
Begitu Peng Peng muncul, Qi Sheng langsung turun dari kudanya. Mungkin bingung apa yang harus dikatakan, Peng Peng malah asal menasehati Qi Sheng untuk hati-hati terhadap badai dan jangan mengendarai kuda yang terlalu tinggi, Qi Sheng sendiri sudah tinggi dan topi bajanya juga sangat tinggi, takutnya nanti Dewa Petir akan menyambarnya kalau dia ketinggian.
"Kau bergegas kemari cuma untuk mengatakan itu?"
"Aku juga harus mendoakan semoga perjalananmu selamat, membawa kemenangan dan umur panjang dan sukses..."
"Cukup! Kepergianku kali ini, entah kapan kita bisa bertemu kembali. Apa kau sanggup melihatku pergi?"
Tapi Peng Peng tak sanggup menjawabnya, malah memalingkan muka. Kecewa, Qi Sheng pun pergi. Tapi begitu Qi Sheng sudah jauh, Peng Peng langsung pingsan.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian, Lu Li lagi-lagi menemukan Peng Peng sedang giat belajar menulis sampai kertas-kertasnya bertebaran di seluruh kamar. Tapi yang ditulisnya cuma namanya Qi Sheng. Ternyata sejak Qi Sheng pergi, Peng Peng setiap hari belajar menulis namanya Qi Sheng.
"Sejak Qi Sheng pergi, aku tidak tahu apakah aku bahagia atau sedih. Aku merasa kosong dan tak tahu apa yang harus kulakukan."
Lu Li sangat cemas karena selain belajar menulis, Peng Peng juga sering sekali mengunjungi Ibu Suri. Dia seperti bukan dirinya sendiri belakangan ini.
"Di istana, Qi Sheng paling dekat dengan Ibu Suri. Jika dia menulis surat atau semacamnya, dia pasti akan mengirimnya ke Ibu Suri. Makanya aku setiap hari menemui beliau untuk mendengar kabar apapun."
Peng Peng menolak, bersikeras mau menemui Ibu Suri lagi, siapa tahu hari ini ada kabar. Tapi setibanya di sana, Ibu Suri mengaku tak punya kabar apapun. Peng Peng terlalu khawatir.
__ADS_1
Melihat Peng Peng seperti ini mengingatkan Ibu Suri akan dirinya sendiri beberapa tahun silam, saat ia sendirian menunggu kedatangan suaminya yang pergi berperang. Karena itulah, ia mengerti perasaan Peng Peng sekarang.
Tapi dia seorang Permaisuri dan bukan wanita biasa. Sejak dia menjadi Permaisuri, seharusnya dia tahu kalau saat-saat seperti ini pasti akan tiba. Kaisar mungkin akan mati dan politik istana akan mengalami perubahan, jadi Peng Peng harus belajar untuk menghadapinya seorang diri.
Tapi Ibu Suri yakin dengan kemampuan Qi Sheng. Dia pasti bisa kembali dengan membawa kemenangan.
Saat Qi Sheng tidur malam itu, Yang Yan mendadak muncul dari genteng dan terjatuh tepat menimpa Peng Peng. Dia langsung panik memberitahu Peng Peng kalau ayahnya menghilang.
Dia baru tahu hari ini saat dia pulang ke rumah keluarganya kalau ayah dan kedua kakaknya tak ada di rumah. Saat dia tanya mereka ke mana, keluarga bilang kalau ketiga orang itu pergi bersama entah ke mana dan tak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
__ADS_1
Peng Peng bingung, apa mungkin Jiu Wang memanggil Jenderal Yang untuk melakukan pemberontakan? Tapi tidak mungkin, apalagi Jenderal Yang sudah dipecat dari militer.
Secara bersamaan, tiba-tiba mereka sama-sama menduga kalau Jenderal Yang pasti beralih memihak Qi Sheng dan sekarang sedang membantu Qi Sheng dalam peperangan di Gurun Utara. Peng Peng jadi penasaran bagaimana awalnya Jiu Wang dan Jenderal Yang saling mengenal.