Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Melepaskan diri


__ADS_3

Hatinya merasa tersentuh dengan apa yang dirinya lihat saat ini. Seketika bulir bening pun berhasil lolos, di pelupuk matanya. Erina menatap pria yang selama ini dia kenal baik, ternyata menganggapnya selalu istimewa bahkan sudah mengaguminya sejak lama.


Ferdian pun menatap istrinya, terlihat matanya mengembun, segera menghapusnya dengan lembut. Erina hanya bisa tersenyum di perlakukan manis oleh suaminya.


"Kamu kenapa, heemm?" sambil menatap wajah istrinya, Erina hanya menggelengkan kepalanya, dan tersenyum.


"Aku gak papa, Mas! Aku hanya merasa specleess, dengan apa yang aku liat. Ternyata kamu masih menyimpan semua barang-barang ini," jelas Erina.


Ferdian tersenyum mendengarnya, dengan menggenggam tangan Erina, ia pun mengecupnya.


"Bukan hanya barang-barang pemberian kamu aja, yang ku simpan. Tetapi rasa kagum ku ke kamu tak kan pernah terhapus."


Ferdian menyentuh pipi istrinya, dengan lembut. "Bahkan hatiku selalu menyimpan nama kamu. Beberapa kali aku mencoba menghapus semua tentang kamu, nyatanya semuanya itu sangat sulit."


"Kenapa? apa kamu tidak pernah berusaha mencari gadis lain?"


"Sudah! Aku sempat memiliki hubungan dengan gadis lain, bahkan ada satu wanita yang sempat di jodohkan oleh ayahku. Tapi nyatanya aku hanya menyakiti hati mereka semua," jelas Ferdian, membuat Erina bingung harus bahagia atau merasa bersalah.


"Maaf!" Erina menundukkan wajahnya.


"Loh, kenapa kamu minta maaf. Ini bukan salah kamu!" Ferdian mengerti, perasaan istrinya. "Sayang, lihat aku sini!" sambil mengangkat dagu Erina.


"Dengarkan aku ya! Aku menyimpan ini, tidak bermaksud apa-apa. Aku juga tidak berharap hubungan kamu dengan dia berakhir, atau menunggu status janda kamu. Jadi kamu jangan punya pikiran buruk ya, dengan ucapan ku tadi! Aku hanya sedikit menghargai pemberian kamu, aku ingin semua ini tersimpan dengan rapih."


Ferdian tidak ingin Erina mempunyai pikiran buruk tentang dirinya selama ini. Padahal dirinya juga sempat menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi rasanya


"Sudahlah jangan di bahas lagi! Intinya aku masih menyimpan barang-barang ini. Niatnya nanti, setelah ku menikah dengan gadis lain, aku akan membuang atau membakar semuanya. Namun nyatanya, tuhan berkehendak lain. Ternyata kamulah yang menjadi istriku, jadi akan ku simpan kembali."


Erina pun menyandarkan kepalanya di dada bidang Ferdian, dirinya sangat bahagia di cintai dengan pria seperti suaminya ini.


Sebulan sudah Erina dan Ferdian mengarungi kehidupan rumah tangga bersama. Bahkan Kinan juga sudah menjalin hubungan dengan Joddy.


Flashback


Kinan yang awalnya tidak menyukai Joddy. Sejak ayahnya meninggal dunia, dirinya menjadi pribadi yang pendiam, bahkan selalu menyendiri, ketika merasa rindu dengan beliau.


Joddy merasa tak tega dengan sikap Kinan yang terlihat murung, sejak kepergian ayahnya. Perlahan dirinya mendekati gadis tersebut dan mencoba menghiburnya.


Awalnya Joddy berpikir Kinan, gadis yang jutek. Namun nyatanya dia gadis periang.

__ADS_1


Sebelumnya dirinya sempat beberapa kali mengobrol, namun tak terlalu akrab. Hanya sebatas partner kerja. Seiring berjalannya waktu, ternyata dirinya mengenal sosok Kinan yang selalu ceria, bahkan ada keistimewaan yang membuatnya tertarik kepada adik ipar sepupunya itu.


Namun semenjak kepergian pak Bagas, membuat sikap Kinan berubah, menjadi murung. Dari sana Joddy mencoba menghiburnya, dan ternyata adik dari Erina itu, memang butuh teman untuk di ajaknya bicara.


Semakin lama, kedekatan mereka membuat Joddy nyaman, dan menaruh hati kepada Kinan. Dirinya mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada wanita yang membuatnya jatuh hati.


Alangkah terkejutnya kalau ternyata Kinan menerima perasaannya, bertapa bahagia cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Flashback of.


