
Kinan juga terus memanggil ibu dan ayahnya, dan itu membuat Joddy tak kuat menahan air matanya. Karena saat ini hanya mereka berdua, keluarganya belum datang.
"Mas, aku minta maaf. Aku sudah membuat kamu marah." Kinan sambil menahan rasa sakitnya, air matanya pun ikut mengalir.
"Iya sayang aku sudah maafkan kamu sayang. Kamu yang kuat! Please jangan buat aku takut, aku yakin kamu bisa!" Ucap Joddy.
Joddy sangat takut, karena kondisi istrinya sangat lemah. Apalagi di persalinan pertama, dengan usia kandungan belum mencukupi untuk melahirkan, masih kurang empat Minggu HPL nya.
Apalagi kondisi Kinan yang sempat tadi siang terpeleset dan hampir terjatuh, takut mempengaruhi kehamilannya.
Terdengar suara tangisan bayi, Joddy merasa hatinya bergetar saat mendengarnya. Bulir bening pun berhasil lolos dari matanya.
"Sayang, anak kita sudah lahir. Sekarang kita sudah menjadi orang tua." Joddy mengecup kening istrinya, Kinan tersenyum mendapat kecupan manis dari suaminya.
Namun kondisi Kinan justru semakin lemah, matanya pun perlahan tertutup. Joddy sangat ketakutan, karena kemungkinan butuh transfusi darah. Karena itulah yang di katakan dokter sebelum persalinan.
"Sayang. Buka mata kamu, please jangan buat aku takut!" Joddy menepuk pipi istrinya, terlihat panik.
Pasca persalinan, Kinan mengeluarkan banyak darah. Maka butuh darah untuk menyelamatkan nyawanya, Joddy hanya menuliskan setatusnya di aplikasi berwarna hijau, yang sedang membutuhkan darah.
Joddy di suruh oleh dokter untuk keluar, agar bisa menangani pasien. Sedangkan Erina dan Ferdian sudah menunggu di luar.
Ferdian dan Erina melihat wajah Joddy sangat mengkhawatirkan.
"Bagaimana kondisi Kinan?" tanya Erina.
"Kinan, tak sadarkan diri, setelah bayi nya keluar. Ia mengalami pendarahan, dan butuh transfusi darah," Joddy menjelaskan.
Tubuh Erina lemas seketika, mendengar cerita Joddy.
"Golongan darah apa yang di butuhkan?" tanya Ferdian
"Kinan golongan darahnya seperti ayah O," timpal Erina.
"Iya betul, golongan darah Kinan O," jawab Joddy.
Ada seorang perawat berlari membawa kantong darah, lalu menghampiri Joddy.
"Tuan, stok darah O, hanya ini. Kami kehabisan stok, kalau bisa kami butuh darah dengan golongan yang sama untuk pasien secepatnya!"
"Baik suster, saya akan ...." Joddy belum selesai bicara Ferdian sudah memotongnya.
"Golongan darah saya O. Ambil darah saya saja, buat adik saya di dalam!" Ferdian sudah berdiri di depan, sudah siap untuk transfusi darah.
Joddy dan Erina terkejut Ferdian yang mendonorkan darah untuk Kinan. Karena yang mereka tau, Ferdi sangat takut dengan jarum suntik.
"Kamu serius Ferdi, ingin mendonorkan darah. Bukankah kamu takut jarum?" Tanya Joddy.
"Untuk keadaan darurat, jangan ada rasa takut. Yang kita pikirkan keselamatan Kinan!" jelas Ferdian di angguki oleh istrinya.
__ADS_1
Joddy segera memeluk Ferdian, sebagai bentuk rasa terima kasih .
"Terima kasih kamu sudah mengorbankan rasa takutmu untuk Kinan." Ferdian mengangguk.
"Kalau begitu tuan bisa ikut saya!" Ajak perawat itu, Ferdian mengangguk.
Kurang lebih satu jam, Kinan di tangani oleh dokter di dalam ruangan. Ferdian dan Erina menunggu kondisi Kinan. Sedangkan Joddy tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan istrinya.
Dari kejauhan terlihat Noval, Bu Hesti, Asqia dan Azriel berlarian di lorong rumah sakit.
"Joddy bagaimana keadaan Kinan sekarang?" tanya Bu Hesti.
Joddy, Ferdian dan Erina menghampiri ibunya, lalu mencium tangan.
"Kinan masih di dalam di tangani Dokter dan suster,"
Tidak lamanya, dokter dan perawat keluar dari ruangan Kinan.
"Bagaimana Dok, keadaan istri saya?"
"Alhamdulillah, pasien berhasil kami selamatkan. Istri tuan juga sudah melewati masa kritisnya, jadi jangan khawatir!"
"Alhamdulillah." Ucap semua keluarga.
Setelah kepergian dokter, keluarga merasa lega mendengar kondisi Kinan yang berhasil melewati masa kritisnya.
"Ferdian, terima kasih atas donor darahnya. Kamu sudah menyelamatkan istriku." Joddy memeluk ferdi yang dia anggap seperti adiknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Semua keluarga menunggu di depan ruang tunggu.
