Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Membentak untuk pertama kalinya


__ADS_3

Ferdian pun tersenyum lalu meninggalkan anak dan istrinya, untuk membeli minuman. Sedangkan Erina dan Zio duduk di kursi.


Zio menemani ibunya sambil bergandengan tangan dan bernyanyi. Membuat para pengunjung Mall memperhatikan bocah laki-laki yang terlihat lucu. Suaranya yang belum begitu jelas, membuat hati tergelitik bagi yang mendengarnya.


"Titak- titak di dinding, iam-iam meyayap. Datan seetol namuk, ap yayu di tantap."


Setiap habis bernyanyi Zio bertepuk tangan, Erina hanya tersenyum mendengarnya putranya bernyanyi.


Sedangkan Ferdian saat ini sedang membelikan minuman untuk anak dan istrinya, saat selesai membayar dan hendak pergi. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya, saat di lihat ternyata seorang wanita yang dia kenal.


"Silvia," gadis itu tersenyum manis menghampiri Ferdian, dengan jalan berlenggak lenggok.


"Hai Ferdi, akhirnya kita bertemu juga di sini." Sapa gadis itu, yang langsung memberikan cipika-cipiki kepada Ferdian, dan membuatnya tertegun.


Sedangkan dari kejauhan Erina tercengang melihat apa yang saat ini di lihatnya. Dirinya berusaha membuang pikiran buruknya.


Ferdian sendiri meskipun begitu juga memperhatikan raut wajah istrinya yang beralih ke arah lain.


"Jangan seperti ini Via, kita jadi pusat perhatian. Lagian aku bersama istriku aku tak ingin dia salah paham." Jelas Ferdian, yang berusaha menghindar karena gadis itu saat ini memeluknya.


Silvia tentunya terlihat kesal, atas penolakan Ferdian.


Silviana Larasati


Silvia atau biasa dipanggil Via, dia adalah teman Ferdian saat tinggal bersama ayahnya dan ibu sambungnya dulu. Mereka sempat ingin di nikahi namun Ferdi menolaknya, karena dirinya sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.


Selain itu juga, Ferdi saat itu sudah memiliki kekasih. Meskipun begitu hatinya masih mengingat tentang Erina.


☘️☘️☘️☘️


"Yayah," panggil Zio membuat Ferdian tercengang, langsung menoleh ke arah yang memanggilnya.


"Eeh ... anak Yayah, sini Nak!" kata Ferdian lalu menggendong Zio.


Ferdi pun menarik tangan istrinya, untuk mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Via, kenalkan ini keluarga ku. Ini Zio putraku, dan ini Erina istri kesayangan ku." Ucap Ferdian memperkenalkan ke Silviana.


"Ow ini istri kamu. Aku pikir kamu dengan Keisha, gadis berambut panjang itu. Sampai kamu menolak aku! Ternyata pilihan kamu dengan yang berhijab sepertinya!" sindir Via, memberikan senyuman sinis ke Erina.


Ferdian merasa tak enak hati kepada istrinya saat ini, apalagi raut wajahnya mulai berubah menjadi diam.


"Kalau begitu aku duluan ya Via. Soalnya masih ada urusan lain," pamit Ferdian membawa anak dan istrinya menjauh dari Silviana.


Gadis itu menatap kepergian Ferdian dengan senyuman menyeringai.


Sedangkan saat ini Ferdian hendak mengajak anak dan istrinya untuk makan. Namun Erina menolak, entah kenapa tiba-tiba rasanya dirinya tidak berselera untuk melakukan apapun.


Akhirnya Ferdian memutuskan untuk kembali pulang. Selama di mobil Erina juga hanya diam, tidak seperti tadi pagi selalu menempel dan manja kepadanya.


Entah kenapa sejak melihat kedekatan Ferdian dengan wanita bernama Via, dirinya kembali mengingat kejadian bersama Damar dahulu. Dirinya di kenalkan untuk pertama kalinya dengan Melody.


"Sayang, kamu beneran gak mau makan?" tanya Ferdian menggenggam tangan Erina, yang menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya saja.


Saat mobil mereka masuk ke halaman rumah, terlihat Zio yang tertidur di pelukan ibunya. Ferdian segera turun dari mobil, lalu mengambil anak itu dari gedongan istrinya.


Saat tangannya ingin menggandeng istrinya, Erina menolaknya secara halus. Seketika Ferdian menatap wanita di sebelahnya dengan tanda tanya.


Kini Ferdian sudah berada di kamarnya, dan melihat istrinya sedang duduk di pinggir tempat tidur, dengan melamun.


