Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Berdoa untuk Erina


__ADS_3

Sebenarnya Joddy sendiri nampak tak tega melihat istrinya menangis apalagi dengan kondisi tangan istrinya terpasang infus, dan wajahnya yang pucat.


***


Joddy pun membawa istrinya kedalam pelukannya. Terdengar suara isak tangis, yang membuat hatinya sakit saat mendengarnya.


"Huuuuuu ... hiks ... hiks ... Mas kamu kemana? Kenapa lama kembalinya? Kamu dan kak Ferdian baik-baik aja kan." Kinan semakin mempererat pelukannya.


Joddy yang mendengar istrinya mengatakan seperti itu, membuatnya ikut menitikkan air mata.


Untuk pertama kalinya, ada yang menangisi dirinya. Sudah lama, ia tak mendengar suara seseorang sangat merindukan dirinya sampai seperti ini. Selain ibu dan ayahnya, yang kini sudah tiada.


"Alhamdulillah sayang, aku dan Ferdian baik-baik aja. Maaf aku sudah membuat kamu khawatir, dan membuat kamu menunggu lama." Joddy mengecup kepala istrinya.


Akhirnya Joddy meneteskan air matanya, saat mengatakan itu. Kinan mengangkat kepalanya, dan menatap suaminya. Terlihat mata sang suami memerah, karena menangis.


Kinan pun mengulur kan tangannya untuk menghapus air mata sang suami. Joddy tersenyum dengan sikap istrinya, lalu menahan tangan Kinan, dan di kecupnya.


"Maafkan aku ya, meninggalkan kamu saat kondisi kamu sakit. Tapi aku tak bisa meninggalkan tugas, untuk mendampingi kakak ipar kamu bertugas." Ucap Joddy mengecup tangan istrinya kembali, dengan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Enggak papa Mas. Melihat kamu di sini, dengan kondisi kamu sehat aku sangat bahagia dan bersyukur,"


"Aku baik-baik aja sayang. Aku juga terkejut saat Noval menceritakan tentang kejadian yang membuat kamu dan Erina sampai seperti ini,"


"Tapi kamu jangan khawatir, aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa dalang dari kejadian ini. Sampai membuat kamu dan Erina masuk ke rumah sakit. Yang terpenting sekarang kesehatan kamu dan kakak kamu dulu," jelas Joddy, dengan senyuman hangatnya.


Joddy kembali menyentuh lembut pipi istrinya. "Kamu sakit apa sayang. Kenapa pakai infus ini segala?"


"Aku sudah dua hari ini, tidak masuk makanan. Setiap makan, aku selalu mual, kepalaku juga sakit. Kata dokter aku harus butuh banyak cairan, agar aku tidak lemas," jelas Kinan.


"Ya ampun istri ku kasian banget sih? Hemm ...."


Kinan tersenyum lalu menyentuh tangan sang suami, dan di arahkan untuk menyentuh perutnya.


"Enggak, perut aku gak sakit. Aku cuma ingin beri tau kamu, kalau di sini ada sesuatu yang pasti akan membuat kamu merasa bahagia," ucap Kinan dengan tersenyum.


"Maksud kamu?" tanya Joddy mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud dari ucapan istrinya.


"Aku sedang hamil. Itu yang menyebabkan aku sampai sakit seperti ini. Semuanya karena Dede utun di sini." Menyentuh perutnya.

__ADS_1


Joddy tertegun mendengarnya. "Kamu_ _ kamu gak berbohong kan sayang?" Kinan menggelengkan kepalanya.


"Kamu hamil?" Kinan mengangguk.


Joddy pun sujud syukur saat mendengar kabar bahagia, kalau istrinya sedang hamil. Kemudian ia segera memeluk istrinya.


"Ya ampun sayang. Aku benar-benar sangat bahagia mendengarnya. Aku tidak sendirian lagi, aku memiliki keturunan." Joddy memeluk istrinya.


Memang sudah lama , Joddy ingin sekali memiliki keluarga. Karena selama ini, dirinya selalu sendirian, hanya keluarga Ferdian yang ia punya.


Balik ke Ferdian.


Ferdian terlihat cemas dan begitu sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Namun ia tak menunjukkan itu, dirinya berusaha tenang.


Namun saat bunda Nabila datang, Ferdian memeluknya. Lali menangis dalam pelukan sang bunda, bertapa khawatirnya dengan istrinya saat ini.


"Kamu jangan panik sayang, kamu harus berusaha tenang. Kita harus berdoa, agar anak dan istri kamu selamat dan sehat." Ferdian mengangguk.


"Iya bunda." Ferdian segera menghapus air matanya dan kembali tenang.

__ADS_1


Bunda Nabila selalu menemani putra, dan besannya agar tenang. Tak henti-hentinya Ferdian terus berdoa untuk istrinya yang sedang berjuang di dalam sana.


Bersambung ....


__ADS_2