
Dengan rasa sayang dan bahagianya, Ferdian langsung membawa istrinya kedalam pelukannya.
Dua Minggu kemudian, Erina, Kinan mereka mengunjungi rumah almarhum pak Bagas. Mereka juga berziarah ke makam ayahnya.
Kinan, Erina, Joddy dan Ferdian mereka berziarah ke makam ayah mereka.Di depan tanah bergunduk, dengan nama batu nisan bertuliskan Bagaskara. Erina menyentuh makam sang ayah. Ada rasa sedih yang saat ini ia rasakan.
Erina membacakan ayat Alquran untuk ayahnya, tak lupa ia menaburkan bunga di atas makam ayahnya.
"Andaikan ayah masih ada, aku yakin ayah akan bahagia. Saat ini aku sedang mengandung buah cinta ku dengan mas Ferdian, adik untuk Zio cucu kesayangan ayah." Ada bulir bening yang mengalir di sudut matanya.
Erina tak kuasa menahan Isak tangisnya jika mengingat pria yang selalu melindungi dirinya dulu, dan cinta pertamanya.
"Sayang." Ferdian menggenggam tangan Erina, untuk menguatkan.
Erina pun mengangguk, dan tersenyum. Sedangkan Kinan menatap batu nisan bertuliskan ayahnya.
Kinan tidak seperti kakaknya yang mudah mengeluarkan air mata. Dirinya lebih kuat di banding dengan Erina, tetapi jika sudah bersangkutan dengan ayahnya, bulir bening pun kini berhasil lolos, dan sulit untuk di tahan.
"Kinan sangat rindu dengan ayah. Kangen setiap kali ayah selalu mengajak ku mancing. Padahal ayah selalu melarang ku untuk ikut, tapi aku kekeh dan menemani ayah." Di sana lagi-lagi Joddy melihat kekasihnya kembali sedih.
'Cewek yang selalu di kenal galak, ceria, dan tak pernah bersedih. Dua kali aku melihat Kinan bersedih seperti ini, dan itu di depan makam ayahnya.'
Joddy menggenggam tangan kekasihnya, dan Kinan pun tersenyum kepada pria yang sekarang menemaninya.
"Ayah, kami pulang ya. Doa kami selalu untuk mu. Jangan khawatirkan aku lagi yah, ada Mas Ferdian, menantu pilihan ayah yang selalu melindungi diriku dan juga Zio," ucap Erina menyentuh batu nisan pak Bagas.
"Iya Pak, aku akan menyayangi dan melindungi Erina dan Zio. Terimakasih selama aku mengenal pak Bagas. Bapak sosok yang baik dan selalu menolongku, aku senang bisa kenal anda," ucap Ferdian.
__ADS_1
Kini mereka berempat berjalan meninggalkan makam pak Bagas, dan melanjutkan untuk pulang.
Saat sampai di rumah, Erina dan Kinan di buat bingung, karena ada keributan.
"Ada apa ini!" teriak Kinan melihat ibunya sedang memeluk Zio.
"Bubu !" teriak Zio memanggil nama ibunya.
Erina segera menghampiri putranya, dan melihat ternyata di sana ada Bu Nurma ibunya Damar dan Melody.
"Ini dia yang orangnya, yang saya cari!" kata Bu Nurma dengan emosi menunjuk ke arah Erina.
PLAAK!
Erina mendapatkan sebuah tamparan keras dari Bu Nurma, bahkan darah segar pun keluar dari sudut bibirnya.
Noval dan Kinan terkejut dengan apa yang Bu Nurma lakukan.
Dengan cepat Kinan segera mendorong Bu Nurma Hinga terjatuh ke tanah.
"Woy! Bu tua, berani-beraninya anda menyentuh kakak saya. Gak anak gak orang tua kelakuan sama aja!" hardik Kinan menunjuk ke arah Bu Nurma.
Pandangan Erina tiba-tiba saja sedikit buram. Kalau tidak ada Noval sudah pasti dirinya akan jatuh.
"Bubu !" teriak Zio dengan menangis melihat ibunya terluka.
Bu Hesti segera membawa Zio masuk kedalam, sedangkan Noval masih menjaga Erina.
__ADS_1
Zio masih menangis memanggil ibunya.
Ferdian segera berlari menghampiri istrinya, dan alangkah terkejutnya melihat istrinya mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya.
"Ada apa ini? Siapa yang melakukan ini pada istri saya!" kata Ferdian dengan tatapan marah, dan menatap dua perempuan yang berada di hadapan Kinan.
"Nenek sihir ini kak, yang melakukan itu ke ka Erin!" jawab Kinan dengan menunjuk ke arah Bu Nurma.
"Ada masalah apa kalian sampai menyentuh istri saya?" tanya Ferdian dengan tatapan membunuh, membuat Melody dan Bu Nurma bergidik ngeri.
"Kamu suami barunya!" tunjuk Bu Nurma memberanikan dirinya. "Dia itu wanita tak tau diri! Tega-teganya memasukkan Damar ke dalam sel !"
"Bukan Erina, tetapi saya lah yang melakukan itu ke laki-laki yang sudah berani melecehkan istri saya, bahkan berniat ingin membunuhnya!" jawab Ferdi dengan menunjukkan wajah marahnya.
Melody dan Bu Nurma terkejut mendengarnya. "Enggak, gak mungkin anak saya melakukan itu ke wanita rendah seperti Erina!"
"Hei Bu tua hati-hati kalau bicara. Istri saya bukan wanita rendah seperti yang kamu katakan! Dengarkan saya baik-baik saya akan membawa kalian ke dalam penjara menyusul Damar di sana, karena sudah membuat Erina terluka!" Ancam Ferdian.
"Tidak mungkin suamiku melakukan itu ke Erina. Mungkin dia yang sudah merayu Damar, untuk kembali kepadanya." Kata Melody dengan menunjuk Erina.
Kinan tak terima Kakaknya di bilang seperti itu, segera memukul tangan Melody dengan kasar, agar tidak menunjuk ke arah Erina.
"Terserah apa yang mau kalian katakan, yang jelas semua bukti itu ada di kantor polisi. Kasus Damar juga sudah di beri tau kepada Zainal anak pertama kamu Bu Nurma!"
Bu Nurma terkejut mendengar, kalau putra pertamanya sudah mengetahui.
"Bahkan dia setuju dengan Damar di jebloskan ke dalam penjara. Jika kalian ingin ikut dengannya, saya bisa menyuruh asisten saya untuk mengurus itu semuanya. Atas apa yang ibu lakukan ke istri saya!" ancam Ferdian.
__ADS_1
Erina melihat wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu, menggelengkan kepalanya. Sikap dan rasa benci kepadanya tak pernah berubah, dirinya begitu sangat tidak menyukainya sampai seperti itu.