Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Sakit hatiku rasanya


__ADS_3

Asqia diam mematung mendengar apa yang Kinan katakan. Saat itu juga datanglah Jordan dan Riko, lalu membawa Qia keluar dari ruangan itu.


Flashback


Ketika Ferdian meminta si buatkan kopi oleh Bu Yeti. Ternyata Asqia diam-diam mendengarnya, lalu ia bilang ke ART rumah agar dirinya yang mengantarkan minuman untuk Ferdi.


Ketika hendak sampai ke ruang kerja Ferdian, diam-diam ia mencampurkan minuman itu dengan sesuatu. Lalu melanjutkan mengantarkan kopi milik Ferdi.


Setelah di dalam ruangan, ketika Ferdian terkejut dengan Qia yang mengantarkan kopi untuknya.


"Qia kenapa kamu yang antar, kemana Bu Yeti? Saya memintanya untuk mengantar kopi saya, bukan kamu!"


"Bu Yeti sedang sibuk di dapur, mangkanya saya membantunya untuk mengantarkan kopi kamu kesini." Jawab Qia dengan sikap genit dan senyuman menggoda.


"Yasudah kalau begitu, terimakasih. Sekarang kamu bisa pergi dari ruangan saya !"


"Di minum dulu kak, kopi nya. Aku sudah membawa minuman itu kesini loh, masa tidak dihargai sih," Qia berlaga kecewa, membuat Ferdian membuang nafasnya dengan kasar.


Ferdian pun meminum sedikit kopi yang di bawakan Asqia. Qia pun terjatuh di pangkuan Ferdi, berpura-pura takut melihat cicak.


Terlihat Ferdian sangat marah dengan sikapnya itu. Kinan dan Joddy pun datang, lalu Qia di bawa pergi oleh adiknya.


Tiba-tiba saja Ferdian merasa kepalanya sangat sakit. Ia pun segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Namun saat sampai di dalam, dirinya merasa seperti melayang ia juga merasa ngantuk.


Hingga satu jam lamanya, Ferdian merasa kalau istrinya datang. Ia mengetahui dari wangi parfumnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Ferdian dengan matanya yang masih terpejam.


"Wangi parfum kamu ini loh. Yang membuat aku selalu rindu dan ingin dekat kamu."

__ADS_1


Srreeeet ....


Ferdian menarik tangan seseorang yang dia kira itu Erina. Dia memeluk nya bahkan juga mencium dimana di bagian yang dia suka.


Namun karena rasa kantuknya, Ferdi pun akhirnya tertidur di samping seseorang yang ia kira itu istrinya. Namun posisinya ia masih mendekapnya dari belakang.


Sampai tiba-tiba suara seseorang berteriak, ia dengar seperti mengenal nya. Saat mata nya terbuka, alangkah terkejutnya kalau yang ia lihat di hadapannya itu ternyata istrinya.


Ferdian melihat wanita yang sedang berdiri menangis menatap dirinya. Ia segera terbangun dan melihat seseorang yang berada di sampingnya.


"Astaghfirullah. Asqia ngapain kamu di sini!" Ferdian terkejut.


Flashback of.


Saat ini, Erina, Ferdian berada di kamar, dan ada bunda juga di sana.


Sedangkan Ferdian merasa bersalah, harus apa. Karena yang ia lihat saat ini, istrinya sangat kecewa dan terluka.


Posisi Ferdi berlutut di hadapan Istrinya, yang saat ini menatap arah lain.


"Sayang, aku minta maaf. Aku gak berbohong, aku kira dia itu kamu. Karena aku mencium parfum yang kamu gunakan." Sambil menggenggam tangan Erina.


Bu Nabila saat ini posisinya menjadi serba salah. Jika ia berpihak ke Ferdian, kasian menantunya yang melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Tetapi di sini putranya juga tidak bersalah, dirinya sudah di jebak oleh Asqia.


"Ferdian, Erina. Sepertinya masalah ini harus segera kalian selesaikan berdua. Lebih baik bunda pulang dan harus meninggalkan kalian. Kalian selesaikan ya dengan kepala dingin, jangan pakai emosi!"


Erina hanya menganggukkan kepalanya saja. Ferdian pun bangun dari duduknya.


"Biar aku antar sampai depan?"

__ADS_1


"Tidak usah Nak. Kamu tetap di sini temani istri kamu, redam emosinya dan kamu jelaskan dengan jujur. Tanya ada yang kamu sembunyikan dari Erina!" Ferdian mengangguk.


" Hati-hati ya Bunda,"


"Ya sayang. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsallam,"


Ferdian masih menatap wajah istrinya yang masih enggan melihatnya. Bulir bening pun masih terus keluar dari pelupuk matanya, dengan tangan yang masih terkepal.


"Sayang aku minta maaf. Please, percaya dengan apa yang aku katakan tadi! Tidak ada yang aku tutupi dari kamu Rin." Ferdian menyentuh tangan istrinya.


" Aku gak tau, apa aku harus percaya dengan kamu? Jujur untuk saat ini aku belum bisa menerima apa yang aku lihat tadi," ucap Erina sambil menghapus air matanya sendiri.


"Sayang." Ferdian menggenggam tangan Erina dengan begitu erat.


"Aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong Mas, tinggalkan aku di sini!" pinta Erina, membuat Ferdian hanya bisa menatapnya.


Ferdian menatap wajah istrinya, yang tak sedikitpun melihat dirinya. Jujur saja ia tak sanggup jika harus seperti ini, di diami dengan wanita yang sangat ia sayangi.


"Baik, aku akan keluar. Semua aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku." Setelah mengatakan itu, Ferdian keluar kamar meninggalkan istrinya yang ingin menyendiri.


Setelah Ferdian keluar, Erina pun menangis. Meluapkan emosi dan kesedihannya, yang membuatnya merasa sesak.


"Aaaaaaa ... hiks, hiks, hiks. Kenapa nasibku seperti ini! Sakit hatiku rasanya, ya tuhan!" Erina menarik seprai untuk meluapkan emosi dan kecewa nya.


Tanpa Erina sadari, Ferdian masih berada di depan pintu kamarnya. Mendengar istrinya menangis, dan itu membuatnya sakit, dan ikut menangis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2