
sebulan telah berlalu semuanya berjalan Seperti air yang mengalir ,hubungan kedua Isnan manusia itu seperti melihat dalam kegelapan susah di tebak samar² .
Gio dan Dila tetap seperti biasanya begitu juga Gina dan Fandi .
Jika Dila dan Gio masih membahas tentang hubungan mereka beda halnya dengan Fandi dan Gina masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing ,tapi Gina Tidak perna melupakan kewajiban nya melayani suaminya tapi Tidak untuk urusan ranjang karena pria itu Tidak perna menyentuhnya .
Bohong jika Gina tidak menginginkan nya tapi dia sadar bahwa siapa kini dalam kehidupan suaminya jadi dia memilih untuk diam saja .
Pagi ini di restoran Fandi ,gio, Zul dan Didin sedang rapat membahas peresmian restoran yang dulu mereka bangun bersama sebagai hadiah untuk intan .
Tapi saat mereka tengah serius membahas tentang restoran itu gedoran pintu ruangan Didin membuat Zul harus berdiri .
" Kenapa, apa kamu tidak punya sopan santun hah" Bentak Zul dengan ekspresi wajah yang datar .
" Maaf ....Pak ...itu Gina sejak tadi menahan sakit " Ucap karyawan
" Dia di mana " Tanya Fandi yang sudah berada di dekat mereka begitu juga Didin dan Gio .
" Di depan pak ,di meja kasir " Dengan langkah cepat mereka langsung kedepan .
Sesampainya mereka di sana ,Fandi bisa melihat Gina menahan kesakitan hingga membuatnya keringat dingin .
" Kamu tidak minum obat mu " Semua orang menatap ke arah Zul .
" Lupa " Jawab Gina lirih sambil memegang perut bagian bawahnya .
" Kau gila, apa kamu mempercepat kematian mu " Ucap Zul sedikit meninggi ,membuat semua orang semakin bingung .
" angkat Gina ke ruangan Fan " ucap Didin ,Fandi langsung mengangkat tubuh Gina ,karena orang² sudah menatap mereka .
Sedangkan Zul ke tempat ganti khusus wanita mengambil tas Gina.
" Kamu punya hubungan dengan Gina " Tanya Gio to the poin saat Zul kembali sambil membawa tas Gina .
" Tidak " Jawab Zul tegas " saya sudah memiliki kekasih " lanjutnya membuat mereka kembali terdiam
" Maaf di dalam ada obat Gina " Fandi langsung mengambil obat yang ada di dalam tas Gina .
" Semuanya " Tanya Fandi menatap Zul dengan wajah kaget .
" Iya Pak " Jawab Zul, Fandi langsung mengeluarkan obat yang ada dalam tas Gina membuat Didin dan Gio ikut kaget .
" Minum dulu " Gina Tidak menolak hingga akhirnya dia tertidur karena pengaruh obat .
" Bawa dia ke dalam Fan " Fandi mengakat tubuh Gina di masukan dalam kamar tempat Didin Istirahat jika dia lelah .
Setelah itu dia kembali duduk ikut bergabung dengan yang lainnya .
__ADS_1
" Bisa jelaskan " Ujar Fandi menatap Zul .
" Maaf sebelumnya karena sudah menyembunyikan dari bos dan pak Fandi, awalnya saya ingin mengatakan tapi Gina meminta saya untuk tetap tutup mulut " Zul menarik napas panjang " Sebelum nya saya sudah perna menemani Gina ke rumah sakit, dokter meminta Gina untuk terapi atau operasi agar penyakitnya tidak menyebar dan semakin bahaya karena ini masih awal jadi masih bisa di atasi ,tapi Gina menolak dia hanya meminta di resepkan obat untuk mengurangi rasa sakit yang sering dia alami " Zul menunduk kepalanya " Gina sakit kanker serviks " Fandi langsung memegang kan duduknya menatap Zul yang menunduk " Maaf kalau saya menyembunyikan, karena itu semua permintaan Gina " Lanjutnya dengan lirih .
Didin dan Gio hanya bisa diam tidak tahu harus mengatakan apa lagi, begitu juga dengan Fandi lidahnya terasa Kelu hanya untuk menjawab atau bertanya pada Zul asisten sahabatnya itu .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Kenapa menyembunyikan nya " Fandi menatap wajah pucat Gina yang masih memejamkan matanya nya.
" Apa aku tidak berhak tahu tentang keadaan mu " Lanjutnya menunduk sambil menggenggam tangan Gina.
Pikirannya berputar di mana Gina sering bolos kerja apa itu ada kaitannya dengan penyakitnya atau memang Gina malas masuk kerja .
Gina menggerakkan tangannya membuat Fandi menatap ke arahnya ,dengan pelan dia menunggu Gina yang membuka matanya .
" Kakak " Ucap Gina dengan senyum di bibirnya .
