CINTA SEJATI SANG RATU

CINTA SEJATI SANG RATU
BAB 102 BONUS


__ADS_3

Dia tersenyum sembari mengangguk lalu pergi.


Setengah bulan kemudian, sebuah pesan kilat datang ke istana dan dikabarkan bahwa Qi Sheng meninggal dunia karena terjatuh dari kuda. Tubuhku langsung membeku.


Aku berpikir saat aku kehilangan kontrol sepenuhnya terhadap tubuhku. "Ini benar-benar kejutan."


Pada saat ini, Putera Mahkota sudah tumbuh dewasa dan sudah beberapa tahun membantu Qi Sheng menangani urusan pemerintahan. Karena itulah, biarpun mendapat berita duka itu, tapi tak ada kekacauan di istana. Putera Mahkota mengadakan pemakaman Qi Sheng dan naik tahta.


Itu artinya, aku akhirnya menjadi Ibu Suri (cita-cita Peng Peng selalu ingin menjadi Ibu Suri). Setelah 20 tahun, akhirnya aku menduduki singgasana Ibu Suri. Tapi, kenapa tak terasa kebahagiaan dalam hatiku dan hanya ada keinginan untuk menangis. Tapi air mata menolak keluar, seolah terasa ada sesuatu yang tertekan dalam hatiku.


Berusaha menghibur diriku sendiri, aku beralasan (pada diri sendiri) bahwa setelah hidup 20 tahun bersama Qi Sheng, aku merasakan suatu emosi... seperti perasaan terhadap hewan peliharaan, makanya aku merasa sangat sedih kehilangan seseorang. Jika aku bisa melewati saat-saat ini, maka aku akan baik-baik saja.

__ADS_1


Sebagai seorang Ibu Suri, Kaisar adalah putraku sendiri dan tak ada mertua yang memerintahku. Jadi asalkan aku tidak mengkhianati negaraku, kurasa takkan ada seorangpun yang berani memerintahku.


Di kepalaku, aku mulai berpikir bahwa begitu aku mulai membaik nantinya, aku akan membangun rumah besar di suatu tempat yang bagus. Aku juga bisa membawa beberapa pelayan yang cantik untuk menambah pemandangan.


Aku bahkan berpikir bahwa karena aku belum terlalu tua, aku harus diam-diam membawa beberapa selir pria... tentu saja ini harus dilakukan dengan sangat rahasia karena bagaimanapun juga, aku harus memikirkan reputasi Kaisar.


Aku punya banyak rencana-rencana masa depan yang megah, tapi tubuhku sepertinya melawanku dan menolak keluar dari ranjang apapun yang terjadi.


Puteri tertua datang untuk menemaniku, tapi malah mencemaskanku saat dia melihatku hanya makan dan tidur. Ketakutan karena aku tak mau turun dari ranjang, semua anak-anakku berlutut di sekitar ranjangku dan memohon padaku untuk berhenti berduka agar ayah mereka tidak sedih di surga.


Tapi tetap saja, melihat semua anakku berlutut dan memohon-mohon, hatiku melunak dan aku berkata pada mereka. "Kembalilah. Aku pasti akan segera membaik. Jadi jangan khawatir lagi."

__ADS_1


Sang Kaisar memang seorang pemimpin yang tajam, jadi dia langsung memohon. "Selama ibunda tidak mau diperiksa tabib dan mendapatkan pengobatan yang benar, maka kami tidak akan bangkit dari lantai."


Tak punya jalan keluar, aku akhirnya mau berkompromi dan memberitahu mereka untuk memanggilkan tabib istana agar mereka mau pergi.


Tabib istana segera datang tapi pada akhirnya malah berlutut di lantai dengan keringat mengucur di wajahnya. Bingung, aku bertanya. "Apa ini penyakit yang mematikan?"


Bergetar seperti dedauan, tabib tergagap berkata. "Ti-tidak..."


Jadi semakin bingung, aku bertanya. "Lalu kenapa kau gemetaran?"


Sambil terus tergagap, tabib menjawab. "Ibu Suri... anda hamil."

__ADS_1


Tercengang, aku menutup mata sesaat dan akhirnya berbisik. "Kau boleh pergi. Jangan katakan apapun pada siapapun, tidak pula pada Kaisar."


Setelah memberiku pernghormatan, tabib istana pun pergi. Berbaring di ranjang, aku merasa getir. Qi Sheng mati dengan hanya meninggalkanku seorang bayi. Bagaimana aku harus mengatakan ini pada anak-anakku?


__ADS_2