Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Sambutan Hangat


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, Erina Kinan Zio dan juga Ferdian kembali ke Tangerang. Kerumah mereka, pak Fajar dan Bu Yeni menyambut kedatangan bocah yang mereka rindukan beberapa hari ini.


Kinan masuk kedalam kamar, begitu juga dengan Erina dan Ferdian. Zio yang tertidur kini di letakkan di atas kasur, terlihat wajah lelah bocah itu yang begitu lelap.


Ferdian masih mengamati wajah istrinya, sebenarnya ada yang ingin di bicarakan kepada Erina. Namun dirinya takut kalau wanita di hadapannya itu menolak.


"Sayang," Erina pun menoleh saat namanya di panggil Ferdian.


"Iya ada apa Mas," jawab Erina dengan senyuman manisnya, membuat Ferdian tertegun mendengarnya.


"Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Ferdian, membuat Erina menahan senyumnya. "Tolong ulangi lagi panggilannya! Aku ingin mendengar nya kembali!"


"Tidak ada pengulangan! Karena ini bukan pelajaran, yang harus di ulang!" ucap Erina menahan senyumnya, membuat Ferdi merasa gemas.


"Kalau aku ingin minta kamu mengulang panggilan itu gimana!" pinta Ferdi dengan senyumnya, karena semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Erina, baru pertama ini dirinya mendengar panggilan itu.


Erina tersenyum malu saat ini. Karena saat ini Ferdian terus menatap wajahnya dengan senyumannya. Membuat Erin tersipu malu, dan menjadi salah tingkah.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Aku malu." Erina menunduk dengan bibir tersenyum.


Ferdian mengangkat dagu Erina untuk menatap wajahnya, menggunakan jarinya. Terlihat pipi istrinya yang bersemu merah.


"Selama ini, kamu gak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Kamu selalu memanggilku dengan nama saja dan Kakak. Sekarang setatus kita sudah menjadi pasangan suami-istri, aku ingin mendengar kamu memanggil dengan spesial!"


Erina pun tersenyum, melihat wajah Ferdian terlihat memohon, agar dirinya memanggil dengan panggilan spesial.


"Iya Mas Ferdian, ayah Ferdi." Ucap Erina mengulum senyumnya.


"Masyallah." Ferdian tersenyum di kala Erina mengatakan Mas. "Terimakasih sayang,"


Cup!


Ferdian mengecup bibir Istrinya dengan singkat, membuat Erina tercengang mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


"Aku gemas sama kamu. Maaf aku merebutnya dari kamu," dengan tersenyum jahil nya.


Erina pun tersenyum malu, terlihat pipinya bersemu kemerahan.

__ADS_1


"Rin, ada yang ingin aku katakan ke kamu?"


"Apa, Mas," mendengar panggilan Erina membuat dirinya kembali tersenyum.


"Aku ingin mengajak kamu dan Zio kerumah orang tuaku. Apa kamu mau?" tanya Ferdian, membuat senyuman di bibir Istrinya seketika memudar.


Ferdian melihat perubahan raut wajah Erina, lalu dirinya menggenggam tangan.


"Tenang aja, bunda dan ayahku, baik ko orangnya. Kan kemarin kamu sudah melihat waktu orang tuaku VC sama kamu. Mereka baik sama kamu dan Zio"


Ferdian kembali meyakinkan kembali, kalau Bundanya itu wanita yang baik.


"Bunda ingin bertemu loh dengan menantu dan cucu nya!"


Merasa tak tega menatap wajah suami nya, Erina pun menjawab nya. "Iya aku mau menemui keluarga kamu!"


Alhasil Ferdian tersenyum bahagia.


"Terimakasih sayang, kamu jangan khawatir Bunda baik ko!" Erina pun tersenyum.


Mereka menyambut kedatangan Ferdian mengajak anak istrinya, dengan senyuman hangat.


"Assalamu'alaikum Ayah, bunda," ucap Ferdian mengucapkan salam.


