
Pak Bagas tersenyum melihat putri bungsunya yang selalu ceria itu. Namun dalam hatinya, beliau mengamini ucapan Kinan.
Flashback of.
Joddy masih menatap wajah Kinan, yang masih termenung, dan enggan menjawab pertanyaannya.
"Tetapi apa?" tanya Joddy, menatap Kinan dengan serius.
"Sebenarnya aku sangat bahagia, dengan hubungan kita, yang sebentar lagi akan menuju pelaminan. Tetapi ada yang kurang bagiku, yaitu ayahku. Andaikan dia masih ada, mungkin aku akan lebih bahagia. Aku sangat ingin dia menyaksikan pernikahan ku nanti, tetapi kini beliau tidak ada di sini." Seketika bulir bening pun berhasil lolos di pelupuk mata Kinan, dan segera ia hapus.
Joddy pun mengerti, maksud dari Kinan. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Apalagi dirinya sudah kehilangan keduanya.
"Sebenarnya, aku pun juga merasa sedih. Apalagi aku sudah tidak memiliki siapapun, hanya om Hamzah lah, yang ku punya," seketika, Kinan menoleh ke arah Joddy.
"Aku pun juga berharap, kalau papa mama dan adikku hadir di pernikahan ku. Namun apalah daya, kecelakaan itu merenggut mereka semua dariku. Terkadang aku sedih, karena sangat merindukan mereka, namun aku berusaha terus kuat jika aku ingin terus menjalankan kehidupanku,"
Kinan pun ikut merasakan apa yang di rasakan Joddy.
Kinan pun menggenggam tangan pria di sampingnya, dan Joddy pun tersenyum menatap kekasihnya.
"Kamu jangan sedih, karena bukan hanya kamu yang merasakan kehilangan. Aku pun juga sama, maka dari itu kita harus saling menguatkan. Aku janji, aku akan selalu ada untukmu karena aku sangat mencintai kamu Kinan." Sambil mengecup tangannya.
"Terimakasih, aku yakin kamu laki-laki baik, dan sayang sama aku," Kinan memberikan senyuman manis kepada Joddy.
__ADS_1
Dengan gemasnya, Joddy pun mencubit pipi Kinan yang cubby, karena sangat menggemaskan baginya.
Sedangkan Ferdian dan Erina, yang masih berada di rumah bunda. Mereka asik memperhatikan Zio yang asyik bermain dengan Tantri, adik Ferdi yang masih duduk di bangku SMA.
"Kak, si Zio lucu banget sih? Kamu gemesin tau gak." Ucap Tantri, yang saat ini sedang menggendong keponakannya.
Erina dan Ferdian tersenyum melihat kelakuan Tantri yang terlihat sangat menyukai dengan kedatangan Zio.
"Mangkanya kamu main ke rumah dong Tan, biar bisa main dengan Zio," jawab Erina.
"Iya deh, aku nanti main ke rumah kalian. Sambil ngeliat si dua pria tamvan di rumah kakak. Hahahah ..." Tantri dengan tertawa.
"Dasar gak kamu, gak Kinan sama aja. Sepertinya dengan adanya Riko dan Jordan, membuat para kaum hawa kecentilan ya?" kata Ferdian membuat Tantri dan Erina terkekeh.
"Eeh KA Ferdian, secara udah ada di depan mata di sediain. Sayang kalau gak di lirik. Ya gak ka Erin," Tantri ngeledek Kakak nya, dengan memberikan kode ke Erina.
Erina yang paham, lalu menganggukkan kepalanya. Ferdian yang melihatnya langsung melototi istrinya.
"Sayang kamu ternyata diam-diam melirik Jordan dan Riko!" Ferdian mencubit pipi istrinya.
"Hahaha ... Mas, kalau aku gak melirik tandanya aku tidak bisa melihat. Kan aku punya mata," jawab Erina, dengan terkekeh.
Tantri pun tertawa melihat dua Kakaknya saat ini.
__ADS_1
"Nakal kamu ya," jawan Ferdian dengan tersenyum.
Saat sore harinya, Ferdian dan Erina kembali pulang ke rumah. Sesampainya di sana, mereka di kejutkan dengan kedatangan Asqia.
"Hallo Kak Erina, kak Ferdian, Zio," sapa Qia dengan tersenyum.
Erina pun tersenyum melihat kedatangan adiknya di sana. "Kamu dengan siapa Qia?" tanya Erina.
"Sendiri, aku kebetulan lusa ada interview di dekat sini. Karena jarak waktu dari rumah sangat jauh, yasudah aku kesini," jawab Qia, dengan tersenyum.
"Interview. Kok kamu gak bilang terlebih dahulu, kalau mau kesini? Ibu juga gak bilang apa-apa tentang kamu mau kesini," Erina menatap Asqia yang terlihat tiba-tiba gugup.
"Itu dia kak, tadi aku tanya. Tapi kak Qia jawabnya ketus banget," timpal Kinan yang memang sejak tadi menemani Kakaknya.
"Jadi aku gak boleh kesini nih jadinya!" sindir Asqia, dengan raut wajah kesalnya.
"Bukan gitu Kak, biasanya ibu itu bilang kalau mau kesini!" jawab ketus Kinan.
"Aku mendadak kesini, belum sempat bilang ke ibu. Kalau interview aku berhasil aku bakal bilang ke ibu, buat kejutan dia!" jawab Qia dengan rasa jengkelnya.
"Lagian aku lagi kesal sama ibu, dia selalu menyuruh aku kerja terus. Dia gak tau kalau aku diam-diam melamar pekerjaan!"
Erina hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Asqia.
__ADS_1
Bersambung ...