Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Masa lalu Ferdian


__ADS_3

Tommy mengangguk, saat mendengarkan cerita Ferdian.


Setelah kepulangan Tommy, Ferdian kembali masuk ke dalam kamarnya, untuk beristirahat, dan Erina ikut menemani suaminya.


"Mas,"


"Hemm. Kenapa sayang," jawab Ferdian.


"Dokter Tommy itu teman kamu di SMP ya?"


"Bukan hanya itu, dia juga temanku kalau di rumah. Rumah kami tidak jauh, dan dia juga usianya di atas ku lima tahun. Bisa di bilang, dia itu abang-abangan aku," jawab Ferdian, dan Erina mengangguk.


"Pantas aja, dia suka sekali ngeledek kamu," ucap Erina dengan terkekeh.


Ferdian pun ikut tertawa, karena memang sebenarnya Tommy itu orangnya sangat homoris.


"Dia memang seperti itu, kalau udah sama dia, siap- siap aja emosi kita kepancing. Meskipun begitu, dia teman yang tak pernah lupa dengan sahabatnya," jelas Ferdian, dengan tersenyum saat menceritakan tentang Tommy.


"Dia juga punya rasa solidaritas yang cukup besar. Buktinya setelah dia pindah dengan istrinya, dan sukses menjadi dokter, dia gak pernah lupa dengan teman-temannya,"


"Hebat dong kalau begitu, dia gak lupa sama teman-temannya. Sekarang kan jarang banget orang seperti itu. Udah sukses, mereka pura-pura lupa dengan orang-orang di sekitar, "


"Tapi kalau Tommy gak seperti itu. Justru yang lebih sering berkumpul dengan teman-teman yang lainnya. Gak sering banget sih, tapi pasti dia sempetin waktunya untuk ke sana. Karena rumah orangtuanya juga berada di sana, anggap aja dia pulkam,"


Hanya di ruangan itulah tempat favorit mereka berdua berbagai cerita, memadu kasih, dan memecahkan masalah mereka.

__ADS_1


🌙


🌙


🌙


🌙


Ketika malam harinya, kondisi Ferdian sudah sedikit membaik. Ia terbangun saat waktu menunjukkan pukul dua belas malam.


Ferdian duduk di kursi, di balkon kamarnya, menatap langit malam, yang terlihat gelap. Dirinya teringat seseorang yang sangatlah berarti baginya.


Erina yang sedang tertidur, menyentuh tempat tidur di sebelahnya kosong. Saat di lihat, suaminya tak ada di sana. Dirinya segera melihat keberadaan Ferdian.


"Apa mas Ferdi di sana? Ini sudah malam, kenapa dia berada di luar?"


Erina turun dari tempat tidurnya, dan benar saja ia melihat suaminya sedang berada di sana.


Erina pun berjalan menghampiri suaminya, yang saat ini sedang termenung.


"Mas," panggil Erina.


Mendengar namanya di sebut, Ferdian menoleh ke sumber suara. "Loh sayang kamu kok di sini?"


"Yang seharusnya bertanya itu aku Mas? Kenapa kamu berada di luar, sedangkan kamu lagi kurang sehat?"

__ADS_1


Ferdian tersenyum. "Iya, tiba-tiba aku terbangun. Aku keluar dan duduk di sini, aku teringat dengan seseorang yang pernah menjadi orang spesial di hidupku,"


Mendengar itu, seketika raut wajah Erina berubah. Ferdian menggenggam tangan istrinya, lalu di kecupnya.


"Saat ini aku sedang merindukan dia, sudah lama sekali dia pergi. Sosok yang aku pernah cintai,"


'Maksud, Mas Ferdi apa? Kenapa dia mengatakan seperti ini kepada ku. Siapa orang yang membuatnya rindu? Kok tega dia bilang ke aku seperti itu?'


Tangan Erina yang sebelah terkepal dengan erat, dengan raut wajah sedikit kesal.


"Kamu ingin tau gak? Siapa orangnya?" tanya Ferdian.


Tiba-tiba saja tangan Erina terlepas dari genggaman Ferdian, dan berdiri membelakanginya.


"Maaf Mas, aku sedang tidak ingin mendengarkan seseorang yang berarti buat kamu dari masalalu kamu itu!" jawab Erina dengan ketus, dan itu membuat Ferdian tercengang mendengarnya.


Ferdian tersadar kalau istrinya saat ini sudah salah paham kepadanya.


"Aku mau masuk kedalam, udara di luar sini terasa dingin." Ucap Erina melangkah masuk ke kamarnya.


Ferdian pun segera menyusul istrinya, lalu menyentuh tangan Erina, dan menahannya.


Erina segera menghapus air matanya, dengan posisi masih membelakangi suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2