
Bingung bagaimana menjelaskannya, aku memberitahunya. "Qi Sheng, kau tidak mengerti!"
"Kalau begitu, jelaskan padaku."
Aku hendak buka mulut, tapi aku bahkan tak tahu harus bicara apa. Akhirnya aku hanya bilang padanya bahwa selama dia menjadi Kaisar maka itu artinya dia adalah tuanku. Dengan hidupku dalam genggamannya, bagaimana bisa aku menyingkirkan semua kewaspadaannya dan mencintainya?
Dia tidak mengerti bahwa cinta bukan cuma memberinya segalanya kecuali kesetaraan. Selama dia Kaisar dan aku permaisuri, kami tidak akan pernah setara.
Ibu Suri meninggal dunia pada tahun kesepuluh pemerintahan Qi Sheng. Qi Sheng sangat dekat dengan Ibu Suri, jadi dia sangat sedih cukup lama. Tapi ini artinya, tahun depan Qi Sheng jadi semakin punya alasan untuk tidak mengangkat selir lagi.
Dua tahun lagi berlalu dan sekarang, aku dan Qi Sheng sudah memiliki 3 putra dan 2 putri. Pada tahun itu, Qi Sheng memilih kandidat calon terbaik sebelum akhirnya kami menikahkan putri tertua kami.
Aku memberitahu Qi Sheng. "Kita tidak usah punya anak lagi, yah? Aku mungkin akan segera menjadi nenek. Aku sungguh terlalu malu untuk memiliki anak lagi."
__ADS_1
Qi Sheng memikirkannya selama beberapa malam dan akhirnya berkata kalau dia akan memikirkan saranku.
Pada tahun ke-14 pemerintahan Qi Sheng, Putera Mahkota sekarang berusia 16 tahun dan setelah memilih calon dengan seksama, kami pun menikahkannya.
Saat kami memilihkan selir untuknya, aku memberitahu putraku. "Jika kau suka, tidak masalah menikahi banyak wanita. Tapi jika kau tidak menyukai wanitanya, maka jangan menikahinya sama sekali. Jangan merusak hidup seseorang."
Putera Mahkota masih muda, jadi dia menjawab dengan penuh semangat. "Aku hanya menyukai istriku, jadi aku tidak butuh wanita lain."
Tapi Qi Sheng menatapku dengan ekspresi bijaksana.
Dilingkupi oleh aroma dupa, aku menjawab jujur. "Bahagia. Sangat bahagia."
Hanya saja... aku juga merasa tak enak saat aku berpikir bahwa semua kebahagiaanku ini dibayar dengan hidup para wanita itu yang menghabiskan sepanjang hidup mereka di kuil.
__ADS_1
Qi Sheng bertanya. "Kuil ini adalah tempat mereka (para selir). Apa kau mau melihat mereka?"
Setelah diam sesaat, aku akhirya menggeleng. "Tidak. Kurasa tidak."
Qi Sheng tertawa dan berbisik. "Baguslah kau tidak mau bertemu mereka. Jika iya, aku tetap tidak akan menyulap mereka keluar dari ketiadaan."
Tercengang, aku menatapnya dengan bingung.
Qi Sheng tersenyum, membelai kepalaku dan menjelaskan dengan lembut. "Peng Peng, bagaimana bisa aku membiarkan hati nuranimu menderita? Mereka... aku melepaskan mereka. Walaupun aku tidak menjanjikan kekayaan dan kehidupan mewah, tapi aku membiarkan mereka memilih jalan hidup yang mereka inginkan."
Menghela napas berat, Qi Sheng menuntunku keluar dari kuil. Saat kami kembali ke istana, suasana hati Qi Sheng mendadak jauh lebih ceria dan dia memberitahuku. "20 tahun (pernikahan) kita akan segera tiba. Aku akan menyiapkan kejutan untuk ultahmu tahun ini."
Aku mengangguk. Karena aku bahagia atas kejadian tadi pagi, aku memutuskan untuk lebih perhatian malam itu. Qi Sheng tak mau mengakui kalau dia sudah tidak muda lagi... yang artinya, dia datang terlambat dalam rapat pagi keesokan harinya... lagi.
__ADS_1
Sebelum ultahku, Qi Sheng pergi berburu setelah dia memberitahu kalau dia akan menangkap rubah putih untukku sebagai hadiah.
Aku sebenarnya tidak begitu peduli dengan bulu binatang, tapi karena dia tampak begitu antusias, aku mengangguk dan menjawab. "Ingat ucapanmu. Jangan beri aku janji kosong."