
Erina yang melihatn Via bergelayut manja kepada suaminya, terlihat sangat geram. Sedangkan Ferdian merasa risih dengan apa yang di lakukan Silvia saat ini.
Bukan hanya Erina saja, Kinan pun juga merasa geram dengan kelakuan wanita yang baru di lihatnya itu.
"Hei! Hati-hati tuh mulut lo kalau bicara!" celetuk Kinan dengan gemas, dan ingin menghampiri Via dengan emosi.
Mungkin kalau gak di tahan oleh Joddy, Via akan babak belur dengan Kinan.
"Sayang jangan emosi, tahan ya!" cegah Joddy, menenangkan Kinan.
"Enggak bisa, cewek gak sopan kaya dia harus di kasih pelajaran." Kinan sudah menarik uratnya.
"Tuh liat, Fer! Dia seperti cewek preman, gak ada lemah lembutnya!" adu Via dengan menunjuk kinan, membuat emosinya kepancing kembali.
"Eeh! Gue akan lembut jika elo itu bisa sopan. Nah elo, aja gak punya tata Krama datang kerumah orang. Main masuk dan teriak-teriak kaya orang gi*a!" jelas Kinan, dengan kesalnya.
"Eeh wajar dong, gue datang kerumah majikan elo. Jadi elo harus sopan sama gue jangan kurang ajar kaya gitu!" adu Via dengan menantang, membuat Erina tak bisa melihat suaminya di gelendoti seperti itu.
Erina berjalan mendekati Ferdian, lalu menarik tangan Via, lalu di tampar nya wajah gadis itu. Membuat semua orang di sana terkejut melihatnya, terutama Ferdi.
"Jaga sikap kamu, yang kamu dekati itu suamiku. Yang tadi kamu maki adalah keluargaku, jadi jangan pernah menghinanya. Harusnya kamu sadar, kamu datang kerumah orang dengan cara yang gak sopan, jadi kamu pantas di perlakukan seperti itu!" hardik Erina sejak tadi menahan emosinya.
Via memegangi pipinya, yang terasa panas bekas tamparan keras dari Erina. Terlihat pipinya yang memerah. Silviana terlihat kesal dengan apa yang di lakukan oleh wanita yang sudah berhasil menampar dirinya.
Silviana tak terima dengan apa yang di lakukan Erina kepadanya, ia pun sudah mulai mengangkat tangan untuk membalas tamparannya, namun Ferdian segera menahan tangannya agar tidak menyentuh istrinya.
"Cukup Via! Sampai kamu menyentuhnya, aku akan sangat marah kepadamu!" Kata Ferdian dengan wajah ancaman.
"Tapi dia berani menampar ku!" kata Via tak terima.
"Aku melakukan itu, karena kamu sudah sudah kurang ajar dengan adikku! Mas, aku tidak ingin melihatnya di sini. Terserah kamu, mau kamu usir dia atau bagaimana. Yang jelas, aku tidak ingin keluarga ku di usik oleh dia!" kata Erina, terlihat raut wajah yang merah padam menahan marahnya.
Untuk pertama kalinya Ferdian melihat istrinya marah seperti itu, dirinya tidak pernah melihat Erina marah.
"Silviana. Sekarang aku minta kamu, untuk tinggalkan rumahku! Aku tau kamu baru pertama kali datang kesini sebagai tamuku, tapi kamu datang dengan membuat keributan di rumah kami!" Ferdian mengusir Via dengan cara lembut.
"Kamu jahat Ferdi, kamu ngusir aku. Padahal aku dari jauh loh. Berniat aku ingin menginap di sini, tapi justru kamu usir aku seperti ini!" Via dengan wajah memelas, membuat Kinan muak melihatnya.
Erina yang mendengarnya pun sedikit kesal, begitu juga Joddy dan Ferdian.
__ADS_1
"Maaf ya, aku tidak bisa memberikan kamu untuk menginap di sini. Joddy kamu urus dia!" kata Ferdian lalu membawa Erina masuk, sebelum emosi bumil itu semakin meledak.
Joddy mengangguk, dan Kinan justru tersenyum menyeringai menatap Via yang terlihat kesal.
"Ferdian! Kamu sekarang berubah jahat ke aku. Padahal kamu dulu tidak pernah sekasar ini sama aku!" teriak Via, membuat Erina berhenti lalu menatap Ferdian sejenak dengan tatapan menyeramkan, lalu menghentakkan kakinya dan berjalan dengan cepat.
"Hei! Elo dengar gak sih. Kak Ferdian menyuruh elo pergi! Kenapa masih nyerocos terus!" sindir Kinan, dengan senyuman menyeringai.
"Mbak, saya mohon kamu keluar ya dari rumah ini! Jangan buat keributan di sini. Tadi dengarkan, Ferdian sudah menyuruh kamu pergi," Joddy bicara masih dengan nada sopan.
"Tapi aku masih ingin bertemu dengan Ferdian!" rengek Via, dengan memohon kepada Joddy.
Kinan semakin geram, karena Via juga menyentuh tangan kekasihnya dengan memohon.
