
Sudah beberapa hari Erina merasa tenang selama tinggal di sana. Para tetangganya pun cukup ramah kepadanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00.
Erina baru saja selesai memasak, lalu menemani putranya bermain. Sedangkan Kinan berjuang di depan mesin cuci, setelah membantu kakaknya memasak.
"Huufh ... akhirnya selesai juga! Sekarang tinggal menjemur pakaian ini," Kinan mengusap peluh di keningnya.
Kini Kinan sedang menjemur pakaian, sedangkan Erina sedang mengajak putranya bermain sepeda beroda tiga.
Zio terlihat senang, karena banyak anak-anak bermain. Banyak yang sedang main kelereng, ada juga bermain masak-masak bagi yang perempuan.
"Erina," suara seseorang memanggil namanya. Saat menoleh ternyata bibinya yang memanggilnya.
"Ada apa Bi?" tanya Erina dengan memberikan senyuman.
"Kamu sudah masak Nak? Kalau belum bibi sudah, kita makan sama-sama yuk! Ajak Kinan sekalian!" kata Bu Yeni.
"Erin juga sudah masak, Bi," jawabnya dengan tersenyum.
Erina beruntung karena bibi dan Om nya sudah begitu peduli dengannya dan juga adiknya.
Kini sebulan lamanya mereka tinggal di sana. Agar ada masukan juga untuk sehari-hari, jadi tidak terus menerus memakai uang tabungannya.
Erina berniat ingin membuka usaha kecil-kecilan, untuk mengisi waktunya. Di lihat-lihat sekitar rumahnya banyak anak kecil bermain, tempat untuk jajanan pun cukup jauh. Semoga saja ada rezeki untuk mereka dengan berdagang.
"Om, Bibi. Aku ingin tanya pendapat kalian?" tanya Erina, sambil memangku Zio.
"Pendapat apa si Rin? Coba katakan kepada Om dan Bibi!" jawab pak Fajar.
"Kira-kira jika aku berjualan di depan rumah, menurut Om dan Bibi bagaimana? Aku ingin buka jajanan anak-anak seperti minuman, atau jajanan," Pak Fajar menatap keponakannya, yang menunjukkan wajah berharap.
Pak Fajar dan Bu Yeni pun tersenyum.
"Ya boleh dong, masa orang buka usaha gak di perbolehkan!" Erina tersenyum mendengarnya jawab Om nya mengizinkannya untuk berjualan.
"Memang kapan kamu mau jualannya, dan kira-kira apaan aja jajanannya?" tanya Bu Yeni yang terlihat semangat sekali.
"Paling lusa dan aku hanya berjualan kaya minuman es, atau jajanan. Aku juga ingin nambahin makanan yang banyak di sukai banyak kalangan," kata Erina menjelaskan.
"Apaan tuh Rin, kalau bisa yang bisa orang dewasa ikut menikmati dagangan kamu!" usul Bu Yeni.
"Aku sih ingin jual Sempol ayam Bi. Itu loh berbahan ayam yang di giling di campur Aci dan tepung. Di goreng, di lumuri telur dan di berikan saus cabai," jelas Erina dengan semangatnya.
"Boleh tuh Rin, ya sudah kamu jualan saja! Bibi senang jadi tidak perlu jauh-jauh kalau ingin cari cemilan," jawab Bu Yeni, membuat Erina dan pak Fajar pun terkekeh.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, usaha jajanan milik Erina banyak yang membeli. Dari minuman, makanan ringan dan sampai yang Erina buatkan.
Erina pastinya menambahkan jajanan yang dirinya buat yaitu Sempol ayam, ada juga sosis bakar.
Ternyata peminatnya banyak, karena bukan anak kecil saja. Orang dewasa juga ikut membeli jajanan tersebut.
"Kak Erin, aku beli Sempol nya dong 10 ribu." Kata seorang gadis remaja, dengan temannya. Yang bertetangga dengan Erina.
"Aku juga dong Kak sempol nya lima ribu aja, sekalian es Nutr*sari rasa jeruk peras,"
"Aaah iya siap sebentar ya, kalian tunggu sebentar!" kata Erina dan gadis itu pun menunggu sambil menemani Zio yang sedang asyik bermain.
Kinan pun juga ikut membantu membuat sosis yang di bakar. Mereka berjualan sambil memperhatikan Zio bermain.
Kesannya jatuh drastis, habis hidup mewah dengan Damar, sekarang harus bersusah payah mengerjakan dagangan kecil.Tapi Erina senang dengan penghasilan kecil, hasil usahanya sendiri. Dari pada banyak namun selalu di nilai rendah oleh orang lain.
****
Di tempat lain ada seorang pemuda yang tampan dengan hidung mancung tubuh kekar, dan sorot mata yang teduh. Dia bernama Ferdian Harits, berusia dua puluh lima tahun. Putra pertama dari pasangan Bu Nabila dan pak Hamzah, seorang pengusaha di bidang Frozen food dan kuliner, yang cukup terkenal.
Saat ini Ferdian bersama sepupunya sedang mengendarai mobil, mereka akan datang untuk pembukaan cabang Frozen food yang baru, di kawasan perumahan elit di Tangerang.
