
Hari ini Didin meliburkan diri ke restoran, entahlah apa yang membuat dirinya meliburkan diri padahal dia sehat menurut penglihatan intan ,dari setelah makan siang hingga malam pun pria itu belum ke luar .
Tok....tok ....
" Kakak " Panggil intan lembut .
Ceklek
" Kakak sakit " Didin hanya menggeleng " Terus kakak kenapa ?? Kangen dengan teteh " Didin hanya terdiam " Kenapa tidak telepon saja kalau kangen , tapi makan malam dulu soalnya sudah siap " Didin mengaguk saja lalu mengikuti intan dari belakang .
Saat intan sendang menyiapkan makanan untuk Didin, pria itu langsung memeluk intan dari belakang membuat intan kaget dan bingung.
" Kakak ....."
" Jangan pergi " Ucap Didin lirih .
" Kita makan dulu iya kak " Didin menggeleng " Jangan pergi ' Intan melepaskan tangan Didin dengan pelan lalu menghadap ke Didin.
" Kita sudah bahas ini kak, intan harus pulang kampung,mau lahiran di kampung !! " Ucap intan lembut .
" Apa tidak bisa di sini saja " Intan mengaguk Tersenyum " Kan kakak sudah setuju, ayah sama ibu juga sudah menunggu di kampung mereka tahunya aku melahirkan di sana " Didin menatap lekat wajah intan " Apa perasaan itu sudah tidak ada lagi " Tanya Didin .
Intan menarik kursi karena perut yang semakin besar membuat nya tidak kuat berdiri terlalu lama .
" Kakak harus menerima perjodohan yang di ajukan ibu " Didin menggeleng " Apa kamu akan seperti Risna meninggalkan aku " tanya Didin serius .
" Aku tidak pernah meninggalkan kakak bahkan hanya niat saja tidak ,tapi keadaan yang harus memaksa ku pergi kak " Jawab intan .
" Aku sudah bilang jangan pergi tetap di sini ,aku yang akan bilang sama ibu sama ayah ,biarkan mereka yang ke sini menemanimu melahirkan.... " Intan memegang tangan Didin membuat pria itu terdiam " Intan sudah lelah, sudah tidak kuat lagi biarkan intan pergi " Didin memaku di tempat nya bahkan intan mengatakan itu tanpa ragu .
" Intan "
" Maaf kak ,kita sudah sepakat untuk berpisah bukan !! Dan saat Ade lahir aku akan menunggu surat nya " Ucap intan Tersenyum sekalipun dia sendiri sakit .
__ADS_1
Beberapa hari belakangan ini dia sudah memikirkan ,bahkan dia ingin membatalkan tapi ada banyak hal yang di pikirkan jika hubungan mereka di teruskan .
Dia harus menatap kedepan di mana gadis kecil yang kini masih berada dalam kandungannya membutuhkannya , dia tidak mungkin terus terpuruk dalam hubungan yang tidak jelas .
" Intan " Intan Menatap Didin Tersenyum sambil memukul pelan kedua tangannya yang sejak tadi dia genggam .
" Apa pun nanti yang terjadi ,aku harap kakak bisa punya waktu untuk Ade biar hanya sejam ,jika perjodohan Kakak lancar semoga dia yang terkahir karena pilihan orang tua tidak perna salah ,Semoga istri kakak nanti bisa mengizinkan kakak bertemu dengan Ade dan adiknya yang lain ...." Didin menarik tangannya paksa " Kakak...."
" Ingat ini baik² ,Jika memang perasan itu sudah tidak ada aku yang akan berjuang untukmu mengembalikan perasaan itu ,bahkan sampai Ade lahir pun aku tidak akan mengajukan perceraian , tidak akan " Ucap Didin emosi.
Intan menatap Didin ,apa ini artinya Didin sudah mencintainya atau hanya karena dia sudah menerima anaknya .
" Kakak ...."
" Aku akan mengantar mu ke kampung , aku yang akan bicara sama ayah dan ibu, dan untuk perceraian kamu tidak akan mendapatkan itu sekalipun kamu enggan kembali ke sini ,aku yang akan ke sana " Tekan Didin meninggal kan meja makan tapi intan menahan nya
" Kakak makan dulu " Ucap intan lembut .
" Aku tidak lapar " Intan tetap menahan tangan Didin " Demi Ade " Ucap intan memohon .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didin mengusap wajahnya kasar dia menatap langit-langit kamarnya ,seharian dia mengurungkan diri bukan tanpa alasan karena dia memikirkan tentang hubungannya dengan Didin .
Bahkan semua yang berkaitan dengan Risna sudah tidak ada lagi dalam kamar ,restoran semua Didin sudah melepaskan nya dia ingin memulai hidup baru dengan intan dan anaknya .
Tapi kenapa di saat dia ingin memulai dia harus kembali kehilangan apa dia tidak di izinkan menikah .
Lain halnya Didin lain pula Gio di mana pria itu sejak selalu merasakan mual dan muntah saat mencium bau masakan atau apa pun itu .
" Nak kamu kenapa " Tanya sang ibu panik .
" Ayah ja...Hoek ....hoek " Belum Gio meneruskan Ucapan nya Gio sudah kembali mengeluarkan isi perutnya .
__ADS_1
" Sayang kamu kenapa ,mana yang sakit ,kita ke rumah sakit iya " Ucap sang ibu khawatir .
" Gio tidak papa Bu " jawab Gio lirih .
" Tidak ,kamu tidak baik² saja sudah seminggu kamu begini terus " Sanggah ibu cepat .
" Kita ke rumah sakit ,ibu tidak ingin kamu kenapa² " Lanjut nya dengan tegas .
" Ayah bantu Gio " Saat ayahnya akan mendekat , Gio langsung mengangkat tangannya " Kenapa " Tanya ayah bingung .
" Ayah bau " Ucapnya serius membuat sang ayah melotot kan matanya lalu mencium ketiaknya dan pakaiannya .
" Jangan sembarangan iya Gi ,ayah harum tadi ayah sudah pakai parfum " Gio menggeleng cepat " Ayah bau " Jawabnya lagi .
" Ade sini " adik gio mendekat mengendus setiap inci tubuh sang ayah " Ayah harum kok kak " Jawab sang adik .
" Kayanya penciumanmu rusak deh ,operasi sana siapa tahu tulang nya geser ,enak saja bilang aku bau " Ucap sang ayah kesal .
" Diam tidak , sana siap kan mobil kita ke rumah sakit " Ucap sang ibu .
" Ibu gio ...."
" Tidak !! kita ke rumah sakit ,Ade ambilkan jaket kakak " Sang adik langsung pergi ke kamar Gio " Ayah koh malah diam " Sang suami pun langsung meninggalkan dapur itu dengan wajah kesalnya .
Padahal mereka belum makan malam menyentuh nya saja belum karena Gio saat sampai di meja makan langsung berlari ke wastafel mengeluarkan semua isi perutnya .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung terus Didin dan Intan menjadi Novel favorit kalian 🥰🥰🥰
Like
koment
__ADS_1
vote
jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