi ini salah!
Ya Allah, lumpuhkan lah ingatanku agar aku tak memikirkan Prayuda lagi. Hanya ada Kak Er di hatiku. Bukan yang lain. Jangan ada yang lain. Tapi apakah aku bisa? Membayangkan saja aku akan pindah rumah sakit dan tak melihatnya lagi, hatiku sudah sakit. Namun mungkin lebih baik begini. Aku harus melewati proses sakit ini untuk bisa mengembalikan perasaanku pada kak Er.
**********
Nah....itulah isi hati mereka bertiga.
Bagaimana dengan isi hati Mentari? Nanti di episode berikut ya? kepanjangan jika di gabung di sini.
selamat menikmati liburan hari ini.
Emak rela bangun jam 3 subuh agar bisa up hari ini. Soalnya emak juga mau liburan.
Have a bless day allππππ
__ADS_1
BTW komen ya jika sudah dengar lagunya