
Erina melihat wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya itu, menggelengkan kepalanya. Sikap dan rasa benci kepadanya tak pernah berubah, dirinya begitu sangat tidak menyukainya sampai seperti itu.
Bu Nurma dan Melody saling menatap, dan pergaulannya begitu saja. Karena takut dengan ancaman yang di berikan oleh Ferdian.
Tiba-tiba lutut Erina terasa lemas, dan membuat tubuhnya menjadi tumbang. Noval terkejut melihat kakaknya sudah tak sadarkan diri.
"Kakak."
Ferdian menoleh dan terkejut melihat istrinya sudah tak sadarkan diri. Ferdi segera menghampiri Erina, dan mengambil alih memeganginya.
"Sayang." Ferdian menepuk pipi Erina, namun nyatanya mata istrinya enggan terbuka.
Ferdian merasa khawatir dengan kondisi istrinya, apalagi yang saat ini sedang berbadan dua.
"Kak bawa ke kamar dulu aja!" kata Kinan, dan Ferdian mengangguk.
Ferdian segera mengangkat istrinya, dan membawanya ke dalam kamar.
Kini Erina sudah berada di dalam kamar, dengan Zio yang tak ingin jauh dari ibunya. Ferdian memeluk putranya, dan menenangkannya. Meskipun dirinya juga sangat cemas dengan kondisi istrinya.
"Bubu, bangun," panggil Ferdian menggenggam tangan istrinya, dan di kecupnya.
Bu Hesti membantu memberikan minyak angin, agar Erina mencium wanginya agar tersadar. "Erina, bangun Nak." beliau juga khawatir dengan kondisi putrinya.
Sedangkan Kinan dan Noval memijat kakinya, mungkin dengan di pijat bisa mengurangi rasa lemasnya.
"Kak, bangun dong! Kita semuanya khawatir dengan Kakak." Gumam Kinan.
__ADS_1
Kening Erina berkerut, terlihat menunjukkan dirinya mulai sadarkan diri.
Ferdian dan keluarganya tersenyum saat melihat mata Erina terbuka secara perlahan.
"Bubu," kata Ferdian dan Zio.
"Kakak," ucap Noval dan Kinan.
"Erina, syukurlah kamu sudah sadar Nak." Kata Bu Hesti tersenyum menyentuh pundak putrinya.
"Bubu," suara Zio membuat dirinya menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Terlihat anak itu tersenyum dengan hidung memerah, karena menangis terlalu lama. Erina pun tersenyum lalu menyentuh wajah dua pria yang sangat ia cintai.
Saat satu tangannya menyentuh wajah Ferdian, ia menahan tangan istrinya tetap di pipinya, lalu di kecupnya tangan wanita yang membuatnya cemas sejak tadi.
"Kamu baik-baik aja ' kan? Kalau kamu merasakan sesuatu, ayo kita ke rumah sakit untuk di periksa!" ajak Ferdian dengan perasaan cemasnya.
Lalu Erina menatap Bu Hesti, lalu menyentuh tangannya.
"Bu kenapa mereka bisa datang kesini?" tanya Erina.
"Ibu juga tidak tau Nak, tadi setelah Qia berangkat kerja, ibu menemani Zio main di teras. Kebetulan saat itu Noval juga sedang di dalam, mengambil sesuatu untuk ibu. Namun tiba-tiba mereka datang menghampiri Zio dan menarik paksa," cerita Bu Hesti, ada rasa takut di benak Erina saat mendengarnya.
"Rin, sebenarnya mereka tadi tak terima jika Damar di masukkan ke dalam sel. Yang membuat ibu khawatir, dia menarik paksa Zio untuk dia bawa pergi sebagai pengganti putranya dan tinggal bersama mereka di sana." Erina terkejut mendengar, dan matanya pun mulai mengembun.
"Enggak. Gak boleh, anakku tidak boleh tinggal bersama mereka. Cukup aku yang menderita tinggal bersama mereka, aku tak ingin Zio merasakan hal yang sama." Ada rasa takut yang saat ini Erina rasakan.
__ADS_1
"Sayang." Ferdian menyentuh istrinya agar tenang.
"Mas aku tidak ingin Zio pergi." Erina menyentuh tangan suaminya, Ferdian mengangguk dan mengerti maksud dari istrinya.
"Mas," bulir bening pun selalu mengalir dari mata indah Erina, yang membuat Ferdi tak tega melihatnya.
"Bubu jangan nangis." Zio ikut menangis melihat ibunya bersedih.
Kinan segera menggendong Zio, agar tenang.
"Ssssttt ..." Ferdian meletakkan jari telunjuknya di bibir Istrinya, lalu ia menghapus air matanya.
"Aku pinta sekarang kamu tenang dulu! Dengarkan aku ya sayang! Aku tidak akan membiarkan Zio pergi dari kita, atau ada orang lain sampai menyentuh kamu dan jagoan kita. Selamanya kita akan bersama-sama, sekarang aku minta kamu jangan panik!" Erina mendengarkan apa yang suaminya katakan.
"Sekarang Joddy sedang mengurus dua orang yang sudah melakukan hal yang kasar ke kamu tadi. Jadi kamu jangan khawatir. Kalau perlu aku akan memperketat pengawasan rumah kita, atau seseorang yang selalu mengawali kamu dan Zio agar tidak ada yang menyentuh atau mencelakai kalian."
"Aku sangat menyayangi kamu dan Zio. Apalagi kondisi kamu sekarang sedang mengandung anak ku, aku tidak ingin sampai kamu kenapa-kenapa, termasuk jagoan aku." Mendengar itu, Erina sedikit merasa lega.
Karena selama ini dia mengenal sosok Ferdian, bukan laki-laki yang hanya bisa mengeluarkan kata-kata saja. Erina mengenal sosok suaminya yang selalu memegang setiap perkataan dan membuktikan itu semuanya.
Apalagi dirinya tau kalau suaminya itu adalah tipe suami yang posesif.
"Sekarang aku minta kamu tenang ya! Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Aku sayang bukan hanya dengan kamu, tapi juga Zio dan keluarga kamu." Kata Ferdian dengan sungguh-sungguh.
Erina mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, Ferdian pun segera memeluknya.
Zio yang melihatnya minta turun dan ikut ingin gabung dengan orang tuanya. Ferdian pun tersenyum, lalu segera memeluknya.
__ADS_1
Pastinya Bu Hesti, dan Kinan juga merasa bahagia melihat mereka. Noval pun juga ikut merasakan kebahagiaan, dan merasa senang melihat kakaknya di cintai dengan pria baik seperti Ferdian.
Bersambung ...