
Keesokan harinya.
Kinan sudah kembali beraktivitas bekerja. Sedangkan Erina terlihat mengantuk, setelah suaminya meminta melanjutkan pertandingan yang semalam mereka lakukan.
Selepas memasak, Erina berbaring ditempat tidurnya. Sedangkan Ferdian mengajak Zio bermain ke rumah pak Fajar di sebelah rumahnya.
Erina merasa tenang karena bisa beristirahat, baru juga satu jam dirinya tertidur pulas. Sekarang di kejutkan dengan adanya tangan yang mendekapnya dari belakang, dan tentunya membuatnya segera membuka matanya.
"Mas," Erina membalikkan badannya, melihat wajah suaminya yang kini sedang tersenyum manis kepadanya.
Erina melihat tidak ada putranya di dekatnya. "Zio kemana Mas?"
"Eemm ... Jagoannya di ajak sama Indri dan Fahmi jalan-jalan." Jawab Ferdian dengan menunjang kepalanya menggunakan tangan kanan, lalu menatap wajah istrinya terlihat menggemaskan saat bangun tidur.
"Jalan-jalan dengan Indri, dan Fahmi?" tanya Erina kembali, dan Ferdian mengangguk. "Kok gak bilang sama aku, mau ngajak Zio?"
"Bagaimana mau bilang, kamu nya aja pulas banget tidurnya. Aku mengambil pakaian untuk Zio aja kamu gak tau." Ferdian dengan mencebikkan bibirnya meledek istrinya, membuat Erina tersenyum melihatnya.
"Lagian kamu jangan khawatir, putra ku di temani om dan bibi kamu juga. Mereka sekeluarga jalan-jalan, kapan lagi coba Zio ikut, dan mereka terlihat bahagia. Mangkanya tadi aku siapin semuanya untuk jagoan kita," jelas Ferdian.
"Jadi bibi, dan om ikut juga?" Ferdian mengangguk, dan tersenyum penuh maksud.
Erina bergidik melihat tatapan dari suaminya. "Terus, kamu mau ngapain senyum-senyum begitu Mas?"
"Rumah sepi, suasana juga mendukung," bisik Ferdian, hati Erina mulai sedikit was-was.
"Lalu? Memang kenapa kalau sepi?" tanya Erina, berlaga tak mengerti maksud dari suaminya.
"Kita main pertandingan lagi yuk!" bisik Ferdian, membuat mata Erina terbelalak.
"Lagi?" tanya Erina Ferdi mengangguk, sambil menahan tawanya.
Karena melihat ekspresi wajah istrinya yang terkejut mendengar ajakannya.
"Tapi aku mau lanjutin kerjaan yang ku tinggal." Erina berusaha menghindar.
Ferdian menahan tangan istrinya, dengan senyuman menyeringai.
"Sudahlah kerjaan rumah biar aku yang handle , kerjakan urusan satu ini. Aku ingin memintanya kembali! Anggap aja bayar hutang selama seminggu, belum lagi bonusnya. Aku juga bakal kasih diskon ke kamu nantinya."
Hadeeuh Ferdi dia ngajak perang apa mau dagang sih. Kenapa pakai bonus dan diskon segala, rasanya pengen Othor cubit deh ginjalnya.Wkwkwkw....
Erina pun pasrah, karena toh percuma kalau menolak. Pasti dirinya akan terus merengek meminta haknya itu.
"Bagaimana?" tanya Ferdian dengan tersenyum nakalnya. Karena posisinya saat ini sedang mengungkung tubuh Erina di bawahnya, bahkan jarak mereka sangatlah dekat.
__ADS_1
Erina pun mengangguk, namun dengan bibir manyun. Ferdian mengecupnya, karena merasa gemas.
"Masa bibirnya manyun begitu, seperti sedang menggoda aku loh!" goda Ferdi.
Erina pun akhirnya tersenyum, dan itu membuat Ferdian kembali di buat gemas dengan senyuman istrinya.
"Ya udah yuk! Jangan lama-lama, kepala bawah ku sudah berdenyut rasanya." Erina terkejut mendengar suaminya mengatakan seperti itu.
"Aaaaa ...."Erina terkejut dengan serangan dadakan yang di berikan oleh suaminya.
Bahkan Ferdian sudah mulai aksinya memulai pertandingan entah sudah yang ke berapa kalinya.
Author pusing, sendiri.
🍃🍃🍃
Kini pertandingan antara Erina dan Ferdian berakhir, pastinya sudah tau siapa yang menunjukkan wajah kemenangan.
Sedangkan Ferdian menunggu kedatangan istrinya, yang sedang berada di dalam kamar mandi.
Ceklak!
Pintu terbuka, Ferdian menyambut dengan senyuman manisnya. Terlihat wajah Erina yang segar, dengan rambutnya yang basah. Rasanya ingin sekali dirinya menerkam istrinya.