"Hei Joddy, bisa tidak kamu tuh jangan teleponan sambil nyetir. Pasti bahaya nantinya bagaimana!" tegur Ferdian kepada sepupunya yang terbilang sok percaya diri itu.
"Iya bos!" jawab Joddy dengan tersenyum, namun tiba-tiba saat itu ada kucing melintas, di depannya. Karena ingin menghindari, ia pun membanting setir ke arah kiri.
Ckiiit!!!!
Suara rem mobil mendadak, Ferdian pun sampai terkejut.
"Ada apaan Joddy?" tanya Ferdi dengan wajah khawatir.
"Sepertinya kita menabrak seseorang deh!" jawabnya.
"Saya sudah bilang, kamu jangan teleponan saat menyetir, bahaya tau gak!"omelnya Ferdi. " Sekarang kamu turun dan segera tanggung jawab!" Joddy pun mengangguk.
Joddy tak berani menjawab, karena memang itu salahnya. Dia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena takut orang yang dia tabrak itu kenapa-kenapa.
"Woy! Keluar kalian dari mobil! ucap seorang pria menggedor kaca mobil Ferdian.
Joddy pun turun dari mobilnya dan melihat orang yang sudah ia tabrak dan tergeletak di jalan.
"Maaf Pak, saya akan tanggung jawab !" ucap Joddy saat kerah kemejanya ditarik oleh orang-orang.
Ferdian yang melihat Joddy hampir di amuk masa, segera keluar untuk membantunya.
__ADS_1
"Maaf bapak-bapak sekalian. Saya akan membawa orang itu ke rumah sakit, kami akan tanggung jawab!" kata Ferdi yang berusaha menahan emosi warga.
"Cepat Kalian bantu, kasian belanjaannya pada hancur karena kalian!" ucap ibu-ibu yang juga terlihat kesal. Ferdian dan Joddy pun mengangguk.
Joddy memindahkan motornya dan barang belanjaan orang tersebut. Sedangkan Ferdian menghampiri korban yang seorang gadis menggunakan hijab abu-abu.
"Mbak!" panggil Ferdian, tak ada jawaban. Saat di balik, agar terlihat wajahnya alangkah terkejutnya dirinya melihat seseorang yang menjadi korbannya.
Bibirnya bergetar, matanya pun mengembun. Jantungnya berdetak dengan cepat, tangan pun menyentuh wajah wanita yang kini tergeletak di jalan dengan darah yang keluar dari keningnya.
"E__ Erina ..." ucap Ferdian dengan bibir bergetar.
Joddy terkejut kalau Ferdian mengenal wanita yang sudah ia tabrak.
"Bos kenal dengan gadis ini?"
Ferdian mengangguk. "Sekarang kamu urus motor dan barang yang dia bawa! Saya akan membawanya ke rumah sakit!" Joddy pun mengangguk.
Ferdian mengangkat tubuh Erina yang sudah tak sadarkan diri, kee dalam mobil. Lalu membawanya ke rumah sakit.
Kini Erina sedang ditangani oleh Dokter, sedangkan Ferdian menunggunya dengan perasaan cemas.
"Bagaimana Erin bisa di sini? Bertahun-tahun aku menghindar darinya, kini bertemu kembali." Ferdian berbicara seorang diri di depan ruangan yang menangani Erina.
Seseorang yang sudah sekian lama ia hindari, justru kini dia terlihat kembali.
Flashback
Ferdian, Erina dan Damar, pernah satu sekolah. Hanya saja Ferdi adalah Kakak kelas mereka.
Sebenarnya Ferdi sempat jatuh hati kepada Erina, karena hubungan mereka sempat dekat. Namun ketika datang anak baru, yaitu Damar yang selalu mendekatinya. Ferdian melihat antar kedua terlihat dekat.
Hingga suatu ketika di saat Ferdian sudah lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan. Erina dan Ferdi masih berkomunikasi dengan baik.
Bahkan di saat Erina sudah lulus sekolah dan bekerja. Akhirnya mereka bertemu kembali dengan tempat kerja yang saling berdekatan. Hingga dirinya tau kalau gadis yang ia sukai sudah putus dengan Damar.
Ferdian mencoba memberanikan dirinya untuk mendekati gadis itu yaitu mantan adik kelasnya.
Namun Ferdian kalah cepat, ternyata Erina sudah kembali dengan Damar. Mulai dari situ Ferdi menghindar dari wanita yang ia sukai untuk selamanya.
Ya Ferdian menjauh karena keluarganya yang sedang berduka, dan juga di mutasi kerja tempat lain.
Sejak saat itu Ferdian hanya mendengarkan kalau katanya Erina sudah menikah dengan Damar. Hatinya semakin hancur mendengar kabar tersebut.
Flashback of.
__ADS_1
Setelah lama menunggu, akhirnya dokter yang menangani Erina keluar dari ruangan. Memberitahu kalau kondisinya baik-baik saja. Ferdian merasa lega dan ingin segera menemui gadis yang berada didalam.
Bersambung