
Dia selalu berpikir bahwa dia akan menghabiskan seumur hidupnya untuk menjadi Kaisar, tapi segalanya menjadi berbeda sejak dia bertemu Qi Sheng.
"Kau tidak benar-benar akan melepaskan tahta dan kabur bersamaku, kan?" Cemas Peng Peng.
"Saat aku bertemu denganmu, segalanya sudah tidak penting lagi."
Negara mereka sudah damai sekarang dan Qi Hao pun sudah tumbuh. Dia sangat pintar biarpun usianya masih muda, sekarang dia sudah tahu bagaimana harus memerintah sebuah negara.
Dia sudah mengatur orang yang paling bisa diandalkan untuk membantu Qi Hao. Karena itulah, Qi Sheng sekarang bisa tenang dan menyerahkan tahtanya pada Qi Hao. Jadi, apa Peng Peng bersedia tinggal bersamanya di sini atau tidak?
Tentu saja Peng Peng bersedia. Beberapa tahun ini, dia selalu memikirkannya. Dulu, dia selalu berjuang untuk bertahan di istana, karena itulah dia selalu berpikir berlebihan tentang hidupnya sendiri. Dia tidak pernah memikirkan perasaan dan cinta dengan serius.
Tapi saat Qi Sheng melindunginya dari panah waktu itu, dia menyadari bahwa saat kita memiliki cinta dalam hati kita, maka hal lainnya sudah tidak penting lagi.
"Apa kau ingat doa-ku di kuil pemberkatan?" Tanya Qi Sheng.
__ADS_1
"Waktu itu, kau mengatakan sesuatu yang tidak begitu kupahami."
(Qi Sheng berharap orang yang berada di sisinya, memiliki harapan yang sama dengannya)
Sekarang Qi Sheng bertanya. "Peng Peng, apa kau bersedia menjadi istriku sekarang?"
"Aku bersedia!"
Mereka pun hidup dengan penuh kebahagiaan dan cinta. Merawat tanaman bersama, berdansa, kejar-kejaran, dll bagaikan dunia hanya milik berdua.
"Akhirnya aku mengerti, mencintai seseorang artinya mencintai segala sesuatu tentangnya, termasuk kebiasaan kecilnya dan kekurangannya."
Tapi Qi Sheng ternyata susah memahami alfabet, dan setiap kali dia salah Peng Peng langsung menghukumnya dengan memukul tangannya. Bahkan saat Peng Peng mencoba mengajarinya untuk membaca kata 'LOVE', Qi Sheng malah ketiduran.
Terkadang pula, mereka pelesiran ke Joseon (soalnya Peng Peng demen banget sama Korea dan hobi memanggil Qi Sheng 'Oppa').
__ADS_1
Peng Peng mencoba mengajarinya 'Sarangheyo'. Tapi Qi Sheng susah ngucapin huruf R-nya, jadilah dia ngotot bilang 'Salangheyo'.
Suatu malam, mereka memandang bintang sambil berpelukan mesra. Peng Peng mengingatkan kalau besok adalah hari besar, tapi Qi Sheng menghindari topik itu dengan mengklaim kalau dia lelah lalu pergi tidur.
Peng Peng sampai kesal dibuatnya. "Apa dia lupa ulang tahunku?"
Saat Peng Peng terbangun keesokan harinya, Qi Sheng tak ada di kamar. Peng Peng langsung sebal mengira Qi Sheng sudah pergi.
Tapi saat dia keluar, dia mendapati ada karangan bunga heart besar di luar rumah. Peng Peng pun melangkah ke karangan bunga itu dengan penuh kebahagiaan sementara Qi Sheng melihatnya dari kejauhan.
Peng Peng membentangkan kedua tangannya sembari menikmati hembusan angin. Namun senyum kebahagiaan Peng Peng menghilang seketika saat sebuah pedang menancap ke perutnya.
Qi Sheng kontan berlari ke arahnya. Peng Peng membelai wajah Qi Sheng memintanya untuk bertahan hidup sebelum kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Puluhan pembunuh tiba-tiba mengepungnya. Tapi Qi Sheng sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya dan membiarkan para pembunuh itu menusuknya berulang kali.
Qi Sheng akhirnya ambruk di sisi Peng Peng di atas karangan bunga heart itu, bersatu selamanya dalam keabadian.