Sekarang hubungan Kinan dan Joddy menginjak 3 Minggu lamanya.


🍃🍃🍃


Waktu terus terus berganti, saat ini Ferdian menantikan di mana adalah hari bahagia yaitu acara resepsi pernikahan dirinya dengan Erina.


Sebenarnya Ferdian dan Erina menolak untuk di gelar acara resepsi. Namun ini permintaan bunda Nabila dan pak Hamzah, yang menginginkan pernikahan mereka di selenggarakan di sebuah Gedung yang mereka sudah siapkan.


Sampai tiba waktunya.


Hari ini, Ferdian dan Erina bersanding di atas pelaminan untuk kedua kalinya. Namun kali ini dirinya duduk bersama Ferdi yang sangat baik kepadanya dan juga putranya.


Sebuah tangan yang kekar menggenggam tangan Erina, ia pun tersenyum menatap suaminya.


"Kamu baik-baik aja sayang?" tanyanya menatap wajah istrinya yang seketika pucat dan berkeringat.


"Aku baik-baik aja Mas," jawab Erina.


Ferdian pun tersenyum, dirinya yakin kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja. Karena banyak tamu undangan, Ferdi pun tak memperpanjang pertanyaan kepada Erina.


Ketika waktu mengganti gaun pengantin, sedangkan Ferdian menemui teman yang dirinya kenal.


"Saya ingin bicara dengan Erina, saya mohon kalian keluar sebentar!"


Tiba-tiba saja, di ruang rias pengantin, ada seorang laki-laki menghampiri Erina, dan memaksa untuk perias keluar.


"Mas Damar," ucap Erina.


"Tidak bisa, pengantin wanita sedang berias," jawab si perias menggunakan hijab.

__ADS_1


"Saya ingin bicara dengan istri saya, jika tidak saya akan acak-acak tempat ini! ancam Damar.


"Kamu apa-apaan. Jangan mbak, saya mohon kalian jangan pergi dari sini!" Erina terlihat ketakutan, saat melihat Damar kini berada di hadapannya dengan mata yang merah.


Karena merasa takut, dua wanita perias pun pergi keluar, dan hanya tinggal Erina dengan Damar di ruangan itu.


Perlahan Damar melangkah maju mendekati mantan istrinya. Sedangkan Erina mundur, saat pria di hadapannya mendekat dengan menatapnya tanpa berkedip.


Erina merasa takut dengan pria di hadapannya itu, tatapannya terlihat marah.


"Mau apa kamu kesini? Jangan mendekat aku mohon!" Erina benar-benar merasa takut, keringat pun sudah membasahi wajahnya.


"Aku hanya rindu dengan kamu sayang, aku ingin melihat kamu. Selama ini aku mencari kamu. Aku tak terima, jika kamu menikah dengan Ferdian!" wajah Damar terlihat marah.


"Kamu tidak punya hak, menghalangi aku menikah dengan Ferdian. Dia laki-laki baik untukku sekaligus ayah buat Zio!" jelas Erina dengan sedikit keberanian.


Erina melangkah mundur, dan ternyata tak ada celah untuk menghindari Damar. Kini dirinya berada di ujung tembok tertahan oleh tangan pria di hadapannya.


Kaki Erina tak sanggup lagi untuk berdiri tegak, dengkulnya terasa lemas.


"Jujur aku masih sangat mencintai kamu Rin. Aku tidak bisa hidup dengan dia, aku ingin kamu kembali bersama ku seperti dulu." Kata Damar, dengan tatapan yang sendu. Seakan rasa rindunya sudah tak dapat di bendung lagi kepada Erina.


"Kamu bicara apa Damar, kamu mabuk seperti nya?" Erina terlihat takut dengan kondisi mantan suaminya sekarang.


"Aku tidak mabuk sayang, aku hanya terus memikirkan diri kamu." Damar menyentuh wajah Erina.


Bruuugh!


Erina mendorong Damar, karena dia ingin memeluk dirinya. Namun nyatanya, pria itu hanya bergeser satu langkah saja.


"Jangan sentuh aku Damar, aku sudah menjadi istri Ferdian. Sebaiknya kamu pergi dari sini!" usir Erina, namun nyatanya laki-laki itu semakin mendekat.


Greep!


Damar justru memeluk Erina erat-erat, membuatnya berontak dan berusaha melepaskan diri.


Erina terkejut, Damar semakin mempererat pelukannya, membuatnya kehabisan tenaga untuk mendorongnya. Dirinya hanya bisa pasrah, dan berharap ada seseorang yang menolongnya dari luar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2