"Ferdian, Erina. Lebih baik kalian ajak ibu dan yang lain pulang. Kasian pasti mereka lelah,"
"Lagian kalian punya anak yang masih kecil, dan butuh kalian. Sudah sana pulang, nanti kalian bisa kesini lagi! Lagian istri ku sudah baikan, jangan khawatir." Joddy menepuk pundak Ferdian..
"Iya kamu benar, nanti Zio dan Yuna mencari kami. Yasudah kalau begitu kami pulang ya?" pamit Ferdian, Joddy mengangguk.
"Ibu, Noval. Lebih baik kita pulang yuk! Kita bisa kesini lagi pagi-pagi! Azriel, kamu jua ajak istri kamu istirahat. Sepertinya Asqia sedang kurang sehat?" Ucap Erina menatap sang adik.
"Iya mbak, Qia sejak memang lagi kurang sehat. Tadi dia maksa untuk kesini,"
"Yasudah kalian istirahat aja. Apa kalian mau, kerumah kami dulu yang tidak terlalu jauh dari sini!" ajak Erina.
"Tapi ibu masih ingin di sini Rin?" timpal Bu Hesti.
"Bu. Biar Noval saja yang menunggu Kinan menemani Joddy di rumah sakit. Ibu istirahat aja, bukankah ibu tadi siang habis ke dokter!" kata Noval.
"Ya ampun ibu sakit? Yasudah ibu lebih baik pulang, dan ikut ke rumah kami. Biarkan Noval menemani Joddy!* kata Ferdian, dan Bu Hesti pun mengangguk
Kini Bu Hesti Qia dan suaminya. Mereka ikut pulang ke rumah Ferdian. Sedangkan Noval dan Joddy masih menunggu Kinan.
__ADS_1
Pukul 08.00 pagi.
Saat ini Joddy dan Noval berada di ruangan Kinan. Setelah mereka menjenguk bayi, yang berada di dalam inkubator.
Noval melihat raut wajah Joddy terlihat, seperti ada masalah.
"Kenapa bang? Kayanya kusut banget mukanya? Kan Kinan udah baik-baik aja?" tanya Noval.
"Gue cuma ngerasa bersalah sama adik loe Val. Kalau sampai kenapa-kenapa sama dia, gue gak akan maafin diri gue sendiri!"
"Kenapa elo nyalahin diri sendiri? Sebenarnya apa yang udah terjadi sih?" tanya Noval dengan penasaran.
Joddy menceritakan tentang kejadian yang kemarin kepada Noval.
"Ooh kaya gitu, udah lah bang, jangan di pikirin. Yang penting Kinan selamat, dan sekarang tunggu dia sadar. Lagian bukan kesalahan elo seutuhnya. Kecuali elo yang goda tuh cewek, sekarang juga gue bisa hajar elo!" jawab Noval penuh dengan penekanan, da ancaman.
Tapi Noval hanya sekedar menggertak saja. Dia tau Joddy itu sangat mencintai adiknya, Bucin berat seperti Ferdian.
Joddy terkekeh mendengar ancaman kakak iparnya.
"Mana mungkin, gue macem-macem. Kalau gue ngelirik cewe sedikit aja, Kinan udah melotot," Noval terkekeh mendengarnya.
Saat itu juga, mereka melihat tangan Kinan bergerak dan membuka matanya. Joddy merasa bahagia, istrinya mulai sadarkan diri.
"Sayang, Alhamdulillah kamu sudah sadar." Joddy mendekat ke arah istrinya, lalu mengecup keningnya.
"Dek, syukurlah kamu membuka mata kamu." Noval pun juga mengecup kening adiknya. "Sebentar ya, kakak panggilkan dokter untuk periksa kamu,"
Noval pun keluar ruangan untuk memanggil dokter, untuk memeriksa Kinan.
Joddy hanya memperhatikan istrinya saat di periksa oleh seorang dokter perempuan. Tangannya pun juga tak ingin terlepas dari sang istri.
Kinan dan Joddy saling menatap, ada wajah bersalah kepada mereka. Noval yang melihatnya mengerti, pasti ada yang ingin mereka bicarakan dari hati ke hati.
"Joddy, Kinan aku keluar dulu ya. Ingin mencari sarapan,"
"Iya Val, sekalian aku titip kopi ya!" jawab Joddy, Noval mengangguk.
Noval keluar dari ruangan adiknya, membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua. Kini hanya tinggal Kinan dan Joddy di dalam saling berpegangan tangan.
Bulir bening dari pelupuk mata Kinan berhasil lolos.
"Kamu kenapa hemm? Apa ada yang sakit?" tanya Joddy sambil menghapus air mata.
"Aku minta maaf Mas! Aku sudah membuat kamu marah!" jawab Kinan dengan matanya yang mengembun.
"Uuuusssttt ... jangan membahas itu di sini. Nanti kita bicarakan baik-baik di rumah. Sekarang yang terpenting kamu sehat dulu, kamu sudah berhasil membuatku takut, dan hampir gila. Jadi please jangan mengatakan apapun !" Joddy mengecup tangan Kinan.
Kinan mengangguk, lalu ia juga mengecup tangan sang suami. Joddy membelai lembut kepala sang istri, dan mereka berbaikan.
__ADS_1
Kini semua keluarga datang ke rumah sakit. Bahkan, bunda dan pak Hamzah juga ikut menjenguk Kinan dan bayi nya.
Bersambung ...