" Sudah baikan " Gina mengaguk " istirahat dulu " Lanjutnya lagi .
" Tidak papa, aku sudah baikan !! Tidak enak sama yang lainnya " Fandi tetap menahan tubuh Gina .
" Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu " Gina menatap Fandi " kakak sudah tahu dari Zul ,jadi tidak ada lagi yang Gina jelaskan " Ucap Gina lembut .
" Alasannya " Tanya Fandi.
" Baiklah aku tidak akan memaksa mu " Ujar Fandi mengalah dia akan membahas nya nanti saat di rumah .
" Maaf ,Gina harus kembali kak " Ucap Gina , Fandi hanya mengaguk saja .
Fandi mengikuti langkah Gina ke luar dari ruangan itu , sedangkan di ruangan kerja masih ada Didin , Gio dan Zul .
" Maaf bos " Ucap Gina .
" Bisa kita bicara dulu " Gina mengaguk lalu duduk di sofa yang kosong , Fandi duduk di samping Gio .
" Maaf sebelumnya mungkin ini membuat mu kecewa tapi aku tidak bisa mempekerjakan kamu lagi " Didin menatap Fandi yang hanya terdiam " Kalau bisa fokus dulu sama pengobatan mu jika nanti kalau mau kembali lagi restoran ini terbuka untuk mu " Lanjutnya dengan pelan .
" Tapi bisakah saya menyelesaikan hari ini saja " Didin menatap Fandi ,tapi Gio menggeleng " Maaf ,Zul akan mengirimkan Gajimu juga bonusmu " Ucap Didin .
" Iya Bos , terimakasih sebelumnya ,ah iya bisa minta sesuatu jangan katakan apa pun pada intan ,saya mohon " Didin mengagukan kepalanya " saya tidak akan mengatakan apa pun ,aku janji " Ucap Didin.
" Maaf aku antar Gina dulu " Ucap Fandi .
" Tidak papa ,nanti kami kirim lewat Email " Jawab Gio memukul pelan pundak Fandi .
" Thanks ,kami balik dulu " pamit Fandi .
__ADS_1
" Iya " Jawab Mereka
"Minta tolong sama Dila dulu cari kan dokter yang terbaik untuk Gina " Ujar Didin menatap Gio .
" Iya,aku sudah mengirimkan pesan padanya setelah ini aku akan ke rumah sakit " Didin mengaguk paham .
" Kamu sudah mendapat kan pelayan untuk di rumah " Zul menatap Didin " Apa Amir belum bilang sama bos " Didin menggeleng " Katanya dia mau minta izin Pacarnya saja yang kerja ,dia di kota ini cari juga pekerjaan " Ucap Zul .
" Iya sudah nanti Sebentar pulang saya akan bicara dengan nya ' Ucap Didin .
Sedangkan di dalam mobil Fandi dan Gina hanya terdiam jika Fandi memikirkan tentang keadaan Gina ,lain halnya dengan Gina memikirkan bagaimana caranya dia bisa mendapat kan uang dan membeli obat karena semenjak dia bermasalah dengan Fandi dia tidak memakai sepersen pun uang dari Fandi dia hanya memberikan uang belanja pada bibi yang memang sudah ada bagiannya .
Hingga keduanya sampai di rumah pun hanya ada keheningan sampai mereka berada dalam kamar Fandi baru membuka suara .
" Bisa kita bicara " Gina mengaguk lalu duduk di sofa begitu juga Fandi .
" Kenapa Tidak bilang kalau kamu sakit " Tanya Fandi menatap Gina .
" Kakak sudah sibuk dengan pekerjaan nya ,Gina tidak ingin menambah pekerjaan Kaka lagi ,Gina baik² saja ....."
" Kamu tidak baik² saja Gina " Potong Fandi cepat .
" Gina akan rajin minum obat " Ucap Gina .
" Itu hanya sementara Gina menghilangkan rasa sakit yang kamu rasakan " Ujar Fandi .
" Setidaknya itu jauh lebih baik kak " Fandi menghela nafasnya panjang " Kita terapi " Putus Fandi .
" Tidak usah,Gina sudah banyak mengeluarkan uang kakak, belum lagi yang tiap bulan kakak mengirim uang ke kampung ,Gina baik² saja " Ujar Gina lembut .
Saat Fandi akan menjawab Ponsel Didin berdering membuatnya mengurungkan niatnya tapi saat melihat nama penelpon membuat Fandi terdiam .
" Gina mandi dulu kak " Ujar Gina memberikan ruang untuk Fandi berbicara , Fandi memejamkan matanya kuat lalu berdiri ke arah balkon mengakat panggilan nya .
Gina tidak akan menghalangi kakak ,itu janji Gina Uca punya dalam hati .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung terus Didin dan yang lainnya menjadi novel favorit kalian 🥰😘😘😘
Like
Koment
Vote
Jangan lupa hadiah bunganya dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1