CINTA SEJATI SANG RATU

CINTA SEJATI SANG RATU
BAB 22


__ADS_3

"Aku hanya ingin tahu, selain statusku sebagai Putera Mahkota, pria seperti apa aku bagimu?"


Peng Peng langsung semangat menjawab. Kesan pertama terhadap orang seperti Qi Sheng yang dewasa, selalu berhati-hati dan dingin adalah susah didekati. Dia bahkan berwajah batu sepanjang hari, sulit mengucap candaan padanya, apalagi kata-kata romantis.


"Bahkan sekalipun seseorang ingin menggodaimu, dia pasti harus latihan dulu tentang bagaimana caranya untuk menahan diri biar tidak ketawa di hadapanmu."


Sementara pria yang tampan dan periang, biasanya lebih mudah didekati. Bersama pria seperti itu rasanya nyaman, enak untuk berinteraksi dan bercanda tawa hingga pada akhirnya hubungan mereka jadi semakin dekat.


Qi Sheng tak suka dengan jawabannya. "Kau salah pilih."


"Tidak ada yang salah atau benar dalam masalah ini."


Tak ingin membahasnya lebih jauh, Qi Sheng menyuruhnya istirahat saja lalu pergi.

__ADS_1


Keesokan harinya, Kasimnya Qi Sheng datang menemui Peng Peng dan mengabarkan bahwa Qi Sheng akan pergi ke Jiang Utara untuk melakukan inspeksi dan memerintahkan Peng Peng untuk menemaninya.


Qi Sheng akan pergi duluan dengan pengawal pribadinya dan Peng Peng akan menyusul bersama seseorang yang akan mengawalnya.


Peng Peng tidak mau pergi, tapi Kasim memberitahunya bahwa bepergian bersama Putera Mahkota itu sebuah kehormatan besar.


Peng Peng kesal, kenapa juga dia harus pergi ke pangkalan militer di utara. Tapi ujung-ujungnya dia pergi juga bersama pengawalnya.


Peng Peng dan pengawalnya tiba di sebuah perkemahan. Tapi Pengawal memberitahu bahwa ini bukan pangkalan militer di Jiang Utara, ini cuma tempat perngiriman makanan dan beberapa keperluan militer.


"Aku harus menemani suamiku. Aku tak punya pilihan."


"Aku tahu betul seperti apa seragam tentara. Penampilanmu sangat cantik dan trendy."

__ADS_1


"Siapa bilang? Pakaian semacam ini sudah nggak jaman. Aku dandan seperti ini cuma supaya tidak dikenali."


Tapi saat mengalihkan perhatiannya pada pengawalnya Peng Peng, Yang Yan tampak curiga. Si pengawal tampaknya menyadari tatapannya Yang Yan dan karenanya dia buru-buru mengajak Peng Peng melanjutkan perjalanan.


Mereka pun kembali memacu kuda-kuda mereka ke suatu arah dan Peng Peng meneriakkan janji bahwa dia akan membawakan kue osmanthus untuk Yang Yan saat dia kembali nanti.


Tak bisa menghilangkan perasaan curiganya pada Pengawalnya Peng Peng, Yang Yan mencoba tanya ke salah satu prajurit tentang jalan mana yang menuju ke pangkalan militer di Jiang Utara.


Tapi si pengawal malah menunjuk arah yang berlawanan dari arah yang dituju Peng Peng tadi. Yang dituju Peng Peng tadi arah menuju Qing Bu.


Yang Yan sontak cemas dan memerintahkan si pengawal untuk memberitahukan masalah ini ke Jiu Wang. Dia sendiri langsung pergi menyusul Peng Peng.


Setelah beberapa lama berkendara, Peng Peng mulai menyadari ada yang aneh. Kenapa mereka belum sampai-sampai juga, apa dia yakin kalau ini arah yang benar. Si pengawal meyakinkan kalau ini jalan yang benar.

__ADS_1


Peng Peng mengiyakanya saja, padahal sebenarnya dia mulai curiga. Tapi dia yakin tak punya dendam apapun dengan si pengawal, tapi kenapa si pengawal ingin membunuhnya.


Peng Peng pun beralasan sakit perut dan mencoba melarikan diri. Tapi si pengawal malah menghunus pedang dan mengejarnya. Untunglah Yang Yan tiba saat itu juga dan langsung menembakkan anak panah pada si pembunuh.


__ADS_2