"Sayang," sapa Ferdian duduk di sebelah istrinya, dan Erina menunjukan senyuman kecil.


"Aku minta maaf ya, atas kejadian tadi membuat kamu tidak nyaman dengan adanya Via dan kata-katanya." Kata Ferdian menggenggam tangan Erina.


"Jujur aku gak tau, kenapa hatiku tiba-tiba saja tidak suka melihat kejadian tadi. Apalagi saat dia memelukmu dan memberikan kecupan manis ke kamu," Erina mengatakan apa yang dirasakannya, membuat Ferdian tersenyum mendengarnya.


"Kamu cemburu?" tanya Ferdian, lalu memeluk istrinya.


"Mungkin, tapi entah kenapa aku merasa seperti aku sangat tidak menyukainya, dan ..." Erina menggantungkan pembicaraannya.


"Dan apa? Kenapa kamu tidak melanjutkan pembicaraannya?" tanya Ferdian dengan menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Aku kembali mengingat kejadian, yang di mana mas Damar memperkenalkan Melody kepadaku sebagai sahabatnya." Erina mengatakan itu dengan rasa tak enak, dirinya tau suaminya tidak suka mendengar nama mantannya di tengah-tengah mereka.


"Kamu mengingat saat bersama dia, dan kamu berpikir aku sama dengan pria itu! Yang mengkhianati istrinya demi wanita lain, aku gak nyangka Rin sama kamu. Bisa berpikiran seperti itu!" Ferdian menggelengkan kepalanya.


Erina nampak bingung akhir-akhir ini suaminya selalu tersinggung jika dirinya menyebutkan nama Damar di hadapannya.


"Bukan seperti itu Mas, aku hanya teringat kejadian itu ...."


Pembicaraan Erina sudah terpotong oleh Ferdian.


"Lalu kamu menyamakan aku dengan dia! Aku sudah bilang aku gak suka kamu menyebutkan namanya di hadapanku, tapi kamu selalu menyebutkan dia!" Ferdian terlihat kesal, dan sedikit membentak Erina.


"Kamu tau gak si Rin! Aku awalnya biasa saja dengan Damar, tetapi saat aku melihat video itu, dan bertapa rakusnya dia menikmati yang kini sudah menjadi milikku. Dari situ aku membencinya, dan kamu selalu menyebutkan nama di hadapan ku!" Bentak Ferdian, sampai Erina tercengang mendengarnya.


Untuk pertama kalinya Ferdian membentaknya saat emosi seperti ini. Setelah itu Ferdi hendak meninggalkan dirinya ke luar balkon kamarnya.


Seketika kepala Erina terasa berat, dan dirinya berusaha menahan rasa sakitnya.


"Harusnya sejak awal kamu mengerti, kalau kamu itu menikahi seorang wanita yang pernah gagal dalam rumah tangganya. Seorang ibu yang mempunyai masa-masa kelam dalam hidupnya!" dengan sekuat tenaga Erina berusaha mengatakan itu.


"Yang saat ini aku lakukan, sedang berusaha menutup luka lamaku bersamanya, dan membuka lembar baru bersamamu. Saat ini aku sangat bahagia di cintai dengan pria yang baik penyayang dan penyabar seperti kamu. Tapi nyatanya aku bukan istri yang baik, yang bisa menghargai kamu sebagai suamiku." Erina mengatakan itu dengan derai air matanya.


Hati Ferdian mendengar istrinya mengatakan seperti, merasa bersalah. Hatinya merasa tercubit setiap ucapan yang Erina sampaikan.


Seketika pandangan Erina gelap, tubuhnya juga merasa sangat lemas. Ketika dirinya ingin berpegangan pada sesuatu nyatanya ia pun terjatuh ke lantai.


Prank!


Terdengar suara benda berjatuhan, Ferdian pun menoleh ke arah belakang. Alangkah terkejutnya dirinya melihat istrinya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Ferdian dengan cepat segera menghampiri Erina.


"Ya ampun sayang bangun." Ferdian menepuk pipi Erina, namun tak ada respon darinya.


Ferdian melihat istrinya dengan mata yang sudah basah, karena merasa bersalah kepada Erina.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Ferdian segera membawa istrinya ke rumah sakit. Dirinya takut terjadi sesuatu kepada Erina, apalagi dengan kondisinya yang terlihat lemah, dan suhu tubuhnya juga sangat tinggi. Dan membuatnya benar-benar sangat khawatir.


Bersambung ...


__ADS_2