Namun rasanya tak tega, karena terlihat bibir Istrinya yang cemberut. Jika dirinya menerkamnya, sudah pasti dirinya yang akan di terkam balik.
"Huuuciiimm!"
Erina tiba-tiba bersin. Ferdian segera menghampiri istrinya.
"Huaacim."
Erina kembali bersin, terlihat hidungnya yang merah.
"Kamu flu sayang?" tanya Ferdian menyentuh kening istrinya.
"Bagaimana gak flu, aku mandi sudah tiga kali, seperti minum obat!" gumam Erina dengan bibir manyun.
Ferdian tersenyum mendengarnya.
"Iya maaf, entar libur dulu deh." Sambil menyentuh pipinya. "Pantesan tadi sedikit hangat loh?"
"Iya kepala aku tadi memang agak hangat, mangkanya aku tiduran aja," jawab Erina.
Ferdian justru terkekeh mendengarnya. "Tapi yang ku maksud bukan kepala kamu,"
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Lobang belut kamu," celetuk Ferdian, dengan tertawa, dan itu membuat Erina tercengang mendengarnya.
"Ya ampun Mas. Iiihhh ... omongan kamu itu, bener-bener ya!" Erina memberikan hadiah sebuah cubitan ke pinggang suaminya.
"Kiyaaaa ... aaawww ... aaaawww ... sakit sayang!" teriak Ferdian, sambil meringis.
"Biarin! Sukurin, ini balesan omongan kamu itu gak di ayak dulu!" omel Erina, dengan gemasnya. Tangannya masih berada di pinggang suaminya, memberikan hadiah cubitan, lalu di lepaskan.
"Iiiissshhh panas euy, cubitan kamu." Ferdian mengusap pinggangnya sendiri, yang terasa sakit.
"Tapi aku gak bohong sayang! Memang a*u kamu agak hangat," jelas Ferdian, membuat pipi Erina terasa hangat karena malu.
Erina masih menatap wajah suaminya, dengan tatapan tajam. Ferdian yang melihatnya bergidik ngeri. Namun ketika istrinya menoleh ke arah lain dengan rasa kesalnya, justru Ferdi cekikikan.
Setelah pertandingan, dan perdebatan sepasang pasutri. Ferdian kini sedang mengerjakan tugas istrinya, yaitu membereskan rumah, nyuci piring, nyapu ngepel. Namun dirinya melakukan itu dengan wajah semangat dan bahagia.
Sedangkan Erina saat ini berada di dalam kamarnya, sambil tersenyum. Memperhatikan suaminya mengerjakan pekerjaan rumah, dengan semangat empat lima.
"Huuuffhh ... selesai juga semuanya." Ferdian duduk di samping istrinya, dengan menyandarkan kepalanya, di bahu Erina.
"Cape?" sindir Erina, dengan tersenyum.
"Enggak capek kok! Bahkan kalau kamu ngajak bertanding lagi, aku masih kuat." Goda Ferdi, mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Hehehe ... bercanda sayang." jawab Ferdian dengan cekikikan. "Kamu lapar gak? Kita makan keluar yuk!"
"Makan apa sih Mas?"
"Kayanya makan mie ayam, atau bakso beranak enak nih!" ajak Ferdian. "Mumpung jagoannya keluar, anggap aja kita pacaran,"
Erina tersenyum mendengarnya. "Memang kemarin, kita gak pacaran?" sindirnya.
"Pacaran sih. Cuma kan kemarin kita ngajak buntut. Nah mumpung sekarang Zio lagi di ajak om dan bibi, ya kita bisa berduaan dong! Lagian cuma makan bakso aja kok!"
Erina nampak berpikir, membenarkan apa yang suaminya katakan. Selama ini mereka jarang berduaan, karena memang Zio selalu mencari Ferdian, dirinya pun juga tak keberatan dengan ada anaknya.
"Yasudah yuk! Sekarang aku ganti pakaian, dulu ya?" Ferdian mengangguk.
"Aku juga mau mandi dulu, keringatan gak enak." Erina mengangguk.
Erina mengganti pakaian, dan berias diri. Karena untuk pertama kalinya, dirinya jalan berdua saja dengan Ferdian.
Entahlah, Erina merasa berbeda sekali kehidupannya setelah menikah dengan Ferdian. Dirinya merasa bahagia dan tenang jika bersama pria yang kini menjadi suaminya.
__ADS_1
Tidak seperti bersama Damar, hatinya merasa tak bebas. Bahkan untuk tertawa merasa bahagia saja, rasanya tak nyaman. Apalagi jika ibu mertuanya ada di rumah, semuanya terasa dingin dan monokrom Tak ada warna menghiasi hari-harinya.
Bersambung....