
Saat Jiu Wang mendengar kabar itu, dia langsung termenung sedih sambil memutar-mutar kepangan rambutnya Yang Yan yang ujung-ujungnya malah menimpuk muka Yang Yan sendiri sampai hidungnya berdarah.
"Kakak Ke-9, jangan terlalu terganggu karenanya. Itu pasti salah paham Huuuaaa~~~"
"Sekarang ini, semua orang membicarakan betapa baiknya hubungan antara Kaisar dan Permaisuri. Aku cemas kalau hatinya Peng Peng berubah karena Qi Sheng selalu ada di dekatnya. Dipikir-pikir, aku sudah cukup lama tidak bertemu Peng Peng."
Yang Yan mendadak berhenti mewek dan tanya serius. "Apa kau mau aku menculikkannya untukmu?"
"Kau bisa menyeret tubuhnya, tapi tidak hatinya. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mengambil resiko menyelinap ke Istana Xing Sheng."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Sekarang ini, menyelinaplah ke Istana Xing Sheng."
"Kakak Ke-9, bukan itu yang kau katakan barusan."
"Sekarang ini sulit berkomunikasi, pergilah mencari Permaisuri dulu. Katakan padanya ada hal penting yang perlu dibicarakan... Yang Yan, siapa yang memukulmu?!"
__ADS_1
"Kau pelakunya."
"Hidungmu mimisan!"
Yang Yan melihat darahnya dan langsung pingsan seketika.
Beberapa hari sudah Peng Peng selalu datang untuk mengurus segala kebutuhan Qi Sheng. Hari ini bahkan membantu mencabuti ubannya Qi Sheng.
Heran dia, kenapa Qi Sheng bisa ubanan di usia semuda ini. Orang bilang kalau dia bekerja terlalu keras, tapi kan dia punya banyak pejabat yang bisa membantu pekerjaannya.
"Memiliki seseorang yang bisa membantumu, bukan berarti kau tidak akan punya masalah."
Qi Sheng menolak. Angle ranjangnya, kelembutannya, dan panjang selimutnya sangat cocok untuk dia gunakan sendiri. Kalau Peng Peng ikutan tidur di sini, maka dia tidak akan bisa tidur.
"Kau benar-benar Mary Sue yang selalu komplain setiap saat padahal tidak sakit apapun."
"Mary Sue?"
__ADS_1
"Paduka, aku jamin aku tidak akan menyelinap ke ranjangmu tengah malam. Tapi aku punya permintaan."
Peng Peng dengar ada sebuah kuil pemberkatan yang katanya bagus untuk berdoa mengharapkan pernikahan yang baik. Dia dengar kalau permintaan-permintaan di sana selalu terkabul.
Karena itulah, Peng Peng mau pergi ke sana dan membakar dupa. Dia juga merasa bosan di istana dan ingin menghirup udara segar. Tapi, yah, tidak masalah sih kalau Qi Sheng tidak setuju.
"Akan kupikirkan."
Pada akhirnya Qi Sheng sendiri yang membawa Peng Peng ke gunung terpencil yang katanya ada kuil pemberkatan. Tapi Peng Peng tidak melihat di mana kuilnya, ini sih cuma hutan belantara.
"Kuil pemberkatan ada di dalam hutan di gunung. Kau tidak bisa melihatnya dari kaki gunung. Ayo naik."
"Naik? Aku ke sini untuk membakar dupa dan berdoa pada Buddha, bukannya untuk olahraga."
"Buddha ada di dalam hati. Jika seseorang tulus, doanya pasti akan terkabul. Jika kau tidak mau berjalan, bagaimana kau bisa tahu apakah kau tulus atau tidak."
Peng Peng akhirnya mengalah dan Qi Sheng langsung menyeretnya menjelajahi hutan itu. Saat Peng Peng mengeluh kecapekan, Qi Sheng akhirnya berhenti dan memutuskan untuk istirahat di sini.
__ADS_1
Mereka menggelar tikar dan Peng Peng langsung duduk santai di sana. Tapi Qi Sheng duduk bersimpuh dan langsung mempelototinya sampai Peng Peng mengikuti cara duduknya. Peng Peng heran kenapa Qi Sheng mendadak mau datang kemari? Apa dia mau mendaki gunung?