"Waalaikumsallam ... Alhamdulillah kalian datang." Sambut Bunda Nabila, tersenyum ramah, menyambut anak cucu dan menantunya.


Erina mencium tangan Bu Nabila, lalu mendapatkan pelukan hangat dari beliau.


"Selamat datang menantu Bunda. Ternyata ini gadis yang selalu menggangu hati Ferdian, ternyata kamu pintar pilih istri Nak." Ucap Bu Nabila menggoda Erina, membuatnya tersenyum malu.


Ferdian tersenyum mendengar bunda Nabila menggodanya.


Erina juga mencium tangan pak Hamzah.


"Ternyata benar yang dikatakan Joddy, kalau Ferdi menyukai seorang wanita yang cantik seperti kamu Bun," timpal pak Hamzah, membuat Ferdian menggaruk kepalanya yang tak gatal, saat Erina menatapnya.


Bukan hanya ayah dan bunda saja yang menyambutnya, saudara Ferdian pun juga bersikap baik dan ramah kepada Erina.

__ADS_1


"Hallo ganteng, siapa namanya?" tanya pak Hamzah, menyapa Zio yang berada di gendongannya Ferdian.


Zio yang berada di gendongan Ferdian menatap wajahnya. Ferdi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seakan itu sebagai bentuk kode untuk mereka berdua.


"Cium tangan dulu sama Opa, dan Oma! Lalu kamu sebutkan siapa namamu!" suruh Ferdian, dan Zio mengikuti apa yang di katakan pria yang menggendong dirinya.


"Namatu Eio ( namaku Ezio), Oma, Opa." jawab anak itu membuat semuanya tertawa mendengarnya.


"Oow namanya Zio," Anak itu mengangguk. "Umur kamu sekarang berapa tahun Nak? Kalau Opa boleh tau,"


"Uwa aun," jawabnya dengan menunjukan dua jarinya, dengan pintarnya.


Alhasil semua yang melihatnya tertawa, terlihat Zio begitu sangat menggemaskan. Erina melihat putranya menjadi pusat perhatian keluarga di sana, dirinya merasa tenang dan sedikit lega, tidak cemas seperti saat pertama datang.


"Zio, boleh gak Opa ingin gendong kamu?" tanya nya lagi, Zio menatap Ferdian dan juga Erina.


Erina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, memperbolehkan untuk menggendongnya.


Zio pun mengangguk, membuat pak Hamzah tertawa mendapatkan jawabannya.


"Beneran Zio mau di gendong Opa?" anak itu mengangguk. "Masyallah pintar sekali kamu Nak. Meminta izin ke Mama dan Papa lebih dulu ,"


Zio nampak bingung dengan yang di katakan pak Hamzah, lalu menggelengkan kepalanya. "Butan Mama, papa! Api, Bubu, Yaya ( Bukan mama papa ! Tapi Bubu dan ayah) !" protesnya, yang salah menyebutkan panggilan orang tuanya.


Suara bawel anak itu, yang protes membuat semua keluarga tertawa mendengarnya. Ferdian dan Erina hanya terkekeh mendengar suara Zio yang membuat orang tuanya terlihat bahagia.


"Masyallah, maaf ya Zio! Opa gak tau, kalau kamu manggilnya Bubu dan Yaya." Anak itu hanya tersenyum.


Bunda Nabila tertawa melihat tingkah Zio terlihat menggemaskan. Apalagi anak itu, dekat sekali dengan putranya, yang sekarang menjadi ayah sambungnya.


Kini Zio berada dalam gendongan pak Hamzah, lalu di bawa masuk kedalam rumahnya.


Sedangkan Erina merasa bahagia atas sambutan hangat dari keluarga Ferdian. Apalagi melihat mereka tertawa karena terhibur dengan adanya Zio.


Ferdian sendiri sejak tadi tak sedikitpun melepaskan rangkulannya dari pinggang Erina. Serta memberikan senyuman agar istrinya tidak merasakan ketakutan saat berada di rumah orang tuanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2