"CK! Hallo tangganya bisa gak sih di kondisi kan! Dari tadi ko betah banget gelendotan sama pasangan orang!" sindir Kinan, dan itu membuat Joddy tercekat mendengarnya, lalu segera melepaskan tangannya dari Via.
Dengan rasa kesalnya, kinan pun menghentakkan kakinya lalu meninggalkan Joddy.
Joddy sendiri sedikit was-was Kinan sepertinya merajuk.
"Lebih baik kamu pergi, sebelum saya panggil kan keamanan, dan membawa kamu keluar dari sini dengan kasar!" ancam Joddy, lalu meninggalkan Via begitu saja.
Flashback
Saat Kinan sudah pulang, dengan di antar Joddy. Lalu mereka menemui Zio dan mengajak bermain, karena merengek mencari ibu dan ayahnya. Setelah cukup lama di ajak main dengan om dan tantenya, anak itu akhirnya lelah dan tertidur.
Saat Kinan sedang menemani Zio tertidur, dan Joddy sedang berada di kamar tamu sedang beristirahat. Mereka mendengar suara seseorang dengan suaranya yang sangat keras.
Kinan pun keluar untuk memastikan siapa yang datang, begitu juga Joddy yang merasa terganggu waktu istirahatnya.
Saat di lihat ada seorang perempuan menggunakan dress berwarna hitam sebatas lutut. Kinan dan Joddy merasa heran dengan wanita tersebut.
"Ada apa ini pak Utar?" tanya Joddy, dengan kebingungan melihat seorang gadis berontak minta di lepaskan.
"Ini Mas Joddy, gadis ini mencari den Ferdi." Jawab pak Utar dengan sedikit membungkukkan badannya, dan menunjuk gadis di hadapannya dengan ibu jarinya.
Gadis itu berontak meminta di lepaskan, Joddy pun memberikan kode ke pak Utar, untuk di lepaskan gadis itu.
Pak Utar sendiri ia adalah penjaga rumah Ferdian, sejak lama.
__ADS_1
Lalu gadis itu dilepaskan, lalu merapikan penampilannya yang acak-acakan, lalu berdiri dengan sombong dan angkuhnya.
"Kamu siapa? Ada keperluan apa mencari Ferdian kesini?" tanya Joddy.
"Siapa saya, kalian tidak perlu tau! Saya kesini ingin mencari Ferdian cinta pertama saya!" jawab gadis itu dengan nada sombongnya.
Kinan masih mengamati gadis tengil di hadapannya itu.
"Yang kamu cari sedang tidak ada di rumah. Silahkan datang lain waktu!" timpal Kinan, masih dengan sopan. Meskipun dirinya sangat geregetan dengan wanita di hadapannya itu.
"Tidak mau, saya akan menunggu dia sampai datang. Karena saya sudah bilang ke dia, kalau saya ingin tinggal di sini!"
"Mbak, tapi maaf ini bukan penginapan untuk orang asing menginap disini!" Kinan berusaha tenang menghadapi wanita yang saat ini duduk dengan mengangkat kaki ke atas meja.
Joddy dan Kinan merasa kesal dengan wanita di hadapannya itu.
"Mbak- mbak! Sejak kapan saya nikah dengan mas kalian!"jawabnya dengan ketus.
"Dengarkan saya, nama saya Silviana, Ferdi selalu memanggil saya dengan panggilan kesayangannya yaitu Via. Saya itu cinta pertamanya, tadi siang saya bertemu dengannya. Saya sudah mengatakan kalau saya ingin kesini dan ingin tinggal bersamanya. Dia juga gak keberatan, kenapa jadi kalian yang tidak mengizinkan saya masuk!" katanya dengan berbohong mengarang cerita.
Kinan dan Joddy saling melihat.
"Sekarang kalian bawakan koper saya, karena saya ingin istirahat!"
"Maaf Mbak. Kami tidak mengizinkan kamu masuk, sebelum tuan rumahnya pulang. Karena kami tidak mengenal kamu!" kata Joddy menghalangi Via untuk masuk.
Namun nyatanya Via justru tak terima dan berteriak kencang memanggil Ferdian. Kinan takut kalau nanti Zio terbangun dan menangis mendengar ada suara orang berteriak.
"Mbak bisa tidak, gak usah berteriak! Ini bukan hutan atau pasar. Di dalam ada anak kecil sedang tidur, dan bersikaplah dengan sopan di rumah orang!" kata Kinan dengan rasa kesalnya.
"Gue gak peduli, gue ingin bertemu Ferdian! Ferdi ..." teriak Via dengan kencang.
Kinan pun dengan kasar menarik Via keluar rumah.
"Hei! Elo denger gak kata-kata gue tadi! Ini di rumah bukan di pasar ataupun di hutan. Jadi jangan teriak kaya orang gak punya sopan santun!" Kinan sudah mulai naik pitam.
Kemudian jadilah perdebatan antara Kinan dan Via di halaman rumah Ferdian. Mereka di pisahkan oleh pak Utar dan Joddy.Namun sepertinya Silviana memang tidak bisa di bilangin, jadilah keributan di antara mereka.
Flashback of
__ADS_1
Bersambung....