
Tanpa Erina sadari, Ferdian masih berada di depan pintu kamarnya. Mendengar istrinya menangis, dan itu membuatnya sakit, dan ikut menangis.
Berbeda dengan Erina, saat ini Kinan terdiam. Joddy nampak bingung, jika kekasih sudah berdiam diri.
Joddy memperhatikan, sesekali Kinan menghapus air matanya.
"Aku gak enak dengan kak Erina dan suaminya. Karena kakak ku mereka bertengkar, aku takut ka Erin marah besar dengan kak Ferdian!"
"Jangan berpikir sejauh itu. Kita berdoa aja, semoga hubungan mereka membaik." Sambil menyentuh tangan Kinan.
Asqia sendiri ia sudah diantar Riko pulang, itu semuanya atas perintah Ferdian dan bunda Nabila.
Sedangkan di ruangan lain, Erina berjauhan dengan Ferdian. Ferdi di kamarnya seorang diri, terasa sepi karena istrinya berada di kamar Zio.
Erina tertidur di kamar Zio, entah kenap tengah malam ia terbangun dari tidurnya. dirinya merasa ada yang kurang malam ini, Erin pun mencoba berpikir.
Saat teringat, kalau dirinya tidak akan bisa tidur jika perutnya belum disentuh oleh suaminya. Mungkin itu bawaan dari cabang bayi, yang selalu ingin bermanja-manja dengan ayahnya.
Namun untuk saat ini Erina nampak bingung, karena dirinya sedang mendiami suaminya, atas kejadian tadi sore.
Erina pun mengambil handphonenya, dan ternyata banyak pesan masuk juga di sana, dari suaminya.
"Sayang, kamu kesini dong. Aku ingin kamu di samping aku,"
"Sayang, aku minta maaf! Jujur aku merasa kesepian, gak ada kamu di sini,"
__ADS_1
Ternyata Ferdian mengirim banyak pesan kepada Erina. Namun tak sedikitpun di baca olehnya. Semua itu bukan karena sengaja, melainkan sejak tadi dirinya tertidur.
Namun ketika Erina membaca lagi pesan chat dari suaminya, matanya langsung terbuka.
"Sayang. Please! Aku mohon kamu ke sini, aku sakit. Kepalaku terasa berat, dan aku mual terus,"
Tanpa pikir panjang Erina segera berjalan menuju kamarnya, dan melihat jika suaminya sedang tertidur menggunakan selimut.
Ketika tangannya menyentuh kening Ferdian. Erina terkejut karena suhu tubuhnya sangat panas.
"Ya Allah, panas banget." Ucap Erina saat tangannya menyentuh dahi suaminya.
Saat tangan hendak menjauh, tangan Ferdian justru menahannya.
Erina melihat wajah suaminya dengan mata yang terpejam, namun bibir terus mengatakan jangan pergi.
Tangannya bergetar, bibirnya terus bergumam menyebutkan namanya. Dan itu membuat Erina merasa tak tega mendengarnya.
"Erina, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"
"Mas, aku gak akan tinggalkan kamu. Aku masih disini kok." Sambil membelai lembut rambut suaminya.
"Sekarang aku mau ambil minum dulu ya, Mas. Nanti aku kesini lagi, sama kamu." Erina menggenggam tangan sang suaminya.
Ferdian pun mengangguk, dengan menatap wajah istrinya lekat-lekat.
__ADS_1
"Jangan lama-lama ya. Aku ingin kamu kesini secepatnya!" Erina mengangguk
Erina pun berjalan meninggalkan Ferdian yang terlihat lemah. Ia keluar kamar menuju dapur.
Erina menyalahkan kompor elektrik, ia ingin membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Namun saat itu juga Bu Yeti datang, karena mendengar seseorang berkutat di dapur.
"Bu Erin. Sedang buat apa di dapur malam-malam begini?" tanya Bu Yeti.
"Ini Bu, aku buatkan minum hangat untuk mas Ferdian. Dia seperti menggigil, aku tidak tega melihatnya,"
"Kalau begitu, biar ibu yang buatkan minuman untuk Pak Ferdi. Bu Erin tunggu saja di kursi?"
"Tapi Bu, pasti ibu kan harusnya istirahat? Kenapa tiba-tiba di sini?"
"Kan kedengaran. Ya sudah kalau begitu biar ibu yang buatkan minuman untuk den Ferdiansyah," Erina pun mengangguk.
Saat membuat minuman, Bu Yeti bercerita.
"Mba Erin, sebelumnya saya minta maaf. Karena saya mendengar perdebatkan antara mba Erin, den Ferdi dan juga non Qia, semalam,"
Erina yang mendengarnya nampak malu, dan hanya menundukkan kepalanya saja.
Karena pertengkaran mereka terdengar oleh Bu Yeti dan yang lainnya.
Bersambung...
__ADS_1