
Erina yang mendengarnya nampak malu, dan hanya menundukkan kepalanya saja.
Karena pertengkaran mereka terdengar oleh Bu Yeti dan yang lainnya.
"Maaf ya Bu Yeti!"
"Mba Erina kenapa minta maaf ke ibu. Harusnya saya yang mengatakan maaf ke mba,"
"Kenapa ibu yang minta maaf?" tanya Erina.
"Iya sebenarnya tadi itu den Ferdi minta dibuatkan kopi sama ibu. Tetapi pas saya mau antar, neng Qia memaksa biar dia yang antar ke ruangan suami mba Erin." Kata Bu Yeti menundukkan kepalanya, merasa tak enak hati.
Erina masih setia mendengarkan apa yang Bu Yeti ceritkan.
"Lalu, saya dengar terjadi keributan di ruang kerja den Ferdi. Lalu ibu juga mendengar suami mba Erina dengan nada tinggi seperti sedang marah,"
"Marah Bu?" tanya Erina dan bu Yeti mengangguk. "Marah kenapa memangnya?"
"Ibu gak tau mbak Erin," jawab Bu Yeti, lalu kemudian melanjutkan ceritanya.
"Lalu, sekitar satu atau dua jam. Saat saya sedang bersih-bersih, saya melihat neng Qia berjalan mengendap-endap menuju kamarnya mbak Erin, menggunakan pakaian tipis warna hitam. Lalu saya sempat tegur dia, tapi dia justru marah dengan saya, bahkan mengancam saya," cerita Bu Yeti membuat Erina tercengang mendengarnya.
"Astaghfirullah, Qia," Erina merasa tak enak hati dengan Bu Yeti. " Maafkan adik saya ya Bu."
"Tidak apa-apa mna Erin. Saya menceritakan ini, ingin memberitahu kalau semuanya itu bukanlah kesalahan den Ferdian. Maaf bukan saya membela majikan saya, tetapi saya ingin memberi tau aja kebenaran nya."
__ADS_1
"Mba Erina, den Ferdian sangat sayang sekali dengan mba Erin dan Nak Zio. Dia juga bilang, kalau dia akan mempertahankan rumah tangganya dan akan melindungi keluarganya." Ucap Bu Yeti menyentuh pundak majikannya.
Matanya Erina pun mengembun, dirinya sudah emosi, tanpa mendengar penjelasan dari suaminya.
Bu Yeti menyentuh tangan Erina dan tersenyum. "Mba Erin, minuman untuk den Ferdian sudah jadi,"
"Terimakasih banyak ya Bu , kalau begitu aku mengantarkan minuman ini untuk mas Ferdian." Bu Yeti pun mengangguk.
Erina berjalan kembali ke kamar nya, melihat di mana suaminya hendak masuk ke dalam tandas. Ia pun segera meletakkan gelasnya di atas meja, dan mendekati Ferdian.
"Mas, kamu mau ke tandas?" Erina sudah membantu suaminya yang saat ini berada di sebelahnya.
"Aku ingin muntah rasanya. Kepalaku juga pusing banget."
"Aku bantu kamu untuk ke dalam ya Mas, kamu pucat banget soalnya." Ferdian pun mengangguk.
Erina membantu memijat tengkuk leher suaminya, yang terlihat lemas. Setelah berhenti muntah-muntah, Ferdian pun kembali ke kamarnya dan bersandar di dipan tempat tidur.
"Minum wedang jahe ini dulu Mas! Agar kamu baikan," Ferdian pun mengangguk, lalu membantunya untuk minum.
Setelah selesai Erina meletakkan minuman itu kembali di atas meja. Ferdian terus menatap wajah istrinya, saat sibuk mengurus dirinya sejak tadi.
"Sayang," panggil Ferdi, dan Erina pun menoleh. " Sudah malam, bahkan sudah jatuh pagi. Kamu pasti lelah, kamu juga butuh istirahat. Sekarang aku minta kamu kesini, di samping aku!" Sambil menepuk di sebelahnya dengan senyuman manisnya, meskipun dengan bibir pucat.
Erina pun mengangguk, lalu berjalan menuju tempat tidur. Ferdian membereskan posisi bantal untuk istrinya agak nyaman.
__ADS_1
"Terimakasih Mas,"
"Iya sayang, sama-sama. Aku ingin peluk kamu, boleh?" tanya Ferdian, menatap wajah istrinya.
Erina pun mengangguk, dan Ferdian pun tersenyum bahagia.
Kini Erina sudah berada dalam dekapan suaminya, yang selalu membuatnya nyaman. Apalagi Ferdian yang selalu mengusap bagian perutnya, yang di mana, sepertinya cabang bayi mereka menyukainya.
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku sudah membuat kamu terluka, bahkan menangis. Jujur aku sangat mengkhawatirkan kondisi kamu dan kehamilan kamu," ungkap Ferdian, membuat bulir bening pun berhasil lolos dari mata nya.
Ferdian merasa tubuh istrinya bergetar, dan saat ia lihat ternyata Erina sedang menangis.
"Sayang, kamu kenapa menangis. Maaf aku selalu membuat kamu sedih." Ferdian menatap wajah istrinya lekat-lekat.
Kimi wajah kedua saling berhadapan.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sebenarnya semua itu adalah kesalahan adikku."
"Sayang, kenapa kamu yang minta maaf? Semuanya itu kesalahan Qia, bukan kamu,"
"Tetapi tetap dia sudah jahat dengan kita."
Ferdian menghapus air mata Erina, lalu di kecup keningnya dengan rasa sayang.
"Ssssssttt ... jangan katakan apapun. Sudah malam aku ingin kita istirahat. Membahas ini, besok aja ya!" pesan Ferdian, dan Erina mengangguk.
__ADS_1
Karena tak ingin membahas tentang kejadian siang tadi, Ferdian meminta untuk menghentikan pembicaraan nya kepada istrinya. bKarena yang saat ini mereka butuhkan adalah beristirahat.
Bersambung....