
Erina hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Asqia.
Ferdian yang melihat perdebatan antara Asqia dan Kinan, membuat keadaan menjadi panas.
"Cukup! Sekarang kamu boleh menginap di sini. Tapi aku peringatkan, kamu harus tetap hubungi ibu, agar dia tidak khawatir!" pinta Erina dan ke Asqia
"Kinan kamu antar dia ke kamarnya!" suruh Erina, ke adiknya.
"Iya kak," jawab Kinan.
Sedangkan Asqia tersenyum, saat di perbolehkan menginap oleh Kakaknya.
"Yasudah Kinan kamu antar Kakak kamu ke kamarnya!" kata Ferdian,
"Iya kak Ferdi," jawab Kinan
Lalu Ferdian merangkul pundak Erina. "Sekarang kita masuk ke kamar ya, kamu harus istirahat!" Erina pun mengangguk, lalu meninggalkan kedua adiknya.
Keesokan paginya.
Erina, Ferdian, Kinan dan juga Asqia. Mereka semua sedang menikmati sarapan pagi bersama, sedangkan Zio sedang di taman bersama pengasuhnya.
"Mas, kamu mau nambah lagi lauknya?" tanya Erina.
"Boleh sayang, tolong ambilkan ayam gorengnya ya!" jawab Ferdian.
Saat Erina ingin mengambilnya, ternyata Asqia sudah mengambilkan ayam goreng untuk Ferdian. Semuanya pun tercengang dengan apa yang di lakukan Qia.
__ADS_1
"Maaf ya Kak, aku hanya membantu mengambilkan saja. Soalnya aku lihat kamu kesusahan, untuk bangun mengambilkan ayam goreng suamimu. Mangkanya aku bantu, kamu gak marah kan?" tanya Qia dengan tersenyum.
Erina hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali duduk. Dirinya mencoba membuang pikiran buruk kepada Asqia.
"Terimakasih ya Qia," kata Ferdi seraya tersenyum.
"Sama-sama Kak," jawab Qia.
Sedangkan Kinan sendiri tak suka melihat sikap Kakaknya seperti itu kepada Ferdian. Karena dia tau kelakuan Qia seperti apa.
Selesai sarapan, Ferdian pun bersiap-siap berangkat, karena ia harus ke gudang untuk mengecek barang-barang yang akan di kirim siang nanti.
"Sayang, aku berangkat sekarang ya." Ferdian berdiri, menghampiri istrinya.
Erina pun berdiri lalu mencium tangan sang suami, lalu Ferdian mengecup kening istrinya.
"Iya Mas, kamu juga hati-hati ya berangkat nya!"
"Iya sayang," jawab Ferdian seraya tersenyum. Lalu Ferdi pun berlutut, menghadap perut istrinya yang sudah membuncit. "Sayang, kamu di dalam jangan nakal ya! Jangan buat bubu kelelahan, karena kamu terlalu aktif. Yayah sekarang kerja dulu !"
Setelah mengatakan itu, Ferdian mengecup perut istrinya, yang di mana Erina sedang hamil besar. Begitulah kebiasaan Ferdi ketika sebelum berangkat, belum lagi ketika Zio merengek meminta di temani bermain oleh ayahnya. Maka dia akan menuruti permintaan putranya tersebut.
Pemandangan itu, di lihat oleh kedua adik mereka. Kalau Kinan sudah terbiasa melihat kebucinan Ferdian ke Istrinya. Tetapi tidak dengan Asqia, yang terlihat tak menyukai keromantisan Erina dan suaminya.
"Kak Ferdian, boleh gak aku numpang di mobil kakak? Hanya sampai depan lampu merah sana, biar aku bisa naik bus dari sana," ucap Qia dengan menunjukan wajah memohon kepada Ferdian.
"Yasudah. Tapi maaf, hanya sampai lampu merah ujung sana saja ya. Soalnya aku harus kejar waktu untuk cek barang." Jawab Ferdian,dan Qia mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa, gak sama aku aja sih kak. Aku bisa antar kakak sampai sana!" timpal Kinan dengan sedikit ketus.
"Enggak aah, sama kamu yang ada jadi bertengkar. Aku malas, jika harus berdebat di jalan dengan kamu Kin!" Jawab Qia dengan ketus membuat Kinan mendengarnya langsung tersulut emosi.
"Yasudah Qia kamu di antar kak Ferdian dulu." Kata Erina, Asqia pun mengangguk, lalu meledek Kinan dengan menunjukkan lidahnya.
Ferdian dan Erina menggelengkan kepalanya, melihat sikap Kinan dan Qia yang selalu bertengkar.
Kini Asqia sudah duduk di dalam mobil Ferdian. Diam-diam Qia menatap kakak iparnya, Ferdi sendiri sebenarnya tau, namun dia tidak menggubrisnya, dan lebih fokus intuk mengendarai kendaraannya.
'Ternyata kak Ferdian itu lebih tampan dari Niko, bahkan lebih tampan dari Damar. Pantas saja Erina menjadi sombong sekarang sudah mendapatkan suami ganteng dan kaya raya.'
Mobil mereka pun akhirnya berhenti di tempat yang di pinta. Ferdian melihat ke arah samping membuat Qia tersenyum manis menatapnya.
"Sekarang sudah sampai, kamu bisa turun," senyum Qia pun memudar, dan melihat keliling, ternyata benar sudah sampai.
"Ohh. Sudah sampai ya? Kalau begitu terimakasih ya, sudah mengantar ku," ucap Qia dengan tersenyum manis.
"Hemm ..." jawab Ferdi dengan ekspresi datar dan menatap lurus ke depan.
Membuat Qia terlihat kesal, dengan jawaban dari Ferdian. Ia pun segera membuka mobil, dan langsung keluar dengan wajah cemberut.
Setelah Asqia keluar, Ferdian hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung menancapkan gas. Ferdi mengendarai mobilnya, lalu meninggalkan Qia yang masih berdiri di samping mobil.
Sedangkan Asqia masih tersenyum menyeringai melihat mobil Ferdian yang sudah semakin menjauh darinya. Entahlah dia memikirkan apa, hanya dia yang tau.
Bersambung....
__ADS_1