
Apalagi ayahnya yang sudah mulai sakit-sakitan. Rumah yang semula besar, kini sudah di jual, dan mereka menempati rumah yang kecil.
Hingga suatu ketika, setelah lulus sekolah. Ferdian bekerja di sebuah toko Frozen food. Di sana adalah pekerjaan pertama yang ia dapatkan, setelah ada seseorang yang pernah meminjamkan motor kepadanya. Dengan kebaikan orang tuanya itu, Ferdian berhasil di interview, dan lulus.
Ferdian sempat ingin di jodohkan dengan seorang gadis, yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumahnya. Ferdi di paksa untuk menikah karena keluarga wanita itu, orang berada.
Ferdian menolak, bukan hanya dirinya, Neneknya pun juga tidak terima jika cucunya di manfaatkan oleh ibu sambungnya.
Orang tuanya sangat marah, dengan penolakan Ferdian akan perjodohan itu. Hingga beberapa bulan kemudian sanga ayah meninggal dunia. Karena sakit yang di deritanya.
Kini tinggal neneknya yang ia punya, ingin sekali Ferdian membawa sang nenek pergi dari sana. Namun tidak mungkin, karena usianya yang sudah lansia.
Hingga suatu ketika, beberapa bulan kemudian sang nenek pun menutup mata untuk selamanya.
Sebelum kepergian sang nenek untuk selamanya. Beliau mengatakan suatu rahasia, kepada dirinya. Jika ibu kandungnya yang selama ini ia tanyakan, sebenarnya masih hidup.
"Ferdian cucuku,"
"Iya Nek, Ferdi di sini." Sambil menggenggam tangan sang nenek.
__ADS_1
"Berjanjilah nak, setelah nenek tiada. Kamu harus pergi dari rumah ini! Kamu masih bisa mencari kebahagiaan dan cinta untukmu Nak," Ferdian sangat tersiksa melihat sang nenek, yang menahan sakitnya.
"Ada yang nenek ingin katakan, suatu rahasia untuk kamu,"
"Apa yang ingin nenek katakan?" Ferdian pun menangis melihat neneknya kesulitan untuk bernafas.
"Sebenarnya ibu kandung kamu masih ada Ferdi. Ia berada di suatu tempat. Nenek hanya punya foto ini untuk kamu nak." Sambil memberikan selembar foto lama.
Ferdian melihat fotonya di mana terdapat anak kecil laki-laki dengan di gendong seorang perempuan cantik. Terlihat keduanya tersenyum bahagia menatap kamera.
Setelah mengatakan itu, nafas sang nenek berhenti. Ferdian merasa kehilangan, atas kepergiannya.
Ferdian memiliki dua adik dari ibu sambungnya, Laki-laki dan perempuan. Meskipun begitu, Ferdi sangat menyayangi adik bungsunya yang bernama Freya.
Ferdian mengontrak bersama dua teman laki-laki, rumah dua petak di tempati dengan tiga orang.
Meskipun begitu, rumah itu sudah cukup nyaman untuknya untuk beristirahat. Ia tak perlu mendengar makian, atau hinaan yang di lontarkan oleh ibu sambungnya.
Flashback of.
__ADS_1
Ferdian menceritakan dengan mata yang basah, kala dirinya sangat merindukan sosok neneknya. Erina dapat melihat wajah kesedihan pada suaminya, teringat sang nenek.
Erina menghapus air mata suaminya.
"Mas,"
"Kenapa cerita ku pahit Rin. Kisah ku tak semanis apa yang mereka pikirkan tentang diriku," Ferdian tersenyum getir.
"Kamu beruntung, masih memiliki ayah yang peduli dan sayang sama kamu. Ibu sambung yang masih perhatian ke kamu, dan adik yang mencintai kamu,"
"Mangkanya, aku sangat kehilangan sosok nenek yang sayang denganku. Aku menyebutnya, Nenekku pahlawanku,"
"Ya cuma hanya beliau, yang peduli dengan aku. Beliaulah yang selalu memberi ku uang dengan sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan ibu sambung ku." Ferdian menghapus air matanya yang berhasil lolos.
Bukan hanya Ferdian yang mengeluarkan air mata, Erina yang mendengarnya pun juga sama.
Erina tidak menyangka, kisah hidup suaminya, sangat pahit. Dia sanggup bertahan mencari uang, dari kecil sampai lulus sekolah.
Pantas saja dia mengenal suaminya dulu saat jadi kakak kelasnya, laki-laki yang berbeda. Ferdian sosok pria yang sederhana dan apa adanya.
__ADS_1
Bersambung ....